Istri Sambung

Istri Sambung
IS150. Rujuk ke RS


__ADS_3

"Ada kecelakaan hebat, tapi dia tak trauma tuh, Pah. Yang bareng orang tuanya Tika sama Yoka itu. Orang tua mereka meninggal, dengan Ghifar yang luka kecil aja. Tapi setelah kecelakaan itu, dia tetap berani bawa mobil. Kecelakaan itu pun, beberapa bulan silam sebelum balik ke Aceh. Pas awal baru di Bali itu, aku bawa dia berobat. Karena ya dia gitu, jam tidurnya acak-acakan," tambah bang Ken, dengan berdiri di dekat nakas.


"Udah sebelas tahun ya berarti? Apa masih bisa disembuhkan?" tanya mamah dengan memperhatikan bang Ken.


"Tak bisa sembuh, Mah. Cuma, dia diatur pola pikirnya aja. Nanti, kek diajarin caranya biar traumanya itu dijadikan sahabat hidupnya. Susah jelasinnya, Mah. Berobatnya ke psikolog, ahli kejiwaan."


Aku sudah seperti orang dalam gangguan jiwa.


"Tentang Canda itu kah, Far? Apa otak kau berpikir, bahwa Novi pun senasib dengan Canda?" Mamah kini memperhatikanku dengan lekat.


Aku menggeleng. "Aku mau pulang ke Mamah aja." Aku seperti anak kecil yang cengeng, aku malah terisak di hadapan keluarga.


Mamah mengusap air mataku.


Di usia tiga puluh satu tahun, nyatanya aku belum dewasa. Aku begitu lemah dan payah. Aku seperti terlahir kurang normal, hingga sampai sebesar ini tetap bergantung pada orang tua.


"Udah ngaco nih." Papah merangkak di tempat tidur, kemudian berada di sisi kananku. Papah menempati tempat Ahya tadi. Sedangkan Ahya, ia sudah duduk di sofa dengan mengusap-usap perutnya.


Mamah meninggalkan tempatnya. "Masalahnya apa sih, Ken?" Mamah menarik bang Ken ke arah balkon.


Merambat.


Permasalahku dengan Novi, pasti akan dihakimi oleh orang tuaku.


"Pah, ajarakan tutorialnya menjadi galak tuh, Pah," ujar Ahya, ia berjalan mendekat dan duduk di tempat mamah.


"Tau begini, dari dulu aja Papah nikahin kau sama Ghifar." Papah mencolek pinggang yang rata dengan perut besar itu.


Ahya tertawa lepas. "Nanti tua aku tak punya dana pensiun dong."


Sereceh itu. Aku tergelak, yang membuat punggung tangan kiriku nyeri.


"Kau kaya sendiri, masih mikirin pensiun." Sepertinya papah sengaja mencairkan suasana.

__ADS_1


"Ngomong tak enaknya dulu, Pah. Amit-amit, misalkan dadakan bangkrut. Aku punya pegangan dari uang pensiun bang Hafidz." Ternyata seperti ini pemikiran seorang sahabat dari kecil ini.


"Mana sih suami kau?" tanyaku kemudian. Aku jarang sekali melihat suaminya, bahkan tadi aku datang pun tidak melihatnya.


"Baru pulang kerja jam lima tadi, terus bawa Alma ke masyiknya di sana. Alma kan tidur di sana, soalnya aku sejak hamil kalau bangun malam itu kliengan. Sedangkan Alma kan, kalau malam itu bikin susu ada tiga kalinya," terang Ahya, dengan mengusap keringatku dengan tisu.


"Umi kau ngurus apa? Enak betul yang jadi abi kau itu, dielus-elus umi kau terus." Papah berkata seperti ini, karena beliau dan istrinya pun masih mengurus cucu-cucu mereka.


"Umi kan asam uratnya parah, Pah. Abi pun kadar gula, makanya sejak ada bang Ken, abi tak makan nasi. Semoga ada bang Ken di sini, umi sama abi cepat pulih." Ahya menjeda kalimatnya beberapa saat. "Kadang heran, orang-orang yang mudanya buruk kek Papah sama mamah itu, malah tuanya sehat-sehat aja."


Apa itu jenis menyindir secara langsung? Atau renungan untuk papah sendiri?


Aku mencoba menahan tawa. Namun, ternyata papah malah lebih keras tertawa.


"Papah kan ada hipertensi juga. Mamah kau ada asam lambung plus anemia, kalau kumat berbarengan kan resikonya nyawa itu. Tapi kan itu ada pencegahannya, jadi bisa dihindari. Mamah sama Papah begini kan, tak boleh stress. Papah darah tinggi itu bukan dari makanan, tapi dari pikiran. Marah, beban pikiran, langsung tensi naik. Tengkuk kaku, kepala nyut-nyutan. Mamah stress, yang langsung mual-mual. Langsung parah aja tuh, misalkan sakit."


Sepertinya, jika sudah tua memang ada saja keluhan kesehatan.


"Tapi abi Haris sehat aja loh, Pah. Kata bang Ken juga, abi Haris masih kerja. Kan ada beberapa dokter yang milih pensiun." Ahya seperti berbisik.


Rindunya suasana seperti ini. Kami selalu disibukkan aktivitas dan tanggung jawab masing-masing, sehingga mengobrol dan berghibah seperti ini sudah tidak pernah lagi.


"Langi itu kabarnya gimana, Pah? Pernah nginep di rumah aku, dia nyuruh-nyuruh aku aja. Tak tau apa ya, kalau aku pun adiknya bang Ken?" Ahya masih mempertahankan nada rendahnya.


"Nikah sama pejabat dari Palu loh. Ahh, kau kalah! Cuma polisi suami kau, bukan anggota DPR." Aku tergelak, melihat papah berghibah dengan nada rendah.


Ahya tertawa lepas, sampai perutnya berguncang.


"Enak sama saudara sendiri, minim nyakitin. Ketimbang sama orang lain. Sama mantu Papah dulu, aku tak jadi. Dari pihak mereka aku yang disalahkan, padahal kan mentalnya belum kuat aja tuh." Mulutnya sampai manyun-manyun.


"Kata siapa, Bodoh! Aku tetap disakiti," timpalku yang membuat suasana kaku kembali.


Ahh, aku keceplosan. Secara tidak langsung, aku mengutarakan permasalahanku sendiri.

__ADS_1


"Ganti sama saudara lagi. Ada kak Aca, janda dengan titel guru. Ria juga bisa tuh, tak dapat kakaknya kan bisa adiknya." Semudah itu Ahya mengatakan.


"Rauzha juga bisa, calon dokter spesialis. Atau nunggu jandanya Ahya." Papah melirik ke arah Ahya.


Ahya langsung menyerang papah dengan bantal. "Jangan jandakan aku juga dong, Pah. Nanti aku tak dapat pensiun." Ahya berpura-pura menangis.


Aku dan papah tertawa lepas. Hanya gurauan, tapi Ahya terlihat memang tidak ingin.


"Far…."


Aku menoleh ke arah seseorang yang memanggilku itu.


"Dibawa ke rumah sakit ya? Cek darah, observasi. Biar besok kau lekas pulih, syukur-syukur bisa langsung balik," ungkap mamah tiba-tiba, dengan raut wajah tidak biasa.


"Bang, bawa HP tak? Telpon Ghava, suruh Winda minta KK sama buku nikah Ghifar di Novi. Ayo kita antar Ghifar dulu, biar Ken yang jaga sama Zuhdi malam nanti." Mamah menumpuk beberapa bantal. "Oh, iya. Minta Zuhdi antar Giska sama anaknya ke rumah kita, nanti dia suruh ke sini bawa asuransi keluarga di lemari kita." Mamah seperti terburu-buru.


"Oke, siap." Papah langsung mengeluarkan ponselnya.


Dalam asuransi keluarga tersebut, sudah terdaftar data diri kita. Jadi tidak diperlukan lagi semacam KTP atau kartu keluarga.


"Masih sakit kah narik napasnya, Far?" Bang Ken ternyata sudah berdiri di sampingku.


Ia mengutak-atik kantong infus yang tergantung di teralis jendela.


"Ya, Bang. Mata pun berat, padahal tidur siang juga." Ini adalah keluhan yang aku rasakan.


"Otak kau butuh oksigen lebih banyak. Kalau mau nguap lebar, jangan ditahan. Tinggal nguap aja, biar suplai oksigen ke otak lebih baik."


"Bahaya kah, Ken?" tanya papah kemudian.


"Bahayanya karena ada hilang sadar tadi, Pah. Kalau udah sering hilang sadar tanpa penyebab jelas. Ghifar pun tengah tidak sakit, atau sebelumnya ada keluhan juga, ya biasanya cukup bahaya. Itu alarm dari tubuhnya." Bang Ken memberikan kantong infus yang tersambung selang ke tanganku itu pada mamah.


"Mah, bawakan. Biar aku yang bantu dia jalan." Bang Ken menatap adiknya. "Bawakan bantal sama selimut itu, Dek."

__ADS_1


Hingga berakhir, kini aku terbaring di brankar rumah sakit tempat bang Ken bekerja.


...****************...


__ADS_2