Istri Sambung

Istri Sambung
IS273. Memberitahu saudara


__ADS_3

"Lagi set alarm, ini mau tidur." Aku menunjukkan layar ponselku.


"Itu panggilan masuk."


Ih! Tadinya di area jam, kenapa bisa mendadak ada panggilan masuk?


"Siapa itu?" tanyanya kemudian.


"Nomor tak dikenal." Aku tidak menyimpan nomor telepon Farida.


"Tak usah diangkat, tidur aja." Aku mengangguk dan meletakkan ponselku di atas bantal.


Aku mulai memejamkan mata, dengan menghadap ke arah Aca yang berada di brankar seberang tempatku. Aku mulai mengantuk, melihat Aca yang tenang dan mulai terpejam di brankarnya.


Hingga esok harinya, aku mendapati tujuh panggilan tak terjawab dari Farida. Apa tujuannya menghubungiku terus? Mana waktunya tengah malam dan hampir dini hari lagi.


"Ma, agak siangan nanti aku pulang dulu ya? Mau ambil pakaian dan ambil kerjaan." Aku bergerak menyuapinya.


"Anak-anak sekarang gimana?"


Wah, benar. Aku lupa menghubungi saudara-saudaraku.


"Semalam sih udah bilang ke Ghavi. Tapi Atha begadang semalam, pasti Ghavi masih tidur sekarang." Aku menggulirkan ibu jari di atas layar ponselku.


"Ghavi tak online, terakhir dilihat jam tiga dini hari. Aku telpon yang lain aja." Entah mengapa, ibu jariku malah menghubungi Canda.


Langsung diangkat, begitu status dalam panggilan berubah menjadi berdering.


"Hallo…." Suara ngebas itu terdengar, itu suaminya Canda.


Aku menspeaker panggilan telepon ini. "Bang, keluar rumah belum?" tanyaku kemudian.


Aca akan jelas mendengar percakapan kami.


"Udah, beli sarapan untuk anak-anak tadi. Kenapa kau pagi-pagi telpon Canda?" Masih saja ia cemburu.


"Papa telpon nomor Canda?" tanya Aca lirih, yang kujawab dengan anggukan kepala. Setelah ini, nanti aku akan mengatakan alasanku menelpon Canda. Agar Aca tidak salah paham karena hal ini.


"Aku mau nanya anak-anak." Aku langsung berterus terang.


"Ada di sini dari jam empat pagi. Bu Tami sampai buru-buru, mereka udah kek diusir dari rumah. Kau ke mana sih?"


Hah? Jam empat pagi mereka sudah bangun?


"Ke rumah sakit, Aca ngeflek. Ini di rawat inap, lagi observasi dulu." Aku menyatakan alasanku membawa Aca pergi malam-malam.


"Lah, terus sekarang keadaannya gimana? Bu Tami pagi tadi tak ada bilang."


Mungkin ia berpikir, bahwa aku akan mengatakan sendiri pada saudara-saudaraku.


"Ya tak apa-apa. Pendarahan ringan pun udah berhenti, tapi mau dicek lagi nanti setelah sarapan." Perawat yang menyampaikan hal ini.


"Mas…. Minta bubur ayam." Suara Canda begitu menggelegar.

__ADS_1


"Siapa? Cani kah?" Bang Givan tengah berbicara dengan seseorang yang berada di hadapannya.


"Aku." Disusul dengan kekehan Canda.


"Hmmmm…." Disusul dengan suara orang yang tengah memberi cium bertubi-tubi.


"Yayah kita buat Cani. Cani sarapan apa, Nak?"


Oh, aku malah mengira bang Givan tengah menciumi Canda. Rupanya, anaknya yang menjadi sasarannya.


"Si,Yah." Suara Cani khas di telingaku.


"Nasi? Iya?" Bang Givan masih berbicara dengan seseorang.


"Ya, Yah."


Pasti besar nanti, anakku selucu Cani. Aku akan menerapkan hijab sejak dini, seperti Cani.


"Tunggu di depan dulu, Canda. Kau bawa nasi Cani, kita pergi beli bubur sekalian kau nyuapin Cani."


"Iya, Mas."


Percakapan itu terdengar jelas.


"Bang, kasih anak-anak aku uang saku dulu. Aku lupa nitipin uang," ucapku ketika mendengar mereka tidak berdialog lagi.


"Iya, Far. Kau butuh barang apa? Aca juga? Nanti lepas anak-anak ke sekolah, aku ke sana."


"Aku rencananya pulang sebentar, Bang. Mau ambil kerjaan di kantor, lagi numpuk soalnya." Aku melirik ke Aca yang tengah makan sendiri.


"Ohh, ya udah nanti aku bawakan. Kau tak usah pulang, Aca jangan sendirian di rumah sakit, tak ada yang nungguin selain kau. Mamah sama papah pun belum pulang, jangan dulu dikasih tau juga."


Aku reflek mengangguk, meski tidak berbicara langsung.


"Iya, Bang. Tolong bawain baju ganti aku sama Aca, HP Aca. Tapi itu pun tunggu dulu, takutnya setelah observasi nanti disuruh pulang, kan percuma bawa baju ganti."


"Oh ya udah, kabarin aja."


"YAYAH….." Aku yakin itu adalah Ra, suaranya amat melengking.


"Apa sih, Ra? Ngagetin Yayah aja."


"Beli jajan."


"Ayah…. Aku mau itu, susu keliling." Wah, ini suara Nahda.


"Nahda itu, Pa." Aca menyenggol lenganku. Aku mengangguk dan tersenyum.


Aku ingin mendengarkan mereka merecoki yayah Ipan dulu.


"Biyung mana? Ayah belum pakai baju ini." Terdengar ikat pinggang yang tengah ditarik.


"Ma Yayah…." Ra sudah merengek heboh.

__ADS_1


"Aduh….."


Setelah suara bang Givan mengeluh, tidak ada suara lagi. Sepertinya, bang Givan melupakan bahwa panggilan masih tersambung.


"Tak bisa bayangin aku, kalau pagi kita direcoki banyak anak." Aca terkekeh pelan, dengan pandangan menerawang jauh.


"KB dulu nanti abis nifas." Ini adalah rencanaku.


"Kenapa harus berKB? Aku tak pernah KB sebelumnya." Seperti ada raut ketakutan tersendiri di wajah Aca.


"Kenapa tak mau? Biar perhatian kita penuh ke anak kita. Nanti setelah anak kita dua tahun, barulah lepas KB. Jangan sampai setahun tiga anak, kek aku sama Ghava Ghavi. Bang Givan juga anaknya berjarak kok, biarpun sama Ra juga ada rentang waktunya." Aku paham, sepertinya Aca ingin terus menerus hamil dan melahirkan. Entah bagaimana, karena aku berpikir ia memang ingin memiliki banyak anak.


"Aku takut gendut kalau KB. Ya aku pun pengen berjarak juga, biar anak-anak aku tak kekurangan kasih sayang."


Heh, takut gendut?


"KB tak buat gendut kok." Sepahamku sih iya, karena Canda, Winda dan Tika tidak gendut. Dulu Kin juga tidak gendut, padahal ikut KB. Ya tapi aku kurang tahu juga, KB apa yang dipakai oleh Canda, Winda dan Tika.


"Kata siapa? KB buat gendut lah." Ia percaya dengan ucapannya sendiri.


"Lah, terus gimana?" Aku menggaruk pelipisku.


"Cabut singkong aja."


Malas betul aku KB yang satu itu. Dikiranya apa, lagi enak-enaknya harus dicabut.


"KB aja, biar aman." Biar aku tak rugi maksudku.


"Tak mau aku." Ia langsung bersedekap tangan dan memasang raut wajah hampir menangis.


"Iya, iya. Udah apa kata nanti aja." Aku yakin, malah nanti akan hamil lagi.


Bang Givan dulu setelah rujuk, ingin Canda kembali hamil setelah beberapa tahun mendatang. Nyatanya, Canda langsung hamil meski kata bang Givan istrinya itu berKB.


Hufttt…. Apalagi yang cabut singkong sepertiku? Mungkin setiap melakukan ada was-wasnya, karena aku tak bisa mengontrolnya.


"Kek waktu awal-awal tuh."


Aku mengingat lagi kegiatan awal kami, yaitu berzina. Ya seingatku, yang pertama itu berceceran. Yang kedua, hampir meledak, Aca mencabut dan tugasnya digantikan dengan mulutnya. Benihku masuk ke kerongkongannya.


"Ya lihat nanti aja, aku tak pandai soalnya." Aku paling tidak suka sebenarnya, ketika hampir meledak malah dicabut.


Mengurangi kenikmatan saja.


"Ya nanti kan latihan dulu."


Aku yakin, latihannya itu semasa ia hamil. Sekali ditiduri saja, langsung ngflek begini. Apalagi nanti dipakai untuk latihan. Aku tak mau bodoh lagi di sini.


"Kita ikuti saran dokter ya? Kita sama-sama tahan, biar dua nyawa ini selamat." Aku mengusap pipinya, tanganku yang satunya mengusap perutnya.


Ia memandangku dalam, bibirnya masuk ke dalam. Ia seperti akan menangis.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2