
"Tak bisa pelan kah, Bang?" Novi menahan laju pinggangku.
Berkat perjuangan Novi kurang lebih dua jam, akhirnya membuahkan hasil juga. Ternyata, memang harus pada perempuan yang agresif dan mau berjuang. Agar bisa membangkitkan Black Mamba dan menikmati sensasinya.
"Harus gimana sih?" Aku menopang tubuhku dengan siku tanganku.
Aku masih menggerakkan tengah-tengah tubuh kami. Karena jika hanya diam, yang ada aku yang blingsatan karena tidak tahan dengan ketatnya jepitan.
"Jangan diputar juga!" Novi menahan dadaku dengan tersenyum lebar. "Koyak aku, Bang." Berakhir dengan menangis palsu.
"Di atas ya? Nanti aku bantuin. Sok suka-suka mau gimana geraknya, kau yang atur. Yang penting, jangan cuma diam aja. Aku yang linu." Secepat kilat, aku membanting tubuhku dan membuatnya berada di atasku.
Aku bisa melihat ringisannya. Ya, tentunya ringisan seperti menahan sakit. Aku paham, kedua kalinya pun masih tidak terasa nyaman. Novi masih belum terbiasa, dengan aktivitas ini.
"Aduh…." Novi menutupi wajahnya. "Aku malu betul," ucapnya kemudian.
Malu pada siapa?
Tiap hari ia berpakaian seksi, apa ada ia malu padaku?
Ia pun sering aku tela*j*n*i, apa ia merasa malu juga? Malahan, aku melihatnya terlihat pasrah saja pun.
"Aku merem kah?" Aku meninggalkan pinggangnya, yang tadi aku bantu untuk bergerak.
"He'em."
Oke, baiklah. Aku langsung memejamkan mataku, dengan tangan yang kembali membantunya bergerak.
Terasa sekali, bahwa gerakan Novi tanpa bantuanku itu begitu pelan. Novi belum mahir, gerakannya pun belum bervariasi. Aku paham dan aku memakluminya.
Aku sudah tahu titik masalahku. Yaitu, Black Mamba harus dijinakkan lebih gencar. Ia tidak benar-benar mati, hanya saja memang tidak jinak dan susah diatur. Ia harus mendapat pawang dan pelatih yang tepat.
Baiknya, aku sampaikan pada dokter yang menanganiku esok. Agar, ia tahu pengobatan yang tepat untukku. Karena tidak mungkin selamanya, Novi harus berusaha keras saja.
Pernikahan ini bukan hanya Novi yang membutuhkanku, tapi aku pun membutuhkannya. Aku tidak mungkin memintanya, untuk terus-menerus mer*ng*angku. Ketika, aku ingin memberinya nafkah batin.
Lain cerita, jika memang dirinya begitu agresif seperti Kin. Tanpa aku minta, sudah pasti ia akan bergerak sendiri seperti Kin.
"Sini peluk, biar aku yang gerak." Aku langsung merengkuhnya yang berada di atasku. Secara beraturan, aku bergerak dari bawah dengan Novi yang masih mempertahankan posisinya.
Beberapa posisi, aku coba dengannya. Hingga sampai ia begitu basah, atau sengaja aku basahi dengan gel agar ia tidak lecet.
__ADS_1
Sejauh aku mengamati, hanya Canda yang terdengar begitu cepat basah. Kin memang seperti itu juga, tapi memerlukan waktu awal sekitar sepuluh menitan. Jika Canda, belum lima menit aku mempermainkannya. Ia sudah kelabakan saja.
Kenapa aku mengingat Canda lagi? Bagaimana ya kabarnya di sana? Apa ia masih merengek pada suaminya? Apa ia masih menangis, ketika ASI-nya penuh? Apa bang Givan masih mengurusnya dengan sepenuh hati?
Hingga esok harinya, aku malah menghubungi Canda ketika jam istirahatku. Awalnya aku ragu, saat panggilan telepon itu tidak terjawab. Namun, aku mengulanginya kembali sampai terdengar sahutan darinya.
"Ya, Far. Hallo…." Suaranya terdengar lemas.
Apa ia sakit?
"Sehat, Kakak Ipar?" tanyaku langsung.
"Sehat, Far. Kau sehat? Keluarga sehat? Mamah papah sehat?" Terdengar tarikan nafas yang begitu kuat, sepertinya Canda menguap di sana.
Apa ia tertidur tadi? Apa aku mengganggu tidurnya?
"Alhamdulillah, sehat semua. Kau lagi apa? Mana suami kau?" balasku, dengan memperhatikan ruanganku yang begitu sepi.
Aku pernah tengah bertelepon seperti ini, padahal dengan klien. Namun, tiba-tiba Kin muncul dan berkacak pinggang di ambang pintu. Sontak, kami langsung adu mulut. Karena Kin menyangkaku berselingkuh, dengan klien tersebut. Kebetulannya lagi, perempuan tersebut adalah seorang wanita. Jadi, kecemburuan Kin tidak bisa aku kontrol.
"Mas Givan kerja. Eh, jam dua belas. Dia bentar lagi balik, aku belum masak nasi." Suaranya seperti kaget.
"Kau lagi apa tadi?" Aku menerka-nerka aktivitasnya di sana, dengan suara yang kurang jelas ini.
Aku tergelak ringan. Ia masih saja kebo ternyata.
"Aku sambil nyuci beras ya, Far. Ada cerita apa? Atau kau mau menyampaikan sesuatu?" Suaranya terdengar jauh, tapi aku masih bisa mendengarnya cukup jelas.
"Tika tinggal di rumah mamah, ribut sama Ghavi. Itu aja sih ceritanya. Aku malah pengen denger cerita dari kau." Aku melirik jam tanganku, yang terpasang di tangan kiri.
Selesai bertelepon, aku akan makan siang terlebih dahulu kemudian sholat.
"Ribut? Kok bisa? Aku kira, masalahnya udah selesai pas Ghavi pinjam uang buat modal." Aku yang terkejut di sini. Ghavi masih tidak ada pergerakan usaha, ia masih pengangguran.
"Pinjam berapa? Usaha apa katanya?" Aku yang malah bertanya, pada saudara yang jauh di mata begini. Karena seperti itulah Ghavi, ia minim komunikasi dengan keluarga besar. Begitupun dengan Tika dan anak-anaknya, mereka sepertinya terbawa aturan hidup Ghavi.
"Gabah lagi katanya sih, pinjam tujuh belas juta. Seminggu sebelum berangkat ke Kalimantan itu, mas Givan cairkan uang dulu ke buat Ghavi. Karena katanya, dia butuh cash, tak mau transfer."
Keterangan dari Canda, menambah kecurigaanku bahwa Ghavi benar-benar bermain api dengan Fatma. Fatma pun posisinya sudah memiliki suami, mereka sama-sama terjebak dalam hubungan yang dia kali lipat dosanya.
"Terus kau di sana gimana?" Tujuanku, ingin tahu keadaannya di sana.
__ADS_1
"Ya mas Givan masih punya uang. Kan dipinjam cuma tujuh belas juta, bukan tujuh belas miliar."
Abang lelah, Dek.
Kenapa, jika mengobrol dengan Canda terkadang begitu menguras kesabaran? Hal ini terjadi sejak dulu, saat aku baru mengenalnya.
"Keadaan kau, anak kau, suami kau? Gimana bang Givan ke kau? Ke anak kau?" Aku memperjelas maksudku dalam pertanyaan tadi.
"Ohh…." Gelak tawanya terdengar lepas. "Bentar, aku nyolokin penanak nasi dulu."
"Ati-ati tuh, Canda. Keringkan tangan kau dulu." Aku teringat akan dirinya, yang pernah tersetrum penanak nasi.
"Iya, udah kok. Udah aku jetek juga." Suara Canda kembali dekat.
"Aku baik-baik aja, Far. Mas Givan pun urus juga, dia yang mandikan anaknya, pagi ataupun sore. Kemarin pun, aku cek jahitan yang terakhir di rumah sakit sini. Aku juga pakai KB suntik langsung, meski belum berhubungan juga."
Bang Givan masih turun tangan, untuk mengurus anaknya? Hebat juga bapak-bapak satu itu, bekerja pun sampai membawa anak. Tapi aku rasa ia tidak memiliki pilihan lain, selain membawa anaknya untuk mengecek pekerjaan di tambangnya. Ia tidak mungkin membiarkan anaknya terus menangis, di samping ibunya yang tidur seperti mati suri.
"Bang Givan kek mana ke kau?" tanyaku kembali.
"Ya biasa, kadang marah, karang ngetawain juga. Tak ada yang berubah, gitu-gitu aja." Aku tidak puas mendengar jawabannya.
"Tak aneh-aneh kan suami kau? Apa masih kirim uang misterius aja?"
"Sekarang jadinya bilang dulu. Misalnya temennya yang namanya Putra pinjam uang, ya dia bilang, terus baru transferkan. Rekening yang dipakai temennya pun, ya memang kadang pakai atas nama perempuan, bukan namanya sendiri. Kau tenang aja, Far. Kalau kau yakin aku baik-baik aja, aku pasti bakal baik-baik aja kok. Lagian, kau tak percaya betul sama abang kau sendiri sih?" tutur Canda yang membuatku teringat sikap abangku pada Canda.
Ya memang sih, bang Givan masih saja sering membentak Canda. Tapi Canda yang terlihat santai, tidak langsung mewek seperti dulu.
"Memang aku tak percaya sama dia." Aku menaikkan kakiku ke atas meja.
"Mas Givan spam chat. Bentar, Far."
Panggilan masih berjalan, sepertinya Canda tengah memeriksa pesan itu.
"Hallo, Canda? Apa katanya?" tanyaku setelah beberapa menit terdiam.
"Katanya telepon sama siapa, ceklis dua, online tapi memanggil. Nanya juga, masak belum katanya. Kalau belum, nanti dia balik makan siang bawa makanan."
Semengerti itu suaminya? Abangku padanya? Yang benar ini? Atau memang, dari dulu seperti ini?
"Memang suami kau kalau pulang kerja atau pulang dari mana gitu, sering nanya kau nitip apa?" Aku makin penasaran dengan bagaimana abangku padanya.
__ADS_1
...****************...
Jadi, apa Ghifar udah tenang buat mulai move on dari Canda?