Istri Sambung

Istri Sambung
IS161. Memberi kesempatan


__ADS_3

"Kenapa kau diam aja?!" Aku menggoyangkan lengannya.


Namun, ia malah menangis dengan menutupi wajahnya. Perempuan menangis, adalah kelemahanku. Aku tidak bisa lagi mencecarnya, dengan keadaannya yang berurai air mata seperti ini.


"Udah, gini aja. Mau kau gimana? Aku udah malas nungguin permintaan maaf dari kau, karena pasti yang ada kau kabur lagi. Terserah kau, kalau menganggap diri kau benar dan merasa tidak perlu meminta maaf. Aku udah tak berharap maaf dari kau lagi, Novia." Jika ia meminta untuk berpisah, aku akan mengutarakan pada mamah untuk membantu proses cerai kami.


Bukan aku tak mampu lagi untuk menjalani rumah tangga dengannya, tapi rasanya aku sudah segan menyentuhnya. Lain jika kasusnya diperkosa, aku mungkin tidak akan merasa seperti ini. Aku akan melindunginya dan mencoba menciptakan suasana aman dan nyaman untuknya. Aku akan merehab rumah, untuk dipasang pagar tinggi dan teralis besi di setiap tempat yang memiliki celah untuk masuk. Aku akan lebih protektif untuk menjaganya dengan kenyamanan yang mampu aku berikan.


"Abang bilang begitu, karena ada orang lain kan? Abang udah bosan sama aku kan? Abang udah tertarik ke perempuan lain kan?" Sudah menangis seperti ini, ia tetap saja menuduhku.


"Aku tak pernah bosan sama perempuan, tapi kau sendiri yang buat aku segan untuk nyentuh kau. Kalau kau memang mau lanjut pun, ya terserah kau aja. Tapi sebaiknya kita pisah kamar, sampai keadaan aku bisa nerima kau lagi. Kau bisa pastikan sendiri, kalau kau berpikir bahwa aku ada perempuan lain. Karena kau tak akan pernah nemuin buktinya, Nov." Aku berpikir, lambat laun mungkin aku bisa melupakan pengkhianatan yang Novi berikan.


Setidaknya, aku sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tanggaku ini.


Novi menggeleng berulang. Namun, mulutnya mengunci suaranya. Apa maksudnya di balik gelengan kepala itu? Ia ingin kami berpisah atau tetap bersama?


"Kau butuh waktu?" tanyaku perlahan.


Novi mengangguk.


"Ya udah, kalau begitu kau cari aku di rumah mamah kalau kau udah siap buat mutusin. Aku masih menghargai keputusan kau, aku bakal lakuin keputusan kau kali ini. Cerai, ya aku langsung proses. Kita sama-sama lagi, ya aku bakal balik ke rumah ini bareng kau. Dua keputusan itu, kau tetap harus cari aku di rumah mamah. Aku tak akan pulang ke rumah tanpa permintaan kau, kecuali kau yang milih pergi dengan perceraian. Mungkin aku datang, untuk sekedar ngambil perlengkapan aku dan anak-anak," terangku yang mungkin cukup adil untuk seorang istri.


"Oke, deal ya? Aku balik ke mamah ya? Kau masih pegang debit aku, aku pikir aku tak lepas tanggung jawab untuk nafkahi kau." Aku beranjak pergi.


Novi tidak menahanku, menandakan memang ia setuju dengan keputusanku. Kebutuhan rumah dan dapur pun sudah penuh, itu cukup meringankan beban Novi untuk tinggal sendiri di rumahku ini.


"Mana Novi, Far? Kata Aca, dia ada di rumah?" tanya mamah, ketika aku baru memasuki rumah beliau.


"Iya, Mah. Bentar aku ambil minum dulu." Aku melewati mamah yang tengah duduk di ruang keluarga.

__ADS_1


Gelak tawa anak-anak terdengar dari halaman belakang, para pengasuh anak pun menikmati keseruan dengan anak-anak. Aku mengintip mereka dari ventilasi yang berada di dekat meja makan ini.


"Eiiii…. Papa ya?"


Aku celingukan. Tidak ada orang di dapur ini, tapi suaranya seperti anak-anak.


"Nih Nahda, Papa." Aku menemukan gadis kecil yang berada di depan akses dapur.


"Eh, iya. Ini Papa, Nahda mau ke mana?" sahutku dengan menghampiri anak itu.


Gamis dengan hijabnya belum berubah, ditambah dengan sepatu biru muda itu yang menghiasi kaki anak itu.


"Mau ambil boneka di kamar." Ia berlari pergi saat sudah sejengkal di depanku.


Menggemaskan sekali anak kecil dengan baju yang terbang-terbang seperti itu. Aku ingin anak perempuan lagi, akan aku biasakan dia mengenakan pakaian muslimah seperti itu.


"Nada…."


"Biar, Ra. Nahda nanti ke sini lagi, Ra tunggu di sini aja." Figur pawang Ra itu muncul dengan terburu-buru, kak Aca langsung memegangi bahu Ra. Sepertinya, agar anak itu tidak langsung lari saja.


"Nahda gitu! Nada, Nada," tukasku pada Ra.


"Patu La nana, Pa?" Ra malah menengadahkan tangannya padaku. "Dek Ani aja, La dak diasih." Wajahnya langsung cemberut.


"Oh iya, lupa. Nanti ya, di pasar malam." Aku menjawab sekenanya.


"Ya deh, ya deh." Ia menutup kembali pintu halaman belakang tersebut, dengan aku yang berbalik ke dapur untuk mengambil air dingin.


Hebohnya rumah ini dengan suara anak-anak, tapi entah kenapa aku merasa tenang dan nyaman ketimbang di rumahku sendiri yang ada kehadiran Novi di dalamnya. Perdebatan, perdebatan dan perdebatan, membuatku merasa tidak suka dengan suasana rumah ditambah kehadiran orang yang mengajak berdebat terus.

__ADS_1


Coba nanti besok aku cek, apa Novi masih di rumah atau kabur lagi. Jika ia kabur lagi, biar mamah saja yang mengurusnya. Aku sudah malas, jika masalah dibawa kabur terus. Memberinya kesempatan pun, sudah aku berikan juga. Sekarang tinggal bagaimana dia saja.


"Mah…. Masak apa?" Aku menghampiri mamah yang duduk sendiri di ruang keluarga.


"Belum, beli aja gih. Kau belikan buat anak-anak juga, tapi nanti tunggu papah. Papah lagi narik uang di ATM." Mamah memalingkan sejenak perhatiannya dari televisi yang menyala.


"Aku ada, Mah." Untuk makan kami bersama, menurutku tidak harus mamah keluar uang terus.


"Udah biar nanti papah aja dulu. Novi kapan datang? Rumah kau tak dikunci kah memangnya?" Mamah menyodorkan sepiring agar-agar berwarna hijau yang sudah dipotong.


Aku menerima dan menikmatinya. "Entah semalam, entah sih pagi tadi. Soalnya tadi aku ambil motor itu, tak naik-naik ke lantai dua. Pintu depan kan pakai gagang kode begitu, Mah. Novi hafal dan tau itu." Karena semalam aku tidur di sini.


"Dia ada ngomong apa?" Obrolan ini terdengar santai.


"Dia salah paham sama kak Aca. Masalah kemarin belum selesai, bahkan dia belum minta maaf juga, tapi dia udah nuduh aku yang bukan-bukan sama kak Aca." Aku menarik garis besarnya saja.


"Istri kau waras tak sih, Far?"


Aku tergelak renyah. Aku pun tidak tahu pasti, seperti apa pemikiran Novi ini.


"Tak tau aku, Mah. Masalah belum kelar, dia udah narik permasalahan yang gak perlu dipermasalahkan. Entah-entah kalau aku berbuat mesum sama kak Aca, terus ketahuan Novi. Ini kak Aca lagi naruh perlengkapan sekolah anak-anak di kamarnya, terus aku dapur lagi ngisi garam di tempatnya." Aku menceritakan kejadian sebenarnya, sebelum Novi menyangka yang bukan-bukan.


"Kenapa kau tak bawa dia ke sini?" tanya mamah dengan melahap agar-agar yang tengah aku nikmati ini.


Kebahagiaan sederhana, masih bisa menikmati makanan bersama orang tua seperti ini. Tidak semua orang beruntung, bisa memiliki waktu dengan papah.


"Aku kasih dia kesempatan. Aku bilang begini…." Aku menceritakan semua yang aku ungkapkan pada Novi sebelum akhirnya aku keluar dari rumah.


Mamah menyimak dengan anggukan, tanda beliau mengerti. Kemudian, aku melihat ketegasan di wajahnya.

__ADS_1


"Orang mukmin itu tidak akan digigit ular berbisa di tempat yang sama. Kalau udah dua kali dia begitu, menurut Mamah itu udah tak ada penawaran lagi. Tapi….


...****************...


__ADS_2