Istri Sambung

Istri Sambung
IS253. Hak asuh Bunga


__ADS_3

'Aku akan buat sebuah ledakan.'


Aku langsung celingukan, memperhatikan tempat di sekitarku. Ledakan bagaimana maksudnya? Atau, nilai transfer itu terlalu kecil? Hanya lima ratus ribu, pikirku itu hanya untuk mengirimkan nomor teleponku saja.


Aku mengetikan nominal dalam jumlah jutaan, kemudian aku menambhakan keterangan lagi dalam transaksi transfer yang akan aku lakukan.


'Ledakan apa? Hubungi aku.' tulisku dalam kolom tersebut.


Transfer berhasil, tanpa pengembalian uang transfer. Ya, aku pikir nilai tersebut kurang untuk Aca. Setelah ditransfer kembali senilai dua juta, dana tersebut tidak ditransferkan kembali.


"Bang! Selesaikan dulu pekerjaan kau! Nanti lagi main HP-nya!" Aku mendapat bentakan dari orang yang lebih muda dariku.


Aku mengangguk dan mengantongi ponselku dengan cepat. "Iya, Iya. Nih, Abang lanjut kerja." Aku sadar, jika tanggung jawabku belum selesai pada pekerjaan ini.


Menjelang tengah malam, aku mendapat pesan dari Canda bahwa ia baru sampai di rumah nenek dan kakek yang berada di Cirebon. Hanya membaca, aku tak membalas pesan dari Canda. Karena Canda hanya memberitahu saja, bahwa ia sampai di Cirebon dengan selamat.


Aku mencoba memejamkan mataku, di ranjang penuh sejarah yang pernah aku geluti dengan dua perempuan. Yaitu Kin dan Novi. Di kamarku juga, Kin meneguk pil yang mematikan tersebut. Aku teringat, jika obat itu berwarna kuning dan kecil. Kin meneguk dalam jumlah banyak, hingga tubuhnya tidak kuat. Aku tidak pernah tahu itu obat apa, aku pun tak pernah mencaritahu juga. Khawatir aku malah akan melakukan hal yang sama, ketika sudah lelah hidup mengurus urusan dunia.


Aku tertidur, untuk esok yang lebih baik. Banyak harapanku di hari esok, yang aku semogakan setiap sholatku.


Aktivitas yang super sibuk, bahkan aku dititipkan untuk mengecek toko material milik kakakku. Hanya mengecek, tidak mengurusnya juga. Aku hanya mengirimkan foto pada bang Givan setiap harinya, dari catatan pembukuan di toko material ini. Jujur, aku tidak mengerti pembukuan seperti ini.


Hal yang memuakan untukku, adalah ketika bang Ken ada di rumah mamah bertepatan dengan Novi. Sorot mata mereka yang berkomunikasi, menjadikanku teringat akan permasalahan hampir dua tahun silam. Entah kenapa si pak dokter itu muncul kembali, setelah sekian lama berkelana di Negeri Jiran.


"Kenapa kau? Macam lesu gitu?" tanya mamah, ketika aku langsung bermanja-manja di samping beliau.


Entah kenapa, hawanya mengantuk saja. Badan terasa lemas, dengan tenaga yang sepertinya berkurang.


"Keknya mau sakit deh, Mah. Udah campur aduk rasanya." Setelah berbicara, aku menguap lebar.

__ADS_1


Sejak hari Jum'at, aku seperti ini. Sampai datang hari Minggu, nyatanya aku makin malas beraktivitas.


"Istirahat yang cukup, minum vitamin."


Aku sudah tidak pernah minum vitamin, sejak kepergian Kin. Kin memberiku banyak vitamin, sesuai jadwal dan kebutuhanku. Setiap hari, aku mendapatkan vitamin C dalam bentuk kapsul berwarna oranye. Belum seminggu sekali, aku diminta untuk meminum vitamin entah apalagi itu. Sebulan sekali pun, aku sekeluarga mendapat suntikan vitamin di lengan kanan ataupun kiriku.


"Tak punya, Mah. Belikan sih." Mungkin memang aku kekurangan vitamin.


"Minum satu punya papah dulu tuh, nanti sore mamah ke apotek." Mamah fokus memainkan ponselnya saja, meski aku mengganduli lengannya.


Memilih barang-barang lewat daring seperti ini, sudah seperti kesenangan tersendiri untuk mamah. Beliau anteng, dengan fokus untuk tidak teralihkan.


"Mah, aku mau minta pendapat. Tentang rujuk sama Riska, atau ambil alih Bunga." Bang Ken tiba-tiba menimbrungi kami.


"Kenapa harus tak jadi nikah sama mantan kau, kalau akhirnya kau udah terlanjur cerai sama istri kau? Keknya, jadi percuma aja."


Aku tidak berniat menimpali, aku hanya ingin bermanja-manja pada mamahku. Sayangnya, beliau diajak mengobrol oleh anak angkatnya itu.


"Kok bisa ragu semua? Jadi, jalan mana yang mau kau ambil?"


Aku melirik dan melihat kepala bang Ken menggeleng. "Ada kelegaan tersendiri gitu, bisa cerai dari Riska. Ya gimana ya, dari awal aku sebenarnya kurang sreg, cuma tak enak hati karena udah terlalu lama aku pacari. Aku pun pasti dapat celaan, kalau lama macarin perempuan, nikahnya sama yang lain."


"Kok ngomongnya gitu? Memang Riska kenapa?" Mamah seperti keheranan, begitu pun dengan aku. Karena aku tahu, bang Ken dan kak Riska begitu romantis ketika di Bali.


"Tak patuh, apalagi sejak nikah dia banyak di rumah orang tua."


Kepatuhan seorang wanita, menjadi patokan menjadi istri idaman. Aku paham akan hal ini, karena aku pun merasakan sendiri perbedaan memiliki istri penurut dan pembangkang.


"Kau kan udah punya rumah sendiri kan di Cirebon?" Mamah melemparkan pertanyaan lagi pada bang Ken.

__ADS_1


Ia mengangguk. "Ada rumah, perumahan type 42. Sedang lah menurut aku, tak besar dan tak terlalu kecil. Apalagi kan, kita baru ada anak satu."


Aku pun heran dengan wanita pembangkang. Kebutuhan dipenuhi, perut kenyang, rumah ada, perhatian dan kasih sayang diusahakan semaksimal mungkin. Tapi tetap tidak mau menurut juga itu sebenarnya kenapa?


"Intinya, memang udah tak cocok gitu ya hubungan kau sama Riska?" Bang Ken langsung mengangguk, setelah mendengar pertanyaan itu.


"Kau rujuk karena anak ya?" Bang Ken pun mengangguk kembali.


"Ya udah, ambil alih anak kau aja. Tapi lewat kesepakatan dan hukum juga. Jangan jadikan rebutan, lewat cara baik-baik. Pandai-pandai kau beralasan lah, karena anak kau itu kan wajib ditanggung sama kau sebagai ayahnya."


Anak-anak aku pun ikut denganku.


Eh, iya. Ibunya meninggal, bukan karena perceraian. Aku lupa akan hal itu.


"Apa bisa ya, Mah? Terus siapa yang bakal asuh dan perhatikan dia, di samping baby sitter yang urus dia?"


Aku pura-pura tertidur saja. Anak-anakku sudah banyak sendiri, aku tak berminat untuk mengasuh anak bang Ken.


"Di sini tak apa, sama Giska tak apa, Givan pun tak apa. Tinggal kau buat bangunan di sebelah rumah Ceysa, tapi nanti aja kalau Bunga udah fix tinggal di sini."


Pondok biyung menjadi solusi perkumpulan anak-anak.


"Ya udah nanti aku minta Givan dan Canda untuk jaga dan perhatikan Bunga. Untuk kebutuhannya pun, nanti aku pasrahkan ke mereka aja. Aku harus balik lagi ke Malaysia, Mah."


Menurutku, daripada anak bersama orang lain ya lebih baik diasuh ibunya saja. Ya itu pun terserah saja, pendapat orang bisa berbeda-beda. Mungkin aku tak mengetahui sifat asli kak Riska, yang hanya diketahui bang Ken.


"Ya udah gih, bilang ke mereka dulu aja."


Bang Ken langsung mengangguk, kemudian beranjak pergi dari ruang keluarga ini. Sepertinya, ia tidak lama berada di sini. Sampai ia langsung bergerak cepat untuk mengurus semuanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2