Istri Sambung

Istri Sambung
IS169. Keputusan akhir dari Novi


__ADS_3

"Butuh sesuatu tak?" Aku bertanya pada Novi, sembari berjalan ke parkiran mobil.


"Tak, Bang."


Hingga kami semua berada di satu mobil, aku sulit sekali untuk mengendalikan rasa cuekku. Aku tidak bisa berpura-pura ramah pada Novi, atau berpura-pura mesra di depan umum.


Jika tidak suka pada seseorang, aku langsung menampakkan rasa tidak sukaku padanya. Aku tidak bisa pura-pura ramah, apalagi romantis dengan permasalahan yang aku alami ini.


"Papa…. Makasih ya udah buat aku senang." Muncul kepala anak kecil di tengah bangku kemudi ini, tangan mungil Nahda memegangi bahuku.


"Sama-sama, Nahda Sholehah." Aku mencolek dagu mungilnya.


"Nahdatullah, Papa." Nahda menepuk-nepuk pipiku.


Aku terkekeh. "Eh, iya. Nahdatullah ya?"


Tidak ada percakapan selanjutnya. Sepi senyap, karena Canda yang biasanya heboh pun tengah terlelap. Saat aku menoleh ke belakang, ketika berhenti di lampu merah. Ternyata, kak Aca juga terlelap pulas.


Tukang tidur bertemu dengan tukang tidur. Sepi kehidupan ini.


Tapi rupanya ada maksud lain, ketika garasi mobil telah kututup kembali. Novi menungguku, di ujung pintu penghubung ke garasi.


"Bang…. Sini dulu." Novi menarik tanganku.


Aku tak menepisnya. Aku hanya mengikuti tarikan tangannya, yang membawaku duduk di sofa ruang tamu. Aku hanya diam, menunggunya membuka obrolan.


"Bang, masih sudi tak lanjutin hubungan sama aku?" Novi membawa wajahku untuk mengagumi keindahan wajahnya.


"Kok ngomongnya sudi tak sudi gitu?" Manurutku terlalu kasar.


"Canda tawa Abang ada di perempuan lain, bukan ada di aku. Wajah masam Abang aja, ya Abang pasang untuk aku." Novi membenamkan wajahnya di leherku, ia memelukku erat.


"Mungkin tak begini ceritanya, kalau kau bisa jaga marwah kau. Udah rusak begini, kau mau minta tanggung jawab ke siapa? Bang Ken? Apa kau pikir dengan kau rusak rumah tangga kau sendiri, bang Ken tertarik untuk lanjut nikmati kau?" Aku yang menjadi manusia tukang ungkit sekarang.


"Aku minta maaf, Bang," isakan kecil mulai terdengar.


"Aku kebawa suasana, aku kebawa pembahasan tentang masa itu," lanjut Novi, dengan tangan mengusap rahangku.


Pembahasan tentang masa itu? Saat dirinya dighosting bang Ken?

__ADS_1


"Yang bikin tambah miris hati aku, kau agresif ke orang yang di masa lalu kau. Tapi tidak demikian, dengan suami kau sendiri, yang jelas aku minta kau bisa seperti itu." Semata-mata, karena aku hanya bisa bereaksi ketika aksi perempuanku cukup berani.


Tiba-tiba, Novi menegakkan punggungnya. Ia melepaskan pelukannya dariku.


"Bang, kejadiannya tak kek gitu. Aku…."


Novi menggantung ceritanya, saat aku mengunci pandangannya. Aku paham, ia tengah mencari kebohongan lain.


Akhirnya, pandangan kami terputus karena Novi menundukkan kepalanya. "Aku minta maaf, Bang." Ia pasti tidak menemukan alasan lain.


"Kalau Abang masih begitu sulit, untuk bersikap baik sama aku. Keknya, kita tak bisa lanjutin rumah tangga kita lagi. Aku tak mungkin bisa hidup bahagia, kalau kita tak sekamar dan dengan urat masam Abang. Aku tak bisa bayangkan, gimana kita kalau komunikasi di antara kita seburuk itu," ungkapnya dengan pandangan tertunduk.


"Kau udah pikirkan?" Aku tadinya berpikir bahwa Novi ingin kita masih sama-sama. Karena, akan pulang ke mana ia jika tidak bersama keluargaku?


"Ya mau gimana lagi? Kita tak mungkin sama-sama, dengan kamar yang berbeda. Gimana dengan kebahagiaan kita? Aku tak mau egois di sini, dengan kita begini aja aku tersiksa sendiri."


Bukan ia tidak mau egois juga, tapi karena ia pun tak mendapatkan kebahagiaan. Pandainya mulut berbasa-basi.


Hingga kini, Novi masih menetap di rumahku untuk menyelesaikan masa iddah. Sedangkan aku, sibuk dengan pekerjaanku bahkan baru pulang dari Bali untuk keperluan membeli beberapa armada baru di sana.


"Duda anak dua nie."


"Coba kenalin perempuan, Bang." Aku masih menopang kepalaku, agar nyaman tidur-tiduran di teras rumah mamah ini.


Kehidupanku sekarang hanya bekerja dan bermalas-malasan di rumah dengan anak-anak. Sejak aku tinggal di sini pun, rumah mamah jadi sarangnya anak-anak karena aku mengajak mereka untuk bermain bersama di sini. Aku ikut senang, melihat mereka bersenda gurau bersama.


"Ria sana dekati." Bang Givan pun bolak-balik ke Aceh saja bersama Canda.


Mereka tidak lama berada di Aceh, kemudian kembali lagi berkeliling pulau. Bang Givan mengajak Canda, untuk mengurus setiap usaha mereka dan milik bang Lendra.


"Tak mau, malas. Aku lebih suka dikejar, daripada ngejar perempuan." Sepertinya, aku seperti ini. Dulu pun, Canda sampai mabuk mengejarku.


"Papa minta uang." Nahda berlari dengan membenahi rambutnya yang keluar dari hijabnya.


"Nah, mamanya ini aja." Bang Givan menangkap tubuh Nahda.


"Uwaaaaaaaa…." Nahda malah menangis lepas, ketika tubuhnya diangkat oleh bang Givan.


Aku segera bangkit, kemudian mengambil alih tubuh Nahda. Nahda memiliki ketakutan, setiap kali tubuhnya terangkat tinggi-tinggi sekali.

__ADS_1


"Ish! Kau ini, Bang. Anak lagi anteng, segala kau buat nangis." Aku menenangkan Nahda.


Sepertinya, Nahda pernah terjatuh dari tempat tinggi. Entah ia merasa tidak nyaman, ketika tubuhnya tiba-tiba terangkat tinggi.


"Calon papanya sih, langsung gercep." Bang Givan melirikku seperti meledek.


Terserah apa katanya saja. Yang penting, anak-anak di sini tidak kekurangan sekalipun itu kasih sayang.


Aku meninggalkan teras rumah dengan menggendong Nahda. "Mamanya mana? Mau jajan apa?" Nahda sudah berani bolak-balik sendiri tanpa mamanya.


"Di sana. Beli jajan, Pa. Samaan kek Ra." Nahda menunjuk orang jualan keliling.


"Ini, Dek." Kak Aca melambaikan tangannya pada anaknya ini.


"Papa punya uang." Lucu sekali suaranya ini.


"Dikira Mama tak punya uang kah?" Kak Aca sampai bertolak pinggang.


"Iyalah, Papa banyak uang." Nahda bergelayut manja pada bahuku.


Ibu Ummu sampai tertawa saja, melihat Nahda yang pandai berbicara seperti ini.


"Tak boleh jelek! Mintain terus uang Papa, itu kan bukan Papanya Nahda."


Aku tersinggung dengan ucapannya.


"Boleh kok panggil papa ya, Pa?" Nahda menoleh ke arahku.


Aku mengangguk mengiyakan. "Jajan apa?" Aku menurunkan Nahda, kemudian mengeluarkan uang untuknya.


Nahda langsung memesan banyak, aku hanya diam dengan memperhatikannya. Sedangkan kak Aca, cukup berisik dengan rentetan ceramah untuk Nahda.


"Nih, nih, nih. Buat Mama, biar tak marah aja. Kalau uang di dompetnya tinggal selembar tuh, Mama marah-marah aja." Nahda memberikan bakso tusuk itu pada ibunya.


Lalu ia memberikan pada ibu Ummu dan kembali berlari ke rumah mamah dengan beberapa bungkus bakso tusuk tersebut. Sepertinya, Nahda akan membaginya dengan saudara-saudaranya.


"Far…. Sini dulu! Aku udah lama pengen ngomong sama kau," pintanya dengan urat tegas.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2