Istri Sambung

Istri Sambung
IS192. Restu


__ADS_3

"A, Ghifar mau ngomong." Mamah langsung mengarahkan layar ponselnya padaku.


"Apa, Far? Kau udah nikah lagi ya katanya?"


Openingnya sudah begini, aku bingung untuk memulai untuk membuka pembicaraan ini. Masa aku bilang, sudah cerai dan akan menikahinya anaknya.


"Iya, Pakdhe." Aku tersenyum canggung.


Bingung, aku tidak bisa merangkai kata-kata. Waktu aku menikahi Kinasya, yang melamar kan papah. Papah yang meminta Kinasya dari abi Haris, papah juga yang mengurus segalanya bersama abi Haris.


"Nah ngomong apa, Far? Kau mau buka usaha di sini?"


Aku ingin menikahi anaknya, tolong bantu aku menyampaikannya.


"Bukan, A. Ghifar udah jadi duda, baru sih sebulan. Pisahnya sih udah lama, udah satu tahunan lebih keknya." Mamah menguak status asliku.


"Loh, kok cepat sekali? Perasaan waktu itu Aca kirim-kirim foto keluarga kalian di pelaminan bareng pengantin." Terlihat dalam layar ponsel pakde Arif yang terkejut mendengar kabar itu.


"Iya, pas Aca baru di sini kan nikah. Sekarangnya, malah Ghifar mau sama Aca."


Sudahlah, harusnya mamah saja yang berbicara. Daripada aku, yang begitu canggung mengatakannya.


"Hah? Sama saudara lagi? Yang benar aja?" Raut kaget dari pakdhe Arif tak terhindarkan.


"Aku pun kurang mau sih kalau sama saudara dari aku, tapi kasian anak-anak udah saling suka. Mereka udah ada hubungan sebulan yang lalu." Mamah pun ternyata kurang setuju.


"Kalau bisa sih, jangan ada pernikahan di antara anak-anak kita lah. Masa adik kakak hari besan, nanti canggung juga yang ada. Aa bilang ke Aca dulu ya, Din?"


Tut….


Pakdhe Arif langsung mematikan panggilan teleponnya. Mamah melirikku, kemudian ia menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


"Udah ketebak, Mamah pun kalau bisa ya jangan sama saudara lagi. Tapi kalian malah udah jauh, udah sulit untuk ditinggal juga." Mamah memeluk bantal tidurku.


"Coba nanti bilang juga ke kak Acanya, Mah." Aku menggulingkan tubuhku dan menguak lebar.


Aku ngantuk sekali. Pagi tadi sudah keluar otot, lalu siangnya aku tidak tidur siang karena bekerja.


"Terus gimana kalau udah bilang? Mau kau putuskan, kalau pakdhe Arif tetap tak setuju?" Mamah sampai ngotot-ngotot.


"Ya mau gimana lagi, Mah?" Pasti tidak bagus, jika memaksakan restu.


"Ya rugi Acanya dong? Dia udah kau apa-apakan, tapi ditinggalkan. Kalau memang niat main-main, jangan sama saudara sendiri, Far! Setidaknya, jangan diajak berhubungan badan sebelum menikah. Biar kalau tak jadinya itu, minim perselisihan. Kalau begini, ya keluarga juga malu. Aca juga pasti jadi menghindar dari keluarga Mamah, karena anaknya modal dusta aja."


Mamah pasti merasakan sendiri di pihak perempuan. Tapi bagaimana denganku, jika pernikahan kami nanti tanpa restu? Pasti orang tua kak Aca memusuhiku, atau bahkan tak menganggapku ada.


"Terus aku mesti gimana, Mah? Masa ngajak kak Aca nikah kaburan tanpa restu? Aku mau nikah baik-baik, dengan restu kedua belah pihak. Jangan cuma karena aku ingin aja, nanti gimana pihak yang lainnya? Terutama, orang tua kak Aca." Aku bukanlah orang yang pemaksa.


Mamah menggeleng berulang, lalu beliau menghela napasnya.


"Mah…. Kak Acanya pun," ucapku menggantung, karena hampir saja membuka aib kak Aca tentang mengajakku lebih dulu.


"Apa? Acanya kenapa? Dengan kau begini, Mamah malah tak percaya dengan kesungguhan kau. Mamah curiga, bahwa kau cuma memperalat Aca aja. Bukan karena kau betul-betul suka, terus mau untuk diperjuangkan." Mamah sampai memicingkan matanya saat menuduhku.


"Aku suka sama dia, Mah. Cuma gimana? Namanya restu, masa iya aku memaksa? Mamah yang pernah bilang sendiri, kalau tak ada restu ya jangan memaksa, khawatir kedepannya malah lebih sulit." Nasehat kecil ini, pernah dikatakannya ketika aku baru dekat dengan Kin.


Mamah menggeleng berulang. "Bukan begitu juga, Far. Setidaknya, berjuang dulu. Ini sih kau udah dengar keknya tak dapat restu, terus kau malah menerima aja. Kau di sini berjuang dulu, ajak perempuan kau berjuang juga. Kalah udah sama-sama berjuang, tali restu tak didapat ya gimana lagi? Mamah tak pernah mau kau ikuti kebodohan papah kau, yang mau hamili Mamah dulu untuk bisa menikah. Karena, urusannya akan lebih runyam. Kasian anak juga, karena pasti ikut nasab ibunya, udah gitu dia tak dapat apa-apa. Di akhirat pun, kau kena hukuman juga!"


Serba salah. "Ya, Mah. Nanti aku pikirkan lagi lah." Aku ingin beristirahat dulu, agar otak lebih fresh.


"Jangan mainkan Aca, Far. Mamah paling tak suka, kala restu jadi alasan mudah untuk kau ninggalin. Kasarnya begini aja, Far. Kalau Aca hamil anak kau gimana? Sedangkan kau matok di restu aja." Mamah menepuk-nepuk pundakku.


Rumit sudah.

__ADS_1


"Iya, Mah. Aku usahain, nanti pun aku obrolkan sama kak Acanya langsung."


"Jangan! Nanti yang ada, kau malah minta jatah lagi. Nanti kalau kau berangkat kerja aja, baru Aca suruh ke sini." Jika mamah seperti ini, pasti kak Aca yang akan terpojokkan nantinya.


Aku tidak bisa membayangkan, jika kak Aca diminta untuk jujur akan ulah kami. Lalu mamah makin menyudutkanku, karena berpikir kak Aca merugi karenaku.


Hingga satu hari berlalu, kak Aca kini mulai membahas restu orang tua dalam chatting kamu. Dari susunan kalimatnya, kak Aca terlihat sedih dan bingung.


[Siri aja kah? Kalau memang sulit-sulit betul.] Aku tak memiliki saran lain.


Kak Aca langsung membalas. [Coba kau pikirkan tentang anak kita, Far. Kita juga pasti sulit, untuk daftarkan anak sekolah. Lagian apa bedanya menikah siri atau resmi sih, yang dipermasalahkan di sini kan karena restu. Ayah tak mau, karena dia saudara dekat sama mak cek. Khawatirnya, jodoh tak panjang. Nanti yang menjadi taruhannya, ya tentang silaturahmi mereka. Pasti kan ada permusuhan, kalau malah akhirnya cerai di tengah jalan.]


Seperti abi Haris dulu, ia sampai pernah memusuhiku lantaran Kin wafat dengan cara seperti itu. Abi berpikir, aku benar-benar berselingkuh hingga Kin nekat.


[Apa mau nikah tanpa restu? Kita tetap menikah, masalah restu udah terserah aja.] Balasku kemudian.


Tapi sepertinya itu tidak mungkin, karena kak Aca masih memiliki orang tuanya untuk mewalikan pernikahannya. Pasti begitu merepotkan, ketika menikah langsung tanpa restu orang tua.


Namun, kak Aca malah melakukan panggilan video padaku. Sudah pusing, ia langsung mengajak video call juga.


Lengkap sudah.


"Ya hallo, Kak." Aku langsung menerima panggilan telepon ini.


Wajah murung dan merahnya, terlihat di layar ponsel. Sepertinya, ia habis menangis.


"Jadi kita gimana?" tangannya dengan suara bergetar.


Ia tidak baik-baik saja di sana.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2