
Sepertinya, aku perlu obat tidur. Aku benar-benar stress dan banyak pikiran, memikirkan hal-hal seperti ini. Harus berapa lama lagi aku menunggu, sampai Canda dan bang Givan pun sudah kembali lagi ke rumah. Mereka hanya mengedikan bahunya, saat aku menanyakan banyak hal.
Sudah lima bulan lamanya kami berpisah. Aku rutin mengirimkan uang, tapi entah bagaimana nasib rumah tanggaku.
Novi, sudah memiliki hubungan dengan seseorang yang dikenalkannya ke rumah sore hari kemarin. Laki-laki yang bekerja di perusahaan kota sebelah, menjadi partner percintaannya.
"Mah, aku perlu ke Aca keknya." Aku menghampiri mamah yang tengah memasak di dapur.
"Nanti ya? Nunggu tanggal lima, sekalian sama Mamah. Mau ada acara tahlilan di rumah pak cek kau yang di Jakarta. Peringatan tahunan meninggalnya nenek Meutia."
Diizinkan, tapi bersyarat. Ya sudahlah, daripada tidak sama sekali.
"Ya udah deh." Aku mengambil piringku dan mengisinya dengan nasi dari penanak nasi. Setelah itu, aku duduk di meja makan seorang diri.
Aku terlambat bangun, karena baru tertidur saat dini hari. Semakin lama bukannya lupa, tapi malah semakin gila.
"Nanti papah tak ikut, Mamah aja sama kau. Kita pun Sabtu malam ambil penerbangan, biar tanggal limanya udah di tempat. Nanti kau boleh langsung ke Cirebon, biar mamah sendirian di Jakarta," ujar mamah dengan menghidangkan lauk di depan piringku.
"Kenapa papah tak ikut, Mah?" Sangat aneh, jika laki-lakinya tak ikut.
"Pupuk datang katanya."
Ini sudah tanggal satu, berarti empat hari lagi. Sedangkan Canda, mereka datang dua minggu yang lalu. Mereka datang dengan berita yang minim. Canda mengaku, Aca jarang pulang dari toko, Aca menginap di toko. Namun, katanya Aca sudah bertambah gemuk.
Rupanya ia bahagia dan sejahtera tanpaku. Malahan, aku yang terlihat begitu buruk dengan beberapa jerawat yang kembali mengotori wajah.
"Bang, HP kau keknya bunyi aja tuh." Novi muncul dengan pakaian yang sudah rapi.
"Kau tak berangkat bareng Ghfar, Nov?" tanya mamah dengan memperhatikan Novi yang tengah mencomot roti tawar di atas meja makan ini.
"Ikmal udah nunggu di depan, Mak Wa. Aku pergi dulu, assalamualaikum." Novi segera mencium tangan mamah, lalu ia berlalu pergi.
Aku memperhatikan Novi, sampai ia tidak terlihat lagi. "Aneh tak sih, Mah? Dari kota sebelah dia datang, buat antar Novi kerja aja terus pergi lagi?" Karena jarak perjalanannya pun ada tiga jam.
"Memang, biarin aja dulu sampai mana permainannya." Mamah tersenyum miring.
Novi tidak pandai membohongi orang tua seperti mamah.
__ADS_1
"Sana tuh diambil dulu HP-nya, barangkali penting."
Padahal aku hendak bersantap.
"Nanti deh, Mah. Kalau telepon dari sekolahan sih paling ke Mamah, telpon papah ya paling ke Mamah juga." Aku akan memenuhi perutku dulu.
"Ya barangkali dari kantor kau, Far."
Ah, rasanya tidak mungkin. Aku telat, tidak ada yang berani menegur selain Novi saat dulu. Ria tidak pernah mempermasalahkan jam kerjaku, yang penting pekerjaanku selesai tepat waktu.
"Biar nanti, Mah."
Aku berpindah-pindah tempat tidur terus. Tidak melulu di rumahku, tidak sering di sini juga. Yang penting rumahku terisi, tidak kosong penghuni. Karena menurut bang Givan, jika rumah tak ditempati malah akan ditempati oleh setan. Entah benar atau tidaknya, karena menurutku jika rumah tidak ditempati maka akan cepat rusak karena lembab.
"Mah, baiknya gimana pas aku datang ke sana itu? Bawa apa gitu? Atau, ngomong apa gitu?" Aku akan merangkai kata permohonan sejak sekarang.
"Temui Aca, tak usah ke pakdhe kau. Hubungan kalian belum selesai kan?"
Aku langsung mengangguk.
"Ya udah berarti selesaikan. Putus ya putus, lanjut ya lanjut."
"Di mana aku harus temui Aca?" Aku rumit sendiri di sini. Aku tidak tahu di mana keberadaannya dan tempatnya tersebut.
Apa ini konsepnya seperti mencuri jarum dalam jerami?
"Di tokonya, di Jalan Ki Ageng Tepak nomor sepuluh." Aku harus mengunci alamat ini.
"Siap, Mah." Jika bisa pun, aku langsung membawanya kabur.
"Pakai Google Map aja kalau tak tau."
Itu jelas kulakan. Meski memang sepenuhnya tidak akurat, tapi setidaknya ada gambaran alamat.
Aku melanjutkan makananku, begitu lapar jika istirahatku kurang. Mungkin, aku hanya tertidur selama dua jam saja.
"Ehh…." Mamah bergerak ke arah rak bumbu. Ternyata, ponselnya berdering dan berada di sana.
__ADS_1
"Pakdhe kau, Far. Ada apa ya?" Mamah berjalan dan duduk di kursi.
"Hallo, assalamualaikum." Mamah menuangkan air dalam gelas, setelah mengaktifkan mode speaker pada ponselnya.
"Wa'alaikum salam. Anak kamu mana, Din? Dari tadi ditelepon, gak diangkat satu pun."
Mamah melirikku, kemudian beliau melirik ponselnya yang menyala.
"Anak yang mana?" Mamah menambahkan lauk lagi ke dalam piringku.
"Ghifar, masa iya Givan?" Nada suara pakdhe sudah ngegas saja. Sebegitu tidak sukanya ia padaku rupanya.
Mamah terkekeh kecil. "Sabar dong, A. Pagi-pagi udah kencang aja suara, rupanya fans beratnya Adi Riyana."
"Ck…. Kalau kamu gak digerebek, kayanya Adi bukan adik ipar Aa dan kau gak bakal lahirin Ghifar."
Mamah melirik lagi ke arahku. Pasti mamah tahu, jika pakdhe sering menjelek-jelekanku.
"Ya bisa jadi anak aku perempuan semua, kalau bukan sama Adi Riyana." Mamah menimpali dengan gurauan ringan.
"Udah lah, Din. Aa lagi males bercanda sama kamu! Antar HP kamu ke Ghifar, atau suruh seseorang bilang ke Ghifar untuk angkat telepon dari Aa gitu."
Yang benar ini pakdhe mencariku? Apa beliau ingin memarahiku, perihal uang yang sering aku kirimkan ke Aca. Aku yakin, ada sangkut pautnya dengan uang-uang tersebut.
Aku malah berpikir kembali, bahwa ponsel dan rekening Aca dipegang oleh pakdhe. Sehingga, ia bisa tahu bahwa aku rutin mengirimi anaknya uang.
Jika memang keberatan perihal uang tersebut, ya tinggal balikan saja. Tapi namanya uang, ya pasti sulit untuk dikembalikan. Toh, aku pun tak akan meminta bila mana uang tersebut sudah terpakai. Aku tak akan memperhitungkan jumlahnya, aku tak akan pernah membahas atau mengulik uang yang pernah kuberi.
Mungkin, aku terlihat sedikit perhitungan. Tapi percayalah, aku hanya ingin terlihat hidup boros saja. Aku tidak ingin mubazir makanan dan hal-hal lainnya, karena sesuatu berlebihan itu tidak baik.
"Tak mau bilang langsung ke Ghifar aja gitu, A?" Mamah tersenyum geli, dengan melirikku kembali.
Satu telunjuknya di tempatkan di depan bibirnya, sebagai isyarat bahwa aku tidak boleh berbicara dahulu. Aku mengerti dan aku terdiam.
"Memang Ghifar ada di situ, Din?"
Kakaknya kurang ramah, suaminya jago marah, apa mamah tidak stress ya? Ya papah cukup tempramen dan tersinggungan orangnya.
__ADS_1
"Ada dong. Mau ngomong apa memang???"
...****************...