
"Memang bukan ya? Kau korban pemerkosaan juga kek Canda?" Aku memperhatikannya dengan seksama.
Perubahan rautnya begitu jelas, ia tertunduk dan menggeleng dengan senyum miris.
"Korban kekonyolan penasaran sama keluarga sendiri. Lepas itu, ya ngelakuin juga sih sama beberapa mantan pacar. Cuma sama papanya Nahda, ya baru melakukan setelah menikah. Cukup ya mutualan tentang akunya, coba tentang kau." Kak Aca tersenyum amat manis.
Apa ya?
"Mantan kali ya? Pacar pertama aku si Rauzha, anak sambungnya tante Shasha. Terus Fira, ibunya Key. Biar nanti tak kaget juga, Canda yang sampai sekarang masih pengen aku recokin. Entah disebutnya move on atau belum, tapi aku tak tenang kalau Canda kenapa-kenapa. Canda bersalin aja, aku selalu ada untuk nemenin dia. Aku ngerasa bersalah terus, karena telat nyelamatin dia. Aku ngerasa nyesel terus, andai aja aku ambil kesuciannya dulu. Kan mungkin Canda masih sama aku, karena terkunci dengan aku. Aku tetap terima masa itu, meski keadaannya udah dinodai abang aku sendiri. Aku sampai terkena traumatis kompleks waktu di Bali, setelah itu aku malah kena DE." Aibku terbongkar sudah. Sebelumnya pun, aku sudah pernah bercerita akan pentingnya Canda berada di jangkauan mataku.
Aku tidak mau kak Aca mengetahuinya telat seperti Novi. Aku khawatir rumah tanggaku sulit harmonis lagi seperti Novi, jika di awal kami tidak mengetahui apa-apa tentang pasangan.
"Eummm…. Kau imp*t*n?"
Apa pantas aku disebut i*po*en?
"Aku selalu mimisan, kalau b****i sulit dikendalikan. Misalnya dari tak minat, dipaksa minat. Atau udah terlanjur minat, tapi sulit tersalurkan. Kek misalnya aku udah minat nih, tapi di bawah masih tidur, aku bisa langsung drop. Aku bisa berdiri juga, malah sulit dikendalikan kalau udah bangun. Tapi kadang kalau dibutuhkan, itu malah sulit untuk dimengerti. Kau bakal ngerasain sendiri lah, kalau jadi sama aku." Jika tidak jadi, aku yang akan menanggung malu.
"Ya harusnya dokter dapatnya, Far. Biar istri kau bisa ngurus itu kau." Kak Aca menunjuk tengah-tengah tubuhku dengan pandangan matanya yang terarah ke sana.
"Entahlah, tapi memang waktu sama Kin manut. Dipaksa karena dia ingin pun, ya bisa juga, tapi tanpa mimisan. Aku tak paham juga deh, aku tak tau penanganannya mesti gimana." Yang menjadi istriku pasti begitu diuji sekali kesabarannya untuk mengurus intiku.
"Aku jadi penasaran."
Loh? Aku yang shock mendengarnya.
Kak Aca cekikikan, kemudian mencubit perutku. "PAP ya kalau lagi bangun."
Hei! Apalagi itu?!
__ADS_1
Kak Aca sampai membekap mulutnya sendiri, karena aku hanya mampu geleng-geleng kepala saja. Ia tertawa amat lepas, yang tentunya mentertawakanku.
Sifatnya ternyata sedikit mesum, entah itu hanya gurauan atau bukan. Saat awal kami mulai akrab, dia memintaku untuk mengukur. Aku pernah menggurauinya, dengan memberitahunya bahwa ukurannya cukup besar dengan menggunakan lingkar jemari saja. Tapi kak Aca malah semakin penasaran, agar aku bisa memberitahunya berapa panjangnya.
"Serius tak nih?" Aku coba menantangnya.
"Kalau aku tak serius, pas kau kasih tau kalau kau lagi bangun itu, aku tak bakal respon. Tapi kalau aku serius, aku bakal langsung video call sama kau." Oh, ini kata kuncinya.
"Memang untuk apa sih liat duluan tuh?" Aku saja tidak diberi untuk melihat part sensitifnya.
"Ya, gimana ya? Soalnya aku punya pacar itunya bengkok, rasanya sakit betul, tak enak dipakai. Apalagi kalau jadi suami, pasti nyiksa setiap kali berhubungan. Tapi kalau aku tanya di awal tuh, pasti jawabnya lurus aja. Aku tak percaya itu, sebelum aku liat sendiri. Papanya Nahda pun, kucek sebelum nikah."
Eh, ini menggelikan. Aku sampai tertawa mendengar pengakuan perempuan tersebut, ia begitu jujur.
"Terus gimana pas papanya Nahda dicek itu? Kan belum pernah pacaran dia, otomatis bujang real dong." Aku berpikir positif.
Tawanya menular, aku sampai ikut membayangkan bagaimana paniknya menjadi laki-laki yang dig***e seperti itu. Aku malah teringat dengan Canda, saat aku mencoba mencicipi pabrik ASI miliknya.
'Aku diapakan? Rasanya aneh.' hal itu yang terus diucapkan Canda.
Ternyata aku dan kak Aca, memiliki satu kenangan yang begitu mirip. Aku dengan Canda, sedangkan dirinya dengan mendiang suaminya.
"Itu tempatnya di mana?" tanyaku kemudian.
Kak Aca memutar bola matanya ke samping kiri. "Di rumah aku yang di sana. Aku kan ambil perumahan sendiri sejak bisa cari uang tuh, meski kalau keteteran tetap sih orang yang bantu nyicil. Sekarang di over booking sama anaknya pakdhe Afan, namanya Nur Giyatsa. Tadinya a Nur itu, ikut istrinya di Sampit. Tapi istrinya lahiran tuh kena sindrom baby blues, jadi dia balik ke kampung bawa anaknya. Eh tak taunya, istrinya itu tambah parah. Jadi a Nur balik ke Sampit lagi, buat jemput istrinya, karena dia diminta ngelola puyuh-puyuh di sana. Sekarang istrinya di rumah aku, tinggal bareng sama a Nur. Anaknya diasuh ibu aku, seumuran Ranty lah anaknya a Nur ini."
Aku cukup asing dengan kerabat dari ibuku, karena aku jarang pulang kampung. Aku hanya dekat dengan pakdhe Arif, ayahnya kak Aca ini.
"Ibu kau namanya siapa tuh?" Aku pun hanya paham memanggilnya budhe saja.
__ADS_1
"Ibu, Maylani. Adik aku, Mayranty. Aku Anasya May Sonia."
Aku baru tahu hari ini, dengan nama panjangnya yang unik itu. Namanya ikut dengan ibunya semua, tidak dengan ayahnya. Jika dalam keluargaku, inisial nama panggilannya sama semua.
"Lahirnya bulan Mei semua, jadi May semua."
Oh, wow. Unik sekali keberuntungannya. Kenapa bisa semuanya lahir di bulan Mei? Sepertinya, kehamilannya telah diperhitungkan.
"Nahda lahir bulan apa?" Kami berdua berjalan ke arah kasir.
"Nahda bulan Desember, sama kek bulan lahir papanya." Banyak sekali informasi yang kak Aca berikan.
"Aku lahir di tahun yang sama dengan Ghava dan Ghavi. Entah gimana konsepnya, atau salah penulisan dalam akta kelahiran. Aku lahir di bulan Januari, Ghava dan Ghavi di bulan September, di tahun yang sama. Kalau orang yang tak paham lagi, kak Icut pun lahir tiga bulan sebelum aku lahir. Untungnya tertera jelas, bahwa lain nama ibunya." Menurut cerita juga, aku ini nakal saat kecil. Tapi hingga sekarang, aku yang dibuat nangis terus.
"Oh, iya-iya." Kak Aca tertawa lepas dengan menepuk pundakku, saat kami mengantri di depan kasir.
"Kalau tak salah, di awal pernikahan mak cek itu, katanya kebobolan terus. Ya memang sih, dari cerita mak cek pun, beliau KBnya kebobolan terus. Tapi tuh katanya belum selesai nifas, udah hamil lagi."
Yaps, cerita itu pun pernah terdengar ke telingaku. Dua kali Kin mengalami nifas pun, ia memaksaku memakainya padahal belum genap empat puluh hari. Ya memang sudah bersih, hanya saja aturan kan tetap empat puluh hari. Jadi, aku pun termasuk ke dalam laki-laki yang menggauli istrinya di masa nifas juga.
"Keknya umum deh rumah tangga pasti begitu." Aku teringat juga cerita Canda, yang digauli suaminya ketika baru nifas ke hari dua puluh lima. Kejadian itu, saat Canda baru melahirkan anak pertama mereka.
"Tak juga, suami aku kuat enam puluh hari. Di ke tiga puluh lima hari itu, darah nifas aku malah keluar banyak lagi. Sampai selesainya di lima puluh harian, sepuluh hari kemudian dipakai lagi karena dia udah uring-uringan males ngapa-ngapain katanya. Kek sakit, tapi sehat, tapi nampak kek sakit."
Persis seperti Kin ketika sudah di ambang rasa inginnya, tapi ia tengah ngambek padaku. Sehingga ia sungkan meminta lebih dulu padaku, sampai gejala uring-uringan itu membuatku mengerti bahwa ia ingin nafkah batinnya terpenuhi.
Aku merasa banyak ceritaku yang mirip dengan cerita kak Aca.
...****************...
__ADS_1