Istri Sambung

Istri Sambung
IS248. Nasehat anak cerdas


__ADS_3

Sampai tertidur, anak ini tetap bersamaku. Puncak ngamuknya, saat ia ingin tertidur. Ia ingin tidur bersama Nahda dan Aca. Ditambah lagi, aku tidak paham menjinakkan anak ini. Alhasil, aku membiarkannya menangis kelelahan sampai tertidur dengan sendirinya.


Beberapa hari ini pun, cara menidurkan Ra seperti itu juga menurut bang Givan. Ra dua kali lebih sulit dijinakkan, karena sebelumnya ia ikut aturan dan kebiasaan ibu asuhnya.


Mamah dan papah pun tidak bisa membantu. Ra tidak mengizinkan dirinya disentuh oleh siapapun ketika mengamuk, ia hanya fokus merusak barang dan menumpahkan amarahnya karena orang yang dicari tak ditemukan juga.


"Papa…." Ceysa memanggilku lirih.


Sejak tadi ia terdiam seperti patung, dengan memperhatikanku yang berbaring di sebelah Ra di atas karpet. Netranya begitu mengunci menatapku sejak tadi, jujur aku takut jika terlalu lama dipandangi oleh anak itu.


"Ya, Cantik. Ada apa?" Aku pun menjawabnya dengan lirih.


"Ra sehat, Pa?" Meski anak ini misterius, anak ini tidak punya indra selain indra pengelihatan, pendengaran, pencium, peraba atau pengecap lainya. Ia anak normal, tidak indigo, India, Indihome, atau Indomie. Jika ia besar sedikit, ia akan ditest IQ mungkin.


"Ra capek, Dek." Aku bangkit dari sebelah Ra, kemudian menggiring Ceysa ke halaman belakang. Ra terlelap di ruang tengah, di atas karpet. Meja dan kursi ruang keluarga sampai digeser untuk keamanan, karena ia mengamuk tak terkontrol tadi.


"Adek sama siapa ke sini?" Aku mengajak anak ini untuk duduk di teras halaman belakang.


"Sama kak Jasmine. Kak Jasmine belikan es krim dulu, kak Shauwi bantuin bu Muna nyetrika." Ceysa selalu menjawab dengan lengkap.


Jadi tidak perlu banyak pertanyaan untuknya, ia selalu menjawab tanpa mesti kita bertanya lagi. Ia tahu caranya memangkas pertanyaan dan menjelaskan tanpa mengkhawatirkan.


Shauwi adalah pengasuhnya. Setiap hari, ia dijaga dan diasuh oleh gadis asal Lhokseumawe itu. Sampai sekarang, Shauwi belum menikah dan belum memiliki kekasih juga. Ia masih begitu muda, saat dibawa ke sini ia baru lulus SMA. Sekarang, ia mungkin baru berusia dua puluh satu tahun.


"Kenapa Adek nanya Ra sakit tak?" tanyaku kemudian.

__ADS_1


"Ra nangis aja, apa ada yang sakit?"


Oh, seperti itu logikanya bermain? Karena logikanya anak-anak akan menangis ketika merasakan sakit. Ra menangis saja, Ceysa langsung berpendapat bahwa anak itu merasakan sakit.


"Ra nyariin mama sama Nahda, kek Adek Ceysa yang suka rindu kak Shauwi kalau dia pulang kampung."


Anak itu manggut-manggut. "Kan tak meninggal juga, aku rindu tapi tak nangis. Kecuali meninggal kek mangge aku, mau nangis bagaimanapun mangge tak akan balik lagi. Mangge udah ditanam di tanah, dijadikan tabungan akhirat amal-amalnya. Kasih tau Ra, mama sama Nahda tak mati, nanti juga ketemu lagi. Sabar aja, jangan nangis aja, kangen sih pasti hilang sendiri kalau udah terbiasa dengan kangennya. Tinggal kita biasa aja, makan, jajan, main, sekolah, ngaji, sholat, tidur, jalan-jalan. Doakan aja, semoga yang kita kangenin masih panjang umur, biar bisa ketemu lagi."


Aku melongo saja, seperti mendengar nasehat dari orang yang lebih tua dari kita. Pola pikir anak yang sepertinya bercita-cita sebagai hacker ini, membuatku mengerti bahwa aku harus tetap melanjutkan hidupku tanpa harus melulu memikirkan Aca. Jika waktunya memang sudah dipertemukan, pasti akan bertemu juga dengan orang bersangkutan.


"Coba bayangkan, kalau aku kangen mangge, gimana caranya aku harus nangis biar dipertemukan? Apa aku mesti mati dulu? Kan aku masih anak-anak, masa mau mati duluan? Nanti biyung aku sedih, ayah aku ngamuk sama Allah. Kan tinggal berdoa aja, kirim doa biar mangge kenyang, doain mangge dapat tempat terbaik, biar tak kepanasan atau kedinginan." Pandangan matanya tertuju pada halaman yang luas. Ia seperti menatap jauh ke depan.


"Kalau kangen sama orang yang hidup, tapi jauh pun. Ya jangan nangis juga, nanti juga ketemu kalau punya kesempatan. Kalau bepergian jauh, kita harus naik mobil, pesawat, becak juga, kan pakai ongkos. Berarti, kita harus nabung dulu buat ongkosnya. Berarti kan, bukan nangis jalan keluarnya? Kalau kita kangen sama orang dekat, tapi tak kunjung bertemu, berarti kan Allah belum mengizinkan untuk bertemu. Rindunya ditabung lagi, harus lebih giat berdoa sama Allah, biar Allah tau kita sungguh-sungguh ingin bertemu dengan orang yang kita rindu."


"Siapa yang ngasih tau Adek tentang ini?" tanyaku dengan memperhatikan wajahnya dari samping.


Ia langsung memutar kepalanya ke arahku. Kesannya horor, tapi anak ini memiliki daya pikat sendiri. Serasa mataku terkunci oleh sorotnya itu.


"Biyung. Biyung bilang, kalau kangen mangge jangan nangis. Berdoa aja, biar Allah yang sampaikan."


Wah, ternyata Cendol. Aku yakin, jika praktek lapangan. Malah Canda yang akan menangis. Ia hanya pandai menasehati dengan ilmu dan dalil-dalil yang ia kuasai, tapi tidak bisa merealisasikan dalam kehidupannya sendiri.


"Ceysa kasih tau Ra sendiri dong. Nasehati Ra, biar tak nangis aja." Aku ingin ia berani menasehati orang.


"Aku males, kalau tau pasti akhirnya tak didengarkan Ra. Aku bakal bilang langsung, kalau orangnya memang mau dengar nasehat aku." Kedipan matanya bisa dihitung, ia lebih suka mengunci pandangan lawan bicaranya hingga terkesima dan tidak berkutik padanya.

__ADS_1


Awalnya, memang terkesan menakutkan. Tapi, lama kelamaan ia begitu menarik. Tidak melulu seperti ini, tapi ia selalu seperti ini ketika diajak berbicara. Terlihat sopan, karena seolah kami diperhatikan dengan penuh.


"Ya Adek Ceysa nasehati ulang." Aku bahkan mengulang nasehatku beberapa kali pada anak-anak.


"Aku malas, Pa. Tak ada gunanya, apalagi Ra yang tak pernah mau paham kalau dinasehati." Ceysa menunduk dengan mencabuti rumput di dekat kakinya.


"Ya namanya juga adik kecil, Dek. Ceysa kan kakaknya, adek Ra adik Ceysa sendiri. Siapa coba yang mau nasehati, kalau bukan kakaknya yang pandai ini?" Aku merangkul pundak ringkih ini dan mengusap-usapnya.


"Bang Chandra sayang semuanya. Kak Key yang cerewet dan berisik pun, pasti bakal ngasih tau Ra juga. Atau kak Jasmine, dia bakal ngasih tau yang baik juga. Kak Jasmine tak bakal sesatkan kok, dia kan selalu jaga adek-adek di sekolah. Selalu menindas balik anak-anak yang nakal ke adik-adik. Aku dengar ceritanya dari kak Key itu."


Ternyata anak-anak pun pandai berghibah.


"Sayang tak Ceysa ke adik-adik dan kakak-kakaknya?" Aku selalu tertarik untuk memperhatikan ekspresi wajahnya.


"Apa aku harus bilang? Kalau tak sayang, aku tak pernah tahan-tahan Cani biar tak jatuh. Aku sampai sakit sendiri." Ceysa menunjukkan lengannya.


Terdapat luka gores di sikunya.


"Kenapa ini?" Aku melihat dengan jelas luka tersebut.


"Cani kan mau turun teras, kan tinggi. Aku bilang, adek jangan turun, tapi Cani bandel. Terus aku tahan-tahan, eh jadinya jatuh bareng sama Cani. Jadinya aku dikira angkat-angkat Cani, terus jatuh. Kan aku jadi sedih, Pa. Aku kadang suka kesal sama biyung. Dirinya yang tak jaga Cani, aku dikira angkat-angkat dan jatuhin dia. Percuma betul rasa sakit aku. Ya udah, aku sekalian pergi aja sama kak Jasmine. Biarin Cani jatuh-jatuh juga, biar biyung disalahkan sama ayah sekalian."


Loh? Ceysa cepat sekali kapok terhadap perlakuan seseorang terhadapnya. Meski pada ibu kandungnya sendiri. Aku akan memberitahu Canda, agar ia lebih mengerti akan Ceysa.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2