
Karena berbaring seharian seperti ini, tubuhku semakin bertambah lemah saja. Aku tidak tahu penyakitku apa, tapi aku merasa pusing sekali.
Bang Ken pun, sampai membawa pakaiannya. Sehingga, setelah semalaman ia menjagaku bersama Zuhdi. Paginya, ia bekerja dengan Zuhdi juga yang pulang dari rumah sakit. Ia pun harus bekerja, menggarap rumah untuk Ra yang berada di lingkungan pondok biyung.
Digantikan dengan papah yang datang, dengan membawa beberapa makanan dan buah-buahan. Aku kini penasaran dengan kabar Novi, apalagi aku tidak membawa ponsel sekarang. Pasti Novi bebas menghubungi orang-orang di masa lalunya, dengan menggunakan ponselku itu.
"Udah sarapan, udah minum obat, Far?" tanya papah dengan mengeluarkan barang-barang yang ia bawa.
"Udah, Pah. Papah sendirian?" Aku tidak berani untuk mengatakan kenapa papah tidak datang bersama Novi.
"Ya, mamah kau urus anak-anak kau. Siang juga biasanya anak Ghavi pada main sama Tika juga, jadi mamah perlu bantu awasin juga. Pagi tadi Ra ngamuk, gara-gara minta sekolah. Aku kesepian katanya, saudara pada sekolah. Yayah pun tak pulang-pulang, buat ajak Ra kerja. Jadi ngamuk dia, susah betul dikendalikannya." Papah menarik satu kursi, lalu di tempatkan di dekat brankarku.
"Sini kau bangun. Duduk, jangan tiduran aja." Papah membantuku untuk duduk, sebelum akhirnya beliau pun duduk di kursinya.
"Nih, ngemil buah." Papah memotong buah pir.
Aku mengambil sepotong buah yang papah sodorkan tersebut. Kemudian, aku menggigitnya.
"Nanti pulang ke mamah ya? Biarin Novi di rumah kau."
Buah ini berubah menjadi pahit.
__ADS_1
"Aku harus gimana?" Suaraku langsung tidak stabil.
"Biarin dia sendiri dulu. Coba kau tak ada kabar berita begini, dia coba cari tak. Padahal jelas, semalaman pun kau tak balik ke rumah. Tapi sampai pagi tadi, dia tak ada ke rumah. Winda minta KK sama buku nikah pun, istri kau pun tak ada nanyain kau. Nanti siang nanti, mamah mau ngomong katanya. Mamah kau pun, mau ambil beberapa dokumen penting punya kau. Khawatirnya, karena tak dikasih uang. Terus, istri kau jual-jual aset kau." Papah menyodorkan langsung potongan buah tersebut ke mulutku.
Mau tidak mau, aku membuka mulutku dan mengunyah buah tersebut.
"Keknya bukan tak dikasih uang juga, Pah." Nanti yang ada, aku yang berdosa.
"Ya, sementara aja. Mamah kau pengen tau, dia butuh suaminya tak katanya. Kalau papah, ya memang tak tega. Cucu aja papah kasih uang, apalagi anak atau menantu."
Oh, seperti itu.
"Pah, aku takut dia bunuh diri." Aku trauma dengan kejadian Kinasya.
Papah mengerutkan dahinya. "Ya kalau memang bunuh diri ya, tinggal kita urus aja jenazahnya."
Papah tertawa lepas, dengan menunjuk wajahku. Mungkin menurut beliau, wajah kagetku begitu lucu.
"Nanti mamah kau cek ke rumah, buat mastiin istri kau masih hidup tak. Tapi keknya tak mungkin deh, Far. Novi kan paling takut akan kematian, bahas tentang itu aja dia udah ketakutan." Mungkin ini hanya kalimat penenang saja.
"Aku baiknya gimana sama Novi, Pah?" Baru kali ini, aku meminta pendapat tentang kelangsungan hubungan kami.
__ADS_1
Sebelumnya, malah papah yang menahan agar aku bercerai dengan Novi.
"Terserah kau, belum hubungan badan ini. Kalau papah sih ya, posisi papah cinta mati ke mamah. Sekalipun mamah sempat berhubungan badan dengan orang lain, tapi dia minta maaf ke papah, terus patuh lagi ke papah. Ya papah bakal terima dan maafkan juga, selagi tidak hamil dengan laki-laki tersebut. Dengan perjanjian tertulis, kalau diulangi lagi dia bakal denda sekian juta contohnya. Intinya buat perjanjian tertulis, bukan cuma untuk si istri, tapi buat si suami juga." Tapi kasus dalam rumah tangga papah kan yang kebalikannya.
"Pernah tak sih berpikir, kalah perempuan berkhianat tersebut itu udah fatal?" tanyaku pada papah.
"Mungkin ya, mungkin tidak. Kita lihat juga curahan hatinya. Menurut papah, orang kalau lagi jujur atau bohong itu kan ada gerak-geriknya. Kalau alasannya mereka selingkuh, karena kurang perhatian atau kurang uang dari kita. Ya bisa lah dibicarakan baik-baik, meski memang tindakan selingkuh tidak dibenarkan. Kalau mereka selingkuh atas dasar cinta lama bersemi kembali atau sejenisnya, ya mohon maaf aja, mungkin keputusan Papah bakal milih mundur. Karena kalau Papah berjuang sendiri buat pertahankan rumah tangga rasanya terlalu berat, sedangkan pasangan kita malah mikirin impian mereka biar bisa bersatu terus."
Aku langsung mengajukan pertanyaan. "Kalau dibubuhkan dengan kebohongan, gimana?" Aku tahu siapa yang berdusta antara Novi dan bang Ken.
Meski bang Ken tidak menceritakan tentang kejadian sebenarnya, tapi tanda merah itu cukup menjelaskan semuanya. Tidak mungkin bang Ken memaksa Novi untuk membuat tanda tersebut, sedangkan dirinya malah menutupi tanda tersebut karena malu.
"Bohong gimana maksudnya?" Papah menyatukan alisnya.
"Ya dia tak ngakuin kejadian yang sebenarnya." Aku tidak mungkin memperjelas aib rumah tanggaku sendiri.
Tapi, pertanyaan dari papah selanjutnya. Membuatku malah terpojokkan, untuk menceritakan kejadian yang aku tau. Kini, cerita versi Novi sudah terekam oleh ingatan tua papah.
"Kalau memang Novi belum selesai sama Ken. Ditambah lagi pernyataan bohong yang dia kasih, apa itu masih bisa dipertimbangkan buat kau? Papah kan udah jelaskan, misal pasangan Papah selingkuh, hal apa yang bakal Papah pertimbangkan dan pilih. Setiap orang, tentu jawabannya beda-beda. Papah pun tak maksa kau buat pisah sama dia, atau pertahankan dia, khawatir hal itu nyakitin hati anak Papah. Kau yang lebih tau diri kau dan hati kau sendiri. Papah bakal terima kembali pasangan Papah, ya karena Papah cinta dan pengen perbaiki hubungan. Biar titik permasalahan pasangan Papah dengan Papah ini, ya tak terulang lagi. Tapi beda ceritanya, kalau tentang orang di masa lalu. Bukan berarti dalam ucapan Papah, sama mantan itu berat. Tak begitu juga, kalau kita udah ikhlas dan biasa aja. Contohnya Papah ke tante Shasha. Awalnya memang Papah masih marah aja ke tante Shasha, karena dia ninggalin Papah yang lagi dipenjara. Terus tiba-tiba dia nikah dengan keadaan hamil, kan jelas itu pengkhianatan. Tapi setelah Papah tau alasannya ternyata omah yang minta untuk tante Shasha ninggalin Papah, ya Papah berusaha ikhlas. Sampai di titik ini, di titik mamah nganggap mantan tunangan Papah itu saudara. Kalau sama mantan itu benar-benar udah selesai, ya tak mungkin ada perselingkuhan setelah pernikahan juga. Ini bukan tentang move on atau kenangan. Ikhlas atau tidak ikhlas, menerima atau belum menerima ini yang Papah maksud. Kau pasti paham sendiri." Papah menepuk-nepuk lenganku.
...****************...
__ADS_1