
"Kek kak Roza, Pa. Kak Roza itu dokter, kek mama Kin. Kak Roza juga belum punya suami kan? Berarti boleh ya, Pa? Kak Roza juga baik, suka bantu aku ngerjain PR. Kak Roza juga selalu gorengin aku nugget sama sosis kalau aku main, aku jadi betah." ucap Kal dengan begitu bersemangat.
Satu nama itu, yang menjadi kandidat pilihan orang tuanya. Pocut Rauzha, nama yang di gedeng-gedeng oleh ayahnya untuk menjadi istri sambung Ghifar.
Meski tidak ada rasa pada perempuan lain, Ghifar akan mencobanya lebih dulu untuk menerima kehadiran perempuan tersebut.
"Oke, nanti Papa ngomong ke kak Roza ya? Kal pipis dulu gih, terus bobo." Ghifar mencium dahi anaknya.
"Aku tak pengen pipis, Pa." Kal mengeratkan pelukannya.
"Baca doa dulu." Ghifar mulai memejamkan matanya.
Malam ini mereka tidur dengan kebersamaan lagi, setelah tiga hari Kal dititipkan pada pengasuh anak kakak ipar Ghifar. Ghifar pun, selalu tidur di rumah sakit menemani anaknya.
Saat siang hari ia bekerja, maka Kaf dijaga oleh neneknya atau kakeknya. Ghifar benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
~
Setelah adzan maghrib, Ghifar mengunjungi orang tuanya dengan kedua anaknya. Ghifar ingin menyegerakan untuk mencari ibu sambung untuk anaknya. Tetapi, ia tidak bisa jika tidak bercerita dulu pada orang tuanya. Ia tidak mau melangkahi pendapat dan keputusan orang tuanya.
"Ehh, ada Mamonto." Ghifar menyapa anak yang bertubuh mungil dan imut tersebut.
"Papa…." Ceysa berlari ke arah Ghifar.
"Hallo, Cantik." Ghifar mencolek dagu anak usia lima tahun kurang itu.
"Enceysa…. Ayo…."
Ghifar mengedarkan pandangannya pada seorang anak laki-laki yang memiliki senyum ramah itu, Hadi.
"Hadi ada di sini?" Ghifar menurunkan Kaf si sofa ruang keluarga.
"Ya, Papa. Lagi main, abis pasar malam sama Enceysa yang paling unyil." Hadi mendekap Ceysa erat.
Mereka berdua sudah akrab dan satu frekuensi sejak mengenal satu sama lain. Sampai-sampai, orang tua mereka berpikir bahwa mereka membawa jodohnya sendiri sejak dini.
"Main yuk?" Ceysa melambaikan tangannya pada Kaf.
"Kok yang aku tak diajak?" Kal sudah manyun saja.
"Aku main sama Kari Ayam aja, Kak Kal itu nakal." tukas Hadi membuat Ghifar terkekeh.
__ADS_1
"Boleh main, Hadi. Hadi jangan gitu, jelek." ucap Ceysa dengan menarik pergelangan tangan Kal.
"Main bareng ya? Jangan lari-larian, kaki Kaf lagi sakit. Mainnya duduk aja, ngobrol cerita-cerita." Ghifar meninggalkan anak-anak itu di ruang keluarga.
Kemudian ia berjalan menuju ke halaman belakang, mencari keberadaan orang tuanya. Namun, ia mendapati seorang wanita cantik berambut pirang keemasan itu tengah berada di dapur.
Cantiknya.
Batin Ghifar, berkomentar dengan bentuk terindah wanita itu. Novi menjadi pusat perhatiannya, setelah mendiang istrinya tiada.
"Kenapa, Far?"
Ghifar lekas meluruskan pandangannya, pada seseorang yang baru masuk dari pintu halaman belakang.
"Mau ada yang aku bicarakan, Pah. Mamah mana?" Ghifar berjalan ke arah ayahnya.
Papah Adi membuka pintu yang baru saja beliau tutup, "Tuh, mamah." telunjuknya menunjuk pada seorang wanita paruh baya, yang masih terlihat cantik tersebut.
"Sini, Pah." Ghifar mendahului untuk keluar dari pintu tersebut.
Papah Adi menaruh kecurigaan pada putranya itu. Tidak mungkin tidak ada sesuatu yang penting, sampai Ghifar menginginkan untuk berbicara pada mereka berdua.
"Lagi apa, Mah?" Ghifar menyapa ramah ibunya yang tengah bersantai itu.
Ke mana perginya kedua anak Ghifar? Pertanyaan yang muncul di benak mamah Dinda.
"Anak-anak mana?" pertanyaan itu keluar, dari ayahanda Ghifar.
"Di ruang keluarga sama Hadi sama Ceysa." Ghifar duduk di sebelah ibunya.
Kemudian, ayahnya duduk di kursi rotan lain dengan memperhatikan anaknya itu.
"Ada apa?" papah Adi menangkap keseriusan di wajah Ghifar.
Ghifar membuang nafasnya perlahan. Berharap ia bisa lebih rileks, untuk menyampaikan keputusannya.
"Gini Mah, Pah." Ghifar memandang mereka bergantian, "Kal minta Roza aja, buat jadi ibu sambungnya. Niat hati, sekarang aku mau jemput Roza. Aku mau bawa dia keluar, buat bahas tentang hal ini. Aku malu sama tante Shasha, kalau harus bahas itu di rumah mereka. Kebetulan juga, Roza shift pagi. Dia pasti ada di rumah." Ghifar menyederhanakan ceritanya.
"Kau tertarik?" pertanyaan itu lolos dari ibunya.
Ghifar tertunduk, ia menggeleng samar. Yang ia pikirkan sekarang, yang penting tentang penilaian anaknya dulu. Ia juga mencoba memahami, bahwa ketertarikan dan kenyamanan itu pasti ada jika sudah terbiasa.
__ADS_1
"Terus? Kenapa secepat ini? Kau bisa mulai pendekatan dulu." ungkap papah Adi kemudian.
Menurut orang tua Ghifar, tidak perlu buru-buru untuk mempersunting seorang wanita. Mereka khawatir Ghifar nikah cerai melulu, jika Ghifar buru-buru untuk memilih kandidat untuk dijadikan istri sambungnya.
"Kemarin Kaf, aku tak mau kemalangan menimpa anak-anak aku lagi. Lebih cepat lebih baik, pikir aku Pah." Ghifar memperhatikan panutannya tersebut.
"Sesuatu yang terburu-buru itu tidak baik, Far." papah Adi menyeruput secangkir teh hangat miliknya.
"Rencana aku. Ini ngomong aja dulu ke Roza. Kalau dia mau, aku bakal kenalin dia ke Mamah sama Papah." Ghifar melirik ibunya, "Kalau kata Mamah, ini perempuan kurang baik. Ya kan, aku bisa sampaikan baik-baik ke Roza. Biar dia paham, kalau ada satu pihak yang keberatan dengan pilihan aku ini." ungkap Ghifar kemudian.
Mamah Dinda mengangguk, "Gitu pun tak apa, jadi Mamah bisa tau bagaimana dia dan sikapnya ke anak-anak kau."
Ghifar kembali menatap ayahnya, "Sebenarnya, ini pilihan Kal. Kata Kal, kak Roza ini baik. Dia cerita banyak di situ, gimana Roza kalau dia main. Aku coba aja dulu ngomong gitu, Pah. Karena gadis, belum tentu mau sama duda anak dua. Pasti Roza pun mikir seribu kali, apalagi dia dokter juga." Ghifar menyadari keadaannya yang tidak sendiri.
Papah Adi memahami sudut pandang anaknya, "Kalau janda bawa anak, dapat bujang. Itu biasanya minim penolakan. Tapi kalau duda bawa anak itu, umumnya dapatnya yang bawa anak lagi." papah Adi mengatakan ini, karena ia sendiri adalah salah satu contoh di kalimatnya.
Ghifar teringat susunan anak kakaknya.
"Ya, Pah. Aku ngobrol dulu gitu kan sama Rozanya? Kalau dia keliatan keberatan atau gimana, aku tak bakal lanjutkan." Ghifar bangkit dari duduknya.
Kemudian ia menoleh ke arah ibunya, "Nitip anak-anak dulu, Mah. Aku sebentar kok, janji tak akan sampai malam."
"Lama pun tak apa, yang penting anak orang jangan minta tanggung jawab aja." tutur ayahnya, membuat Ghifar dan mamah Dinda terkekeh kecil.
"Staycation cara aman. Segala kau nitipin anak ke orang tua." mamah Dinda seperti menyindir.
Jika ada hal seperti ini, Ghifar teringat akan keadaan pusaka turunannya.
"Tak, Mah. Asli aku cuma mau ngobrol aja." Ghifar merasa malu sendiri.
"Ya udah gih. Izin ke tante Shashanya, jangan janjian di gang. Nanti anter Roza juga ke rumahnya, jangan turunin di jalan. Kau laki-laki, harus gentle." papah Adi merangkul anaknya.
Namun, ada seseorang yang mendengar hal itu. Secara tidak langsung, ia seperti tersindir dengan amanat papah Adi untuk anaknya itu.
"Iya, Pah. Roza pun belum aku hubungi. Biar sekalian di sana aja gitu, dadakan." ujar Ghifar dengan berhenti di pintu samping.
Ia berencana untuk lewat pintu samping aja, agar anaknya tidak curiga bahwa ia akan pergi. Ghifar khawatir, anak-anaknya malah meminta ikut dengannya.
"Ya udah ati-ati, Far." papah Adi menepuk pundak Ghifar.
"Ya, Pah." Ghifar keluar dari pintu samping rumah tersebut.
__ADS_1
...****************...
Penasaran gak? Gimana cara Ghifar nyampaikan ke Roza? Kira-kira Roza mau gak? 🙄