Istri Sambung

Istri Sambung
IS171. Pelet bulu ketiak


__ADS_3

"Aku tak pernah ada pikiran untuk selingkuh sama kau, Kak. Kalau Novi berpikir demikian, ya aku minta maaf. Udah aja, tak usah dipikirkan. Bukan aku tak mau rujuk, tapi memulai dari melupakan yang udah terjadi itu yang sulit. Masalah karma, ya mungkin aku harus sholat taubat untuk akhirinya. Aku tak tau pasti, itu karma atau kebetulan. Yang jelas, rasanya sulit aku mulai dari awal dengan Novi. Masalah Nahda, memang aku suka anak kecil. Kalau bang Givan dulu tak mau nerima Key, sampai sekarang pun Key bakal jadi anak aku dan mungkin masuk ke KK aku. Kalau sama Candanya boleh, rasanya aku pengen adopsi salah satu anaknya. Tapi bukan berarti aku suka anak kecil, terus anak-anak aku sendiri aku tinggalin. Di rumah pun, aku urus mereka juga, tak melulu mamah." Bapack-bapack rumah tangga dimulai kembali.


"Tapi Nahda udah bergantung sama kau, aku tak mau dia papa-papa terus. Aku tak enak hati sendiri, Far."


Aku malah curiganya kak Aca khawatir baper padaku.


"Santai aja." Aku bangkit dari tempatku. "Aku balik ke mamah, kalau butuh apa-apa tinggal bilang aja." Aku rasa, sudah tidak ada pembahasan lagi.


"Ya, Far." Kak Aca masih duduk di tempatnya, ketika aku beranjak pergi.


Aku kembali ke rumah mamah, karena aku malas untuk keluyuran tak jelas. Rumah lebih ramai lagi, karena bang Ken datang dan juga Ghava.


Rumah tanggaku terpecah, bang Ken bisa apa? Ia bahkan diam saja, seolah tak merasa bersalah


Aku pun tak patut juga menyalahkannya. Tapi harusnya dia paham, kami jadi seperti ini karenanya. Padahal masa itu, hubunganku dengan Novi sudah mulai saling bergantung. Entahlah, mungkin hanya aku saja. Tidak dengan Novi.


"Far…. Mamah bikin list barang-barangnya ya? Kau yang pergi, nanti sama siapa gitu. Mamah lagi pilek, tak enak mau belanja-belanjanya. Pening kepala, meler terus." Mamah mengusap hidungnya dengan tisu.


Pantas saja, mamah di kamar terus. Untungnya anak-anak bisa saling menjaga dan juga tidak keluar dari pagar rumah. Rumah pun begitu berantakan, tapi para menantu dan pengasuh ringan tangan untuk membereskan. Aku pernah melihat kehebohan di taman kanak-kanak, tapi kalah ramainya dengan cucu-cucu Adi Riyana dan Adinda ini.


"Barang-barang apa sih, Mah?" Aku menghampiri mamah yang duduk di sofa ruang keluarga.


Wajah mamah sampai merah. Flunya cukup berat sepertinya.


"Banyak, kebutuhan dapur, rumah, obat-obatan, beberapa lampu, sama kebutuhan pribadi Mamah sama papah. Uangnya mau cash apa transfer?" Mamah masih sibuk dengan kertas dan pena.


Aduh, bagaimana aku bisa?


"Kak Aca aja tuh, Mah. Nanti aku yang anter." Pikirku, karena memang kak Aca sering disuruh dan paling dekat dengan mamah.


Menantu mamah sibuk sendiri, tentu mengurus anak dan keluarganya. Mereka memiliki tugas dan kewajiban sendiri-sendiri.


"Ya udah, nanti Mamah suruh dia. Kau siap-siap lah, keluarin mobil dulu. Anak-anak tak usah ikut, barang belanjaannya banyak."

__ADS_1


The real belanja kebutuhan bulanan ala orang kaya. Ya, hanya di bagian ini saja kami terlihat kaya karena memborong banyak barang. Selebihnya, kami tetap menunggu kembalian dari warung jika membeli barang.


"Ya, Mah." Mamah sering menyuruhku, karena aku tak pernah menolak perintahnya.


Hingga sampai di sinilah kami, di swalayan yang pernah kami datangi itu. Kak Aca langsung sibuk, dengan aku mendorong troli belanjaan kami.


"Far…. Mereknya tak ditulis, terserah aku aja kah mereknya?" Kak Aca memilih-milih tepung serba guna.


"Iya terserah aja, Kak. Yang penting sesuai dan udara BPOM." Karena aku pun tak tau pasti.


"Pasti BPOM, halal, kalau masuk sini tuh." Kak Aca melirikku.


Aku hanya cengengesan, dengan lanjut mendorong troli belanja. Enak sekali memandangnya dari belakang, bentuk tubuhnya terlihat indah meski sudah beranak. Sepertinya, ia cukup telaten mengurus tubuhnya. Entah karena ini genetik, aku pun tak tahu juga.


"Jangan cari bahan buat c**i, Far!" Tiba-tiba kak Aca memberiku peringatan.


"Aku tak pernah c**i." Aku memperjelas artikulasinya.


Kak Aca tertawa renyah. "Langsung cari jajanan ya berarti?" Kami berjalan beriringan dengan pelan, dengan memperhatikan rak di kanan dan kiri kami.


"Tak lah, aku tak pernah jajan." Masalahnya, aku tak bisa bereaksi.


Barulah pada kak Aca ini, aku banyak mengagumi bentuk tubuh perempuan. Sampai mimisan berulang kali pun pernah, tidak hanya saat jalan-jalan bersama anak-anak saja. Tapi aku pernah juga mimisan, gara-gara melihat bajunya tertiup angin, sehingga menampakkan lekuk tubuhnya yang indah.


"Kalah pengen gimana? Kan lama sendiri." Aku rasa, kak Aca adalah tipe manusia penasaran dan ingin tahunya kuat.


Seperti Canda yang kepo, ia selalu kepo bahkan berani bertanya langsung pada orangnya. Tidak bermaksud untuk apa-apa, karena memang sifatnya yang ingin tahu tentang hal-hal pada orang lain.


"Mimisan." Aku terkekeh ketika menjawab.


"Mem plong kalau udah mimisan? Kan tak, kan?"


Betul, tidak plong sama sekali. Yang ada, sakit kepala, mumet, sakit dahi, sakit hidung. Sama rasa begitu parah, bahkan malah membuatku uring-uringan.

__ADS_1


"Tak sih. Ya udah lepas ini coba keluarkan ya?"


Uhh, kakiku langsung diinjak cukup keras.


"Kucekik ya kau sekalian!!!" Ia mengacungkan jari telunjuknya.


Aku tertawa geli, kemudian menangkap jari langsing dan panjang tersebut. Gemulai sekali jarinya, bikin tambah ngeres saja.


Tinggi dan seksinya bak Kinasya, wajahnya mirip mamah, sifatnya sedikit mirip Canda, cerdas dan enak diajak ngobrol juga. Coba ah, aku akan membuatnya baper. Bisa tidak ya aku? Sebelumnya, aku tidak pernah mengejar wanita.


Jika sat set sat set, taruhannya nyawa. Injakan kakinya terasa sakit juga, apalagi nanti perlawanannya jika aku memaksa. Ish, amit-amit. Sudah pusaka lemah begini, ditambah jika mendapat tendangan. Aku khawatir nanti bisa bengkok, lalu di-gip agar lurus kembali.


"Leher yang mana yang dicekik?" Aku sebenarnya menahan tawaku sendiri.


Kak Aca langsung mendelik tajam, dengan mata yang dibuat-buat agar melotot. Mata kecil yang dipaksa melotot, aku jadi geli sendiri.


"Kak, sore cari angkringan yuk? Kau kan suka makan nasi kucing." Serangan pertama, aku yakin sih gagal.


Apalagi, aku hanya didasari iseng yang mana tahu beruntung. Bukan dengan niat yang sungguh-sungguh.


"Uangnya aja, tak usah ngajakin!" ketusnya langsung.


Aku mencolek dagunya. "Huh…. Betul dong kata Nahda, Papa kan banyak uang. Mamanya pun, sampai doyan uang sekarang," ledekku padanya.


Kak Aca memberikan tatapan sengit lagi. "Udah berani ya colek-colek sekarang?! Awas aja kau nanti, Far! Kau berani colek, aku berani bakal geprek kau sekalian!" ancamnya menakutkan, tapi aku malah tertawa.


"Bolehlah, bolehlah. Nyambelnya yang enak, kalau tak bisa ngulek nanti aku bantuin." Ini area dewasa, anak-anak pastinya tidak mengerti.


Kak Aca menahan tawa, dengan memukul lenganku beberapa kali. Rupanya, ia mengerti arti pembicaraanku ini.


"Mesum juga ya kau?! Awas aja kau!" Kak Aca mengancamku sembari tertawa geli.


Sepertinya, aku harus lebih gencar membuatnya terkena ajian peletku. Pelet bulu ketiak tentunya, seperti Canda yang dulu nemplok saja meski lulusan pesantren. Ditambah sekarang aku ada uang, sepertinya bau uang alami adalah ilmu pelet yang paling mujarab. Aku harus mencari kelemahannya, untuk memaksimalkan penyeranganku.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2