Istri Sambung

Istri Sambung
IS288. Godaan pernikahan


__ADS_3

"Eh, Pak Ghifar."


Aku berpapasan dengan Farida di apotek. Rasanya seperti anak tanggung yang sedang kesemsem, aku merasa GeEr sendiri di sini meski ada istriku di samping.


"Iya…." Aku tersenyum samar.


Aku tak menanyakan akan keperluannya di sini. Sejak awal, aku meredam penasaranku padanya. Sejak awal, aku mencoba untuk tidak menjadi asyik untuknya.


"Nebus resep buat siapa?" tanya Aca ramah.


Duh, Aca kebiasaan.


"Buat ayah, abis kontrol jantung tadi." Farida menunjuk mobilnya yang terparkir.


Aku menoleh dan menemukan laki-laki tua yang aku kenal, ia adalah relasi bisnisku yang sebenarnya. Tapi karena kondisinya yang tengah sakit keras, ia menurunkan tanggung jawabnya pada Farida.


Aku tersenyum pada ayahnya Farida, yang aku lupa siapa namanya. Beliau yang terlihat dari kaca jendela yang setengah terbuka pun, memberiku seulas senyum.


"Kakak habis kontrol kandungan?" tanya Farida kemudian.


Aku teralihkan dengan obrolan Aca dan Farida.


"Iya nih, keseringan dijenguk Papanya jadi ngflek."


Mulutnya!


Aku langsung menoleh pada Aca, tapi ia berbalik menoleh padaku dengan terkekeh kecil. Rupanya, Aca senang sekali mengambinghitamkan suaminya sendiri.


Farida tertawa renyah. "Biasanya kalau istri lagi hamil itu, suami malah gencar betul."


Eh, seperti yang tahu saja dia ini?


"Ya begitulah, sudah bersuami kah?" tanya Aca menanggapi.


"Belum." Farida terkekeh sumbang. "Dengar-dengar cerita aja," lanjutnya kemudian.


Aku yang jadi suami, malah takut melakukan ketika istri tengah hamil. Pernah terlintas di otak kecilku, bahwa bisa saja kantung bayi pecah karena senjataku.

__ADS_1


"Atas nama Ibu Anasya."


Aku langsung maju ke arah meja apoteker. Aku langsung menebus obat yang didominasi multivitamin untuk ibu hamil, yang mengeluarkan dana sekitar seratus tujuh ribu. Setelah membayar, aku berbalik badan dan melangkah ke arah Aca yang tengah mengobrol dengan Farida.


"Kami duluan ya?" Aku menggandeng tangan Aca.


"Ah, iya," sahut Farida dengan tersenyum ramah.


Pasti sakit menjadi dirinya. Pasti sakit rasanya mencintai suami orang, apalagi yang istrinya seperti Aca. Para perempuan yang mencintai suami orang, mereka lebih suka respon istrinya mengamuk. Ketimbang dengan istrinya yang malah mengumbar kemesraan, mengumbar aktivitas kami yang tidak diketahui matanya.


"Itu kan Farida?" tanya Aca lirih, dengan kami berjalan kembali ke mobil.


Aku mengangguk, dengan beralih merangkulnya. Noda hitam di sela lipatannya tak terlihat, jika ia mengenakan pakaian seperti ini.


"Pa, katanya mau ngajakin treatment. Tuh, di seberang jalan ada. Apa pekerjaan di kantor tak bisa ditunda?" Aca menunjuk klinik kecantikan terkenal, yang menjadi langganan mamah.


Start untuk biayanya, mulai dari lima ratus ribu hanya untuk facial biasa. Aku pernah mengantar mamah, aku pun pernah membayarkan perawatan mamah juga. Istrinya Adi Riyana itu, ketika tidak terpenuhi malah akan menjadi sakit karena stress terus memikirkan keinginannya yang belum terpenuhi. Makanya sekali perawatan, ratusan juta bisa keluar karena tidak hanya satu treatment saja. Seperti lapar mata, mamah langsung menginginkan perawatan menarik yang dijelaskan oleh karyawan mereka.


"Mahal, tapi tak apa kalau mau ke sana." Ada harga, ada kualitas.


"Mau, ayo ke sana."


"Ya udah ayo masuk, parkir di depan kliniknya aja." Aku mempersilahkan Aca untuk duduk, kemudian aku berputar untuk duduk di tempat kemudi.


Aca peka dengan sesuatu yang merusak pemandangan di tubuhnya. Ia langsung mengambil perawatan, untuk di area yang menghitam itu dan di bagian perut dan paha yang terdapat strecthmark karena peregangan kulitnya.


Membayar di awal, aku diminta untuk mengeluarkan uang seharga motor Nmax. Tidak masalah, karena katanya jaminan noda hitam itu langsung hilang dan strecthmark tersamarkan.


"Tungguin ya, Pa?"


Aku mengangguk, Aca pun masuk diiringi oleh karyawan klinik ini. Aku teringat dengan Novi jadinya, ia tidak mau aku tembani. Sekarang, Aca malah kebalikannya.


Eh, iya. Gimana kabar Novi ya? Apa sekarang sudah berhasil melobi papah, agar Vicky masuk dan bekerja padaku. Meskipun papah founder, tapi tetap aku yang mengelola penuh perusahaanku. Papah tidak memiliki kuasa, tapi papah bisa memerintahkanku untuk hal itu karena dalam susunan keluarga, aku adalah anaknya. Anak yang semestinya selalu patuh pada orang tuanya, termasuk aku.


Mengecek email yang tak berkesudahan, hingga tak terasa Aca sudah selesai dan mengajakku pulang. Wanginya, sungguh tercium kuat dan begitu segar cenderung manis. Aku jadi betah mendengus-dengus aromanya secara dekat, tapi malah membuat Aca menyambar bibirku dengan rakus. Padahal, kami masih berada di parkiran klinik.


"Mari ngOyo."

__ADS_1


Aku tertawa terbahak-bahak. Baru didengus saja, sudah ngajak ngOyo.


"Malam deh, janji. Aku ada kerjaan nih di kantor. Apa mau ikut kah?" Aku mulai melajukan kendaraanku keluar dari parkiran.


"Apa ada Farida?"


Aku menggeleng sebagai jawabanku.


"Aku ke rumah aja deh, turunkan aku di depan rumah mak cek aja. Tak enak aku, anak aku empat." Ia terkekeh kecil.


"Ya tak apa, Cendol pun pasti bantu urus. Yang besar, udah bisa mandiri juga." Apalagi Kal dan Kaf aktivitasnya sudah terjadwal.


"Mamah sama papah, masa masih mak cek sama pak cek aja? Tak enak loh, udah jadi mertua mereka itu."


Aku mengajari benar, bukan?


"Iya sih, mak cek juga pagi tadi ngajarin gitu. Tapi mulut aku kaku, berpuluh tahun manggil mak cek, harus diganti mamah," tukasnya kemudian.


Memang, apalagi ia tidak terbiasa dengan panggilan itu. Memanggil ibunya saja, dengan sebutan bunda.


"Ya belajar sedikit-sedikit, kalau ketukar ya tak apa." Aku jadi teringat dengan Canda, yang sudah terbiasa memanggil mamah dan papah bahkan ketika aku dan dirinya masih berteman.


Aku sudah berbelok ke arah gang rumah kami, anak-anak dititipkan pada mamah. Aca meminta turun di depan rumah mamah saja, aku pun memperhatikannya sampai masuk ke dalam rumah mamah yang pintunya selalu terbuka ketika siang hari itu. Karena anak cucu silih berganti datang, membuat pintu tersebut akan rusak jika dibuka tutup terus. Makanya, dibiarkan terbuka saja.


Kejutan untukku. Rupanya, Farida sudah ada di ruanganku saja seperti kemarin. Aku tidak berniat membohongi Aca, karena memang aku tidak memiliki janji temu dengannya.


Apa tujuannya di sini? Ditambah lagi, Dewi sedang keluar menggantikanku rapat. Ini rawan, hal ini tak baik untukku.


Senyumnya yang merekah itu, seolah menjadi ketakutanku sendiri. Aku khawatir ia berani menggodaku dengan sentuhan, aku takut ia berani melemahkan imanku dengan perkataan manisnya.


Beginikah rasanya tertarik dengan wanita lain di dalam pernikahan?


Kenapa ia datang di waktu yang salah?


Kenapa ia tidak datang, di masa aku menduda dulu?


Dibiarkan, mubazir. Meladeninya, sudah pasti rumah tanggaku akan berantakan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2