
"Ibu Canda punya riwayat operasi caesar ya, Pak?" Dokter tersebut duduk di kursi yang bisa berputar tersebut.
"Ya, Bu." Aku bertambah tegang, saat Canda berjalan ke arahku.
Semoga tidak ada kendala atau gejala tertentu lagi.
"Nanti bulan depan genap sembilan bulan. Sebelum kontraksi, kita ambil tindakan dulu. Ini tanggalnya sudah saya jadwalkan. Seminggu sebelum jadwal, nanti USG kembali ya Bu?" Dokter tersebut menuliskan sesuatu.
Canda mengangguk, "Ya, Dok." Canda memperhatikan dokter tersebut.
Kalutnya jika mendengar kata operasi ini.
Setelah menerima resep dan menebus obat, Kami langsung menuju ke parkiran kembali. Canda sedari tadi sudah membuat list, untuk membeli ini dan itu.
Aku hanya mengantar, biarlah ia menggunakan uangnya sendiri. Bukan apa-apa, aku ketar-ketir untuk kebutuhan keluargaku sendiri. Aku tidak boleh dzalim masalah uang, terutama pada Novi.
"Aku telpon mas Givan dulu." Kami sudah berada di dalam kendaraan kembali.
"Ya, alooo." Aku segera melirik ke layar ponsel Canda. Mulut Ra terpampang jelas di layar ponsel tersebut.
"Ayah Ra mana?" Canda bertanya sembari terkekeh.
"Yah…. Yayah…. Iyung nta jajan." Gambarnya tidak jelas, hanya saja suaranya terdengar begitu menggelitik perut.
"Hmm? Jajan? Ra jajan?" Bang Givan sepertinya belum mengetahui bahwa anaknya tengah bervideocall dengan istrinya.
"Mas…. Mas Givan…." Canda memanggil-manggil suaminya, mungkin agar bang Givan bahwa panggilan tengah tersambung.
"Ehh, ya. Canda." Gambar mulai jelas, dengan Canda yang mengarahkan layarnya pada kami berdua.
"Aku masih ngantri, Canda. Kau di mana itu?" Wajah bang Givan terlihat mengantuk di sana.
"Aku minta antar Ghifar ke dokter kandungan, Mas. Tadi pagi, aku kesetrum sedikit. Panik lah aku, mana kan keknya tak ada pergerakan." Canda mulai bercerita.
Aku fokus kembali mengemudi, dengan telinga yang mendengarkan dialog suami istri tersebut.
__ADS_1
"Hah? Aku pulang ya? Eh, kau di mana sekarang? Aku langsung nyusul ke tempat kau aja. Tunggu aku, aku lagi jalan keluar Bank."
"Ra jangan didepositkan, Mas."
"Ehh, ya ampun. Ra…." Bang Givan menyerukan nama anaknya.
Aku tertawa lepas di sini. Benar kata Canda, bang Givan panik itu selalu melupakan sesuatu.
"Aku udah lagi pulang, Mas. Nanti aku ceritakan di rumah, aku udah baik-baik aja kok sekarang. Anak kita pun tak apa, dia aman dan sehat. Mas tenang aja." Canda buru-buru mengatakan, sampai beberapa kata terdengar salah ucap.
"Alhamdulillah. Yakin kau tak apa sekarang? Kau bisa jalan? Apa ada yang sakit, Canda?" Nada suara kakakku itu terdengar khawatir, tetapi pilihan katanya tidak ada yang romantis.
"Aku baik, Mas. Udah nebus resep juga kok. Mas balik dari Bank ke rumah aja dulu, jangan dulu kerja yang lain." Aku sedikit cemburu, mendengar Canda sedemikian pada suaminya.
"Iya, Canda. Nanti aku langsung balik kok, kau tunggu di rumah aja ya? Bilang Ghifar, suruh bantu kau jalan." Bang Givan malah menyuruh musuhnya dulu ini, untuk membantu istrinya.
"Iya, Mas. Aku mau singgah beli mie ayam bakso ceker, tapi nanti makan di rumah. Mas mau? Aku belikan ya?" Setelah panik pun, Canda tetap bisa memikirkan makanan.
"Tak, belikan buat Ghifar sama anaknya aja. Novi juga belikan. Ya berapa bungkus gitu, tapi kasihkan ke orang. Itung-itung bersyukur, karena kau sama anak kita masih diberi keselamatan. Besok-besok, biar nanti ibu Muna aja yang masak atau aktivitas. Udah kau bedrest aja, Canda. Kandungan kau juga udah besar, kau pasti sulit buat bangun." Aku melongo saja, mendengar penuturan bang Givan pada istrinya.
"Iya, Mas. Tak gitu juga, Mas. Lain kali, mungkin aku harus lebih hati-hati aja. Tak mungkin aku tak aktivitas, Mas." Aku mengakui ucapan Canda ini benar.
"Ya udah, ati-ati ya? Minta bantuan Ghifar buat bantu kau turun mobil. Atau minta dia aja buat belikan, kau stay di jok mobil aja." Aku kembali ditarik untuk membantu Canda.
Apa bang Givan lupa, bahwa dahulunya permasalahan rumah tangga mereka muncul karena keberadaanku yang kembali ke rumah megah? Apa ia lupa juga, ia pernah menuduhku ini menghamili istrinya?
"Iya, Mas. Aku tau kapan buat minta bantuan. Kalau aku mampu, aku gerak sendiri kok." Aku merasa Canda sekarang cukup bijak untuk dirinya sendiri.
"Ya udah, aku nunggu antrian lagi ya? Nanti aku kabarin kalau udah di jalan, barangkali kau mau nitip sesuatu." Nada bicara dan kalimatnya tidaklah romantis.
Tapi, aku yang laki-laki saja itu baper mendengarnya. Aku semakin merasa bahwa bang Givan orang yang tepat untuk memuliakan Canda. Itu membuatku sedikit cemburu, tetapi lebih merasa tenang.
"Ok siap, Bos Tambang."
Aku tergelak, mendengar suara ceria Canda. Suaminya sendiri, ia sebut bos tambang.
__ADS_1
Aku jadi tercendol-cendol, mendengar interaksi keduanya. Semoga mereka tetap seperti ini, sampai maut memisahkan.
Saat sampai di tempat mie ayam yang Canda tunjuk, aku langsung diminta untuk memesan karena ia mengatakan aku tengah nyaman bermain ponsel. Canda memberikan uang dua ratus ribu, untuk memesan sepuluh bungkus mie ayam bakso ceker. Tapi aku hanya memesan, lalu kembali ke dalam mobil kerena pasti akan lama menunggunya.
"Canda, kau mau minum?" Aku menyodorkan air mineral yang belum habis tadi.
Canda menoleh, kemudian menggeleng dengan bermain ponsel kembali.
"Novi buat SW." Canda menunjukkan layar ponselnya padaku.
Terkadang aku merasa pantas untuk diabaikan. Sebab aku tau, aku tidak cukup sempurna untuk diperhatikan.
Itu seperti quotes sindiran, bukan status yang ia tulis sendiri. Novi memposting foto yang bertuliskan hal itu.
Aku tak mengabaikannya. Tapi bagaimana? Menurutku, keadaan Canda tadi cukup gawat.
"Dia tuh kalau cerita, kek yang tak dicintai gitu. Miris betul lah, bikin sedih. Aku dulu sama mas Givan bentrok terus pun, tapi ada sedikit mesra-mesranya kalau mas Givan butuh selang*anganku." Canda menarik kembali ponselnya.
Aku menghela nafasku, aku takut keceplosan jika menanggapi. Mau bagaimana, kenyataannya memang aku pun seperti tak membutuhkan selang*anganya.
Dari awal aku hanya membutuhkan dirinya, agar selalu ada untuk anak-anak. Meski seiring berjalannya waktu, aku pun memiliki pemikiran untuk melanjutkan hidup meski tidak bersama Kin.
Intinya, aku sudah menerima pilihanku sendiri. Bukan untukku saja, tapi untuk anak-anakku juga. Meski nyatanya, aku tidak sepenuhnya mampu untuk memperlakukannya seperti sebagaimana seorang istri dengan baik. Tapi aku berusaha untuk hal itu. Aku tidak diam dan pasrah pada keadaan.
"Terus Novi ada bilang apalagi?" tanyaku yang tidak pernah mendapat jawaban puas.
Pasalnya, sejak berangkat tadi Canda selalu mengulur-ulur jawabannya. Kan aku semakin penasaran, tentang apa yang Novi tahu akan suaminya ini.
"Eummm…." Pandangannya menerawang sejenak.
"Banyak lah, Far. Namanya juga perempuan, ngobrol dan ghibah. Ya banyak yang kita obrolin." Tuh kan, Canda seolah tidak mau menceritakan padaku.
"Tentang aku dan anak-anak, itu apa?" Aku akan mengikisnya sedikit demi sedikit.
"Black…..
__ADS_1
...****************...