
"Ikhtiar, coba ke tabib nanti. Hari Senin Papah temani." Papah melirik ke jam dinding.
"Eh, sekarang aja. Masih ada waktu," lanjut beliau setelah melihat arah jam.
Sekarang masih pukul satu siang.
"Ya udah, Bang. Tapi tolong panggilkan Winda dulu, buat bantu jaga lima anak ini. Ghava juga suruh ke sini dulu, antar anak-anak madrasah gitu." Sepertinya papah stay di rumah untuk membantu mamah menjaga cucu-cucunya. Karena biasanya, papah mengecek ladang sampai sore.
"Iya, Dek." Papah bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke luar.
Diberi perintah istrinya pun, papah menurut. Ya memang hanya perintah sepele. Namun, yang sepele saja dipatuhi. Apalagi permintaan yang cukup merepotkan, pasti akan diusahakan setengah mati.
"Aku siap-siap dulu ya, Mah?" Aku bangkit dan hendak melangkah pulang.
"Dibawa aja jamunya. Itu bukan obat kuat, atau semacamnya. Cuma untuk kebugaran laki-laki aja gitu," ucap mamah tiba-tiba.
"Ya, Mah." Aku berbalik badan dan pergi ke dapur.
Aku pulang ke rumah, dengan menenteng botol bekas minuman teh dalam kemasan botol, yang berukuran kecil. Teh yang identik, dengan ulat-ulat itu. Namun, bedanya botol ini terdapat jamu tradisional berwarna kuning kunyit di dalamnya. Setelah mengatakan pada Novi, aku berjalan ke arah mobilku yang masih terparkir di luar rumah. Tepatnya di depan rumah Ghavi, karena tadi aku berhenti buru-buru di sana.
Sudah sepi, sepertinya Fatma sudah pergi. Bagaimana ya nasib rumah tangga Tika dan Ghavi? Aku lama tidak pernah mengobrol dengan Tika, sejak Tika memiliki dua anak kembar. Padahal dulu, ia selalu sharing denganku. Sedikit banyaknya, aku paham bagaimana perempuan baik-baik yang bodoh itu.
Kenapa aku mengatakannya bodoh?
Karena Aksa, dia adalah anak dari suami terdahulunya. Suami bukan ya disebutnya? Karena Tika menikah dengan keris, bukan dengan ayah biologis anaknya. Penghalang keramat tersebut, lantaran laki-laki tersebut tak mau pindah agama.
Dulu Tika adalah penganut agama Hindu yang kuat, ia pun enggan pindah agama untuk ikut dengan ayah biologis dari Aksa.
Dulu ia begitu bodoh karena cintanya pada sang ayah biologis anaknya itu. Tika manut saja, ketika diajak berhubungan badan. Bahkan, laki-lakinya sering mengendap-endap datang ke rumahku yang di Bali. Hanya untuk, meminta jatah pada Tika.
Mana, laki-laki tersebut kasar lagi. Beberapa luka lebam, pernah aku lihat di bagian tubuh Tika ketika mengandung Aksa itu. Lebam seperti dipukul, memerah dan memiliki sedikit luka bonyok.
__ADS_1
Tidak ada orang, aku langsung bisa masuk ke tempat praktek tabib tersebut tanpa mengantri. Perbincangan pun dimulai. Jujur, aku malu karena papah mendengarkanku bercerita tentang hal se*sual ini secara gamblang.
Setelah bercerita, tabib tersebut pun mengeluarkan pendapatnya.
"Berarti itu karena trauma ya, Bang? Apa pernah punya pengalaman, pusaka tergigit atau semacamnya juga? Karena, biasanya hal ini ngaruh ke kekhawatiran bawa sadar. Mau nyoba, duh takut. Jadi urung lagi melakukan."
Aku bukan bang Givan, yang anunya pernah tergigit.
"Khawatir menyakiti. Kadang lagi di ujung tanduk, tapi nampak perempuan aku kesakitan, aku tiba-tiba berhenti dan tenangkan dia. Teringat terus ekspresi mantan pacar." Dari dulu aku seperti ini.
"Ya, berarti bisa lama karena banyak jeda untuk begini-begininya nih. Sebenarnya, untuk perempuan itu tak harus lama. Tapi, berulang. Jadi misal nih, ronde pertama jam sembilan malam, setengah jam selesai. Dah tuh, istirahat kan? Nah, subuh nih diulang lagi. Karena biasanya ya, perempuan ini kering setelah dirinya selesai. Efek kering itu, berbarengan dengan minatnya yang turun. Jadi, ini cukup menyiksa gitu. Kering itu, yang bikin lecet, kesakitan, iritasi. Jadi, kita laki-laki yang harus tau kondisi perempuan kita. Kalau kita merasanya udah lembut, perempuan juga tak kering, ya tak menyakiti tuh."
Dalam penjelasan itu, aku menangkap kesimpulan bahwa aku tidak boleh terlalu khawatir apa pasanganku tersakiti dengan perlakuanku. Agar, aku bisa menyeimbangkan durasi. Aku baru paham, jika terlampau lama itu tidak bagus juga. Menyeimbangkan saja dengan pasangan kita intinya.
"Kalau kering terus dipakaikan pelumas itu gimana, Pak?" Pertanyaan itu muncul dari papah.
"Tak apa, kalau memang setuju. Dalam artian juga, Bapak nih bisa bangkitkan lagi minatnya." Tabib tersebut menjawab seolah untuk kita laki-laki mengedepankan wanita kita.
"Kalau di dokter, Abangnya ini pasti dikasih obat kuat. Semacamnya v*a*ra begitu, karena memang itu salah satu penanganan yang paling awal. Tapi kasus Abang kan lain kan ini? Bukan tak kuat, tapi sulit bangun. Abangnya merokok tak?"
Aku langsung menggeleng. "Saya di rumah, hidup sehat terus. Olahraga ringan pun, selalu Saya lakukan setelah subuh." Hanya pemanasan ringan dan untuk mempertahankan masa otot saja.
"Oke, Saya buatkan ramuan rebusan ya, Bang? Tapi, tolong direbusnya dengan panci keramik atau kaca. Jangan dengan aluminium, besi, stainless, atau emas sekalipun."
Kami tertawa ringan, untuk mencairkan suasana.
"Bahasa orang umumnya, imp*ten dini. Kalau di medis, disfungsi *re*si ya biasanya?" ujarnya, di sela aktivitasnya memasukkan sejumput demi sejumput dedaunan kering dan rantingnya.
"Sayang kan masih muda. Harapan terbesarnya, pasti memiliki ahli waris." Ia mengunci sudut dari plastik yang sudah berisi dedaunan dan rantingnya itu.
"Aku punya dua anak, Pak."
__ADS_1
Ekspresinya sungguh menggelikan. Pasti kasus sepertiku, baru ia tangani. Jika melihat dari ekspresinya yang begitu kaget dan terheran-heran.
Kembali, aku bercerita tentang istri pertamaku yang pandai memberi stimulasi. Hingga akhirnya, ia memberitahu titik stimulasi yang tepat. Ia mengatakan, agar aku memberitahu pada istriku di rumah. Agar memintanya, untuk menstimulasi diriku dengan titik-titik yang beliau sebutkan tadi.
Cukup terjangkau, dibandingkan dengan dokter. Semoga saja, ini membuahkan hasil.
Namun, tetap. Minggu depan aku diminta datang kembali, untuk melakukan pemijatan saraf. Terutama, saraf pusakaku.
Papah pun, bersedia mengantar kembali. Karena papah juga, berencana untuk ikut pijat.
Kocak memang ayahku ini.
Ranting dan daun kering ini, bisa untuk tiga kali perebusan. Aku pun diminta untuk meminumnya tiga kali dalam seminggu ke depan, sebelum akhirnya datang kembali untuk pijat.
Karena di rumah belum memiliki panci yang dimaksud. Malam ini, aku memutuskan untuk meminum ramuan dari mamah dulu. Pasti, papah juga meminumnya.
"Beli langsung aja ke pasar ya, Bang? Besok hari Minggu, tolong antar ya, Bang? Kalau di online, mesti lama datangnya." Novi duduk di sampingku, yang baru saja meminum segelas air berwarna kunyit ini.
Rasanya, mirip seperti kunyit. Hanya saja, terasa begitu pahit juga. Entah rempah apa saja ini, aku pun tidak tahu.
"Ya, Dek. Tolong air putih, pahit betul." Aku memberinya gelas yang tadi kupakai untuk meminum jamu.
Namun, Novi tidak ada pergerakan. Aku menoleh, untuk memastikan keadaannya.
"Ada apa?" tanyaku dengan memperhatikan Novi yang mengerutkan keningnya.
Ada apa dengannya? Novi seperti terheran-heran.
"Dek?" Satu kata itu yang ia pertanyakan.
...****************...
__ADS_1