
"Ya, hallo. Sehat, Pakdhe?" Aku berbasa-basi dulu tentunya.
"Otak kamu di mana, Far?! Bisa-bisanya anak Pakdhe ngandung udah jalan enam bulan, kamu gak ada tanggung jawabnya!"
HAH?
Byur…..
"Uhuk, uhukkkkk….." Aku tersedak, dengan siraman air di wajahku.
Aku meraup wajahku, kemudian memandang mamah yang terlihat seperti akan memutilasiku.
"Mah…." Rasanya aku ingin menangis saja, melihat mamah begitu marahnya padaku.
"Ditunggu etikat baiknya, Far!!" Suara itu dari ponsel.
"Kurang ajar ya kau, Far!" Mamah menunjuk wajahku dengan amarahnya yang memuncak itu.
"Mah, aku kan udah minta dinikahkan dari dulu. Kok aku dibilang kurang ajar?" Aku bingung ingin meladeni ucapan siapa lebih dulu. Tapi, mamah akan aku utamakan.
"YA TAK HAMIL DULUAN JUGA!"
Aku sampai tersentak di tempat dudukku.
"Mak Cek, aku waktu itu udah bilang kan kalau kami udah ada akad siri. Mak Cek jangan apa-apakan Ghifar dong, aku udah cukup mengalah di sini."
Ya ampun, wanitaku. Kau ke mana saja? Apa ini ledakannya? Tapi tidak harus menunggu mengandung hampir enam bulan juga! Kan bisa setelah positif hamil, atau setidaknya jika sudah empat bulan. Lah sekarang, ia sudah akan menginjak trimester akhir dan batu diketahui semua pihak.
"Udah kau tak perlu cari pembenaran, Ca. Kalian tetap salah, jangan ngada-ngada udah nikah ini itulah!" Mamah berbicara dengan tempo cepat, lalu ia duduk di kursinya tadi dan memijat pelipisnya sendiri.
Ternyata, mamah tidak percaya jika kami benar sudah menikah.
"Ya udah, ya udah. Memang kita berzina."
Lah, kenapa lagi dengan perempuanku ini? Aku yang garuk-garuk kepala di sini, aku bingung dengan keadaan ini.
"Pakdhe gak mau tau ya, Far! Pokoknya, cucu Pakdhe lahir harus ada bapaknya."
Jika begini saja, baru heboh memintaku untuk bertanggung jawab.
"Nanti kita ke sana, A. Nanti kita bicarakan di sana biar enak." Mata ibuku sudah basah.
Ya ampun, berdosanya aku telah membuat ibuku menangis.
"Maaf, Mah." Aku menggenggam tangan beliau.
"Ditunggu, Din. Jangan nunggu Aca lahiran dulu."
Gila juga perempuanku. Kenapa harus menunggu kandungan besar sih? Aku pun kehilangan momen-momen ngidamnya.
"Ya, A. Kita cari tiket sekarang." Mamah tidak menarik tangannya yang aku genggam.
__ADS_1
Aku menempatkan kepalaku di tangan mamah yang aku genggam. Aku memohon ampun padanya, agar aku tidak dicap durhaka dan mempermalukan keluarga.
"Awas kau!" Mamah mematikan sambungan teleponnya dan beranjak pergi setelah menarik tangannya.
Mamah marah padaku.
"Mah, aku minta maaf." Aku mengekori beliau.
"Maaf! Maaf! Udah begini aja kau baru minta maaf! Ditegur suruh jangan sekamar pas liburan sih, langsung betinanya suruh maju biar tak dimarahin. Udah begini, kau ngaku bersalah. Jangan kek bujang, Far! Malu! Masa duda hamili janda?! Kalian sama-sama pengalaman. Kalah memang sempat khilaf, harusnya tau caranya biar tak hamil. Bukan bodoh begini!"
Aku pasrah dimaki sepanjang langkah mamah menuju ke kamar ini. Aku pun, ikut masuk ke dalam kamar beliau.
"Hallo, Bang." Mamah duduk di tepian ranjang dan menghubungi suaminya sepertinya.
"Ada di mana? Cepat pulang! Urgent!"
Benar, mamah menghubungi papah.
"Ya, ditunggu."
Mamah langsung melirikku sinis. Mamah seperti memandang musuhnya. Tidak bersahabat dan penuh kebencian.
"Kau ini! Apa sih yang ada di otak kau!"
"Aduh…." Aku langsung memegangi telingaku.
Ya ampun, sampai telingaku hampir lepas karena dijewer dengan penuh kekuatan.
"Sakit sih, Mah." Aku mengusap-usap telingaku.
"Gimana coba di mata orang-orang, kalau menantu baru langsung melahirkan aja." Air mata mamah tumpah dengan kekesalannya.
"Ya udah, aku yang ikut Aca di Cirebon." Akan aku bahas bersama Ria, mengenai pekerjaanku nanti.
"Kau punya tanggung jawab di sini, Far! Dua anak kau mau diapakan? Mamah tak bisa ngurus mereka tanpa bantuan kau."
Benar juga.
"Kerjaan, nanti aku bahas sama Ria. Anak-anak aku bawa, sampai lahiran nanti aku bawa mereka ke sini lagi. Sekolah pindah sementara, aku yakin tak apa." Sebenarnya tidak yakin juga. Tapi, ya sudahlah. Yang penting meyakinkan mamah saja dulu.
"Kita obrolin sama papah." Mamah menghela napasnya.
"Ya, Mah." Aku hanya mampu mengikuti keputusan mereka.
Aku sudah tidak sabar, ingin menanyakan langsung pada istriku yang cerdas itu. Apa alasan mendasarnya, begitu ingin membuatku sampai dijewer mamah sekeras ini?
Hufttt….
Alhamdulillah, sudah pasti. Bersyukur, aku nobatkan dalam hati. Namun, aku shock juga mendapat ledakan ini.
Benar-benar ledakan yang membuat telingaku merah dan bajuku basah, karena disiram oleh mamah. Mamah begitu murkanya, pada anak pendiam sepertiku.
__ADS_1
"Dek…. Adek…." Panggilan tersayang dari suaminya itu sudah berkumandang.
"Di kamar, Bang." Mamah masih cemberut saja.
Pintu tidak ditutup rapat, otomatis papah langsung bisa melihatku yang duduk di samping istrinya. Ekspresinya cukup kaget, sepertinya karena melihat wajah merah istrinya.
"Kenapa, Dek?" Papah melewatiku dan langsung duduk di samping istrinya. Beliau langsung merangkul istrinya dan menyandarkan kepala istrinya ke dadanya.
"Adek kenapa?" Beliau bertanya ulang pada istrinya, dengan isakan mamah yang lepas di dekapan suaminya.
"Tanya aja anaknya tuh!" Mamah menunjukku.
"Kau kenapa, Far? Berani ngelawan Mamah kau?!" Papah langsung memelototiku.
Aku tertunduk bersalah. "Aku hamili Aca, Pah."
"Ohh…."
Hey, sesantai itu responnya?
"Aduh, aduh…."
Ketika aku menoleh, aku mendapati papah tengah mengusap-usap dagunya.
"Sakit loh, Dek." Papah menunduk memandangi wajah istrinya.
"Aca udah mengandung jalan bulan keenam, Pah," tambahku kemudian.
"HEI!!!" Papah langsung melebarkan matanya.
"Kau gimana sih, Far?!" Papah mulai tegas di sini.
"Aku, aku…."
Maaf ya, Ca.
"Aku tak buat dia hamil, Aca yang mau dirinya hamil. Dia pegang kendali biar aku hamili dia." Aku tertunduk sambil memainkan jemariku sendiri.
"Ya maksudnya, kenapa harus nunggu enam bulan??? Papah mesti ngomong apa ke ketua RT? Masa nikah baru empat bulan terus melahirkan? Jangan gitu-gitu kali lah, Far."
Masalahnya, mengaku menikah siri pun tak dipercaya. Apa perlu bukti-buktinya juga? Agar mereka percaya, bahwa aku sudah sah secara agama.
"Aku tak tau alasannya, kenapa Aca baru bilang sekarang. Aku pun tak tau dia ngandung, Pah." Aku memberanikan diri untuk melihat wajah beliau.
"Terus, kau yakin hitungannya pas sejak terakhir berhubungan badan dan usia kehamilannya?" Dalam artian, papah meragukan bahwa anak yang dikandung Aca adalah cucunya.
Meski belum melihat secara langsung. Kau yakin, anak yang dikandung Aca adalah anakku. Tidak mungkin istriku berkhianat, hanya untuk resmi denganku. Ini adalah pengorbanannya, ledakan kabar ini adalah perhitungannya yang sudah direncanakan.
"Aku yakin dia ngandung cucu kalian."
"Kenapa? Apa karena hitungannya pas?" Papah terlihat lebih bisa mengontrol emosinya. Syukurlah, papah tidak drop karena kabar ini.
__ADS_1
"Bukan, Pah. Aku tak hitung, aku kurang tau pasti karena udah lupa. Tapi aku yakin dia ngandung anak aku, karena dia…..
...****************...