
Tiga hari sudah berlalu. Aku dan Novi setiap hari bolak-balik ke rumah mamah, untuk mengurus anak-anak kami.
Ada satu hal yang pasti nantinya akan membuat drama baru. Yaitu, kak Aca yang kini menjadi pengasuh Ra.
Aku sedikit tahu, akan Canda yang panas hati dengan kak Aca. Meski aku tidak tahu pasti, alasannya karena apa. Nahda pun terlihat anteng saja, ketika Ra mulai brutal. Nahda tidak ikut mengamuk, ketika Ra mulai tak terkontrol.
Yang menjadi keributan Ra cuma satu, yaitu yayahnya. Ia selalu mengamuk, ketika ingat yayah yang tak pulang-pulang.
"Nanti sore yayah pulang, Ra." Papah mencoba menggendong cucunya itu.
Tangisnya langsung reda seketika. Ia masih gampang dialihkan, tetapi sekalinya ia ingat kembali malah lebih hebat mengamuk.
"Yayah La?" Ra menghapus air matanya sendiri.
"Iya, Yayah Ra. Yuk tunggu di depan." Papah membawa Ra keluar pagar.
"Mah, betul tak merepotkan?" Aku memperhatikan mamah, yang tengah memakan puding rasa mangga itu.
"Ya, kau sama Novi baik-baik. Toh anak-anak kau bisa mandiri, anteng juga. Tak kek Ra, kek bukan orang." Mamah melirik sinis cucunya yang digendong suaminya di depan pagar itu.
"Terus apa kalau Ra kek bukan orang?" Aku tertawa geli mendengarnya.
"Entah. Bikinnya keknya tak bismillah dulu, hasilnya begitu makanya." Mamah menyuapiku puding dari mangkuknya.
Tinnnn…..
Aku menoleh ke arah pagar. Mobil Rush berwarna putih itu, ada di hadapan Ra. Ra langsung jejingkrakan, kemudian berlari ke arah pintu kemudi mobil tersebut.
"Yayah…. Yayah La…. Ya apun, Yayah atang." Suaranya begitu lepas.
Bang Givan sudah menjadi cinta pertama Ra.
Ra masuk ke dalam mobil tersebut, dengan mobil tersebut yang berlanjut jalan ke pondok biyung.
Drama dimulai.
Aku hanya membantu mereka untuk memindahkan barang-barang saja, kemudian pulang ke rumah sebelum maghrib. Aku menghindari kecemburuan Novi, yang kadang muncul di luar nalar tersebut.
"Novia…." Aku menyusuri rumahku.
Novi masih minim aktivitas. Bahkan, ia tidak keluar rumah sedikitpun. Ini bukan tanpa alasan, tapi karena ia masih kesakitan untuk berjalan.
Yang mengantar jemput anak-anak bersekolah saja, papah yang turun tangan sendiri. Masih dalam misi dan tujuan yang sama, mereka ingin aku dan Novi saling mengerti.
Bukan lalai pada anak-anak juga, aku sesering mungkin berkunjung meski hanya memperhatikan aktivitas anak-anak. Aku pun menyampaikan pada mamah juga, tentang Kal yang harus mendapat perhatian khusus.
Mamah ternyata tahu juga. Beliau menyanggupi membantu untuk mendidik Kal, juga memberi pengertian mengenai pandangan agama tentang tindakan jeleknya itu.
__ADS_1
"Ya, Bang," sahutannya berasal dari kamar.
"Lagi ngapain?" Aku membuka pintu kamar.
"Cat kuku, boleh ya? Aku lagi haid juga." Ia menunjukkan jemari tangannya.
Aku mengangguk. Kemudian memilih untuk mengecek ponselku.
Tidak ada yang lebih mengganggu, dibandingkan Ria yang spam chat mengenai pekerjaan untuk lusa. Beginilah ternyata cara bekerja Ria.
Ia mengerjakan tugas esok hari di hari ini, karena pekerjaan hari ini sudah selesai kemarin hari. Saat sore menjelang malam begini, ia sudah memberiku beberapa tugas yang harus aku kerjakan esok. Ya, sebenarnya itu tugas untuk lusa. Namun, diselesaikan hari esok. Jadi pekerjaan apapun, tidak pernah keteteran.
Hal itu yang diajarkan bang Givan pada Ria. Segala macam rapat dan janji temu pun, sering sekali lebih maju dari waktu yang sudah ditentukan.
"Eummm…. Kerjaan aku, besok jam sebelas udah selesai. Temani aku periksa yuk? Terus pulangnya belanja bulanan. Kau mau perawatan pun tak apa, tapi setelah aku berobat itu." Aku menaruh kembali ponselku dan berjalan ke arahnya.
"Apa tak mampir ke konter HP?" Novi tersenyum kuda.
"Apa kau bakal ngulangnya lagi?" Aku sudah berada di sisinya.
"Tak, Bang. Aku janji, kalau Abang pun bisa nepatin diri. Sebenarnya, aku cuma balas Abang aja. Segitu pun, Abang udah begitu hebatnya ngamuk. Mana kaca jendela mamah harganya tiga jutaan lagi."
Oh, jadi Novi seperti itu? Ia akan membalas, apa yang ia tidak terima dari pasangannya.
"Yang penting udah tak perawan." Aku menyindirnya. Sengaja mengetes, apa ia masih teringat akan hal itu.
Novi tertawa lepas, "Jadi itu bentuk pelampiasan?" Ia memukul pelan lenganku.
"Parfum apa yang dipakai pagi itu. Aku suka baunya." Jujur, aku tergoda karena bau parfum itu.
Selemah ini laki-laki. Dengan aroma parfum saja, sampai oleng begini.
"Nanti ya aku tunjukkan." Novi berjalan ke arah walk in closet.
Dress ala model Korea setinggi lutut itu, begitu mengepres di bagian dadanya. Warna dress-nya yang mirip dengan rambutnya, membuat Novi terlihat pantas dengan pakaian seperti itu.
"Ini loh." Aku tidak sadar bahwa Novi sudah duduk kembali di sampingku.
"Apa ini?" Ini tidak terlihat seperti parfum, tetapi seperti pacar kuku jaman Giska masih menjadi anak-anak dulu. Namun, tutupnya lebih modern.
Saat aku melirik ke arah botol kecil yang berada di meja kecil. Ternyata, rupanya begitu mirip. Ya seperti kutek milik Novi. Kurang lebih seperti itu.
"Misk Thaharah. Aku beli paket isi empat, mix. Warna putih, ungu, kuning sama pink." Novi melebarkan tutup dua kecil yang ia bawa.
"Ini kutek?" Aku meliriknya.
Novi menggeleng, "Parfum arabian gitu. Coba aja buka, endus baunya. Kalau kutek sih, baunya begini."
__ADS_1
Herannya, aku malah menurut. Aku membandingkan bau kutek, dari botol yang ada di atas meja kecil. Kemudian, aku menghirup bau dari botol misk yang ada di genggamanku.
Memang beda.
"Tapi dipakainya di area ini aja." Novi membuat huruf V dengan jarinya.
Aku mengerutkan keningku, pasalnya aku mengendus bau harum ini bukan dari area itu saja.
"Tapi kemarin aku pakai juga di belakang telinga, pergelangan tangan sama di area dada. Karena kan, kalau pakai parfum aku biasa di area itu."
Aku manggut-manggut saja, kemudian membuka satu persatu botol tersebut. Hanya sebatas untuk menyesapi aromanya saja.
"Suka wangi yang mana?" tanyanya kemudian.
"Yang putih. Tapi yang lain pun, baunya mirip-mirip juga. Biar tak bosan gitu kan, aroma lain. Jadi buat ganti-ganti." Karena semuanya, menurutku memang membangkitkan rasa minat.
Hanya saja. Ini sih hanya khusus diriku sendiri. Ya, memang membangkitkan minat. Langsung terpancing seperti itu, terpancing ke arah hal sensor. Namun, keadaanku seperti ini. Sekalipun aku terpancing hanya mengendus wanginya, tapi aku butuh stimulasi. Aku tidak seperti laki-laki umumnya, yang langsung bereaksi ketika terpancing.
Itulah minusku. Aku tidak seperti laki-laki umumnya.
"Ya kemarin pun, aku pakai yang putih. Wanginya memang membangkitkan kah, Bang?" Aku langsung mengangguk saja, ketika Novi menanyakan hal itu.
"Ya sebenarnya juga, ini buat membangkitkan semangat laki-laki sih." Novi menunjukkan sedikit tulisan yang berada di kardus botol berisi empat buah ini.
Oh, aku baru tahu. Ternyata ada juga produk seperti ini. Tapi cukup berguna sih, apalagi untuk laki-laki sepertiku.
Tapi aku sarankan untuk para perempuan, sebaiknya jangan digunakan di luar rumah. Karena memang ini dianjurkan, untuk membangkitkan minat suami. Bukan untuk parfum yang dipakai sehari-hari.
"Spill harganya. Mana tau bermanfaat untuk yang baca," tanyaku yang membuat Novi tertawa.
"Boleh, boleh. Satunya antara dua puluh sampai dua lima, tergantung seller. Ini aku sama ongkir, dapat empat buah misk, harganya seratus ribu," jawab Novi dengan memutar-mutar dus kecil tersebut.
"PAPA……" teriakan itu begitu lepas.
Aduh, siapa itu? Ada apa? Aku panik, jika ada yang memanggil dengan seruan seperti itu.
Aku segera berlari ke balkon kamar, kemudian mengedarkan pandanganku.
Memang niat anak ini.
"Hm, apa?" sahutku dengan memperhatikannya dari atas sini.
"Dipanggil ayah, disuruh bantu dulu." Key langsung berlari ke pintu penghubung kembali, setelah menyampaikan amanat tersebut.
"Hah? Canda udah pulang, Bang?" Novi menghampiriku dengan ekspresi kagetnya.
Baru juga mengobrol santai dan rileks tadi. Aku khawatir, pertengkaran kembali muncul.
__ADS_1
...****************...
Author bukan sellernya juga 🤣 cuma merekomendasikan, barangkali ada yang membutuhkan.