
"Ada istri." Aku menjawab dengan mengulas senyumku.
"Loh?" Ia terlihat terkejut.
Aku mengangguk. "Nikah di Jawa kemarin." Tentu aku sedikit berbohong, karena statusku di KTP masih menduda.
"Ohh, iya-iya." Ia memainkan ponselnya. Kemudian, ia menunjukkan layar ponselnya padaku. "Ini nomor Pak Ghifar kan? Saya simpan ya? Barangkali Pak Ghifar ada keperluan sama Saya juga, itu nomor Saya." Berakhirnya ucapannya, disusul dengan notifikasi masuk di ponselku.
Aku melihat isi pesan chat dari nomor asing itu.
[Farida.] Pesan teks tersebut bertuliskan namanya.
"Ini kah?" Aku menunjukkan layar ponselku.
Ia memperhatikan layar ponselku sejenak, kemudian ia mengangguk dan tersenyum. "Benar, Pak. Disimpan ya, Pak?"
Aku hanya mengangguk saja, aku tidak menyimpan dan membubuhkan nama untuk kontak tersebut. Bisa panjang, jika malah sering bertukar pesan dengan Farida.
Aku berniat menjauhi orang-orang seperti ini. Yang menarik mata, tapi kehadirannya salah. Jangan sampai Aca mengidap sindrom othello seperti Kin, karena tidak bisa mengontrol kecemburuannya.
Mungkin, bisa jadi sindrom othello kin semakin ganas karena sering melihatku melirik wanita lain. Hanya sebatas memandang padahal, tapi mungkin ambang ketahanan cemburu seorang perempuan itu berbeda-beda.
"Pulangnya ke arah sana ya, Pak?" Farida menunjuk jalanan sebelah kiri, yang terlihat cukup jauh di pandangan.
Aku mengangguk. "Iya, ke Kenawat Redelong."
"Oh, kalau begitu boleh Saya menumpang?"
Apa lagi ini, Ya Allah?
"Eummm…..Maaf, Saya keperluan lain di tempat lain. Jadi, Saya mau ke daerah wisata dulu."
Bohong! Aku malah langsung ingin rebahan. Aku sengaja menghindar agar dirinya tidak menumpang padaku.
"Oh begitu, iya tak apa. Ini udah selesai, Pak. Biar billing-nya Saya yang urus."
Lagian, setiap mengobrol di tempat relasi bisnis seperti ini. Ya memang mereka yang menghandle sajian yang mereka pilihkan sendiri, bukan tanggunganku meski hal ini terlihat sepele saja juga.
"Baik, terima kasih. Saya permisi dulu." Aku bangkit dengan membawa beberapa berkas yang mendapat kesempatan.
"Silahkan, Pak. Kalau ada kekeliruan, jangan sungkan untuk menghubungi Saya."
Ini perempuan kok gatal sekali kah? Rupanya, pengen sekali untuk dihubungi olehku.
__ADS_1
"Baik, Baik." Aku berjabat tangan, mengulas senyumku dan langsung pergi meninggalkan meja ini.
Perempuan penghantar minat. Bahaya!
Ya setidaknya, aku harus bisa menjaga diriku sendiri. Rumah tanggaku belum beres, baru seumur jagung. Istriku pun belum hamil, kami selesai dari ujian terpisah jauh. Masa ada orang ketiga, aku langsung menyambut dengan ramah saja?
Aku sengaja membawa kendaraanku untuk naik ke daerah wisata, lalu aku memutar jalan di sana. Aku tidak melewati sebuah hotel dan resto ternama di dalamnya, aku tidak melewati tempatku bertemu dengan relasi bisnis yang menarik di mata tadi.
Sebenarnya, bukan jatuh cinta di pandangan pertama. Hanya saja, ia menarik secara bentuk fisik dan kecakapan berbicara.
Cintaku, tetap jatuh pada istri gembulku yang mulai tukang drama karena hormon kehamilannya. Sayangku, tetap tertuju pada mamanya anak-anak yang tahu caranya membuat mereka untuk patuh padanya tanpa kekerasan. Kasihku, ya tetap terpelihara pada perempuan yang mengurusi kebutuhanku dari perut sampai selang*angan.
Akhirnya, sampai juga di rumah setelah berkendara cukup lama. Aku langsung merebahkan tubuhku di sofa panjang ruang tamu, setelah memarkirkan mobilku dan menaruh sepatu di tempatnya. Pinggangku rasanya linu dan pegal sekali, aku butuh istirahat sepertinya.
"Pa, udah pulang? Kok tak dengar suara salamnya aku?" Suara derap kaki Aca terdengar mendekat.
"Iya, Ma. Abis dari Takengon, pegal pinggang nyetir sendiri." Aku mendongak menatap Aca berada.
Perutnya mulai jemblung, padahal baru beberapa hari tinggal bersama sejak di Cirebon.
"Bentar." Ia kembali ke belakang.
Aku duduk bersandar di sofa, menantikan ia kembali. Rumah cukup acak-acakan, dengan seorang ART dan istri di rumah. Apa anak-anak baru berkumpul di ruang tamu ini?
"Nih, Pah."
Aku menoleh lagi ke arahku datangnya suara. Ada air putih dan juga teh manis, Aca membawanya dalam satu nampan.
"Makasih." Aku memberinya senyum manis.
Aku mengambil segelas air putih dan meneguknya habis. Aku membiarkan teh manis itu sedikit mendingin, karena memiliki suhu yang cukup panas.
"Givan belikan sepeda buat Ra sama Nahda."
Mungkin ia menyadari arah pandangku, setelah meminum segelas air tadi.
"Yang ukuran empat belas gitu, punya Kal ada di rumah mamah keknya." Aku merasa membeli dan menyimpannya di sana.
"Katanya dibawa Aruna, di rumah Ghavi." Aku hanya mengangguk, karena memang sepeda Kal sudah tidak terpakai menurutku.
Sebenarnya sedikit risih, jika ruang tamu terlihat kotor. Aku pun selalu mewanti-wanti Kin, untuk merapikan ruang tamu saja. Karena terkadang ada tamu dari perusahaan, yang datang tanpa konfirmasi dulu. Jika ruang tamu acak-acakan, aku merasa malu sendiri.
"Tak sama Ria kah ke Takengonnya?" Aca mepet padaku, kemudian memelukku.
__ADS_1
Eummm, perempuan. Aku belum mandi dan masih berkeringat.
"Tak, Ria pulang sejak makan siang. Katanya sakit kepala, mungkin karena kebanyakan dokumen. Kalau akhir tahun begini, dokumen dan perjanjian yang habis masa kontrak itu bertabrakan. Jadi kan timbulnya penumpukan pekerjaan, pusing tuh kalau dipaksakan." Siklus ini terjadi setiap tahunnya.
"Ohh…." Ia mengusap-usap perutku, padahal ia yang hamil.
"Habis makan cumi ya?" tanyanya tiba-tiba.
"Bukan cumi, tapi gurita keknya. Ukurannya agak besar, sampai bergidikan sendiri aku." Meski dagingnya sudah dipotong-potong, tapi tetap saja perekat seperti untuk tempelan kaca itu masih berbentuk.
"Kok tak pesankan buat di rumah?"
Oh, harus begitu ya?
"Suka memang? Aku takut malah." Aku bahkan tidak menghabiskan piring sajian untukku.
"Ya entah dimakan atau tak, yang penting kan bawa kalah ada uang sih. Aku tak doyan kan, bisa ditawari ke Canda atau siapa." Ia masih memelukku dari samping.
"Ya uang sih ada, cuma dua ratus lima puluh ribuan kalau tak salah sih harganya." Besar juga, tidak seukuran bayi manusia juga. Hanya satu porsi menu umum, yang sepertinya guritanya berukuran kepalan tangan orang dewasa saja.
"Nanti kalau ke sana lagi beli ya?"
Aku malah tidak berniat untuk ke sana lagi. Aku takut oleng, melihat wanita yang cantiknya dan menariknya melebihi istriku di rumah.
"Oke." Yang penting iya saja dulu lah.
Aku gagal fokus melihat siku dalam pada tangannya. Kenapa menghitam seperti itu? Seperti daki yang tertumpuk di sana.
"Apa ini, Ma?" Aku menggosok pelan siku dalamnya.
Benar, penampilan harus hitam itu seperti daki.
Ia melepaskanku, kemudian ia duduk tegak dengan menghadap padaku. "Aku kalau hamil tambah besar, memang pada begini. Tuh, leher aku juga menghitam di sisi kiri dan kanannya. Di belakang lutut juga ada, tak cuma di siku dalam aja." Ia bangkit dan membelakangiku.
Aku langsung melihat belakang lututnya, karena ia mengenakan dress hamil yang setinggi lutut saja.
Ya, Allah. Benar, beberapa spot tersebut menghitam seperti berdaki penuh. Kin hamil juga tidak seperti ini, aku kaget melihat Aca yang terlihat tak terurus.
"Gatal tak, Ma?" Ia duduk, dengan aku yang memperhatikan area lehernya kembali.
Orangnya cenderung putih, lalu bagian lehernya dan beberapa tempat tersebut menghitam. Kan jadi jelas terlihat berbeda sekali, seperti benar-benar penumpukan daki. Kondisi apa itu namanya? Benarkah datang saat hamil saja? Atau, karena uangku yang aku kirimkan saat Aca berada di Cirebon itu kurang? Membuatnya tidak mampu untuk membeli produk, untuk kebutuhannya sendiri.
...****************...
__ADS_1