
"Itu istri kedua kau?" aku bisa melihat jelas wanita yang cukup cantik di layar ponsel Ghavi.
Ghavi mengangguk, "Ya, Bang. Udah dua tahun jalan berarti, tapi satu tahun terakhir aku gantungin, karena aku dipenjara. Kadang tuh mikir, apa ini karmanya kah? Soalnya kan, mamah setega itu sama aku. Ditambah, mamah tak ngasih kompensasi apapun. Bisa dibilang aku bangkrut sebangkrut-bangkrutnya, Bang. Padahal nih, aku lagi ada di titik tertinggi lah. Aku semudah jentikin jari, untuk belikan Tika mobil. Aku semudah tiup lilin, buat bangunkan Fatma rumah. Tapi lepas dipenjara, kasarnya tuh semua itu kejual buat biaya hidup mereka semua."
Aku pun sekarang dalam fase benar-benar tidak kaya. Bahkan kilometer listrik sampai berbunyi, karena kehabisan pulsa. Dulu, aku tidak pernah mendengar kilometer membunyikan alarm itu.
"Jadi rencana kau gimana sekarang? Mumpung belum di rumah ini." aku menarik maksud, bahwa Ghavi ingin aku membantunya.
Terlihat Ghavi seperti berpikir keras, "Temenin ke Fatma ya, Bang? Terus ke mall, beli sesuatu buat anak-anak. Tapi, aku hutang dulu ke kau."
Sudah kuduga.
"Ya udah. Di mana Fatma tinggal?"
"Aslinya, dia orang Lampung. Tapi dia aku boyong ke daerah atas, sekitar Takengon."
Sepertinya bang Givan tahu, bahwa ia akan direpotkan Ghavi. Maka dari itu, ia lebih memilih menghandle pekerjaanku di pabrik. Ketimbang menjemput Ghavi, lalu menemaninya keluyuran seperti ini.
Aku paham, ia pasti memilih untuk ke rumah istri mudanya dulu. Karena alasan yang pertama, ia khawatir si Fatma datang ke rumah. Alasan kedua, jika ia pulang ke Tika lebih dulu, lalu ia pamit keluar. Pasti Tika akan curiga.
"Ya udah ayo." aku bangkit dan berjalan ke kasir lebih dulu.
Aku membayar kopi dan cemilan kami. Kemudian bergegas menuju ke mobil berplat nomor DK ini. Aku merasa keren saja, memiliki plat nomor DK, di kerumunan kendaraan berplat nomor BL ini.
Sepanjang perjalanan kami banyak mengobrol, terutama tentang si Fatma ini. Begitu dzolimnya laki-laki yang bahkan tidak pernah berpacaran ini pada istrinya. Tika tidak mengetahui apa-apa tentang Fatma ini.
"Alasan kau milih nikah lagi ini, karena apa sebetulnya?" tanyaku kemudian.
Aku meliriknya sekilas, kemudian mataku fokus ke depan kembali.
"Karena bosan, Bang. Jajan perempuan, aku takut penyakit. Terus terang ke Tika, aku takut dia minta cerai. Kek serba salah sendiri sebetulnya. Aku tau, meski Fatma halal untuk aku juga. Tapi, aku ini dosa udah ngumpetin dia kek gini, mana bohongin Tika lagi."
__ADS_1
Rasa bosan, benar-benar membuat kaumku serba salah. Aku tidak pernah bosan dengan Kinasya dulu. Tapi, aku pernah merasa kesal setiap hari padanya. Lantaran, ia tidak pernah bisa diajak bergurau. Susah diajak ngobrol, juga susah untuk mengerti keinginanku.
Tapi entah bagaimana ceritanya. Tiba-tiba Kinasya meminta maaf padaku dengan sendirinya, kemudian ia berjanji untuk memperbaiki komunikasi kami. Mungkin ada biang di dalamnya, tapi aku tidak tahu siapa yang menembuskan pada Kinasya saat itu.
"Nikah KUA?" aku meliriknya sekilas, kemudian mengatur perseneling mobilku kembali.
"Agama lah, Bang. Nikah siri aja aku. Mana bisa nikah KUA, dengan ngumpet dari Tika gini." benar juga sih ucapan Ghavi ini.
"Bosan karena se*s kah? Atau bosan komunikasi, apa bagaimana masalah kau?" tanyaku kemudian.
"Yaaa, se*s juga. Ya komunikasi juga, ya mungkin lapar mata juga."
Oh, masalah hias menghias.
"Jandakan aja dulu Tikanya. Kek Canda dulu." aku terkekeh kecil, "Nanti dia glow up, bisa bikin kau klepek-klepek lagi." lanjutku sengaja dengan nada gurauan.
Karena memang, menjandakan istri itu hal yang sensitif. Aku paham itu.
"Tak mau aku, Bang. Ya iya sih, kakak ipar sekarang menarik. Tak paham juga lah kalau kakak ipar, masalah kek beda orang gitu. Sebelum dan sesudah menjanda, kek dua kepribadian yang berbeda. Yang dulu, diam aja. Yang sekarang, mulutnya malah tak berfaedah."
"Nah kalau Tika. Maaf-maaf ya ini sih. Kok setelah masuk Islam, kek tak menarik lagi gitu loh. Bukan aku tak suka, tengok istri pakai pakaian tertutup gitu. Tapi pakai pakaian Bali gitu, buat penyedap mata aku gitu, tak menyalahi aturan agama kali kan Bang? Kalau cuma buat di dalam rumah sih." Ghavi berucap, sembari mengambil air mineral milikku yang berada di dasbor mobil.
Jadi, Ghavi suka melihat Tika memakai pakaian Bali?
"Ya kau bilang lah ke Tikanya." memang sih, memakai kemben, dengan kebaya brokat yang menerawang, terlihat begitu menarik di mata. Belum lagi rok lilit, yang bisa diatur tinggi pendeknya.
Tapi ini kebaya modern masuknya, bukan benar-benar pakaian adat sana. Sudah lebih dikembangkan, dengan trend jaman sekarang.
"Udah, Bang. Tapi dia bawa-bawa agama. Ya udah ajalah, aku males ribut. Yang penting aku bener nih imamin dia, menuhin kebutuhan dan kewajiban aku buat dia."
Inilah sifat Ghavi. Marahnya diam, ia tidak pernah mengungkapkan atau mencirikan pada orang bersangkutan. Tapi amarahnya abadi. Seperti tidak ada surutnya, meski ia sudah bersikap biasa saja.
__ADS_1
"Terus kau ada anak sama Fatma? Kalau ada anak, menurut Abang sih, lebih baik kau bawa Fatma dan anaknya untuk kenal keluarga kita." aku berkata demikian. Karena, jika suatu saat Ghavi tiada. Ada yang mewakilan, untuk pernikahan anak Ghavi dengan perempuan lain tersebut.
"Tak ada. Aku tak berencana punya anak sama Fatma. Dia juga pakai KB implan, sejak nikah sama aku." Ghavi seperti tidak berhati.
Apa yang dipikirkan wanita itu, jika suaminya tidak mau memiliki keturunan dengannya seperti ini? Benar-benar bahaya, laki-laki pendiam seperti Ghavi.
Jika aku yang seperti ini saja, diibaratkan sungai tenang bukan berarti tiada buaya. Apalagi modelan Ghavi. Pasti sungai yang tenang itu, ada buaya, anaconda, piranha, ikan pemakan daging. Belum lagi jenis-jenis pemakan darah, seperti lintah, pacet dan cet-cet lainnya.
"Terus, Fatma gimana?" aku berpikir, hati wanita itu tidak baik-baik saja.
"Fatma sadar diri. Toh, dia mau. Dia nerima bahkan dia tau bahwa dia disembunyikan."
Apa Fatma ini bukan perempuan baik-baik?
"Perawan?"
Aku langsung menepuk mulutku sendiri. Memang bibir ini begitu lancang. Aku bahkan mematok selaput darah, untuk menilai seseorang.
"Perawan." Ghavi menjawab dengan ekspresi yang terheran-heran.
Ya, karena aku pun heran. Kok ada perempuan yang sudi menjadi istri simpanan, yang pasti pada akhirnya akan ditinggalkan.
"Dia perempuan baik-baik. Latar belakang perceraian orang tua, lulusan pesantren, agamanya bagus."
Hei, jika benar agamanya bagus. Harusnya Fatma tidak mau menjadi istri simpanan. Ia akan menerima status istri kedua, tapi tidak dengan istri simpanan.
Rasanya, aku ingin menggetok kepalanya si Fatma dan suaminya ini. Di mana otak mereka?
Memang boleh menikah lebih dari satu kali dalam Islam. Tapi syarat-syaratnya banyak. Belum lagi, semua pihak harus ridho. Bukannya menyembunyikan yang kedua, dari yang pertama seperti ini.
Apapun alasannya, akan tetap disalahkan.
__ADS_1
"Udah sampai, Bang. Itu tuh……
...****************...