
"Apa sakit?" Aku lagi-lagi berhenti, karena melihatnya yang meringis menahan. Bukan ken****tan, seperti halnya Kin ekspresikan padaku.
Aku teringat akan Canda yang menangis di pojokan. Aku teringat akan ringisan kepedihannya.
"Kaget aja, Bang. Kek benda asing apa gitu." Novi membenahi rambutnya yang menutupi wajahnya.
Aku teringat akan tindakan Kin. Saat awal itu. Ia mengatakan, agar rasa asing itu digantikan dengan rasa anti mainstream.
Aku tahu, itu adalah titik kelemahan perempuan. Hanya saja, aku merasa repot jika bergerak dengan yang melakukan aktivitas tersebut.
"Aduh, Abang." Novi langsung menahan tanganku.
"Sakit kah?" Aku sejak tadi was-was terus, khawatir ia kesakitan lagi.
"Geli." Ia tersenyum malu.
Dasar, perempuan!
"Mau tak sendiri?"
Novi menggeleng. Mungkin ia masih malu, entah karena ia hanya ingin diselesaikan.
Aku cukup tahan lama, meski di awal begitu kesusahan untuk bangun. Aku sanggup bertahan satu jam lebih hanya untuk beradu saja, tidak dihitung dari pemanasan, tapi kadang pun bisa cepat jika bergerak terlalu cepat.
"Rasanya hampir kek waktu itu, tapi di dalamnya geli betul."
Aku tidak menjawabnya, aku hanya diam melihat ekspresi wajah Novi. Sejujurnya, aku terganggu jika banyak obrolan.
Namun, aku sering meracau tak jelas jika sudah mendaki ken*km*tan. Kin bahkan suka sekali melihat aku yang ribut sendiri, karena perbuatannya.
"Kalau dikeluarkan, apa bisa keluar lagi?" Aku khawatir ia malah kelelahan.
Novi mengedikan bahunya, "Aku tak tau, aku belum pernah coba."
Iya juga sih. Kenapa aku bertanya hal yang belum pernah ia rasakan?
Aku melepaskan rasa kami, "Gantian." Aku langsung merebahkan diri.
Namun, Novi tidak ada pergerakan. Aku menoleh ke arahnya, kemudian mencoleknya.
"Sini naik, Nov." Aku mengisyaratkan dengan jelas.
"Aku tak bisa, Bang." Novi duduk dan menarik selimut.
Hufttt….
Tak bisa ya? Masa iya satu jam aku yang harus bergerak terus? Bisa-bisa encok setelah selesai.
"Ayolah, Nov." Aku menarik tangannya.
__ADS_1
Kin pun sejak awal mau bergerak. Meski ia meringis menahan sakit, karena baru saja rilis kondisi baru.
Aku jadi tidak mengerti dengan Novi. Atau, memang tidak semua perempuan mau bergerak?
Novi menggeleng, "Kek tadi aja, Bang." Novi yang malah menarik tanganku.
Ya sudahlah. Aku tidak ingin berdebat. Aku ingin cepat selesai saja, jika sudah seperti ini. Laki-laki juga mau, bukan hanya pihak perempuan saja.
Apa toleransiku buruk juga?
Aku rasa tidak, karena tidak semua perempuan juga seperti Novi.
"Lain kali di atas. Kau harus ingat, kalau aku suka posisi perempuan di atas." Aku bangkit dan mengerjakan tugasku kembali.
Giliran aku sudah bisa bangun, Novi yang malah tidak mau bangun. Enak rebahan saja, dengan aku yang berusaha seorang diri.
"Ya, Bang. Nanti aku belajar lagi." Mendengar kata belajar, aku yakin Novi bisa lebih bisa mengerti akan mauku.
Aku mengangguk, "Aku suka perempuan yang aktif." Aku membingkai wajahnya dengan beraktivitas kembali.
Ringisan Novi begitu kentara, apa ia tidak baik-baik saja?
"Apa sakit, Nov?" Aku cukup khawatir di sini.
Kin pernah bercerita, ada mempelai wanita kejang setelah selesai resepsi. Ia dirujuk ke rumah sakit, dengan Kin yang menanganinya. Penyebabnya adalah satu, karena mempelai laki-laki terlalu kasar untuk membobol gawang di malam pertama itu.
"Pedih aja kalau baru masuk gitu. Perih gitu, Bang." Novi terlihat pucat.
Tapi Black Mamba masih kokoh.
"Udah aja kah, Nov?" Aku mengusap-usap pipinya dengan jemariku.
Novi menggeleng, "Jangan, Bang. Aku tak mau nurut aja, Abang udah masam gitu. Apalagi, kalau selesai dadakan." Novi menurunkan suaranya ketika di penghujung kalimat.
"Aku tak suka penolakan." Aku tidak biasa mendapat penolakan.
Bahkan, aku yang malah babak-belur jika menolak Kin. Babak-belur dalam arti lain, karena penuh tanda kepemilikan darinya.
"Rileks coba." Aku menegakkan punggungku kembali.
Aku tidak ingin terlalu lama, Novi masih belum biasa. Aku harus bisa sedikit cepat, agar Novi tidak sampai merasa bengkak.
Sesuai inginku pagi ini. Novi bisa menggapainya, setelah itu disusul olehku.
"Nanti beli salep, kau harus diliburkan dulu, Nov." Aku masih memperhatikan lipatan itu.
Kasihan sekali, sampai ada luka lecet. Sepertinya, aku harus membeli sejenis gel. Karena, Novi tidak cepat kebanjiran seperti Kin.
Bukan aku membandingkan. Hanya saja, pengalamanku memang hanya dengan Kin. Aku pun malah banyak belajar darinya.
__ADS_1
Novi bangkit, ia meringis kembali dengan merapatkan matanya.
"Maaf ya, Nov?" Aku menggenggam tangannya.
Aku tidak enak hati, aku sepertinya terlalu kasar. Padahal, aku malah lebih halus memperlakukannya ketimbang dengan Kin dulu.
Novi tersenyum samar, "Tak apa, Bang." Pandangannya turun ke tengah-tengah tubuhku.
"Ya ampun, segede itu. Pantesan, rasanya kek sembelit seminggu. Perut penuh betul."
Aku terkekeh geli, "Padahal di tempat yang benar, bukan di tempat yang salah. Masa iya rasanya bikin perut penuh? Kau ini ada aja, Nov." Aku perlahan turun dari ranjang.
Aduh, lututku begitu linu.
Inilah kenapa kaumku sering minta gantian. Karena bukan hanya lutut, tapi pinggang juga terasa patah. Bayangkan saja bergerak lama dengan tempo cepat. Padahal aku baru berusia tiga puluhan, apalagi nanti empat puluhan.
"Sini cuci, aku bantu." Aku memakai penutup warisan turun temurun agar tidak dilirik tetangga.
Novi mengangguk, kemudian ia pun turun dari ranjang. Aku membantunya secara menyeluruh, lalu membiarkannya berjalan lebih dulu.
"Uhh…." Novi berdiam diri di tempat.
"Kenapa?" Aku cepat menahan lengannya.
Aku takut ia ambruk.
Novi menoleh, dengan ringisan yang membuatku tidak tega.
"Sakit jalannya, Bang." Novi meloloskan air matanya.
Perbuatanku ini.
"Biar aku gendong." Aku menempatkan tangannya di bahuku, kemudian aku mengangkat tubuhnya.
"Wow, kuat ya ternyata."
Ia meledekku?
Aku memberikan kedipan genit, "Iyalah. Duda juga, bukan duda tua kali." Aku membawanya ke dalam kamar mandi.
"Duda muda, doyan ngamuk," timpal Novi yang membuat kami tertawa bersama di dalam kamar mandi tamu ini.
Aku membiarkannya membersihkan diri di atas kloset duduk.
Dengan aku yang memilih berjongkok di saluran air. Aku bergidikan bercampur linu, saat buang air kecil.
Saat kencing terasa sakit. Aku pernah merasakan ini, setelah lepas perjaka dengan Kin.
Tapi kan, sekarang aku sudah tidak perjaka. Kenapa sakit ya?
__ADS_1
Aku jadi khawatir dengan keadaan pusakaku? Apa ini ada sangkut pautnya, dengan DE yang aku alami? Bisa jadi bertambah parah kah begitu? Atau, memang hanya kekhawatiranku saja yang terlalu berlebihan? Mungkin ini tidak seburuk prasangkaku, tapi tidak sebaik-baik saja seperti sedia kala. Karena aku terganggu, dengan rasa sakit saat buang air ini. Apa aku langsung berobat ke dokter saja? Tapi jelas, itu akan membuatku malu sekali.
...****************...