
"Udahlah, Nov. Udah kelewat, jangan diungkit terus. Kek yang mau memperbaiki hubungan aja, diungkit dan dicari titik masalahnya. Terus diselenggarakan dan berakhir bahagia gitu?" Aca melirik ke tempat Novi duduk.
"Ya bukan gitu, dia ternyata banyak salahnya. Tapi, ternyata ditutupi sebaik ini. Giliran disalahkan tak mau, tapi tak pernah mau ngakuin kesalahannya sendiri." Novi bersuara lebih tinggi.
"Terus maunya gimana? Intinya, akhirnya mau gimana?" Aca sampai melepaskan sabuk pengamannya dan mencoba semaksimal mungkin menoleh ke arah Novi.
Jangan-jangan, mereka mau berkelahi?
"Ma…." Aku menahan rahangnya, untuk kembali menghadap ke depan.
Ia hanya mengusap tanganku saja, tanpa mau mendengarkan panggilanku.
"Aku merasa keberatan, risih, tak nyaman dan kurang tentram dengan kau. Bukan karena kau mantan istrinya Ghifar, tapi karena kau terlalu mengusik. Kau bawa-bawa masalah kemarin, begini begitu, seolah pengen rusak hubungan kami secara tidak langsung. Aku malah merasa bahwa kau ini pengen bisa untuk dekat lagi sama Ghifar. Kau bisa paham, kalau aku tak suka dengan sikap kau?"
Aku buru-buru menepikan kendaraanku. Sorot mata istriku sudah tajam saja, ia sudah terlihat tidak bisa memanage toleransinya lagi.
"Kau pikir, aku masih pengen balikan sama Ghifar?!" Nada bicara Novi tidaklah ramah.
"Ya! Kau terlihat pengen berusaha ambil posisi kau lagi. Betulkah masih berminat dengan ayah dari anak-anak aku kelak? Pantas aja ya, cerai kau persulit, padahal jelas udah tak satu rumah lagi. Udah resmi janda, kau malah pepet lagi mantan suami kau. Aku udah cukup maklumi banyak hal ya, Nov! Kalau kau benar-benar pengen lanjutkan kegilaan kau itu, aku tak segan-segan klaim dia jadi milik aku saat itu juga!"
Aku segera memaksanya untuk menghadap ke depan kembali. Kemudian memisahkan Novi dari dalam mobilku, begitu kami sampai di tempat makan yang Canda inginkan.
Bahkan, Novi berkumpul dengan para pengasuh anak-anak. Sedangkan kami, melingkar dalam suatu saung.
"Kenapa kau minta Novi pindah ke mobil aku?" Sepertinya bang Givan menyadari ada kejanggalan di mobil.
"Biar tempat kalian tak sempit, Bang. Shauwi sama Ceysa biar sama aku, atau anak-anak yang lain." Aku hanya asal menyebutkan saja, bukan sengaja memilih anak dan baby sitternya untuk berada di dalam mobilku.
"Berantem ya? Pasti rebutan p***r kau?" Canda menunjuk padaku dengan wajah usil.
Namun, bang Givan langsung menyentil pelan mulut istrinya.
"Apa lah kau ini, Cendol!" Bang Givan menggigit kasar timun yang masih dalam bentuk utuh.
"Ah, betul lah kau! Bawalah itu dia ke mobil kalian. Insecure aku, dia lebih cantik."
__ADS_1
Lah? Ia menarik cerita yang jelas berbeda.
"Tapi laki-laki tak butuh wajah cantik aja, Ca. Yang penting menarik dan ekspresinya dapat. Belum lagi kalau sering nyebut-nyebut nama kita para jantan. Beuh…. Rasanya pengen kami tabok-tabok itu part belakang."
Puk….
Canda malah menepuk mulut suaminya sampai mengeluarkan bunyi.
Tetapi, bang Givan malah terkekeh. Kemudian mengedipkan sebelah matanya pada istrinya. Aku baru melihat kegenitan bang Givan secara langsung, ia bisa mesum juga pada Canda ternyata.
"Memang sebetulnya harus cantik, menarik, seksi, atau bagaimana sih kita para betina?" Bisa-bisanya istriku malah bertanya pada korban perampasan mahkotanya. Apa bertanya padaku langsung itu kurang cukup? Atau, ia ingin mencari riset sendiri?
"Tak harus cantik sih. Canda sama Fira, cantikan Fira. Canda sama Putri, lebih heboh Putri ekspresinya."
Aku bisa melihat mata Canda membulat, dengan menahan Cani untuk tetap anteng dalam pangkuannya.
"Tapi, nampak tuh kalau ekspresi alami dan dibuat-buat itu. Putri ekspresinya setara Mia Khalifah, jadi nampak tuh kalau cuma akting aja. Aku pakai kesopanan juga soalnya. Aku malah risih, kalau perempuannya ngomong jorok tuh. Model-model Canda ini kan, tak astaghfirullah atau masya Allah, ya cuma bisa mas-mas terus sambil nahan nangis." Bang Givan pun terlihat asyik berbicara dengan Aca. Apa mereka pun cukup dekat, dalam hal sharing?
Ehh, tunggu dulu.
"Kalau suara udah nyampe kerongkongan, biasanya ujung matanya udah basah aja dia." Bang Givan melirik Canda yang tengah menyuapi anak yang paling kecil itu untuk makan.
Lucunya anak dua tahun makan timun mentah. Agar anak suka dengan sayur-sayuran, memang harus diajarkan sejak dini sih.
"Kenapa sih harus bahasnya ke arah ranjang? Kan tadi insecure karena cantik?" tanya Canda, dengan menatap kami bergantian.
"Terus apa? Kegiatan itu yang paling menyenangkan untuk kaum laki-laki, Cendol. Merhatiin menariknya kau masak, atau berbenah gitu? Hmm, setahun sekali pun tak nentu. Tak request masakan, tak ada makanan."
Canda memukul lengan suaminya, kemudian memeluk lengan yang tadi diberi hantaman kecil tersebut. Bias malu terlihat dari raut wajahnya.
"Ekspresi alami dapat, udah tuh wajah perempuan nampak menarik terus menurut aku. Tak perlu insecure-insecure, Ca. Yang penting selalu ada kalau laki-laki kau lagi pengen aja."
Saran macam apa itu? Aduh, ya ampun!
Aca tertawa geli, begitupun dengan Canda. Benar-benar skandal dalam keluarga yang akrab, seolah tidak ada batasan dalam obrolan.
__ADS_1
"Tapi tak kebanyakan laki-laki kan kek kau, Van."
Benar kata istriku.
"Ya, sebagian laki-laki kek Ghifar juga. Yang nanyain, apa sakit, apa tak nyaman, apa berlebihan."
Sungguh, wajah bang Givan yang langsung kaku di sini. Ia langsung mengucek tangannya pada air kobokan yang sudah disediakan.
"Marah dia." Aca tertawa begitu geli, dengan menunjuk pada bang Givan.
Memang sih, raut wajahnya langsung beda saja. Terlihat begitu cemburuan, tapi entah Canda menyadari atau tidak.
"Lendra sih gimana, Canda?" Aca memancing emosi bang Givan benar-benar rupanya.
"Terbaik dong. Mau kasar, mau lembut, dia hajar pakai perasaan lah. Tak banyak nanya, dia pakai instingnya sendiri. Model Ghifar, nanya-nanya apa sakit terus. Model mas Givan, nyuruh-nyuruh nahan-nahan terus."
Tiba-tiba bang Givan langsung membekap mulut istrinya. "Hey! Masa aib dibuka sih, Canda?!"
Malah Cani yang menangis.
"Sini, sama Papa." Aku langsung mengeringkan tanganku yang baru saja kucelup pada air kobokan.
"Papa kau banyak, Biyung kau gatalan." Bang Givan bersandar pada tiang sudut saung, dengan sorot matanya yang terus mengarah pada Canda.
"Iya dong." Canda malah berbalik mengedipkan sebelah matanya. "Tak gatal, udah aku jadi janda aja."
Oh, ya ampun. Kami semua sampai terbahak-bahak, mendengar ucapan polosnya itu.
"Awas ya kau kalau sampai villa!" Bang Givan mengacungkan jarinya.
"Iya, aku siap. Nanti Cani titipkan ke Ghifar aja." Ia meringis kuda padaku.
"Heh! Aku kasih obat tidur sekalian si Ra nanti, biar tak ganggu aku juga," balas Aca langsung.
"Kita ambil kamar sebelahan. Kita duel ya? J***tan betina siapa paling sering dikumandangkan, berarti laki-lakinya paling jantan." Bang Givan menggulirkan pandangannya mencari persetujuan kami semua.
__ADS_1
...****************...