Istri Sambung

Istri Sambung
IS239. Saran dari seorang bangsat


__ADS_3

"Murung aja kau." Bang Givan menyenggol lenganku.


Kami tengah makan sarapan bersama, di salah satu tempat resto terbuka yang berada di dalam lingkungan hotel yang menyerupai villa ini. Entah lebih pantas disebut hotel atau villa.


Aku dan Aca, juga bang Givan dan Canda dalam satu meja bersama. Sedangkan yang lain, dalam meja terpisah meski menunya bang Givan yang memesankan.


"Mamah pasti udah negur kau, Bang?" tanyaku dengan memainkan sendokku di atas piring.


"Bukan lagi, dari A sampai Z, aku pun sampai kena marah." Canda yang melancarkan suaranya.


"Apa katanya?" Aca terlihat santai saja.


"Banyak lah, orang dimarahi kok apa aja? Berisik betul pokoknya." Canda terlihat kesal dengan kami.


Sebaiknya, suaminya yang malah biasa aja.


"Terus kau jawab apa?" tanyaku dengan memperhatikan wajah Canda.


"Diam aja, iyain aja kaya Mas Givan." Canda menyuapkan potongan buah pada suaminya.


Bang Givan pun membuka mulutnya dan mengunyah buah tersebut. Padahal, nasinya belum habis. Berbeda dengan Canda, yang sudah menggiling banyak makanan. Aca pun demikian, ia kuat makan sama seperti Canda.


"Ikuti mau mereka, Far," ungkap bang Givan setelah meneguk air putih.


Semalam berakhir dengan aku yang mematikan panggilan telepon secara sepihak. Karena merasa bersalah pada mamah, aku memilih untuk mengambil satu kamar single untuk malam itu saja. Itu pun, dengan izin dari Aca juga.


"Kemauan mereka beda, Bang. Mamah pengen kami pisah, papah pengen kami siri." Rasanya tidak minat sekali untuk makan sarapan kali ini. Bukan karena menunya tidak enak, tapi karena suasana hati dan pikiranku yang sedang rumit.

__ADS_1


"Masa sih mamah pengen kalian pisah?" Canda mengerutkan keningnya.


"Tak begitu juga sih, tapi kek yang udah gitu jangan dipaksa kalau tak dapat restu dari pakdhe. Pakdhe minta anaknya itu menikmati masa jandanya dulu, sedangkan anaknya…." Aku menoleh ke arah Aca.


"Aku udah gatal," jawabnya dengan ekspresi murung menyedihkan, dengan gelengan kepala berulang.


Namun, malah membuat kami tergelak.


"Aku pun pernah nekat ajak Fira siri, tapi untungnya langsung ditolak. Kalau kau ambil opsi dari papah aja gimana? Tapi aku tak tau gimana resikonya." Bang Givan tengah membabat habis sayuran yang terhidang di atas meja.


"Dilarang mamah, Bang. Papah tuh sampai berantem sama mamah, ya gara-gara masalah itu." Aku teringat perdebatan mereka semalam.


"Ck…. Udah gatal-gatal kali, ya udah aja lah nikmati apa yang ada. Daripada kesal-kesal sekali, daripada pusing-pusing betul."


Apa berzina yang dimaksud bang Givan ini?


"Mas…." Canda menyentuh lengan suaminya. "Kita ini beragama, masa nyaranin begitu? Dengan Mas pura-pura tak tau aja, mamah sampai begitu marahnya. Apalagi kalau mamah tau, kalau Mas nyaranin hal itu. Mas kan sayang betul sama mamah, tak mungkin dong malah buat mamah lebih murka karena keputusan zina okenya itu?" Cara penyampaiannya begitu lembut.


Apa aku harus mencoba konsep bajingan seperti itu? Mencoba masa bodoh, barulah bertindak setelah mendapat teguran.


"Kalau kita ambil nikah diam-diam aja gimana menurut kau, Van?" Aca seperti tengah membuka aibnya sendiri.


"Ya sama aja konsepnya sih, aku pun hampir begitu pas sama Fira dulu. Tapi, karena aku berpikir. Ini pasti nyakitin hati orang tua aku, karena mereka merasa dibohongi. Jadi ya lebih baik zina aja udah, dosa tanggung sendiri. Tak buat orang tua kecewa, karena udah aku bohongi."


Aku baru terpikirkan ke arah situ. Aku pun tak berniat menyebarkan pernikahan siri kami, karena orang tua pasti merasa begitu kecewa dengan kebohongan kami.


Aca terdiam, ia memandang dua anak perempuan di sampingnya. Ia terlihat begitu pusing sekarang.

__ADS_1


"Udahlah, jalanin aja dulu. Iyain aja ucapan mamah atau ucapan papah. Biar pakdhe Arif tau sendiri, kalau memang anaknya begini loh tanpa restu. Biar dia tau rasa sendiri, biar ada pikirannya sendiri dan kapok sendiri. Biar suatu saat anak keduanya mulai cari menantu untuk mereka, mereka tak ulangi persulit restunya. Buat jadi pelajaran gitu lah." Bang Givan mengeluarkan suaranya lagi, mungkin karena melihat wajah murung Aca.


"Terus kamar kita sekarang gimana?" Aca menoleh dan mengabsen wajah kami satu persatu.


Gelak tawa kembali pecah.


"Ya udah ambil kamar bareng aja lah, orang rumah tak tau ini kok," saran itu keluar dari mulut Canda. Ia mulai menjadi pengikut suaminya, yang selalu berpendapat bahwa orang lain tak tau.


"Aku dulu bukan muhrim sama bang Daeng, tetap ambil satu kamar. Satu ranjang kadang tiga orang, atau salah satunya pindah ke sofa." Sepertinya, itu adalah kehidupan bebasnya di Padang.


"Mulut!" Bang Givan mengusap mulut Canda.


Kecemburuan bang Givan yang berbalut emosi, dengan kejujuran Canda bercerita tentang masa lalunya dengan orang lain. Menjadi perdebatan sengit yang kami tonton dengan penuh semangat.


Begitu mengasyikkan, seperti komedi romantis dewasa.


Hingga liburan ini kami kunikmati, dengan penuh kebahagiaan dan keceriaan. Aku seperti tengah gladi resik, menjadi seorang suami dan ayah dengan empat orang anak. Mesti nyatanya demikian. Namun, ketika sampai di kampung, aku akan berkamuflase menjadi seorang duda beranak dua lagi.


Perjalanan kembali ke rumah pun begitu hangat dengan canda tawa. Belum lagi banyak oleh-oleh yang kami bawakan, untuk orang-orang yang tidak ikut serta dalam liburan kami. Kami menghitung kepala, agar semua orang mendapat dengan rata. Entah barangnya berguna atau tidak, yang jelas kami sudah mencoba memberikan sesuatu yang terbaik.


Semua hal manis penuh kenangan. Akan terangkum dalam sejarah di masa mendatang.


Tetapi penuh amarah yang kami dapati, ketika aku baru sampai di halaman rumah orang tuaku. Bukannya penyambutan hangat, tapi malah lebih menakutkan ketimbang rumah hantu.


Sorot tajam penuh amarah dari ibuku, membuatku teringat akan ujaran beliau yang menginginkan aku untuk mengambil kamar lain. Bukan tetap dari kamar dengan Aca.


Semua pengasuh anak-anak bang Givan, aku yakin tidak berani mengadukan semuanya pada mamah. Jadi, jelas rahasia tentang aku sekamar dengan Aca tidak akan diketahui.

__ADS_1


Kecuali,......


...****************...


__ADS_2