
Sungguh, aku malu untuk keluar kamar. Bagaimana, jika orang rumah saja dulu yang pura-pura sibuk di luar rumah? Aku malu berpapasan dengan mereka, dengan suara berisik yang ditimbulkan dari aktivitas dewasa kami.
Lihatlah Aca Septriasa itu, dia tersenyum lebar dengan menggulung rambutnya yang basah. Entah bagaimana caranya aku keluar, dengan aktivitas budhe yang sibuk di dapur dan Ranty yang tengah mengobrol bersama ayahnya di ruang tamu, yang berada persis di depan pintu kamarku.
Aku takut diberi pertanyaan seperti ini. Gimana, enak tak? Atau, udah selesai kah?
Haduh, pasti aku akan malu setengah mati.
"Udah jam enam, Subuhan mau jam berapa?" Aca menyenggol lenganku.
Aku hanya bisa melamun. "Nanti aja, qodo." Tolong, jangan dicontoh.
"Lah…" Aca mulai berhias di depan jendela kamar yang gordennya sedikit tersingkap.
Ia tidak memiliki kaca rias, di kamar ini. Tapi sepertinya, ia nyaman berhias di depan jendela seperti itu.
"Malu keluar aku." Aku kembali merebahkan tubuhku di kasur lantai ini.
Anak-anak biasanya sudah bangun, tapi sampai sekarang belum ada yang merengek juga. Apa mereka pura-pura tidur?
Aku bergerak berpindah ke ranjang mereka, menciuminya satu persatu. Bau mulut Nahda, masih seperti surga. Berbeda dengan Kal dan Kaf, yang sudah makan segala-gala tanpa kira.
"Biasa aja kali, Pa."
Aku tak biasa dan ini perdana untukku.
"Aku tak bisa lah, aku malu." Aku meliriknya sekilas. Ia masih di sana, dengan menambahkan perona di bibirnya.
Wanita tidak mengerti akan diriku si menantu laki-laki.
"Lah, tak percaya. Malah nanti keluar ditanya mau buat kopi atau teh, bakal ditawari makan juga." Ia sudah selesai berhias dan berjalan ke arah lemari. Ia menyimpan beberapa alat tempurnya itu di lemari pakaiannya.
Dua benda yang menggantung di atas perut tersebut, benar-benar berukuran besar sampai tidak muat di telapak tanganku. Bayi kami pasti kenyang pasti, karena isinya pasti akan sangat banyak.
"Pengen BAB, aku mengusap-usap perutku." Aku masih berpikir ulang untuk keluar kamar.
"Ya udah ayo dianterin." Aca mengulurkan tangannya.
"Ditungguin di dapur ya? Jangan ditinggal ya?"
__ADS_1
Ia langsung mengangguk. Aku bangkit dengan tarikan tangannya, kemudian mengikutinya yang keluar dari kamar.
"Baru bangun, Far?" sapa pakdhe yang tengah sarapan bersama adiknya Aca.
Aku yakin, pakdhe pasti hanya pura-pura saja. Ia tahu sebenarnya dengan bunyi suara-suara khas tersebut, tapi ia bertanya apa aku baru bangun, padahal jelas aku adalah pelaku yang ditimbulkan dari bunyi-bunyian tersebut.
"Iya, Pakdhe." Aku menjawab dengan mengikuti tarikan tangan Aca ke arah belakang.
"Ngopi, Far." Budhe menyapaku yang baru muncul di area dapur ini.
Jika ingin ke kamar mandi, harus melewati ruangan dapur dulu. Karena kamar mandinya, berada di samping dapur.
"Ghifar tak ngopi, Bun. Ghifar mau teh." Aca sampai mengantarkanku ke depan kamar mandi.
"Handuknya yang warna biru." Ia mendorongku untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Dalam artian, aku keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggang.
Hufttt, bagaimana caranya aku tidak malu tidak dengan tubuh bagian atas yang terekspos di dalam rumah orang lain seperti ini? Aku tidak yakin kuat sampai tanggal lima, untuk tinggal di sini.
Siang ini, aku akan prepare. Aku akan mengajaknya tinggal di hotel daerah Jakarta saja. Bisa-bisa aku sakit, karena stress dan canggung tinggal di sini. Bukan karena mertuaku galak, tapi aku yang malu sendiri.
Tapi aku pun tidak mungkin bertahan dan bersembunyi lama di dalam kamar mandi. Dalam misi apa aku di sini? Mengosrek WC, tidak. Mencuci baju pun, tidak.
"Pa…. Kaf mau BAB, udah belum mandinya?" seru Aca dari dalam kamar mandi.
Kesempatan.
"Udah nih." Aku keluar dari dalam kamar mandi.
Eh, Aca malah ikut masuk ke dalam kamar mandi. Aku kan malu ingin ke kamar kembali.
"Kaf kan bisa cebok sendiri." Aku melongok ke dalam kamar mandi.
"Aku malu, Papa." Kaf sudah berjongkok di atas WC.
"Memang Kaf tak malu sama Mama?" tanyaku kemudian.
Ia menggeleng. "Mama tunggu di depan pintu aja deh, ee aku bau."
__ADS_1
Aku terkekeh geli mendengar ucapan anakku.
"Oke. Ati-ati ya? Panggil Mama kalau susah ceboknya." Aca berjalan ke arahku.
"Ya, Mama." Kaf terlihat sudah tidak canggung sama sekali pada Aca.
Aku langsung menarik tangan Aca. "Ayo sih, Ma. Anterin ke kamar dulu, mau salin." Aku berkata lirih dengan penuh harap.
"Ya ampun." Aca menuruti, meski dengan helaan napas.
Hanya Kaf yang sudah bangun, dua anakku lagi masih tertidur saling memunggungi. Aku langsung bersiap, dengan pakaian formal. Karena aku malu, jika memakai kolor di rumah ini.
Budhe memperlakukanku dengan baik, aku langsung dihidangkan sarapan dan juga teh manis. Aku yakin ini bukan buatan Aca, karena Aca tengah menyapu dan mengepel dengan berjongkok. Melihatnya seperti ini, aku teringat dengan alur cerita film dewasa Jepang.
Tidak boleh cabul, Far. Tahan, tahan. Ini rumah mertua, harus tahu batas.
Pakdhe dan Ranty sudah berangkat. Ranty masih SD, tapi jaraknya cukup jauh, jadi harus diantar jemput. Sedangkan pakdhe, beliau langsung pergi ke peternakan.
"Makan yang banyak, Far. Jangan malu-malu, jangan sungkan-sungkan." Budhe menyodorkan lauk pauk padaku kembali.
"Iya, Budhe." Aku hanya menerimanya sedikit.
Pastilah sungkan, meski dibilang jangan sungkan juga. Perasaan, ini semakin menjadi sungkan karena aku menantunya sekarang. Aku satu kamar dengan anak perempuannya yang sudah dewasa. Mana hal itu dilakukan terang-terangan lagi.
"Aca trauma pembukaannya lama, jadi mau rajin-rajin ngepel jongkok katanya. Gak disuruh Budhe padahal sih, Far. Itu kemauannya sendiri. Waktu dulu lahirin Nahda, pembukaannya sampai tiga hari. Dua hari bolak-balik puskesmas, hari berikutnya dirujuk RS rencana mau disesar. Eh, gak taunya langsung lengkap pembukaannya pas mau persetujuan mau disesar."
Mungkin budhe berpikir, bahwa aku tidak suka dengan Aca yang mengepel dengan cara seperti itu. Padahal pun aku tahu, jika mengepel seperti itu memiliki manfaat untuk ibu hamil.
"Iya, Budhe. Kin juga dulu rutin ngepel jongkok, padahal dia dokter tapi pengennya lahiran normal aja." Aku tidak bermaksud menceritakan wanita lain, tapi ia adalah ibu kandung dari kedua anakku.
"Ya karena Kin tau tuh, kalau lahiran sesar resikonya lebih besar. Makanya, dia usahakan lahiran normal aja. Aca pun takut tuh pas mau disesar, tapi dia udah pasrah karena mulasnya udah gak karuan. Eh gak taunya, mulas itu tuh karena pembukaan komplit."
Ini pure mengobrol bersama saja. Mungkin budhe memahami kecanggunganku.
"Bang Givan pun sampai nangis-nangis, masa Canda disesar. Kek bukan dia gitu, pas Canda kolaps masa operasi. Nangis-nangis udah kek kenapa gitu, mana suaranya kencang." Aku hadir saat posisi tersedih pada bang Givan.
Tapi tetap saja, pertanyaan apa mas cinta sama aku, sering kali terdengar dari mulut Canda. Padahal jelas, suaminya hampir mati karena dirinya hilang sadar saat operasi saja.
...****************...
__ADS_1