Istri Sambung

Istri Sambung
Maaf, jika egois


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Yolan sudah terbangun dan menciumi papa mamanya bergantian, kerena melihat orang tuanya masih terlelap tidur karena lelah.


Sandra yang merasa dirinya dicium terus menerus, mulai membuka mata dan bangun dahulu, kemudian membalas ciuman Yolan yang dari tadi menciuminya.


"Pagi sayang, pagi-pagi sekali bangunnya." sapa Sandra pada Yolan.


Yolan tak menjawab malah bermain bulu mata milik papanya yang lentik, yang masih terpejam.


"Ma, papa kok gak bangun?" tanya Yolan penasaran.


"Mungkin lagi kecapean, coba Yolan cium pasti papa bangun." saut Sandra.


"Sudah Yolan cium dari tadi tapi gak mau bangun, coba mama yang cium pasti papa bangun, cium bibirnya ya." pinta Yolan.


"Mama cium papa, tapi di sini?" pinta Yolan sambil menunjuk bibir Brian. Sandra terlihat ragu-ragu namun Yolan terus memaksa.


Sandra pun akhirnya mencium bibir Brian cukup lama, dan mata Sandra langsung terbelalak mendapati Brian membuka mata.


"Hore....mama hebat bisa bangunin papa." Yolan tepuk tangan bahagia, segera saja Sandra menjauhkan bibirnya dan menutup mulutnya.


"Pagi sayang." Brian mengecup kening Yolan.


"Mama hebat, bisa bangunin papa." Yolan kagum dengan Sandra, sambil tepuk tangan, membuat wajah Sandra Malu karena ulah Putrinya.


"Mama, papa cium pipi Yolan ya." pinta Yolan mereka pun tak menolak langsung bersamaan mencium Yolan, namun Yolan menghindar membuat Sandra dan Brian kembali berciuman.


"Ye..."Yolan kegirangan bisa ngerjain orangtuanya. Merasa di kerjain. Sandra pun menggelitik putrinya.


Setelah bermain dengan Yolan di pagi hari, akhirnya mereka pun bersiap untuk pergi ke Villa, tempat yang akan ditinggali sementara.


Weni pun ikut serta setelah Brian menerimanya untuk mengasuh Yolan.


Brian dan Sandra satu mobil sedangkan Weni dan Yolan di mobil yang lain.


"Sayang, terimakasih sudah mau menemani aku dan kamu juga janji akan menuruti semua keinginanku kan."

__ADS_1


"Iya mas, semua keinginanmu akan aku lakukan, aku janji akan selalu membuat mu senang."


"Bagus kalau begitu." Senyum simpul terukir di wajah mereka sebelum akhirnya sampai ke Villa.


Sandra memandang sekeliling Villa yang besar dengan nuansa warna biru muda.


"Kita tinggal disini mas?"


"Iya sayang, ayo masuk sudah aku siapkan semuanya di dalam." Brian pun menggandeng tangan Sandra dan membawanya masuk ke dalam.


Beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka.


"Bi, tolong tunjukkan kamar Weni dan Yolan, biar aku yang membawa istriku ke kamar, Oya apa semuanya sudah di siapkan?"


"Sudah tuan, sesuai perintah tuan."


"Bagus kalau begitu. Ayo sayang, aku ingin tunjukkan sesuatu." Mereka pun berjalan menaiki anak tangga sebelum sampai kamarnya dilantai atas.


Saat sampai depan pintu, Brian meminta Sandra untuk menutup mata dan Sandra pun menurutinya, Brian pun langsung Mambawa masuk Sandra dalam keadaan mata tertutup.


"Sayang sekarang sudah bisa membuka mata." perintah Brian.


"Mas, ini nyata atau hanya mimpi mas?" Sandra yang masih syok melihat semuanya dan baru pertama kalinya dia lihat.


"Ini semua untukmu sayang, hadiah dariku, apapun akan aku berikan untuk mu."


Mata Sandra berkaca-kaca, merasa terharu Karena Brian begitu mencintainya.


"Makasih mas, aku gak punya kata lain selain terimakasih."


"Gak perlu sayang, ini semua memang hak kamu. Oya, kalau buat anak mas, belum mas siapkan soalnya takut salah, kan mas belum tahu laki-laki atau perempuan."


"Gak papa mas, bisa kita beli nanti, kalau sudah mendekati persalinan."


"Iya sayang. Oya aku masih punya satu lagi." Brian kemudian melingkarkan sebuah kalung berlian yang indah di leher Sandra dan meminta Sandra melihatnya di cermin.

__ADS_1


"Mas ini indah sekali, pasti mahal."


"Sudah gak usah di pikirkan harganya, itu gak seberapa dibandingkan dengan kebahagianmu yang jauh lebih mahal." Sandra pun memeluk Brian.


"Ya sudah, sekarang pergilah lihatlah Yolan. apa dia menyukai kamarnya." titah Brian Sandra pun mengangguk lalu pergi menemui Yolan.


Sandra melihat Yolan nampak bahagia, sedang bermain dengan Weni.


"Gimana Wen, apa kiranya kamu akan betah kerja disini."


"Apa yang kamu pikirkan Sandra, aku pasti betahlah, apalagi Yolan mulai menyukai ku." ucap Weni sambil bermain dengan Yolan.


"Syukur lah kalau begitu. aku juga ikut senang."


"Ya sudah aku keluar dulu, temani Yolan ya." Sandra pun pergi meninggalkan mereka dan kembali ke kamar disana sudah tidak ada Brian entah dia pergi kemana.


Sandra duduk dilantai dipinggir ranjang, Menangis terisak-isak sendirian. Sandra menangisi keputusan yang dia ambil, menggantikan posisi wanita lain dan mengambil suaminya , Sandra merasa menjadi wanita paling jahat dan serakah, hanya agar anaknya memiliki seorang ayah. dan mendapat status, Sandra merasa begitu egois, tidak memikirkan Sabrina yang seharusnya ada di posisi ini.


"Sabrina maafkan aku, jika aku salah melakukan ini padamu, aku tak mengharapkan ini semua, aku hanya ingin anakku tidak kehilangan ayahnya, tolong maafkan aku Sabrina, Aku janji setelah bayi ini lahir dan kamu kembali, aku akan pergi dari kehidupan Brian setelah anakku mendapatkan kasih sayang ayahnya walaupun sebentar." Sandra terus menangis dan tak ada yang mengetahuinya.


Setelah puas menangis, Segera membasuh wajahnya, agar tak terlihat kesedihan diwajahnya, Sandra tak ingin orang lain tahu kesedihannya dan rasa bersalah nya. Pada saat Sandra ingin keluar kamar mandi, tiba-tiba perutnya terasa sakit sekali, Sandra meringis kesakitan sendirian dan terus memegang perutnya yang sakit, Sandra mencoba untuk teriak meminta tolong dan namun tenaganya tak cukup dan akhirnya dia pun jatuh pingsan.


Entah berapa lama Sandra pingsan yang dia tahu sekarang dirinya ada di rumah sakit, dengan selang infus yang menancap di tangannya.


"Sayang, kamu sudah bangun, Aku sangat kuatir kamu kenapa-kenapa" Brian menggenggam tangan Sandra.


"Mas, sudah berapa lama aku pingsan?" Tanya Sandra.


"Sudah beberapa jam, aku segera membawamu kesini setelah melihat mu tergeletak di lantai."


"Anak kita bagaimana mas, apa dia baik-baik saja, tadi aku merasakan sakit sekali diperut, anak kita gak papa kan?"


"Tenang saja, anak kita baik-baik saja, kondisi ibunya yang kurang baik, kenapa kamu terlalu stres, apa yang sayang pikirkan, tolong jangan berfikir terlalu berat itu bisa membahayakan anak kita, untung kata dokter janinnya kuat, kalau tidak-" Brian menghentikan ucapannya.


"Maafkan aku mas yang ceroboh." Sandra menangis mendengar kemungkinan yang terjadi.

__ADS_1


"Sudahlah jangan menangis lagi, yang penting semuanya baik-baik saja, jika nanti kamu sudah membaik, kamu bisa cerita semua masalahmu pada ku, biar kita sama- sama memikul bebannya." Brian menghapus air mata Sandra dan mengecup keningnya menenangkan Sandra bahwa Brian akan selalu ada buat Sandra.


To Be Continued ☺️☺️☺️


__ADS_2