
"Aku masih dilema, Pah." Rasanya begitu aneh, jika menceraikan istri yang baru dinikahi seumur jagung.
"Ya makanya, coba biarkan Novi sendiri dulu. Kau pun jernihkan pikiran kau, sambil pulihkan keadaan kau." Papah menjeda kalimatnya, dengan mengulurkan sepotong buah lagi.
"Gimana? Masih sesak narik napasnya?" lanjut beliau kemudian.
Aku menggeleng. "Udah lebih baik, cuma kepala sakit betul." Aku menjambak pelan rambutku sendiri.
"Pingsan semalam, kepala kau kebentur kah?" Papah berjongkok, mengambil sesuatu dari kantong kain yang beliau bawa.
"Tak, Pah. Aku udah diminta duduk sama bang Ken, bahu aku pun dipegangin bang Ken. Jadi kepala keknya aman aja." Aku masih teringat sebelum pelupuk mata tertutup rapat.
"Kau laki-laki, Far. Kenapa kau turunin kebiasaan jelek Papah? Papah pun sering pingsan kalau terlalu banyak beban pikiran, atau shock. Sampai di usia empat puluh tahunan, Papah divonis hipertensi berat." Aku pun teringat akan Papah yang pernah ambruk.
"Dari muda Papah begitu?" Aku berpikir, bisa saja ini karena faktor keturunan.
Tapi aku mulai sering pingsan, sejak kejadian Canda diperkosa itu. Sebelumnya, aku tidak pernah pingsan meskipun upacara bendera di siang hari yang begitu panas juga.
"Ya, dari kecil keknya. Pernah jatuh dari pohon, sebenarnya tak sakit juga, karena jaraknya pendek. Tapi rasa kagetnya itu, bikin jantung langsung kek pindah ke lutut gitu. Bikin panik keluarga, sampai dibawa ke rumah sakit masa itu. Cek kesehatan juga pernah, normal aja. Memang mentalnya mental kerupuk keknya. Man down, man down, mental kita. Oh, another one down for me. Said you'd die for love, But I never loved you, sorry." Kenapa papah malah bernyanyi?
Aku tertawa geli, dengan menarik bantal yang dibawa semalam ini.
"Mental man down ya, Pah?" ujarku dengan cekikikan.
"Iya, nempel ke kau keknya. Karena tak ada yang nurunin, selain Zuhdi. Anak-anak tak begitu, sampai ke mantu dapat mental man down lagi," timpal papah dengan tawanya.
Benar, Zuhdi beberapa kali sering pingsan jika Giska mendapat kemalangan. Padahal, di pekerjaan dia begitu kuat. Dia biasa saja, ketika dijemur di bawah teriknya matahari.
"Permisi…." Seorang perawat datang dengan membawa kantong infus.
__ADS_1
"Satu jam lagi, nanti ada petugas mau ambil sampel air liur sama urin." Perawat tersebut mengganti kantong infusku yang hampir habis.
"Berarti belum boleh pulang ya, Sus?" tanya papah dengan meninggalkan kursinya, sepertinya untuk mempermudah perawat beraktivitas.
"Belum boleh ya, Pak. Hasil tes darah semalam pun, belum keluar hasilnya." Setelah mengatakan hal tersebut, perawat permisi keluar.
Jadi, aku harus berbaring lagi seharian ini?
"Kau mau sekalian cek lain? Papah telepon Ken, suruh temannya kirim rekam medis pengobatan kau di Bali ya?" Papah memunguti sampah buah.
"Aku harus cerita-cerita lagi ke psikolog kalau begitu. Aku tuh males ngulang cerita yang udah-udah, sakitnya tetap sama." Aku sudah berjanji tidak akan membahas tentang Canda lagi. Karena, aku paham kondisiku pasti bertambah buruk.
"Tapi kan, keadaan kau bisa membaik. Kenapa tidak, jika untuk pengobatan?" Papah duduk di tepian brankarku dengan memainkan ponselnya.
"Ken…. Lagi operasi kah?" Ternyata papah langsung menyambungkan panggilan telepon pada bang Ken.
"Oh, minta rekan kau yang di Bali buat kirim rekam medis lama Ghifar. Keknya, sakit di kepalanya ada hubungannya tuh."
"Oke, oke. Ya diulang juga tak apa, mana keadaannya sekarang jauh lebih baik. Tapi kalau lebih buruk kan, psikolog selanjutnya tau nih pengobatan Ghifar udah sampai mana." Papah sampai menggerakkan tangannya.
"Ya, iya. Betul, Papah ada di kamar inap Ghifar." Setelah itu, papah memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya.
"Pah…. Menurut Papah, aku harusnya gimana ke bang Ken? Kok, aku ngerasa jadi kek berjarak sama dia." Aku merasa, bang Ken pun bersalah.
Meski ia sudah meminta maaf, tapi aku tidak bisa memaklumi hal itu. Aku tidak mengerti, kenapa bang Ken berani merespon Novi. Apa benar, itu hanya sebatas reflek laki-laki saja? Tapi aku laki-laki pun, tidak begitu cerongo juga. Ya aku merasa sih tidak, entah untuk pendapat orang lain.
"Pasti, kau bakal mikirnya Ken dan Givan ini sama. Mereka sama-sama menja*ah wanita kau. Papah belum pernah dapat pengalaman begini seumur hidup Papah, jadi Papah bingung mau kasih saran yang bagaimana. Dulu Papah pernahnya rebutan perempuan sama abi Haris, tapi akhirnya Papah yang dapat. Tante Salma itu, kau keknya tak tau. Givan yang tau semuanya. Ya Papah sih biasa aja sama abi Haris, karena kan Papah yang menang. Entah gimana perasaan abi Haris, karena dia kalah dari Papah. Hubungan Papah sama mamah pun, tadinya dihalangi abi Haris. Tapi akhirnya, Papah menang lagi. Ya tetap biasa aja sih sama abi Haris, karena Papah pemenangnya." Menurutku ini kasus yang berbeda.
Apa harus aku bertanya pada abi Haris?
__ADS_1
"Papah pun, pernah ketangkap basah lagi ny*mbu*n mamah kau. Padahal, posisinya mamah udah sering nginep di rumah abi Haris. Lepas itu, Papah sama abi kau berjarak tuh. Mamah jadi sasaran abi kau, kan abi kau suka main tangan tuh. Pipi mamah dicengkeram begini, untungnya ketauan ayah kau sama om Edi. Jadi, abi kau belum begitu keterlaluan nyakitin fisik mamah kau."
Kenapa orang tuaku begitu kotor sih? Ibaratnya, papah ini seolah merebut pacar abi Haris.
"Pusing aku." Aku memilih memijat pelipisku saja.
"Ya, makanya Papah tak tau. Papah tak pernah jadi korban, dari perebutan wanita. Papah pelaku perebutan wanita." Papah membenahi lengan kaosnya.
"Iya, aku yang dapat karmanya sekarang." Aku kembali menjambak pelan rambutku sendiri.
"Masa karma turun ke kau?" Papah melihatku heran.
"Ya aku korban yang kalah dari perebutan wanita." Aku tertunduk miris.
"Ya sana rebutan perempuan lagi. Lain kali, cari perempuan tuh yang bener-bener clear dari masa lalunya. Ria tuh, yang tak punya masa lalu. Atau Aca, yang jelas masa lalunya meninggal. Kalau janda, cari janda yang ditinggal mati. Kau tak akan paham panasnya Papah, kalau papahnya Givan itu muncul terus bahas-bahas yang udah-udah. Kau tak tau rasanya papahnya Givan itu telepon mamah, meski dengan alasan anak." Malah papah yang terlihat bad mood di sini.
Apa beliau pun masih cemburu saja dengan para mantan mamah?
"Tak mau aku. Lebih-lebih, Canda tak mau direbut lagi. Dari jadi jandanya bang Lendra, dia malah naksirnya bujang, si adiknya Zuhdi itu. Padahal, aku siap nikahi dan nafkahi anak-anaknya." Aku menopang daguku dengan bantal.
Papah tertawa geli. "Ya jangan Canda lagi!" Papah menepuk lenganku.
"Lagian kau kek sabar aja ngadepin dia. Abang kau aja kembang kempis terus, tiap hari ada aja yang nguji kesabarannya. Yang jadi Candanya sih, pasti merasa paling tersakiti. Padahal kan, dianya yang harus diperintahkan dengan bentakan aja." Aku pun membenarkan perkataan papah ini. Hanya saja, aku seperti mematok perempuan itu ya minimal penurut dan bucinnya seperti Canda. Jangan keterlaluan seperti Kin juga, jangan terlalu masa bodo seperti Novi juga.
"Ya hallo, Dek. Kenapa?"
Aku meluruskan pandanganku pada papah.
"Astaghfirullah…. Gimana?" Papah panik tiba-tiba, ia segera turun dari brankar.
__ADS_1
...****************...