Istri Sambung

Istri Sambung
IS32. Pos ronda


__ADS_3

"Ngapain kau?!" Ghifar mencekal tangan Novi, yang baru selangkah keluar dari pintu samping tersebut.


Novi terkejut bukan main. Matanya bulat sempurna, dengan menoleh ke arah belakang.


"Kau? Ada di sini?" Novi malah bertanya balik.


Ghifar enggan melepaskan gadis itu untuk keluar di malam menjelang tengah malam seperti ini. Apalagi, Novi mengendap-endap seperti ini.


"Kau mau ke mana?" Ghifar menekan suaranya, agar orang tuanya tidak mendengarnya yang tengah menegur Novi.


Tiba-tiba, Novi malah memiliki ide untuk memberi kecupan kecil. Agar Ghifar bungkam, enggan membuka mulutnya atau melaporkannya pada papah Adi dan mamah Dinda.


Secepat itu ia menyatukan indra pengecapnya. Namun, beberapa saat kemudian langsung terlepas dengan ekspresi shock dari Ghifar.


"Bentar aja, Oke?" Novi mengusap pelipis Ghifar.


Seolah tersihir, Ghifar malah mengangguk dan melepaskan Novi. Ia seperti orang bodoh, menyaksikan Novi yang melanjutkan langkahnya dengan mengendap-endap tersebut.


Hingga Novi tak terlihat di pandangannya lagi. Ia baru tersadar dengan keadaan pangkal hidungnya yang sakit. Kali ini, terjadi lagi hal yang tidak diinginkan. Cairan merah kental tersebut, perlahan merembes keluar dari hidungnya.


Ia mengusap darah tersebut, kemudian tersenyum getir. Ia memperhatikan darahnya sendiri yang menempel di telunjuknya, dengan perasaan lemah yang semakin sempurna.


Ghifar memilih untuk membuang cairan hidungnya itu, dengan sekali hentakan nafas yang ia keluarkan dengan cepat. Setelah itu, ia menyekanya dengan punggung tangannya.


Ia mencoba tidak membayangkan aktivitas akrobatnya ketika dihidangkan perempuan. Agar darah itu, tidak semakin mengganggu saluran pernapasannya.


Setelah itu, Ghifar memilih untuk membuka kembali pintu samping yang setengah tertutup itu.


Namun, "Astaghfirullah…." Ghifar terlonjak dengan mengusap-usap punggungnya.


Mamah Dinda geleng-geleng kepala, "Jadi gini?! Dikasih cium tutup mulut?! Papah kau ini jaga Novi setengah mati, biar dia tak hamil duluan. Papah kau coba stop nashab ikut ibu, biar tak turun ke anaknya Novi. Cukup Novi yang nanti akan binti ibunya, jangan sampai keturunan Novi juga. Pikir papah begitu, Far! Makanya papah sampai kekang Novi begitu hebatnya. Karena ini buat masa depan Novi juga, buat keturunan Novi juga." nada tinggi langsung bergema di bawah ruangan yang gelap tersebut.


Ceklek….


"Ada apa sih, Dek?" papah Adi rupanya mendengar sedikit keributan di malam ini.


Lampu pun menyala, Ghifar hanya bisa tertunduk diam. Ia paling tidak bisa melihat ibunya marah. Ia takut akan hal itu.

__ADS_1


Mamah Dinda menoleh ke arah suaminya. Lalu beliau menoleh ke arah Ghifar kembali, dengan sorot mata mematikan.


"Kau lepasin dia? Setelah kau dapat cium?" helaan nafas ibundanya tersebut berhembus kasar, "Gini aja deh. Kau mau tanggung jawab, kalau terjadi apa-apa dengan Novi keluyuran malam begini?"


"Kecilin suaranya, Dek. Cucu kita terganggu." papah Adi malah memukpuk cucunya yang memiliki luka di kakinya itu.


"Tak bisa gitu, Mah." Ghifar mencoba membela diri.


"Tak bisa gimana?! Kau yang izinkan dia tadi! Dengan kau ijinkan, kau bertanggung jawab dengan resikonya!" mamah Dinda menunjuk dada bidang anaknya.


"Aku tak ijinkan." Ghifar tidak mengerti kenapa ia yang malah disalahkan.


"Jemput Novi sekarang, Far!" perintah halus tersebut, keluar dari mulut ayahnya yang repot dengan cucunya yang terusik dengan suara-suara itu.


"Aku malu lah, Pah. Memang aku siapanya?" Ghifar hendak melangkah ke arah tempatnya tidur tadi.


Namun, tangannya dicekal oleh mamah Dinda.


"Cari Novi!!!" perintah itu bercampur dengan geraman.


Ia segera berbalik, kemudian keluar dari pintu samping tersebut. Sembari berjalan dengan pikiran yang mengerucut, Ghifar membenahi dua kancing kemeja teratasnya.


Sepanjang jalan ia mengutuk Novi yang tengah dimabuk cinta itu. Ghifar bahkan berpikir, Novi seperti anak SMP yang sedang jatuh cinta. Novi terlalu gila, seperti baru mengenal rasanya cinta.


Hingga beberapa kali Ghifar menoleh, ia tidak menemukan jejak Novi di manapun. Sampai akhirnya, ia memilih untuk duduk di sebuah pos ronda ujung jalan yang begitu sepi.


Orang yang bertugas meronda saja tidak ada. Ghifar menggaruk kepalanya, melihat kampungnya yang begitu sepi itu. Ia kebingungan untuk mencari Novi ke mana.


"Bentar aja."


Ghifar langsung mengerutkan keningnya, mendengar suara lamat-lamat tersebut. Ia seperti mendapatkan sinyal, dari perintah orang tuanya ini.


"Udah lah! Tadi aja aku ketahuan Ghifar. Takut Ghifar ngelapor."


Ghifar menjentikkan jarinya. Kakinya melangkah, seiring suara yang semakin terdengar jelas tersebut.


Hingga, "Hai, Gam! Oyo privacy lebih aman." tegur Ghifar dengan bertolak pinggang.

__ADS_1


Nando langsung melepaskan pelukannya pada kekasih hatinya itu. Ia mendelik marah dengan menunjuk-nunjuk wajah Ghifar.


"Dari kemarin aku udah curiga. Teungku haji ini, memang mau kawinkan keponakannya sendiri sama anaknya. Makanya dilarangnya Novi keluar rumah begini. Novi udah kek tawanannya. Teungku haji bisa kena pasal HAM, kalau aja aku berani lapor." Nando langsung menarik kerah kemeja Ghifar.


Ghifar menghela nafasnya, "Tak bosan kah jadi pengangguran? Jadi beban keluarga? Atau, mau aku tambahkan beban keluarga kau? Contohnya…." Ghifar menggosokkan kedua telapak tangannya karena udara begitu dingin di sini, "Kau kena pasal penculikan. Atau…. Bapak kau pengangguran juga. Bisa aja itu, mudah aja."


Novi melongo saja, mendengar ucapan Ghifar. Tidak seperti biasanya, Ghifar berkata sombong seperti ini. Ghifar seperti dirasuki kakaknya, Givan.


Bughhhhh….


Ghifar memejamkan matanya, mendapat hantaman yang cukup mengagetkan tulang pipinya.


"Nando!!!!" Novi menarik baju Nando dari belakang, "Kau berani mukul dia? Kau minta aku masukan kau ke perusahaannya Ghifar. Tapi, kau malah pukul dia. Eh, bodohnya kau!" Novi berhasil melepaskan cekalan tangan Nando pada kerah kemeja Ghifar.


Ghifar tersenyum miring, "Jangan capek-capek perjuangin Novi. Apalagi didik dia keluyuran malam begini." Ghifar beralih menatap Novi.


Kemudian ia bergulir menatap tajam wajah Nando kembali, "Karena kau pun tak bakal bisa nikahi dia dan bawa Novi pergi setelah ini. Aku bakal jadi orang pertama, yang halangi hubungan kau sama Novi. Tak sudi betul aku, sepupu aku dapat pengangguran dan kasar kek kau. Aku tak bakal banyak ngomong, Nan." Ghifar menepuk pundak Nando.


"Udah, mending pilih putus di belakang pos ronda ini aja. Itu saran terbaik aku, daripada ma aku turun tangan. Udah gitu, kau bakal lebih keras berjuang karena ada aku di samping Novi. Kau bakal capek, Nan. Udah kau capek dari kerja, ditambah lagi capek perjuangin keponakan teungku haji. Aku kasihan sama kau, Nan." lanjut Ghifar dengan tersenyum manis.


Nando meludah ke samping kirinya. Kemudian, ia langsung bergegas pergi meninggalkan Novi dan Ghifar.


Novi berkontak pandang dengan Ghifar, setelah melihat Nando yang memilih pergi tersebut.


"Bahkan kau tak diantarnya, Nov." Ghifar geleng-geleng kepala dengan tersenyum mengejek, "Mengenaskan."


Sontak saja, Ghifar langsung mendapat pujian ringan di lengannya.


Ghifar tertawa geli, dengan mengusap-usap lengannya. Dengan Novi yang menghentak kakinya, meninggalkan Ghifar seorang diri.


Novi berbalik badan, ia memperhatikan Novi yang berjalan seorang diri ke arah jalan rumah papah Adi.


Senyum manisnya terukir kembali, "Awas aja kau, Nov! Udah kau buat aku repot malam ini, ditambah lagi aku kena tonjok lagi. Kalau kepala tak lepas, minimal leher lah aku beri tanda." ujar Ghifar seorang diri, dengan mulai melangkah ke jalan yang Novi tapaki.


...****************...


Bikin penasaran gak sih? 🤔 Jawab jujur ya? 😉

__ADS_1


__ADS_2