
"Nih, Abang kasih tau satu fakta. Maksudnya baik, untuk kau dan keluarga kau di masa depan. Jadi gini, nanti deh ambil dulu rekapnya." Bang Givan malah berlalu masuk ke dalam rumah.
Ia tidak jelas sekali.
Aku kembali melamun, memperhatikan halaman yang lumayan luas ini. Dilengkapi juga dengan taman bermain dan wahana permainan anak-anak yang aman. Ini sudah seperti taman kanak-kanak, karena tembok rumah mereka pun penuh dengan karakter kartun.
"Hmmmm, gini deh."
Aku tersentak kaget, berbarengan dengan suara map yang terhempas di lantai.
"Ngagetin aja sih kau, Bang!" Aku melirik tajam padanya.
Ia terkekeh, kemudian membuka lembaran dalam map tersebut.
"Ini nih, keuangan dan saham perusahaan kau. Abang kembalikan lagi, karena Abang yakin kau udah bisa atur sendiri. Usahakan, jangan sampai goyah lagi. Abang keteteran ngurusnya, Far. Untuk saat ini, Abang kau tak bisa bantu dulu. Mau fokus ke Canda, dia udah mau persalinan lagi. Sebenernya sih, kehamilan ini tak ada masalah. Tapi, harus dioperasi caesar lagi." Ia menunjukkan garis-garis di lembaran tersebut.
Aku seperti baru bangun tidur. Aku bingung dan tidak mengerti arah pembicaraannya.
"Hah? Heh? Apa? Ooooo." Bang Givan malah mengoceh tak jelas.
Aku terkekeh, dengan membuang wajahku ke arah lain. Sepertinya ia meledekku, karena ekspresiku.
Lalu ia menjelaskan semuanya dengan perlahan, sesekali dengan menyelipkan gurauan. Aku bagai mendapat keberuntungan, sesenang itu aku mendengar bahwa keluargaku memberi siasat kecil untuk perubahanku.
Mungkin aku adalah orang bodoh, karena malah senang bahwa aku dibohongi. Tapi, aku merasa bahwa keluargaku tak akan mungkin pernah meninggalkanku. Karena sebegitu perhatiannya mereka menarik perhatianku, agar aku mau keluar dari rumah.
~
"Maaf ganggu." Aku tidak enak hati sekali, saat melihat papah tidur di pangkuan istrinya.
"Lebay! Biasanya juga nyelonong aja." Mamah masih menambahkan sesuatu di wajah suaminya itu.
"Nanti Abang putih mukanya aja tak, Dek?" Aku risih, melihat tangan papah yang mengusap-usap betis istrinya.
"Novi mana, Mah? Anak-anak mana?" Aku menyerobot perhatian mamah.
"Eh, di Canda. Tadi maghrib ditelpon, suruh nganterin anak-anak kau ngaji." Mamah menunjuk arah rumah anak sulungnya.
Aku mengangguk, kemudian berbalik badan dan melangkah meninggalkan rumah mamah lagi. Sekarang sudah selesai adzan isya, aku pun baru pulang dari masjid. Masa mengaji masih belum selesai juga? Jangan-jangan, Novi mengorek informasi pada Canda kembali.
Saat aku memasuki area rumah tersebut. Terlihat Canda tengah duduk di dekat Novi, mereka tengah bersenda gurau. Bang Givan pun ada di teras rumahnya juga, dengan dikelilingi anak-anaknya.
__ADS_1
Para pengasuh dan asisten rumah tangga pun, ikut berbaur dengan canda tawa mereka. Begitu rukun, bagaikan satu keluarga besar yang saling menyayangi.
"Wah, tak ngajak-ngajak. Mayoran apa nih?" Aku mengeluarkan suara ceriaku.
Semua mata tertuju padaku. Namun, saat pandanganku bertubrukan dengan Novi. Ia malah menundukkan kepalanya.
"Belum datang jajanannya, Zuhdi lagi beli sama Hadi." Bang Givan melongok padaku, karena pandangannya terhalang anak-anak.
"Sini Papa." Kal menepuk tempat di sebelahnya.
Aku mengangguk, tetapi aku memilih tempat di samping Novi. Karena di sebelahnya, adalah tempat yang kosong dan cukup strategis untuk melihat semua orang.
"Kau tak hafal-hafal! Tak makan ikan kah kau?!" Bang Givan meraup wajah Kaf.
Aku yang orang tuanya saja, tidak pernah seperti itu. Malah aku kesal, melihat bang Givan bersikap seperti itu. Memang hanya pelan saja, tapi kurang berkenan di hatiku.
Yang membuatku tidak habis pikir, Kaf malah terkekeh geli dan diikuti tawa saudaranya.
"Udah makan ikan aku, keselek pun tetap aku makan ikan. Ayah tuh bawel, banyak maunya." Celetukan Kaf, membuatku semakin merasa heran dengan interaksi keduanya.
Bang Givan dekat dengan anak-anakku? Sejak kapan? Atau, aku yang baru mengetahuinya?
"Di alhamdu ini ada apa?" tanya bang Givan dengan memperhatikan wajah Kaf.
"Boleh aku tanya Biyung?" Kaf menunjuk perempuan yang berada di sisi lain tempat Novi.
"Tanya Mama Papa kau, jangan Biyung." Bang Givan menunjukku dengan dagunya.
Mengaji?
Aku bisa, tapi aku tidak mendalami tajwid. Aku pun tidak tahu, bahwa bang Givan dan istrinya mengajarkan tentang tajwid juga.
Kaf tersenyum lebar padaku dan Novi, "Tadi aku bismillah, tak tau ada hukum apa. Sekarang Ayah tanya alhamdu." Wajahnya berubah sendu.
"Biar nanti kalau memang Kaf belum bisa, Mas." Canda menyangga tubuhnya ke belakang.
Bang Givan melirik ke istrinya, "Biar rata." Hanya itu yang ia ucapkan.
"Idzhar kah?" Aku ragu-ragu, karena sudah lupa.
Bisa mengaji, tapi aku hanya sepintas belajar tajwid. Bagaimana ya menjelaskannya. Aku jadi bingung, ditambah tidak pernah diasah.
__ADS_1
"Sini, Ayah kasih tau." Bang Givan memutar posisi duduk Kaf, agar menghadap padanya kembali.
"Diingat-ingat loh ya?!" Bang Givan mengetuk dahi anakku dengan pena.
Kaf mengangguk.
"Hukumnya, alif lam qamariyah karena huruf alif lam bertemu huruf ha’." Bang Givan menunjukkan juz amma berukuran sedang, "Dibaca dengan jelas. Alham, gitu." Bang Givan memperjelas penggalan ayat yang dimaksud.
Kaf mengangguk, "Padahal sih aku udah dikasih tau, udah hafalin juga. Tapi lupa lagi, Yah." terang Kaf dengan tersenyum lebar.
"Iya, diingat! Nih ada lagi, Kaf." Bang Givan menggariskan sesuatu di juz amma tersebut.
"Hukumnya idzhar syafawi, karena huruf mim sukun bertemu dengan huruf dal. Cara membacanya dengan jelas," terangnya, dengan beralih memandang wajah Kaf.
Kaf manggut-manggut kembali, "Berarti di alhamdu, ada alim lam qamariyah dan idzhar syafawi ya, Yah?" Mata Kaf memandang lepas pada bang Givan.
"Iya, sana minum. Tuh minta ke Biyung." Bang Givan menunjuk istrinya dengan dagunya.
"Bang Chandra sini dulu. Ayah mau nanya." Bang Givan mencekal tangan anaknya itu, yang hendak berpindah tempat.
"Aku mau sama Papa." Wajah Chandra nampak kecewa.
"Abis Ayah tanya. Kalau Abang bisa jawab, Abang boleh sama Papa." Bang Givan membawa anaknya ke pangkuannya.
"Ya udah deh, ya udah deh." Aku tidak mengerti, kenapa Chandra tumbuh menjadi anak laki-laki yang begitu tampan? Tapi, sorot matanya begitu dalam. Matanya seolah berbicara. Jika ia kesal, dari sorot matanya begitu terbaca.
"Hukum mad arid lissukun karena huruf mad jatuh sebelum huruf yang diwaqaf. Cara membacanya dengan???" Bang Givan memeluk anaknya yang berpenampilan sangar seperti mafia itu.
"Dipanjangkan dua sampai enam harakat. Terus, hukum mad asli atau mad thabi’i karena huruf mim berharakat fathah tegak dan setelahnya tidak bertemu waqaf, hamzah, sukun, dan tasydid. Cara membacanya, panjang dua harakat." Chandra melepaskan pelukan ayahnya, "Udah tuh, aku tambahkan juga. Mau main aku sama Papa, mau ke sana ke mari kaki aku." Galaknya ternyata seperti ayahnya juga.
"Hmm, hmm, hmm. Ayah tandai ya kau, Chandra!" Bang Givan menatap tajam anaknya.
Namun, Chandra menoleh ke arah ayahnya. Kemudian, ia memberikan kecupan jarak jauh untuk ayahnya itu.
Kami semua terkekeh geli, melihat ekspresi Chandra yang berubah-ubah itu. Anak yang menyimpan banyak kenangan. Sayangnya, anak itu tidak ingat bagaimana saat kejadian dulu.
"Pa, aku bisikin deh." Chandra mendekatkan tangannya ke telingaku.
"Apa?" Aku menunduk, untuk mempermudahnya.
"Tau tak? Kalau…….
__ADS_1
...****************...