
"Pemerkosaan?" tebakku kemudian.
"Tak, lebih kekonyolan aja. Ya memang akhirnya ada paksaan, tapi posisi aku salah sejak di awal. Harusnya kan tak mau, tapi malah penasaran untuk dirusak." Tawanya terdengar getir. Aku tidak bisa melihat mimik wajahnya secara langsung, hanya bisa lewat spion saja.
"Tak paham aku, Kak." Terus terang lebih mudah, ketimbang berbelit-belit seperti ini.
"Nanti juga paham."
Tidak terasa, akhirnya aku sampai di teras rumahku. Aku sengaja langsung berbelok ke rumah, agar kak Aca mau membantuku membenahi barang-barang baru ini. Untungnya, Nahda juga anteng memakan makanan yang ia inginkan sambil duduk di sofa tamu.
"Taruh di mana ini, Far?" tanya kak Aca, dengan menenteng plastik berukuran besar yang berisikan keperluan sekolah untuk anak-anak.
"Di kamar anak-anak aja, Kak. Liburan mereka lama, nanti kalau disimpan di rumah mamah malah buat mainan aja." Aku menunjuk lantai atas.
"Kamarnya yang sebelah mana?" Kak Aca sudah naik ke anak tangga.
"Ada namanya kok di pintunya," jawabku yang hanya dibalas anggukan saja.
Aku kembali menata dapur, sedangkan kak Aca naik ke atas. Nahda cukup anteng, karena sambil bermain ponsel ibunya. Anak yang ditinggal ayahnya itu, sudah menggunakan sepatu barunya.
Ia bisa berterima kasih denganku, dengan tutur kata yang menggemaskan. Anak yang pandai, pintar dan baik. Kelak nanti, pasti akan menjadi wanita muslimah yang taat beragama.
"Astaghfirullah…," pekik kak Aca samar, tapi tertangkap telingaku.
"Ada apa, Kak?" Aku berseru dengan mendongak menatap lantai dua.
Namun, tidak ada sahutan. Dengan seperti ini, aku langsung khawatir mendadak. Cepat-cepat aku menuju ke lantai dua, untuk memastikan sendiri keadaan kak Aca di sana.
Sayangnya, aku yang malah dibuat terkejut dengan kehadiran perempuan yang lama meninggalkan rumah.
__ADS_1
"Novi?" Aku terheran-heran menatapnya yang tengah berdiri dan bersedekap di pintu kamar kami.
Apa ada tali yang menjerat lehernya? Aku memperhatikan sekeliling Novi, tetapi terlihat aman. Novi pun terlihat masih hidup, dengan bola mata yang menelisik penampilanku.
"Tau balik kau?!" ketusku cepat.
"Ck…. Jadi begini ya?" Ia malah geleng-geleng kepala, dengan melirik kak Aca yang baru kembali dari kamar anak-anak.
"Iya, memang kenapa? Macam kau pantas aja jadi istri!" Aku menantang ucapannya di sini.
"Far, aku balik ke mak cek ya?" ucap kak Aca, kala dirinya sudah berada di dekatku.
Aku mengangguk. "Ya, Kak. Makasih ya? Dibawa tadi barang-barang untuk anak-anak, udah aku pisah kan dekat Nahda tadi."
"Ya, Far," sahutan itu sudah beranjak menjauh dariku.
Aku kembali menggulirkan pandanganku pada istri yang belum selesai dengan masa lalunya ini. Lihat gayanya! Seolah madam yang melihat pembantunya berbuat salah.
"Jelas. Gimana tante kau? Apa dia masih mau nampung kau lebih lama?" Aku tersenyum miring. "Ya iya, keluarga dari ibu kau tak akan sanggup nampung kau terlalu lama! Kau nyusahin orang aja, Nov!" Aku berbalik badan dan duduk di ruang keluarga yang selalu menjadi tempat belajar anak-anak dan tempatku menyimak pekerjaanku.
"Ngerasa bersalah, kabur. Ngerasa bersalah, kabur. Selamat, kau berhasil jadi pecundang untuk diri kau sendiri. Terus aja kek gitu, Nov. Sampai akhirnya mamah aku sendiri yang proses kau." Aku meliriknya sekilas, kemudian membuang wajahku ke arah lain lagi.
Derap langkah kaki tanpa alas kaki tersebut mendekat. Gelang kerincingnya, menandakan gerakan itu semakin mendekat.
"Aku diceraikan, agar Abang bisa nikah sama Aca. Iya kan?!"
Tuduhan macam apalagi ini?
"Kau tak sadar dengan kesalahan kau sendiri kah, Nov?!" Aku meliriknya tajam, yang duduk di sampingku. "Bukannya minta maaf, mohon ampun dari suami. Kau malah nuduh yang bukan-bukan," tegasku padanya.
__ADS_1
"Jadi, Abang berpikir untuk balas aku? Terus, Abang lebih percaya cerita versi bang Ken?" Ia tetap mempertahankan wajah sombongnya.
Hei, siapa yang berbuat dosa di sini?
"Tak, tak sedikitpun berpikir untuk balas kau. Sekarang udah terserah kau, Nov. Silahkan tuduh aku semau kau, silahkan bernegatif thinking selamanya. Aku udah capek ngadepin sifat kau. Datang-datang dengan masalah yang utuh, bukannya minta maaf, tapi malah nuduh. Kalau pengen langsung proses, tinggal bilang aja. Tak usah balik nyalahin aku, seolah aku yang main serong di sini." Aku memahami sesuatu, Novi kembali enggan disalahkan dan mencoba menarik kesalahanku yang lain untuk menjadi perdebatan hari ini.
"Loh, ya memang betul kok." Ia sampai nyolot memaksa untuk aku mengikuti tuduhannya.
Kin yang ODGJ, Novi yang gila.
"Kalau aku belum sampai di sini, pasti kan kalian mau mesum. Disuruh naik ke lantai atas satu persatu, karena salah satunya lagi liat situasi dan kondisi di bawah. Biar tak ada orang yang lihat, apalagi salah paham. Padahal, baru niat aja kalian udah jelas salah." Jadi seperti itu, perkiraan pemikiran Novi.
"Begitu ya cara main kau kemarin sama bang Ken?" sindirku kemudian.
Alisnya menyatu tajam. "Jelas-jelas di sini siapa yang salah, malah bawa-bawa aku dan bang Ken. Nampak jelas di mata, kalau kalian itu mau berbuat mesum dengan cara yang rapi." Suaranya sampai berani meninggi.
Aku takut dikatakan gila, karena meladeni orang gila.
"Hei, kau kan lebih tau cerita-cerita tentang aku dulu. Apa ada aku ngajak perempuan mesum di lingkungan aku sendiri? Apa pernah ada kau dengar cerita, kalau aku berbuat tak senonoh di rumah orang tua saat masih kumpul semua di sana. Aku mau, aku niat, aku bawa pergi ke Oyo sekalian. Tak ada buku nikah, bisa pesan dua kamar, dengan satu kamar kami tempati bersama dan satu kamar lain hanya dipakai untuk simpan barang salah satu pihak. Aku bukan kau, Nov. Yang berani berbuat mesum, bahkan di rumah suaminya sendiri." Aku jadi teringat cerita Ghava tentang Nando. Novi benar-benar tak mau disalahkan, bahkan ia menarik masalah lain untuk menutupi permasalahannya kemarin.
Ternyata ada loh perempuan seperti ini. Bukan shock lagi, aku pasti begitu dipercayakan oleh Yang Kuasa untuk bisa merasakan hidup bersama jenis perempuan seperti ini.
"Abang tarik masalah yang udah kelar kemarin, dengan kesalahan Abang hari ini. Hebat betul Abang." Ia geleng-geleng kepala dengan tersenyum kecut.
Bisa-bisanya aku yang dipandang salah di sini?
"Kesalahan apa yang aku buat hari ini? Dosa apa, yang aku lakukan hari ini? Kenapa kau seolah maksa aku untuk ngakuin hal yang tak lakukan? Terus, masalah mana yang kau bilang udah kelar? Kau kabur, Novia! Masalah tetap utuh, tak berkurang dan bergeser sedikitpun. Terus kau bilang udah selesai? Bahkan permintaan maaf dari mulut kau aja tak pernah aku dengar. Jadi, masalah mana yang kau anggap selesai? Apa kau berpikir, dengan perginya kau masalah pun ikut pergi? Terus kau datang lagi, dengan keadaan suci dan masalah yang udah rampung begitu? Seberapa lamanya kau pergi, masalah yang belum kau selesaikan akan tetap utuh! Jangan hakimi aku, dengan apa yang kau lihat hari ini, karena sama sekali aku tak menyalahi aturan atau melakukan pengkhianatan." Aku tersulut emosi.
Ia terdiam. Kepalanya baru bisa menunduk setelah sekian lama, dagunya berada di atas awan.
__ADS_1
Apa ia tengah memikirkan kalimat untuk membalasku lagi? Atau, ia ingin menyusun kalimat untuk permintaan maafnya?
...****************...