Istri Sambung

Istri Sambung
IS106. Curhatan sang mantan


__ADS_3

"Iya, mas Givan minta aku jujur tentang perasaan aku. Tak mungkin kan aku bilang, kalau aku masih terngiang-ngiang sama bang Daeng aja?"


Hah?


Aku seperti blank, tidak bisa mencerna segalanya.


"Katanya, kau dzolim sama aku loh. Masa sama suami sendiri tak ada rasa yang setimpal. Aku udah mau ngurus anak kau loh, Canda. Masa iya, kau malah masih mikirin laki-laki lain. Ra aku bawa sampai ke toilet laki-laki, kau malah menghayal sama mantan kau aja."


Aku hanya mampu diam dan menyimak cerita Canda.


Jadi seperti itu caranya bang Givan cemburu? Padaku, ia seolah tidak begitu mementingkan rasa pada Canda.


"Kau masih cinta sama almarhum bang Lendra, Canda?" tanyaku dengan memperhatikan wajahnya.


Ia menggeleng, "Bukan. Tapi tuh, masih selalu ingat kalau dia ini adalah raja yang paling bisa meratukan istrinya. Kau coba lah perhatian abang kau, dia raja Fir'aun."


Aku tertawa lepas, sampai bayi di pelukanku tersentak kaget. Aku buru-buru meredam tawaku, kemudian bangkit untuk menimang anak mantan kekasihku ini.


"Terus cinta kau buat siapa? Gimana perasaan kau, untuk ketiga laki-laki yang pernah menjadi kenangan untuk kau sendiri." Aku bertanya, sembari bolak-balik di dekat brankar Canda.


"Kok tiga? Siapa aja memang?"


Astaghfirullah. Beginikah gambaran sabar untuk bang Givan?


"Ya kau ngerasanya siapa aja?" Aku menghembuskan nafas perlahan.


"Mas Givan, bang Daeng." Ia terlihat seperti tengah berpikir.


"Aku tak ikut list?" timpalku dengan kembali ke kursi tadi.

__ADS_1


"Ohh, iya-iya." Canda menjentikkan jarinya.


"Kan semalam mas Givan abis ngobrol sama kau, berarti ini ada sangkut pautnya sama kau." Koneksi jaringan pegunungan memang sulit sekali menyambung.


"Aku tak buka suara semalam. Aku ngoceh ke sana ke mari, memang sengaja menghindari cipratan perkelahian. Aku tak mau disalahkan, dengan permasalahan yang muncul dari aku. Kalau mas Givan yang salah kan, kan enak aku nyudutinnya." Aku tidak bisa mengerti konsep pikirannya.


Intinya, wanita tidak pernah salah sepertinya.


"Terus?" Aku masih menantikan ceritanya.


"Ya kau bilang apa sama mas Givan, Far?! Ish, kau ini bikin aku emosi aja."


Lah, bahkan ia tidak bertanya. Sudah main ngotot saja, ia tertular sifat suaminya.


"Bilang, aku masih cinta kamu." Aku terkekeh dengan memberikan saranghae dengan jariku.


Matanya bulat sempurna. Ia mengedip cepat, lalu mencubit punggung tanganku.


"Aku tak tau biar apa, tapi aku dipojokkan sana-sini. Lepas kau selesai nifas pun, bakal dibawa suami kau ke Kalimantan." Aku pun frustasi karena hubunganku dengan Novi masih saja dipenuhi cekcok.


"Ehh, kau serius masih cinta sama aku?"


Aku harus bagaimana, jika mengobrol dengan Canda? Ia selalu membuatku terpancing emosi. Rasanya aku ingin mengempitnya di ketiakku, lalu mengunyel-unyel wajahnya.


"Iya." Aku malas jika ditanya berulangkali, padahal aku sudah mengatakannya tadi.


"Ihh, kok bisa sih?" Canda menyatukan alisnya.


Ia terheran-heran.

__ADS_1


"Aku pun tak tau. Memang kau tak sama?" Aku terus mengayunkan tubuh bayi ini, karena matanya mulai terpejam.


Beratnya normal, sekitar tiga ribu seratus gram.


"Di awal aja, lima tahun pertama. Tapi aku bisa bagi hati aku, aku bisa tempatkan mas Givan dan mengabdi sama dia juga. Pas udah nikah sama bang Daeng, ya seluruh hati dan pikiran aku berpusat ke dia. Aku terdaeng-daeng olehnya pokoknya. Terus pas rujuk sama mas Givan lagi, ya kadang sesekali masih membandingkan sama bang Daeng. Tapi sadar juga sih otak aku, aku paham kalau mas Givan tak akan bisa kek bang Daeng. Jadi ya udah, jalani aja. Karena kalau hati kita lega, menerima gitu, kita tak mungkin sulit untuk melupakan orang yang pernah singgah sebelumnya. Aku tak sulit nerima mas Givan, apalagi udah paham watak dan karakternya begitu." Dari penjelasannya, aku menyimpulkan bahwa ia sudah tak mencintaiku lagi.


"Tapi kenapa waktu itu kau bilang udah biasa aja sama aku? Pas aku pergi karena Nadya, pas apa juga tuh." Canda masih memperhatikan wajahku.


Tak ada yang lebih buruk, dari pengakuan bahwa perempuan tersebut sudah tidak mencintai kita lagi. Aku mungkin bodoh, karena sudah berharap lebih. Tapi, harapan ia belum melupakanku pun memang ada.


"Karena aku tak mau buat kau bimbang. Carilah kebahagiaanmu sendiri, karena posisi aku serba salah masa itu. Aku pun, tak berani ambil resiko di awal. Aku biarkan kau menata diri kau sendiri, biarkan kau melupakan rasa sakit kau sendiri. Awalnya aku pikir, kau bakal bahagia dengan uangku dan bangkitin sendiri dengan modal yang cukup itu. Tapi keknya aku salah ambil langkah di situ, karena kau malah dipungut bang Lendra. Aku lupa, kalau kau memang tak bisa berdiri sendiri tanpa berpegangan." Serumit ini pikiranku masa itu.


"Maaf ya, Far?" Canda mengusap-usap lenganku.


"Tapi kau sekarang bahagia kan sama bang Givan?" Aku harus memastikannya sendiri.


"Alhamdulillah, aku bahagia. Meski ya, ada aja masalah yang datang. Cekcok anak-anak, jadi cekcok kita. Gimana ya, meski anak aku anak dia juga dan sebaliknya. Tapi ada aja yang bikin cemburu di hati. Ceysa dibuatkan rumah terpisah, bukannya nyatu sama pagar kami. Sedangkan Zio dan Key, kau tau sendiri lah. Masalah uang juga sering betul buat cekcok, dia pegang usaha bang Daeng, tapi dikuncinya sendiri. Kalau diminta cerita dan transparan, dia sampai ngotot-ngotot jelasinnya. Dibilangnya aku tak percaya sama dia. Ya gimana ya? Di HP aku itu ada dua Gmail. Jadi dia transaksi apa aja yang melewati perbankan itu, ya aku tau. Karena, Gmail dia log in juga di HP aku. Memang transaksinya kecil, hanya ratusan, tapi penerimanya perempuan. Random lah namanya, tapi perempuan semua." Canda terlihat sedih ketika menceritakannya.


Aku pun merasa tersakiti, karena bang Givan masih seperti itu pada Canda.


"Terus gimana? Akhirnya kau tau tak itu siapa?"


Canda menghela nafasnya, "Katanya istrinya temannya, ya pinjam uang lah begini begitu alasannya. Sampai ditunjukkan pesan chatnya, bukti transaksinya juga. Ada sedikit tenang, karena Ra ikut terus. Tapi kan, Ra ini punya jam tidur juga. Barangkali terencana sama mas Givan, dia pakai perempuan di mana Ra lagi tidur. Kadang tuh, ada aja pikiran jelek ke situ." Aku ingin merebut Canda kembali.


"Ayo sama aku aja. Aku tak pernah main perempuan, Canda. Nongkrong pun, kalau diajak keluar sama saudara aja. Aku udah terbiasa hidup terbelenggu aturan Kin, aku tak pernah macam-macam dan aneh-aneh." Aku langsung menutup mulutku.


Matanya mekar sempurna.


...****************...

__ADS_1


Padahal dia sendiri yang bilang biar jangan curhat sama mantan. Eh, mulutnya sendiri yang lancang.


__ADS_2