Istri Sambung

Istri Sambung
IS129. Abi Haris


__ADS_3

"Kasian loh, Mah." Aku tengah membujuk mamah, agar mau membantu Ghavi.


"Lah, kalau Mamah tak kasian. Ngapain, Mamah ngurus lima anaknya? Ngapain, Mamah minta Tika stay di sini? Mamah pun lagi ajarkan Tika, biar dia bisa berdiri sendiri. Tapi tidak dengan cara jualan seblak kek Canda, tidak dengan cara kerja keluar kota atau balik ke kampungnya. Dia udah ngelahirin cucu Mamah, jadi dia tak bisa pergi jauh dari lingkungan ini. Cerai pun, ya terserah. Tapi, dia tetap tak bisa pulang ke kampungnya." Mamah berbicara dengan nada cepat, dengan lirikan tidak bersahabat juga.


Mamah sayang cucunya, tepatnya seperti itu. Tapi anak perempuannya yang malah diizinkan untuk dibawa suaminya, seperti contohnya kak Icut. Giska pun sama, meski sering bolak-balik main ke rumah.


"Mau diajarin usaha apa, Mah?" tanyaku, dengan memperhatikan anak-anak yang tengah mencoret-coret tembok.


Apa yang mamahku lakukan? Hanya diam memperhatikan. Tidak membentak, tidak memarahi, tidak melarang juga. Aku tidak mengerti, apa manfaatnya untuk otak anak-anak dengan mencoret-coret tembok? Sampai-sampai, mamah pun diam saja melihat cat mahalnya harus digores pensil warna itu.


"Ambil barang dari Canda, Ahya, Aira, Icut. Buka toko serba tiga lima ribu, untuk produk dari Canda, Ahya sama Aira. Sama tokoh barang monza dan parfum, kisaran ratusan, barang dari Icut. Tokonya lagi dibangun, di dekat bakso langganan kita itu. Di jalan raya depan sana, sebelum masuk gang." Tangan mamah mengisyaratkan letak tempat toko tersebut.


"Perasaan, daster Canda kisaran dua belas ribu deh, Mah." Aku ingat dengan produk Canda yang sering aku robek, ketika dipakai oleh Kin.


"Itu sih midi mini, sepaha aja. Ada harga, ada rupa kali, Far. Mulai dari dua belas ribu, sampai tujuh puluh lima ribu. Bahan yang oke, ya sampai ratusan yang satu buah aja." Mamah menatapku dengan mengernyitkan dahinya.


Aku terkekeh geli. "Tak tau pasti aku, Mah. Terus, kata Tika apa?" Aku menoleh ke arah pintu utama.


"Nek…. Yayah La nana cih? Ipon usah kali." Dari suaranya saja, aku sudah bergidikan membayangkan rupa anaknya.


Caera.


"Kerja, Ra. Jangan nelponin yayah terus," jawab mamah halus.


Muncul sudah anak perempuan yang sangar itu. Lihatlah, ia langsung merampas pensil warna dari tangan Athaya. Athaya adalah anak perempuan Ghavi yang paling kecil, tapi tetap lebih muda dari Ra. Usianya sekitar empat tahunan, tak beda jauh dengan usia Ceysa.


Athaya langsung murung, ia hanya diam dengan merapatkan bibirnya. Athaya sedang menahan tangisnya.


"Ra kok tak baik sih." Mamah bangkit dan berjalan ke arah Ra.


Sepertinya mamah tau, jika Ra merampas pensil warna Athaya.


"Ra kan ahat." Ia malah membenarkan.


Ya ampun, Ra.


"Balikin ke Atas! Sana main di belakang tuh, ada kakek." Mamah menunjuk pensil warna yang berada di tangan Ra.

__ADS_1


Dramanya anak-anak ini.


Aku melangkah ke dalam rumah, kemudian menemukan Tika di dapur. Ia tengah menyantap makanan seorang diri di meja makan yang begitu mewah dengan ukiran. Namun, urat wajahnya terlihat sedih dan tidak berselera untuk makan.


Aku ingin tahu sudut pandangnya.


"Tik, sehat kah?" Aku melangkah masuk ke area dapur ini.


Tika tersentak, lalu ia mengunyah cepat makanannya. "Sehat, Bli."


Bli adalah panggilan kebanggaanku ketika di Bali. Bahkan sampai sekarang, Tika masih terbiasa menyebutku bli.


"Semangat ya?" Aku duduk berjarak satu kursi dengannya.


"Iya, Bli. Semangat glow up, kalau kata kak Canda." Tika bisa tersenyum lebar.


Sepertinya, ia banyak bercerita dengan kakak ipar saiko itu. Sebenarnya, Canda tidak pandai memberi saran. Tapi cukup membuat tenang, karena ucapannya bukan semakin membakar hati perempuan yang tengah malang ini. Aku sedikit tahu, karena ia pernah memberikan kalimat penenang untuk papah ataupun mamah di depanku.


"Jadi kau berpikir pengen glow up juga kek dia? Punya suami kucel, jadi janda malah glowing." Ini adalah rupa Canda, ketika menjadi jandanya bang Givan.


"Iya dong. Bisa kali ya, janda anak lima dapat bujang kaya?"


Aku tertawa lepas mendengarnya.


"Nanti pas ekonomi kau udah stabil, kau udah cantik. Kau tak akan butuh laki-laki, sekalipun bujang kaya banyak warisan. Mindset kau pasti berubah," celetukku kemudian.


Tika manggut-manggut. "Tapi buktinya mamah aja, tetap cari laki-laki kok." Sepertinya Tika tahu, tentang cerita mamah saat menjanda dulu.


"Berarti mamah tak cerita, tentang beliau yang baru keluar dari bui dan merintis dari awal lagi. Kekurangan modal, jadilah nemplok ke bujang banyak warisan kek papah." Ini adalah cerita versi ayah Jefri dan abi Haris.


"Iya kah?" Tika tertawa lepas.


Aku mengangguk. "Iya, keadaannya beda. Waktu lagi kaya-kayanya, usaha itu sampai dikasih-kasihkan ke saudara. Laki-laki itu, distatuskan cuma untuk jaga beliau. Jadi kek misal lagi garap pekerjaan di kota Jakarta, ya mamah bawa laki-lakinya untuk jaga dia. Karena namanya perempuan, dia khawatir dengan dirinya sendiri." Ini pun cerita dari dua orang sahabat mamah itu.


"Iya, kalau tak salah namanya itu Fahrur Rozi."


Aku menoleh ke sekitar ruangan. Namun, aku menemukan orang asing bukan penduduk asli rumah ini yang baru masuk ke area dapur.

__ADS_1


"Abi…." Aku langsung bangkit dan mencium tangannya.


Abi Haris, ayah Kinasya dalam dokumen kelahirannya. Ia adalah sahabat mamahku. Hubunganku tidak baik, saat Kinasya tiada.


"Mana istri baru kau?" tanya beliau, setelah aku mencium tangannya.


"Di rumah, Bi. Datang kapan?" Aku mempersilahkannya untuk duduk di kursi yang tadi aku duduki.


Tetapi, beliau lebih memilih untuk berjalan ke arah kulkas. Kemudian, mengambil minuman dingin dalam kemasan kaleng. Minuman untuk pereda panas dalam.


"Pagi tadi, terus lepas dzuhur ikut ke ladang sama papah kau." Abi Haris bersandar pada pintu kulkas yang tertutup.


"Dalam rangka apa, Bi?" Mungkin pertanyaanku sedikit tidak sopan. Tapi kehadirannya di daerah ini, cukup mengundang kecurigaanku.


"Dalam rangka abang kau minta restu ibunya lagi. Nikah yang kedua juga, dengan perempuan yang tak jauh beda dari yang kemarin. Abang kau juga ada di depan, lagi debat sama tahta tertinggi," jawab beliau.


Siapa tahta tertinggi?


"Siapa, Bi?" Aku memperhatikan beliau yang beranjak dari tempatnya.


"Chandra, di bawah pohon mangga halaman depan. Ngisengin adiknya, kakaknya yang ngamoookkk." Abi Haris sampai geleng-geleng kepala.


Oh, jadi Ra datang itu bersama kakaknya.


Oh, iya. Yang dimaksud abangku adalah bang Ken, anak sulung abi Haris. Nama panjangnya adalah Kenandra. Ia bersamaku, saat berada di Bali. Ia adalah seorang dokter, yang sekarang sudah menjadi dokter spesialis bedah.


Sifatnya, satu dua dengan bang Givan. Sesad boy, sedangkan aku sad boy. Tapi lebih baik bang Ken, ketimbang bang Givan. Karena bang Ken bermain hanya bersama pacar-pacarnya, sedangkan bang Givan berani membeli.


"Aku ke depan dulu, Tik. Mau ngobrol sama bang Ken," pamitku pada Tika.


"Ya, Bli." Tika hanya menatap piringnya.


Abi Haris tahu, bahwa Tika adalah barang bawaanku dari Bali. Abi pun tahu, jika Tika sudah menikah dengan Ghavi dan status denganku hanyalah ipar.


"Ayo ke bang Ken, Bi." Aku merangkul abi Haris.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2