Istri Sambung

Istri Sambung
IS201. Memberi dengan berkah dan doa


__ADS_3

"Memaksa." Aku memegangi seseorang yang sedang mengendalikanku.


"Katanya mau tau beres." Kak Aca membingkai wajahku.


Mah, Pah. Maaf jika suara kami bocor, tapi kami tidak sedang berzina. Kami pasangan sah secara agama, kami telah menikah tanpa sepengetahuan kalian.


Jika saja pakdhe Arif tak melarang, pasti anaknya tak senekat ini memintaku untuk menjadi imamnya. Andai saja mamah mensupportku, pasti aku pun melancarkan aksiku untuk meminta restu jalur baik-baik. Aku tidak mungkin mendadak seperti ini, jika tidak terdesak.


Ditambah lagi, wanitaku selalu sukses membangkitkan minatku. Aku khawatir terus menerus berzina dengannya, padahal aku tak memiliki niat untuk berzina sama sekali.


"Variasikan, Sayang. Bisa tak?" Aku merapikan rambutnya.


Semoga Nahda dan Ra tidak terbangun.


"Beginikah?"


Oh, sialan. Spinner mesin cuci sepertinya kalah.


Aku mendongakkan kepala menatap langit-langit kamar. Aku pasrah di atas sofa ini, dengan akrobat yang kak Aca berikan. Aku sampai menggigit bibir bawahku, karena khawatir suaraku begitu lepas.


"Mau siap kah?" Kak Aca berhenti sejenak.


Memang agak lain jika pemilik klub sepakbola.


Aku menggeleng menjawabnya. "Aku masih lama, tadi amsyongnya minta ampun. Rasanya pengen nangis aja." Suaraku sampai bergetar lirih.


"Udah aja kah?" Kak Aca benar-benar melepaskannya.


Sayang sekali, aku malah merasa kehilangan rasa candu itu.


"Jangan dong." Aku memohon agar ia menurunkan posisinya lagi.


"Rasanya gimana sih?"


Bertanya segala. Apa ia tidak sadar, bagaimana perbuatannya?


"Pijat gitu. Campur-campur deh, Ma." Aku kurang pandai mendeskripsikan. Yang jelas, sulit diungkapkan dengan kata-kata indah. Rasanya begitu wow, mumet dan memusingkan.


"Coba ya kalau kek gini." Tubuhnya lebih condong ke depan, dengan kedua tangannya berada di kanan kiri kepalaku.


Waduh, ini lebih gila. Hanya bagian bawah saja yang bergerak cepat, tidak dengan tubuhnya. Secara tidak sadar, aku sampai berkicau seperti burung tidak jelas. Kalang kabut rasanya, seperti diobrak-abrik.

__ADS_1


Kak Aca pun sudah melambungkan namaku beberapa kali. Untungnya, tidak menggunakan pengeras suara. Tapi semoga saja suaranya tidak keluar dari kamar ini. Setelah itu, tarikan tambang menjadi deskripsiku saat ini. Kontraksi yang sungguh luar biasa, aku selalu dibuat gila ketika wanitaku bereaksi sungguh di luar ekspektasi ini.


Aku tidak mengerti, kenapa aku bisa mendapatkan wanita sehebat dirinya. Ia lunglai menimpa kelelahan, bahkan ia tidak kuat menopang berat tubuhnya sendiri.


Dengan sisa tenaga, aku memutar posisinya. Sofa menjadi saksi malam pertama yang berkah dan diikuti doa.


Tidak seperti malam pertamaku dengan Novi, yang bahkan diundur begitu lamanya. Apa karena wanitanya tidak mengajak seperti kak Aca? Atau, karena sebelumnya sensasi dengan kak Aca membuatku candu? Apa ya alasan di dalamnya, sehingga membuat kak Aca lebih istimewa ketimbang perempuan yang pernah ada di hidupku?


"Kuat tak, Pa?" Kak Aca mengusapi keringat di dahiku.


Aku mencari posisi nyaman sebaik mungkin, agar ia tidak kesakitan dan aku pun tidak terpental. Cukup sulit bergerak, karena sofanya tidak lebar.


"Kuat kok." Aku tersenyum samar.


Aku terlanjur dibakar api semangat. Tadinya tidak sekuat ini tenagaku, apalagi setelah shock. Namun, aku tidak mungkin diam dengan rasa menggebu-gebu seperti ini.


"Aku kalau udah keluar sekali, malah jadi lebih dekat jarak keluarnya."


Pantas aja licin sekali. Aku bahkan khawatir terpeleset. Percayalah, terpleset ketika sedang laju-lajunya itu membuat milik para laki-laki sangat kesakitan.


"Keluarin sebanyak-banyaknya malam ini."


"Papa kapan?" Usapan lembut lagi kudapatkan.


"Bentar lagi."


Bentar lagi yang palsu. Mungkin kami para laki-laki, sering mengatakan sebentar lagi, padahal aslinya lebih lama lagi. Untuk kalimat penenang saja, agar wanita kami bisa mengimbangi kami.


"Kok sebentar lagi sih? Buat aku lemas dulu." Kak Aca menjambak-jambak rambut bagian belakang kepalaku.


Apa katanya? Aku jadi tertawa kembali mendengarnya. Ia tidak mau, jika aku keluar cepat.


"Aku mau gerak lagi, Pa." Rengekan itu terdengar penuh harap.


Ya sudah, mari kita jabani inginnya.


Membiarkannya bergerak lagi, adalah salah satu kesenangan untuk yang menjadi laki-lakinya. Membiarkannya bergerak selincah atas kuasaku, adalah hal yang paling favorit untukku.


Entah berapa lama kami melakukannya, karena setengah dua dini hari aku baru sampai di kamarku. Sebelumnya aku mengunci pagar, kemudian masuk dari pintu samping. Saat melewati kamar mamah dan papah pun, masih terdengar suara dengkuran mereka.


"Dari mana, Bang?"

__ADS_1


Aku sampai tersentak kaget. Aku lupa, jika pada kamar dengan tangga atas, ada Novi yang menempati.


"Dari keude kupi." Aku melanjutkan langkahku,. dengan Novi yang turun dari tangga.


Rumahnya yang rusak parah, membuatnya kehilangan tempat tinggal untuk sementara. Jika Novi akan lama di sini, aku akan kembali ke rumahku saja. Aku harus menjaga perasaan kak Aca, karena Novi adalah satu-satunya mantan istriku yang masih hidup. Lebih lagi, dengan kami tinggal di atap yang sama, pasti tegur sapa sulit dihindari.


Aku akan bangun kesiangan karena rasa plong ini. Sepertinya, aku akan mengundur waktu satu atau dua jam untuk berangkat ke kantor. Agar keadaanku fit, juga tidak kekurangan tidur.


Hingga akhirnya, pukul setengah sebelas siang, aku baru sampai di kantor dan ada bang Givan di sini. Kerusakannya tidak begitu parah, karena angin ribut tersebut tidak lewat di dekat perusahaanku ternyata.


Ladang papah di sekitaran sini pun, tidak terkena imbas yang berarti. Tidak semua ladang kopi papah, mengalami pergantian pohon baru lagi.


"Apa aja, Bang?" Aku mulai menuliskan, yang bang Givan sebutan untuk perbaikan perusahaanku ini.


Ternyata tampan seperti itu, rupa laki-laki yang merenggut kesucian dua perempuanku. Canda dan kak Aca, direnggut olehnya. Pasti ada alasan unik, yang membuat kak Aca tidak diambil dengan cara kekerasan seperti Canda. Aku yakin ini.


"Udah, Bang." Aku menunjukkan buku catatan kecil ini padanya.


Ia mengangguk, kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa ruanganku. Kentara sekali urat lelahnya, bahkan ia sampai menghela napas beberapa kali.


"Bang, kau ya yang nidurin kak Aca untuk pertama kalinya?"


Eh, tiba-tiba mulutku mengatakan hal itu.


Ia melirikku sekilas. Lalu memandang plafon ruangan kembali.


"Kenapa kau tanya gitu?" Ia malah menguap lebar.


"Iya, betul kan?" Aku tidak mengurai alasanku untuk mengungkapkan hal ini. Karena ini pun reflek dari mulutku saja.


"Canda kau rampas duluan, ternyata kak Aca juga." Eh, aku malah menggerutu. Semoga bang Givan tidak mendengarnya, karena khawatir membuat kami renggang kembali.


"Abang kira, perihal Canda kau udah ikhlas dan udah bisa lupakan, Far?"


Rupanya ia mendengar gerutuanku.


"Menurut Abang, beberapa waktu di awal cukup bikin kau lupa ke Canda. Tinggikanlah sedikit rasa hormat kau ke kakak ipar kau, Far!"


Apa itu sebuah peringatan?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2