Istri Sambung

Istri Sambung
IS117. Keromantisan


__ADS_3

"Masih menunggu kabar baik." Aku yang menjawab hal itu.


Rauzha manggut-manggut. "Aku punya rekomendasi teman dokter kandungan, barangkali mau ikut promil atau semacamnya. Nanti hubungi aku aja ya, Far?" Nada bicaranya begitu ceria dan ramah.


Aku mengangguk dan tersenyum manis. "Siap, nanti kalau memang dibutuhkan aku hubungi kau," sahutku dengan berpindah ke samping Novi dan menggandeng tangannya.


"Oke, kalau gitu. Aku duluan ya?" pamit Rauzha dengan melangkah ke lorong yang lain.


Huft….


Ada saja.


"Mantan pacar ya, Bang?" bisik Novi, ketika aku menariknya untuk mulai melangkah.


Aku tak ingin mencari gara-gara, apalagi bercerita bahwa Rauzha menolakku dulu. Ya, Rauzha menolak untuk menikah denganku secara halus. Yaitu, dengan ingin melanjutkan pendidikannya dulu.


"Udah, tak usah dibahas." Aku menggandengnya menuju parkiran pasar.


"Jujur aja." Ia seperti memaksa untuk aku menjawabnya.


Aku mengajaknya ke atas motor. Namun, Novi mogok dengan bibir mengerucut.


Apa semua perempuan memiliki kecemburuan yang akut? Atau, hanya mereka yang menjadi istri-istriku saja?


Aku jadi ragu, bahwa Kin benar mengidap sindrom othello. Jangan-jangan, sindrom itu wajar untuk semua perempuan.


"Iya sambil di jalan ceritanya." Aku tak punya pilihan, atau akan lebih lama berdiam diri di parkiran pasar ini.


Setelah membayar uang parkir. Kami melaju sedang dalam kendaraan matic berbodi bongsor keluaran pertama ini. Aku merasa gagah saja ketika memakai motor ini, karena terlihat pas dengan postur badanku.


"Jawab, Bang!" Novi mencubit perutku.


Memaksa sekali.


"Iya, mantan pacar waktu SMA. Cinta monyet gitu lah, kagum sama kakak kelas begitu. Wajar aja," terangku enteng.


Seperti tidak ada topik lain, selain membahas cerita masa lalu. Sepertinya, hal itu menarik bagi Novi.


"Kemarin pacaran lagi kan? Aku sempet denger mamah sama papah ngobrol tentang Abang yang lagi ngajak jalan Rauzha." Novi berbicara di sisi telinga kiriku.


"Tak pacaran, ngobrol aja." Aku berbohong di sini.


"Sih, kenapa sampai mamah sama papah ikut bahas?" Novi seperti ingin tahu segalanya.


"Ya kenapa tak nanya langsung ke mamah waktu itu? Mungkin heran aja kali, anak dudanya nyamper perempuan. Dari muda aku tak begitu soalnya, jadi aneh kali." Aku tak mungkin cerita melamar Rauzha.


"Bang, belajar cinta sama aku ya? Jangan begitu welcome sama orang baru." Dagunya menempel di bahuku.


"Ini kan udah."


Entahlah, atau mungkin aku merasa bahwa harga diriku seperti diinjak-injak olehnya karena masalah Nando itu. Aku tidak tahu, ini cemburu atau marah saja.


"Aku ngerasanya belum." Suaranya menurun dramatis.


"Udah, yang percaya." Aku mengusap-usap lututnya.


"Hm, ya." Mungkin ia juga tak ingin memperpanjang masalah ini.


Sesampainya di rumah, aku bersiap memakai pakaian kerjaku. Repot seperti biasa, karena aku yang harus ikut aturan Ria. Mana mulutnya berisik sekali, Ria banyak berbicara.


"Bang…. iPad gimana ini?" Ria membentuk persegi di udara dengan jemarinya.


"Transfer aja ya? Beli sendiri." Aku tak ingin ribut dengan Novi kembali.


Mungkin aku terkesan takut istri. Tapi, percayalah. Aku tidak suka keributan dan perdebatan. Aku cinta damai, marah pun aku tidak banyak mengoceh.

__ADS_1


"Ya udah deh." Ria mengemil, ketika bekerja di ruangannya sendiri.


Ia seperti anak-anak yang baru belajar menulis. Ia menyimak dokumen itu di lantai, dengan bersila kadang juga tengkurap.


Aku heran dengan anak didik bang Givan ini. Ria bisa berkamuflase menjadi perempuan yang berwibawa, tetapi jika di mata keluarga ia tetap seperti anak-anak.


"Ponakan kau namanya siapa?" Aku mengutak-atik aplikasi perbankan milikku.


"Yang baru?" Ria masih tetap fokus pada dokumennya, ketika aku mengalihkan pandanganku padanya.


"Iya. Siapa? Abang tak hadir pas aqiqah itu." Karena jadwalnya bertepatan dengan waktuku cek rutin pengobatanku.


"Chandani Qaila Alnetta, dipanggil Cani."


Benarkah? Nama lengkapnya dipakai? Apa Canda merahasiakan juga tentang kisah di baliknya?


"Siapa yang ngasih nama?" Aku ingin mengorek keterangan dari Ria.


Ria menatapku dengan alis terangkat sebelah. "Bukannya Abang yang kasih? Katanya itu nama anak kita." Nyatanya keterangan dari Ria membuatku seperti orang bodoh.


Waduh, siap-siap perang saudara dengan bang Givan. Tapi, bang Givan kemarin dan hari ini terlihat biasa saja. Maksudku, tidak terlihat marah juga.


Apa Canda dan suaminya berkelahi? Aku khawatir, ketidakromantisan menyelimuti keduanya. Aku khawatir, Canda tersiksa batinnya.


Bolehkah nanti aku menelponnya?


"Kocak kau, Ria." Aku menyikapinya dengan tertawa sumbang.


"Dih…. Kau yang kocak, Bang!" Bibirnya sampai seperti burung pelatuk.


Aku jadi yang tidak enak hati di sini. Tapi, jika bang Givan marah. Tidak mungkin nama itu akhirnya dipakai. Pasti, ada alasan di balik perdebatan nama itu.


Tidak ada yang lebih menarik, selain mengendus bau Novi setelah pulang bekerja ini. Sayangnya, Novi langsung menyuruhku untuk mandi dan sholat.


Aku suka perempuan yang harum. Aku suka perempuan yang sudah rapi, ketika pulang bekerja. Aku juga suka perempuan yang sudah wangi, ketika aku bangun tidur. Ini adalah kebanyakan laki-laki. Ini memperbaiki mood mereka.


"Nov, aku main ke mamah dulu ya? Aku mau ngobrol sama papah tentang tabib gitu, biar kalau nanti di rumah sakit tak ada perubahan, langsung dapat tempat tabib yang kita butuhkan." Ini rencanaku sejak pagi.


"Aku ikut sih, Bang. Katanya ada Giska di sana, tapi aku belum sempat. Aku seharian tadi nyetrikain pakaian Abang yang di tumpukan bawah." Novi suka sekali mencari pekerjaan. Mungkin karena, tiadanya ponselnya. Membuatnya mencari kesibukan, daripada melamun tak jelas.


"Yuk." Aku mengulurkan tanganku.


Aku merasa, aku sedikit romantis pada perempuan satu ini.


Saat bersama Canda, Canda yang romantis padaku. Saat bersama Kin, kita lebih ke seru-seruan bersama. Entah itu keseharian, ataupun ke arah dewasa. Sedangkan Novi, aku yang malah terlihat sedikit lebay seperti Canda dulu padaku.


Kami bergandengan tangan sepanjang jalan, hingga ada beberapa pasang mata yang memperhatikan kami dari Riyana Studio.


Semoga cukup membuktikan dengan kemesraan kami kali ini. Semoga Nando pun segan, untuk kembali mengganggu Novi atau meladeni Novi.


"Kok jalannya pelan betul, Bang?" Novi menoleh ke arahku yang tertinggal satu langkah di belakangnya.


"Eh, iya kah?" Aku tersenyum padanya dan menyetarakan langkahku.


"Liatin apa sih, Bang?!" seruan perempuan tersebut berasal dari Riyana Studio.


Terlihat Nando dan perempuan tersebut pun, memakai pakaian rapi. Ya sepertinya, memang mereka baru selesai prewedding.


Syukuri! Kalau memang perempuannya tersebut cemburu buta melihat Nando memperhatikan kami saja.


"Tak kok."


"Tak apanya?!!! Aku tau ya mata kau ke mana?!!"


Ish, menyeramkan sekali jika perempuan berani mengkau-kaukan suaminya. Ya memang sih mereka belum. Tapi akan menjadi suami istri, bukan?

__ADS_1


"Kok mereka rapi ya, Bang?" bisik Novi, ketika kami sudah menginjak halaman rumah mamah.


"Kata Ghava kemarin sih, katanya Nando prewedding di situ." beberku kemudian.


"Hah? Kok bisa prewedding? Memang ada perempuannya?"


Aku mendelik pada Novi. Kok seperti itu responnya?


"Ya bisa! Kau pun langsung nikah sama aku kemarin. Bisa kan itu?" Aku terpancing dengan responnya. Ia seolah-olah tidak terima, jika Nando akan menikah.


Lagian, apa sih bagusnya itu laki-laki?


"Ya bukan begitu maksudnya, Bang." Novi merendahkan suaranya, kemudian mengganduli lenganku.


"Heran aku sama kau, Nov." Moodku sudah hancur.


Aku melepaskan genggaman tangan kami, kemudian mendahuluinya. Namun, aku mendengar langkah cepat dan diikuti dengan pelukannya di tanganku kembali.


"Sensitifnya, yang lama tak dikeluarkan. Cuma gitu aja, emosi meletup lagi. Harus rutin sehari sekali ini."


Aku tidak percaya, mendengar Novi bisa mengatakan hal itu. Hal vulgar, yang dikemas dengan kalimat ambigu.


"Kenapa? Kok tak lanjut jalannya?" Novi memandangku heran, karena langkahku berhenti mendadak.


"Belajar dari siapa, hmm?" Aku mencubit pipinya pelan.


Novi tertawa lepas. "Ya dari Abang lah. Udah nampak nih, gara-gara hal itu. Dulu baik-baik aja sampai punya anak tuh, jarang marah-marah kok sama lingkungannya. Ini sih, istri salah ucap sedikit, udah palak betul nampaknya." Ia menjelaskan dengan tertawa beli.


Masa iya aku jadi emosian? Apa benar dulu aku tidak seperti ini?


Ah, aku ingin menantangnya.


"Kalau gitu, ya cobalah bikin aku keluar setiap hari. Frekuensi ngamuk aku berkurang juga, kau enak juga kan?" Aku menaik turunkan alisku.


Tawa Novi lebih lepas. "Modusnya bisa aja," ujarnya di sela tawanya.


"Tak modus, kan enak juga kan? Tak pernah jadi bahan amukan aku juga kan? Nikmat mana sih yang kau dustakan?" Aku menyentuh pinggangnya.


Novi tertawa geli, kemudian memukul dadaku pelan.


"Hei! Hei! Ada kamar." Papah menunjuk lantai dua. "Udah diganti jendelanya, bisa dipakai waheho itu," seru papah yang membuatku malu.


Aku melepaskan Novi, lalu tersenyum malu dengan mengusap tengkukku sendiri. Bisa-bisanya papah tiba-tiba muncul, kan aku jadi tidak enak hati pada beliau.


"Aku ke dalam, Bang." Novi nyeruntul duluan.


Wajahnya bersemu merah, pasti ia malu juga ke-gap papah. Padahal hanya sedikit mesra, bukan benar-benar tengah mesum.


"Mau ke mana, Pah?" Aku memperhatikan papah yang membawa segelas teh manisnya itu.


"Duduk di bangku itu." Papah menunjuk bangku di bawah pohon mangga dengan dagunya.


Aku mengikuti beliau, karena tujuanku pun untuk mengobrol dengan beliau.


"Bantu ekonomi adik kau, Far. Kasian, anaknya lima," ucap papah, setelah aku duduk di sebelahnya.


Aku pun pernah menawarkan pekerjaan padanya, tapi Ghavi yang menolak. Aku yakin yang dimaksud papah adalah Ghavi, karena Ghava dan Giska berada di ekonomi stabil.


"Tak mau dia, Pah. Katanya mau merintis aja, dia tak mau kerja." Inilah alasan yang pernah Ghavi katakan.


"Ck…. Merintis kek gimana? Orang modal aja tak punya. Papah tawari, katanya tak mau. Suruh biarin aja kata mamah kau sih, soalnya masih usik istri sirinya. Segitu udah nampak depan mata, kalau istri sirinya gak bener. Tetep aja ada uang, ke sana lagi ribut lagi. Tak takut betul Tika minta cerai." Papah terlihat begitu pusing.


Aku kira, Ghavi sudah tidak memperdulikan Fatma lagi.


"Nanti coba aku tengah-tengahi, Pah. Aku mau minta saran, Pah. Aku kan sekarang…..

__ADS_1


...****************...


__ADS_2