Istri Sambung

Istri Sambung
IS206. Keuwuan di dapur


__ADS_3

"Hmm, itu. Aku dari luar, Pah. Ada kerjaan di luar yang belum selesai tadi, jadi sekalian aku selesaikan."


Sudahlah, aku pasrah. Terserah papah mau percaya atau tidak, aku tidak pandai berbohong.


"Ohh, ya udah sana masuk. Jangan mandi lagi, bilas aja. Terus sana cari makanan, barangkali masih ada."


Kesempatan untuk pergi, aku tidak akan menyia-nyiakannya.


"Iya, Pah." Aku berderap cepat untuk masuk ke dalam rumah.


Aku ingin menangis saja.


Sudah di depan tadi bertemu papah, di ruang keluarga ini malah bertemu Canda dan juga mamah. Kenapa dia tidak tidur di rumahnya saja sih? Canda jika begadang seperti ini malah membuatku was-was, pasti banyak cerita yang ia ceritakan pada mamahku.


"Dari mana kau, malam sekali pulang?"


Ini pertanyaan menjebak bukan ya?


Ah, lebih baik aku mengalihkan perhatian saja.


"Iya, Mah. Mamah masih punya makanan? Aku belum makan, Mah."


Persetan dengan bersih-bersih, itu bisa nanti saja. Toh, aku pun sudah menyemprotkan parfum cukup banyak.


"Tak ada, tadi dihabiskan Key. Lauknya dimakan tanpa nasi sama dia."


Lebih baik aku langsung melarikan diri ke dapur saja. "Aku buat mie ya, Mah?" Aku tak apa makan mie lagi, yang penting bisa lari dari hadapan mamah secepatnya.


Aku jadi memikirkan, bagaimana motivasi pembohong untuk bisa selalu berbohong? Bagaimana cara mereka agar tidak gugup.


"Aku beli pasta, yuk buat?" Canda malah lebih bersemangat.


Namun, mamah langsung mencekal lengan menanti tertuanya itu.


"Biar Ghifar sendiri tuh! Duaan kau di dapur, suami kau yang kalang kabut."


Tetapi, Canda malah melepaskan cekalan mamah di lengannya.


"Biar lah, Mah. Kalau aku niat sih, bisa aja kali. Orang ini aku mau minta pastanya juga, buatnya sekalian banyak gitu." Ia sendiri yang berani berdebat dengan mamah, bahkan suaminya sekalipun.


Sudahlah! Masa bodo! Lebih baik aku langsung masuk ke dapur saja, daripada melihat drama Canda memaksa.


Tidak tahunya, benar juga ini perempuan datang ke dapur.


"Aku tadi beli pasta yang bentuknya kek keong loh. Kau suka saos apa, Far?" Canda membuka lemari penyimpanan makanan siap saji, seperti mie rebus dan mie dalam cup.


Ia bercerita tentang pasta berbentuk keong, tapi yang ia tanyakan saos. Memang agak-agak kentirnya.


"Bolognese, kau beli tak?" Aku memperhatikannya yang tengah mengobrak-abrik isi lemari itu.

__ADS_1


"Beli dong, kan selera kita juga sama." Ia malah menoleh padaku dengan mengedipkan sebelah matanya.


Di mana sih ada kakak ipar yang normal saja? Aku merasa tidak waras, jika kakak iparku merangkap menjadi mantan dan orang usil begitu.


"Biar aku rebus pastanya, kau panasi saosnya, biar langsung siram aja." Aku mengambil sebuah panci dan mengisinya dengan air dari keran air.


Setelah itu, aku menempatkannya di atas kompor. Lalu segera kunyalakan kompor listrik ini.


"Nih pastanya." Canda memberi beberapa bungkus padaku.


"Mau direbus semua kah? Banyak sekali loh." Aku meliriknya yang tengah mengambil salah satu panci, lalu ia berdiri di sampingku.


"Yayahnya anak-anak juga doyan, sekalian mamah sama papah juga barangkali mau." Canda mulai menuangkan saosnya di dalam wajan teflon itu.


Tanpa aturan, aku membesarkan api agar cepat mendidih. Lalu, aku memasukkan pasta tanpa takaran yang pas.


Eh, aku tiba-tiba penasaran dengan sesuatu. Aku melirik lebih dulu ke arah penghubung dapur, kemudian memperhatikannya yang tengah mengaduk-aduk saos pasta tersebut.


"Kau tak lapor ke mamah?" tanyaku lirih.


Ia melirikku, kemudian mematikan kompornya. "Lapor apa?" Canda kembali memandangku, setelah aktivitasnya selesai.


"Ke mamah, tentang aku tadi." Aku menelan ludahku menunggu jawabannya.


"Kata mas Givan biarin aja, jangan ikut campur. Lagian gimana caranya aku bercerita? Aku malu lah bilang rumah bau anu, terus banyak tisu, begini begitunya. Vulgar betul mulut aku nanti."


"Lagian, sejak kapan sih kau jadi gitu? Perasaan, sama aku dulu banyak kesempatan juga tak pernah ngajakin anu. Apa gatal kah? Karena terlalu lama sendiri."


Tuh, kan? Canda mulai menarik tentang kami dulu.


"Tak juga, udah kau tak usah tanya gatal taknya." Aku meliriknya sinis.


Ia malah terkekeh, kemudian memukul lenganku. "Daripada zina, udah tuh buat aja dari botol bekas air mineral."


Heh?


"Heh! Yang ada malah lecet-lecet lah! Segala buat dari botol bekas minuman." Aku tidak mengerti dengan cara berpikirnya.


"Ada tutorialnya di YouTube. Tadi siang, aku tak sengaja lihat cara pembuatannya." Segala ia malah menunjukkan ponselnya padaku.


"Udah-udah! Tak kepengen buat aku, Cendol!" Aku mematikan kompor, lalu bergeser ke arah wastafel cuci piring untuk meniriskan pasta ini.


Semoga porsinya pas dengan saus yang Canda buatkan.


"Ya iyalah, udah dikeluarkan sih bilangnya tak kepengen." Ia malah mengusap punggungku dan mentertawakanku.


"Iyalah!" ketusku cepat, yang malah membuat Canda tertawa lepas.


"Tapi enak kah janda anak satu, Far? Enak mana sama aku dulu?"

__ADS_1


Aku menghela napasku, kemudian memutar tubuhku untuk menghadapnya. "Aku tanya ya?" Canda langsung mengangguk.


"Sejak kapan kita pernah main? Kau malah bandingkan sama diri kau sendiri lagi!" Rasanya aku ingin mencekiknya.


Ia malah tertawa lepas. "Wah, kau lupa tentang kita ya? Kau malah pernah nanya ke aku, mau berapa jari." Canda menunjukkan jari manis dan telunjuknya.


Aduh, bisa-bisanya?!


"Ya kau kira bagaimana?! Waktu dulu kan pakai jari, tadi kan pakai Black Mamba." Aku menunjuk tengah-tengah tubuhku.


Kami tengah bekerja sama membagi pasta di atas piring. Ada lima piring, yang sudah Canda jejer di sini.


"Oh, iya kah?" Tawanya begitu renyah lagi.


"Bodohnya aku aja orang hamil malah kumesumi." Tawanya lebih lepas terdengar.


"Hamilnya anak orang, aku yang kena tuduh." Tawanya begitu keras dan lantang.


Sialan! Tawanya malah menular padaku.


"Eh, aku aja kek orang bodoh masa itu. Mana melongo aja lagi, pas lihat kau ditonjok papah." Tawanya mereda, dengan munculnya suaminya yang langsung membentakku.


Hufttt…. Penghancur suasana saja bang Givan ini.


"Kau juga, Cendol!" Setelah membentakku, ia malah meninggikan suaranya pada istrinya.


"Iri bilang, Bos!"


Hah? Canda malah menantang suaminya sendiri.


Bang Givan langsung berada di sisi Canda, kemudian langsung menjepit leher Canda di lengannya. Canda yang tengah membagi rata pasta di atas piring pun, sampai berantakan karena suaminya.


"Mas tak pernah ya akur sama mantannya? Masak-masak begini, uwu betul kan?"


Untuk apa fungsinya memanas-manasi suami kau sendiri, Canda?


Aduh, rasanya aku ingin bersembunyi di dalam lemari saja.


"Kau pikir?!! Memang kau ridho, kalau aku masak-masak sama mantan aku?! Lagi pun, kita pernah mantanan juga kali!" Bang Givan sudah melepaskan istrinya, ia pun membantuku untuk membagi pasta ke lima piring ini.


"Eh, iya yah? Tapi kita delivery aja ya, Mas? Tak pernah kita masak-masak bersama."


Gurauan receh, aku bahkan sampai tertawa geli.


"Inget yang kemarin sama kau, Cendol. Dia yang bantu kau masak, tapi akhirnya delivery juga," timpalku kemudian.


...****************...


Siapa ya yang Ghifar maksud 🙄

__ADS_1


__ADS_2