Istri Sambung

Istri Sambung
IS274. Posisi janin


__ADS_3

"Padahal sama suami sendiri, bukan suami orang." Suaranya lirih.


Istriku si keras kepala dan sulit diberi nasehat.


"Kan beresiko, Ma. Ingat nyawa Mama, ingat nyawa si kecil. Masa tiap kali habis berhubungan, harus kembali rujuk ke rumah sakit? Selain malu, aku juga yang disalahkan dokter. Bukan Mama, karena dokter tak tau kalau Mama yang maksa. Sementara lah, sampai selesai nifas gitu kan? Aku tak mau kehilangan Mama, aku pun tak mau kehilangan anak kita." Aku duduk di kursi, dengan menggenggam tangannya.


"Kalau kita yakin, aku tak bakal kenapa-kenapa. Dasar aja Papa yang tak pernah yakin, jadi aku ada di sini." Ia seperti menyalahkanku.


Sebenarnya, ilmu yakin ini datang dari mana? Yakin itu bukan seperti itu, jika seperti itu namanya sugesti.


"Hei, sekalipun yakin dengan amat sangat. Orang resikonya pasti kek gitu kok, resikonya udah diberitahukan di awal. Cuma Mama yang seolah nganggap enteng. Tak masalah, tak masalah. Kejadian, nyalahin aku. Dasarnya memang gatal betul, tahan-tahan sampai maksa buat dijebol. Aku yang punya batang, yang disalahkan. Padahal kan permintaan. Tanpa dipaksa pun nyelonong masuk, apalagi dipaksa dan dipersilahkan dengan lebar." Aku berbicara cepat dan menurun.


Ia terkekeh geli, kemudian menutup mulutku. Malu sendiri dirinya, jika sadar bahwa ia memang gatal. Gatal pada suami memang baik, tapi harus tahu kondisi dirinya juga. Kondisinya begini, tetap memaksa. Ya resikonya nyawa.


"Kalau pakai jari aja gimana, Pa?"


Maksudnya bagaimana? Menawar kah melobiku?


"Tak paham lah aku." Tengah kesal sebenarnya aku ini.


Dengan batang tidak boleh, ambil inisiatif dengan jari.


"Coba nanti tanyakan dokter."


Perintah macam apa itu? Buatku malu saja nanti.


"Nanti tanya bang Givan, mamah, atau bang Ken tuh yang paham medis dan masalah begituan. Jangan nyuruh aku untuk tanya langsung ke dokter, aku malu." Gigiku bergemletuk ingin mengigitnya sekali.


"Ya aku yang malu ya." Ia terkekeh renyah.


Tahu malu juga rupanya.


"Kalau mau tanya dokter, sana tanya sendiri!" Aku memalingkan wajahku ke arah lain. Mungkin karena nada bicaraku lembut, tengah marah pun ia tak mengira.

__ADS_1


"Papa aja lah, masa aku tanya? Kan pura-puranya Papa yang gatal."


Segala, harus aku yang berpura-pura. Segatal-gatalnya aku, aku bisa menahan dan kontrol. Kecuali, perempuannya mau dan tidak memberi perlawanan.


"Tak mau aku." Aku beranjak dari kursiku.


Heran aku. Aku diminta mencari informasi, tentang diperbolehkan hubungan suami istri di tengah resiko seperti ini.


"Nanti tunggu jam satu, Bu. Dokternya baru datang siang nanti, jadi belum boleh pulang," ucap perawat yang datang selang beberapa menit perdebatan kami tentang anu.


"Kak, boleh nanya tak?"


Aku langsung bersiap untuk membungkam mulut Aca. Aku tahu, arah mana pertanyaannya ini.


"Boleh, gimana? Ada keluhan apa, Bu?" Perawat tersebut masih berdiri di dekat tiang infus, ia baru mengganti kantong infus milik Aca.


"Misalkan posisi bayi udah di bawah begini, dia bisa naik lagi tak?"


Pertanyaan macam apa itu?


"Oh, berarti kalau untuk selanjutnya boleh ya berhubung badan?"


Tuh kan? Aku langsung melihat ke arah lain, pura-pura tidak mengerti saja.


"Nanti dokter yang lebih tau ya, Bu? Nanti dokter datang pun, USG lagi biar tahu posisi bayinya. Khawatirnya, leher bayi terlilit tali pusar karena dia suka berputar-putar gitu. Tapi semoga aja tak, dua USG berbeda pun tak ada lilitan di leher bayi."


Bayi siapa ya yang pernah terlilit tali pusar? Kalau tidak salah, Adib atau salah satu anak Ghavi. Membuat ibunya melahirkan dengan cara sesar, karena anaknya tidak bisa keluar karena lilitan itu menjerat leher bayi untuk tidak keluar. Sampai sudah membiru ketika lahir itu, meski dengan cara sesar. Pokoknya ada salah satu cucu Adi's Bird yang seperti itu ketika dilahirkan. Aku tahu, karena aku ada di rumah sakit yang sama. Aku menemani saudaraku menunggu persalinan istrinya.


"Jam satu ya, Kak?" tanya Aca kemudian.


Perawat tersebut mulai mendorong meja stainless yang memiliki beberapa barang bawaan itu. "Iya, Bu. Nanti ada perawat yang jemput. Saya permisi dulu." Ia tersenyum sekilas pada kami, lalu keluar kamar.


Aca menoleh padaku dan menarikku secepat kilat. Aku sampai terhuyung terbawa tarikannya.

__ADS_1


"Tuh, Pa. Cuma sementara." Ia tersenyum begitu lebar.


Sepertinya, ia menikah memang untuk se*s. Entahlah, mungkin itu bagian terpenting dalam pernikahannya. Aku hujan munafik juga, hanya kesal karena ia tidak mau diberi pengertian dan menurut. Keras kepalanya berlaku juga untuk suaminya, ia tidak mau mendengarkanku.


Demi Allah, aku tidak berniat mencari istri pembangkang yang sulit diberi nasehat. Harus bagaimana aku mengarahkannya agar patuh dan mau sedikit mendengar nasehat dan menuruti perintahku.


Apa aku harus jadi tukang bentak? Aku tidak tega jika membentak-bentak perempuan terus. Ia sudah lelah dengan aktivitasnya, ditambah dengan hadiah bentakanku. Aku yakin itu bukan hadiah yang menyenangkan untuknya.


"Assalamualaikum…."


Bos tambang datang.


"Wa'alaikum salam." Aku berjalan ke sisi lain, agar posisiku enak dipandang oleh tamu yang baru datang tersebut.


"Nih, salin. Ini dokumen, ini makanan." Ia langsung menumpuknya di tanganku semua.


"Taruh yang benar lah, Van!" ketus Aca dengan nada naik.


"Aku kakak ipar kau! Van! Van! Van!" Bang Givan berani menaikan suaranya juga.


"Kau adik sepupu aku, Van! Kau anak tante aku!"


Para berisik. Harusnya yang galak seperti bang Givan, dapatnya yang galak seperti Aca juga. Canda denganku begitu. Jadi yang galak, berantem heboh. Aku dan Canda berantem menangis bersama.


Aku terkekeh geli seorang diri membayangkan jika rumah tangga seseorang berpasangan seperti yang ada di pikiranku.


"Halah! Status kau udah diperbaharui." Bang Givan menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Malas aku manggil kau bang!" Aca begitu sinis pada kakak satu ibu denganku ini.


"Canda yang kecil aja, di bawah umur Giska. Naik panggilannya kalah di depan mamah, harus dia dipanggil kakak ipar. Meski di belakang mamah, akhirnya Cendol-Cendol juga." Bang Givan membuka kancing teratas kemejanya.


Sungguh, aku tidak suka dengan tatapan Aca. Cabul sekali matanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2