Istri Sambung

Istri Sambung
IS65. Ria


__ADS_3

Novi membonceng Kaf di depan. Tapi anak bungsuku itu belum mengenakan tas dan sepatu, sepertinya mereka akan ke tukang sayur saja.


Yah sudahlah, aku langsung pamit dengan Rauzha. Kemudian, bergegas untuk berangkat ke kantor.


Pemandangan pertama yang aku lihat di sini adalah, hiasan buku banyak yang berjatuhan. Belum lagi, ada satu set alat makan bayi dan juga diapers yang sepertinya masih baru.


Ya ampun, bang Givan.


Kadangkala aku senang, karena beberapa pekerjaan beres. Tapi aku merasa sedih juga, karena ruanganku seperti tempat bermain anak-anak.


Lalu kenapa bisa seperti ini? Apa office boy tidak membereskan ini semua? Apa karena belum sempat?


"Wi?!" aku berseru, karena Dewi kini memiliki ruangan sendiri.


Namun, tidak ada sahutan.


"Dewi….." aku berjalan menuju pintu.


Tepat sebelum aku membuka pintu, Dewi muncul dari sana.


"Kenapa, Far?" ia terlihat terburu-buru.


"Ruangan aku tak ada yang bereskan kah?" aku menunjuk beberapa bantal sofa yang berserakan itu.


"Biar aku telpon ke bagian OB. Bang Givan kasih wejangan, biar OB jangan masuk kalau tak ditelpon. Ra tak terkendali, kalau tau mainannya diberesin. Jadi dibiarkan aja kek gitu, biar anak itu anteng." jelas Dewi yang membuatku menghela napas.


Ternyata Ra dalang di balik ini semua. Kau besar nanti akan jadi apa, nak? Rasanya, aku sebagai pamanmu saja ikut memikirkan masa dewasamu.


"Ya udah, aku mau ke Ria dulu." aku meninggalkan ruanganku, yang tidak nyaman dijadikan ruang kerja itu.


Sesampainya aku di ruangan Ria, ternyata tidak kalah acak-acakannya saja.


"Aduh, Ria…. Padahal ruangan kau ini sering jadi tempat rapat loh." aku geleng-geleng kepala, dengan melewati beberapa kertas yang berceceran ini.


"Deadline, Bang. Bentar, Bang. Aku jangan diajak ngobrol."


Ria duduk di atas meja, dengan satu kaki menggantung ke lantai. Satu kakinya lagi ia tekuk, mungkin agar roknya tidak lari meninggalkan kakinya. Belum lagi gagang ponsel yang dicekal oleh tangan kirinya, dengan bolpoin di tangan kanannya.


Tingkah perawan satu ini, Masya Allah.


"Duduk yang manis, Ria." aku memilih duduk di sofa panjang.


Ini sebelumnya adalah ruang kerja Novi.

__ADS_1


"Aku tak fokus kalau duduk manis. Bentar, Bang. Satu lagi, terus siap." Ria menekan tombol di telepon kabel itu.


"Ya hallo, selamat pagi." nada bicaranya begitu sopan dan anggun.


Didikan bang Givan, membuahkan hasil juga. Anak yang tidak pernah makan bangku sekolahan itu. Kini menjadi wanita karir, yang sangat disegani laki-laki. Itu karena, abang iparnya galak.


Tiada hari tanpa dimarahi bang Givan bagi Ria. Bahkan, saat tadi pagi saja. Aku mendengar bentakan bang Givan dengan menyebut nama gadis yang beranjak dewasa ini.


Dua puluh dua tahun, ia sudah bisa menjadi orang kepercayaan kakak iparnya untuk menggenggam suatu usaha.


"Baik, Pak. Terima kasih." Ria tersenyum ramah saat memutus panggilan telepon tersebut.


Namun, urat wajahnya langsung judes dan kaku. Senyum ramahnya langsung hilang, bagaikan ditelan bumi.


"Ada apa, Bang?" Ria turun dari mejanya, kemudian mengacak-acak isi tasnya.


Rupanya, pergaulan juga diajarkan oleh kakak iparnya.


Luar biasa, rokok juga dikenalnya sekarang.


Aku tidak banyak tahu tentang Ria. Karena ia tidak pernah pulang, setelah bermigrasi ke pulau Kalimantan. Aku lama tidak melihatnya, aku baru melihatnya kali ini.


"Kau boleh merokok?" aku ingat bagaimana ia saat remaja.


"Boleh sama bang Givan. Yang penting, kalau hamil berhenti." ia menaruh kembali gelas yang berisi teh dengan asap mengepul itu.


Nikmat sekali rasanya. Aku pun pernah merasakan, sebelum akhirnya memilih berhenti merokok karena untuk mengajari Kin meninggalkan rokok elektriknya.


"Kok bisa? Diajari kah?" merokok perlu keterampilan khusus. Karena saat mencoba pertama kalinya, aku sampai terbatuk-batuk. Ditambah lagi, aku memiliki riwayat flek paru-paru.


Untungnya, aku tidak lama merokok.


"Aku pernah berat badan naik drastis, karena suka begadang terus ngemil. Tak sampai besar sekali, tapi aku panik lah Bang. Kata bang Givan…. Diet lah kau, jenazah kau siapa yang mau gotong nanti." Ria menirukan suara kakak iparnya, "Kan mulut bang Givan memang begitu kan ya, Bang?


Aku mengangguk mengiyakan.


"Terus kata aku, tidur aku terganggu. Aku tak bisa tidur, sebelum jam tigaan. Perut aku lapar, jadi aku ngemil terus. Nah, kata bang Givan mending rokok daripada ngemil. Rokok sih nanti bisa bikin kau kurus karena penyakitan."


Aku tertawa renyah. Aku membayangkan dialog tersebut, dengan wajah masam bang Givan.


"Lah, udah lah nekat aja. Daripada gemuk tak jelas, mana aku belum kawin lagi. Nanti tereliminasi dulu, sebelum jadi mamak-mamak." wajah Ria membuatku semakin renyah tertawa.


"Terus bisa kau?" tanyaku setelah bisa meredakan tawa.

__ADS_1


"Tak bisa aku, pas awal tetap lapar rasanya. Mana kan, keselek asap lagi."


Aku semakin gila menertawakan adik satu ibu dari Canda ini.


"Sekarang kok bisa?" asapnya bahkan terlihat seperti orang merokok normal. Karena yang belum bisa, asapnya akan keluar lewat mulut juga dengan jeda waktu sebentar.


Jika Ria, ia terlihat sudah pro.


"Bisa, kan aku tak punya uang buat beli jajan. Gara-gara beli rokok satu slop."


Aku terpingkal-pingkal sendiri. Ria seperti pelawak yang pro menurutku.


"Hah, kau ini Ria." aku mengusap wajahku dengan menyandarkan punggungku ke sofa.


Kocak adiknya Canda ini. Memang mungkin tidak begitu lucu, tapi coba pahami kalimatnya. Ia melawak, tanpa harus melakukan celotehan lebih.


"Jadi Abang butuh apa?" Ria berjalan ke arah tumbukan dokumen, yang berada di meja lain.


Benar-benar tidak jauh beda seperti ruanganku. Bahkan, di depan logo dalam bingkai perusahaanku. Terdapat pakaian anak kecil yang menggantung bagikan di kastok belakang pintu.


Pasti itu milik si Tuyul lagi.


"Abang mesti ngerjain apa ini, Ria?" aku tidak mengerti apa yang harus aku kerjakan sekarang.


Ria menoleh ke arahku dengan menghela nafasnya, "Tanyalah ke kak Dewi, Bang. Kenapa Abang malah tanya ke aku?" ia geleng-geleng kepala.


"Masa kau tak tau? Perasaan, ada jadwal ke perusahaan mana gitu kan? Bukannya sama kau ya, Dek?" aku menopang daguku, dengan siku yang bertumpu di lutut.


Ria berjalan ke arahku, dengan membawa sehelai kertas. Bahkan, perawan tingting ini tidak memakai sepatu. Ia seperti berada di kamarnya sendiri.


Ya ampun, Ria. Kau tak mencerminkan penampilan seorang CEO.


"Iya, nanti jam sembilan. Terus perlu tanda tangan ini nih, Bang. Keknya kita perlu ke sini juga, karena menurut aku kurang jelas" Ria menunjuk kap surat ini.


Aku mengangguk, "Boleh, terus gimana lagi?"


Aku menyimak penjelasan gadis ini. Aku sesekali memandang wajahnya, kemudian melihat ke arah yang ia tunjuk dalam surat ini.


"Ok, fix ya? Aku siap-siap dulu, Bang. Abang juga sekalian bawa dokumen yang kita perlukan aja, karena keknya ini bisa sampai sore." Ria berjalan ke arah meja kerjanya, dengan rokok baru yang ia nikmati kembali.


Sampai sore ya? Tapi aku merasa ada yang mengganjal di hati, seperti melupakan sesuatu atau memiliki janji. Tapi apa ya?


Sepertinya tidak ada, mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku langsung kembali ke ruanganku untuk bersiap, karena aku dan Ria akan mengunjungi beberapa vendor lokal perusahaan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2