
"Jangan ngaco lah, Far. Kau ini, jangan mengedepankan ego sendiri aja." Canda membenahi posisi bantalnya.
"Aku takut kau tak bahagia, Canda." Aku berterus-terang di sini.
Canda memejamkan matanya, "Insha Allah, aku bahagia. Kau pun harus bahagia, Far. Kita sama-sama bahagia dengan jalan kita masing-masing. Kalau kata mas Givan baiknya aku pindah kota dulu, ya aku manut aja. Ini untuk kebaikan kita bersama." Matanya terbuka lalu ia tersenyum manis padaku.
"Bilang sama aku, apa kau cinta sama suami kau?" Aku tak pernah mendengarnya mengatakan cinta untuk kakakku.
"Kalau keadaan kek gini, biar apa aku ngungkapin? Malah nanti bikin sakit hati kau sendiri, Far." Dengan ucapannya yang seperti ini, berarti artinya ia mencintai bang Givan.
"Tapi janji ya hubungi aku, kalau bang Givan tak berlaku baik selama kau di Kalimantan." Aku masih tidak berpuas hati.
"Aku tak mungkin kek gitu, kau pun jangan berpikir begitu. Nanti yang ada, kau terus ngeharapin kabar dari aku. Kita rileks aja, jangan ada harapan-harapan yang bikin otak kita nyetting buat nunggu seseorang. Kau paham kan maksud aku, Far? Kalaupun memang ada hal yang tidak diinginkan, kalau memang kita ada jodoh, kita pasti bareng-bareng kok." Canda menyentuh tanganku yang tadi menepuk-nepuk paha anaknya.
Aku mencoba tersenyum untuknya, "Jangan cari Lendra-Lendra yang lain, cari aku aja nantinya."
Canda tertawa geli, "Aku pasti pulang ke ibuku, kalau memang ada masalah buruk. Aku tak mungkin cari laki-laki lain."
"Janji ya bahagia selalu? Biar aku tenang, Canda." Tanganku terulur, untuk mengusap pipinya.
Namun, belum juga menyentuh. Canda sudah menepis tanganku.
"Suami aku galak, Far," tuturnya dengan tersenyum kecut.
Aku terkekeh, kemudian mengangguk samar. Canda menjaga dirinya sendiri, untuk suaminya.
"Abis makan pulang aja, Far. Kasian Novi tidur sendiri," ujar Canda setelah kami terdiam cukup lama.
"Kau gimana, kalau anak kau ngamuk?"
Bang Givan masih tidak mampu untuk menenangkan anaknya sendiri. Karena setiap anak itu berbeda-beda.
"Biar mas Givan handle. Aku sih bisa ditinggal, Far. Tapi aku kepikiran Ra terus, karena tak ada pengasuh yang bertanggung jawab." Canda mengusap wajahnya sendiri.
Ah, iya. Anak itu.
"Ya udah, nanti aku pulang." Cukup aman meskipun pulang dini hari, karena aku menggunakan mobil.
"Iya, esok pun ibu atau papah pasti datang nganterin telur rebus." Canda menguap dengan menutupi mulutnya.
"Iya, aku juga besok kerja. Aku tak janji bisa ke sini lagi, tapi aku usahakan datang kalau ada yang minta anter buat nengok kau." Seperti ibu Ummu tadi pagi.
"Iya, Far. Aku udah tak apa juga."
Aku hanya mengangguk, kemudian membenahi posisi bayi ini. Ia sudah terlelap, bahkan mulutnya sedikit terbuka seperti Canda yang tengah pulas.
"Pindahkan ke sini aja, Far." Canda menepuk sisi kirinya.
"Biar di ranjang itu aja, nanti sama suami kau. Kau belum bisa miring juga, nanti gimana kalau anak kau nangis atau merengek." Aku bangkit dan berjalan menuju spring bed single.
Si mungil yang sehat. Ia menggeliat, saat aku pindahkan dirinya ke spring bed single.
__ADS_1
Aku beralih mengecek ponselku. Pesan chatku belum dibaca Novi, padahal aku mengiriminya pesan sejak sore tadi.
Namun, beberapa waktu kemudian muncul keterangan online di bawah nama kontak Novi. Jadi, dini hari ia belum tidur? Apa ia masih chatting bersama Nando?
Aku kembali berspekulasi buruk, ditambah lagi saat aku meninggalkannya Novi sedang menangis. Langsung saja, aku menyambungkan panggilan video padanya.
"Aku di luar kamar ya, Canda?" Aku membenahi beberapa bantal untuk menghadang tubuh bayi Canda.
Canda mengangguk, "Jangan jauh-jauh, Far. Anak aku di kasur sendiri."
Aku hanya mengangguk, dengan fokus pada ponselku yang masih menyala dengan keterangan memanggil.
Apa nomornya tidak aktif? Tapi, tadi ada keterangan online. Aku langsung mengiriminya pesan chat, hanya sebatas mengetikan namanya.
Ceklis dua, tetapi memang belum berganti warna menjadi biru.
Nomornya aktif, tapi memanggil?
"Makan, Far." Derap langkah bang Givan terdengar cepat. Pasti ia ketakutan menyusuri lorong rumah sakit sendirian.
"Iya, Bang." Aku mengalihkan pandanganku sejenak dari ponselku.
"Kenapa kau?" Bang Givan berhenti di hadapanku.
"Online, ceklis dua, tapi memanggil. Kenapa ya, Bang?" Aku menggaruk pelipisku dengan satu jari.
"Ohh…. Lagi nelpon itu." Setelah menjawab hal itu, ia masuk ke dalam ruangan istrinya.
Jadi Novi masih bertelepon ria di waktu dini hari ini?
Oke, begini ya ternyata jika tidak ada suami di sampingnya?
Apa selama tiga minggu aku di Bali pun, kejadiannya seperti ini terus?
[Begini ya kau kalau tak ada suami di rumah?!]
Aku langsung mengirimkan, setelah mengetikkan hal tersebut. Kemudian, aku kembali masuk ke dalam ruangan Canda.
"Aku balik aja, Bang." Aku tidak minat untuk makan.
Hatiku sudah nggondok.
"Makanlah dulu." Bang Givan duduk di kursi yang aku duduki tadi, dengan menyuapi istrinya.
"Dibawa aja tuh, Far. Mas Givan udah belikan," ujar Canda, saat aku tengah mengambil kunci mobilku.
"Udah di sini aja, barangkali buat subuh nanti kau lapar lagi." Aku khawatir nasi Padang itu mubazir, seperti kopi kemarin.
"Bawa sana, makan berdua sama Novi. Kan ada basa-basinya buat minta jatah, karena udah bawakan nasi Padang." Suara bang Givan sedikit tidak jelas, karena mulutnya tersumpal nasi.
"Ya udah, Bang." Aku mengambil sebungkus nasi tersebut, agar tidak memperpanjang dialog di sini.
__ADS_1
Setelahnya, aku langsung pamit pulang ke rumah. Lorong rumah sakit cukup ramai, banyak juga laki-laki yang tengah merokok di ruangan terbuka.
Tidak butuh waktu lama, karena jalanan pun begitu sepi. Aku cepat sampai di rumah, kemudian menggembok kembali pintu pagar rumah mamah. Gembok kode, yang diketahui oleh seluruh anggota Adi's Bird.
Adi's Bird adalah burung pusaka papahku. Yang kebetulan sekali, kami memiliki grup chat keluarga yang diberi nama itu. Menggelikan memang.
Aku memutar dari pintu samping, karena pintu utama dikunci. Ternyata juga, pintu samping pun dikunci.
"Pah….."
Tok, tok, tok….
Aku berharap ada yang bangun dan membukakan pintu untukku.
Apa aku menelpon papah saja?
Ah, iya benar. Baru saja aku ingin menyambungkan panggilan telepon pada papah, tetapi suara kunci pintu sedang dibuka dari dalam.
Blagh…..
"Kak Aca?" Aku ternganga melihat rambut hitam panjang nan lebat itu.
Rambutnya seperti milik Kinasya.
"Kunci lagi, Far." Kak Aca langsung berbalik badan, kemudian meninggalkanku yang masih mematung di depan pintu ini.
Saat mataku mengikuti langkah kakinya. Kak Aca hendak masuk ke dalam kamar yang berada di lantai bawah ini.
"Kak, ada nasi Padang nih. Dimakan aja, aku udah ngantuk," ujarku segera, sebelum ia masuk ke dalam kamar.
"Yakin?" Kak Aca berjalan kembali ke arahku.
"Ya, tak apa. Aku udah ngantuk." Aku mengulurkan kantong plastik ini.
Kak Aca tersenyum dan menerimanya, "Makasih, Far," ucapnya kemudian.
"Ya, sama-sama," sahutku seperlunya.
Ada suara anak kecil juga yang masih tertawa kecil, dengan suara musik yang sepertinya dari sebuah handphone.
Nahda belum tidur?
Apa Nahda tengah melakukan videocall dengan Novi? Tapi rasanya tidak mungkin juga, untuk apa coba?
Aku mengunci pintu samping kembali, lalu memilih untuk masuk ke dalam toilet yang letaknya dekat dengan pintu belakang. Setelah itu, aku mulai mendekati tangga dan menuju ke kamarku.
Hingga, ceklek….
...****************...
Hah, hah, apa loh.... 😳
__ADS_1