
"Biar aku sendiri, Mah. Kalau memang aku tak bisa selesaikan, nanti aku ceritakan ke Mamah." Aku merasa bahwa ini adalah aib istriku.
Ya mungkin, istriku yang bersalah.
"Ya udah, Mamah mau masak dulu buat makan siang. Kalau kau tak kerja, nanti jemput anak kau. Papah kau lagi temani mangge ke Pintu Rime Gayo." Mamah bangkit dari sofa.
"Ya, Mah. Aku balik dulu." Aku melaju ke rumah, dengan menggunakan kendaraan bermotorku lagi.
Aku mengamati Novi yang tengah sibuk memasak. Aku mengingat sore hari dan masa Novi terlelap. Benar kata bang Ken, orang yang memiliki ketakutan dan trauma pasti terganggu dalam tidurnya dan terus mengigau. Tapi, tidak dengan Novi.
"Nov…." Aku mendekatinya.
"Ya, Bang. Gimana?" Novi menurunkan nyala api dalam kompornya.
"Nov, aku pengen kau jujur sama aku. Gimana kejadian di ruang dokumen itu?" Aku duduk di kursi makan.
Ia celingukan, bola matanya pun terlihat tidak fokus di satu titik. Setelah ia mengangkat hasil masakannya, lalu mematikan kompornya. Novi bergerak mendekatiku.
"Tak usah dibahas, Bang." Ia bertopang dagu.
"Kau sembunyikan sesuatu di belakang aku?" Aku menatapnya intens.
Novi menggeleng, ia mengusap wajahnya. Kentara sekali, bahwa Novi tengah gelisah di sini.
"Jujur!" tegasku cepat.
Novi tetap menggeleng. Jadi, artinya ia tidak mau jujur padaku?
"Jadi kau pikir, aku tak tau kalau kalian sebelumnya pernah jalan?"
Novi menutup mulutnya yang menganga, Novi terlihat begitu kaget di sini.
Ini disebutnya pengkhianatan bukan ya? Kenapa lagi, dengan ikat pinggang bang Ken yang tergolek di lantai?
"Makanya jujur aja! Sebelum akhirnya aku benar-benar percaya, kalau kesalahan ada di diri kau!" Aku mengetuk meja bar ini.
"Bang…. Tolong jangan ceraikan aku." Novi dengan cepat menggenggam tanganku.
Maksudnya bagaimana?
Kenapa ia berpikir, bahwa aku akan menceraikannya?
Jangan-jangan, ada tindakan khilaf mereka yang sudah terjadi. Kenapa ia malah takut aku ceraikan, dengan cerita yang belum jelas aku dengarkan? Berarti memang ia merasa, bahwa kejadian itu adalah salah untuk seorang istri.
"Kenapa aku harus ceraikan kau?" Aku mencoba mengecohnya.
Novi menggeleng, ia tertunduk dan mulai terisak. Seharusnya ia tidak perlu menangis. Jika ia sudah menangis seperti ini, aku bingung untuk bertanya lagi.
__ADS_1
"Maaf, Bang." Novi mencium tanganku yang ia genggam tadi.
Tuh, kan? Untuk apa ia meminta maaf? Padahal secara nyata, kepalanya yang terluka di sini.
"Udah kejadian?" Aku tidak memperjelas maksudku sendiri.
Tapi, aku yakin. Novi pasti mengerti.
Novi menggeleng. "Hampir, Bang. Bang Ken maksa aku, makanya aku ngalihinnya dengan benturkan kepala ke rak itu, biar dia urung melakukannya."
Benarkah?
Aku mengusap-usap kepalanya. Ya, mungkin saja bang Ken yang berbohong di sini. Karena masuk akal juga, Novi menggunakan cara cerdas untuk mengalihkannya.
"Apa kau dengar aku panggil kau?" Sebelum suara kaca yang pecah, aku lebih dulu menyerukan namanya.
Novi meluruskan pandangannya padaku. Ia diam sepersekian detik, kemudian ia mengangguk.
Kenapa ia harus berpikir dahulu? Kenapa aku tidak yakin dengan pengakuannya?
"Kau udah tau aku pulang berarti? Kenapa kau tak lebih milih buat nyahutin aku, daripada benturkan kepala? Dengan kau nyahutin aku aja, bang Ken pasti urung melakukannya." Ini kepusingan yang ada di otakku.
Kenapa tidak masuk di akal?
Benar kan dalam perkataanku? Dengan seperti itu, ia tidak harus terluka. Namun, ia pun pasti selamat dari terjangan bang Ken.
"Biar Abang tau, kalau aku terdesak di ruang dokumen."
Begitukah logikanya bermain?
"Dengan kau nyahutin aja, aku pasti dengar dan cari keberadaan kau. Tak mungkin juga, kau nyahut terus bang Ken tetap ngajak kau begituan."
Jika Novi menyahutiku. Sepertinya, bang Ken pun akan kalap. Kenapa teka-teki ini semakin rumit? Apa harus aku mengumpulkan dua orang ini sekaligus? Tapi dengan begitu, permasalahan pada menjadi besar.
Novi mengedikan bahunya. "Aku mikirnya, Abang tak dengar sahutan aku nanti."
Kan ia bisa berteriak? Biasanya pun, ia berteriak jika aku memanggilnya dengan jarak yang cukup jauh.
Benar-benar cacat logika.
Aku akan mendesak bang Ken, untuk menjelaskan semuanya padaku. Karena dari penjelasan Novi, aku merasa ada kejanggalan.
Ada suatu hal, yang tertutup rapat. Kemudian, Novi berusaha melemparkan kesalahan pada seseorang yang ada bersamanya saat itu. Mungkin untuk keamanan posisinya saat ini.
Tapi, jika benar Novi berbohong di sini. Kemarahanku padanya berkali lipat lebih besar. Segala ia khawatir aku ceraikan, berarti seolah benar dia bersalah di sini.
Canda yang hilang perawan saja, dulu aku mencoba mempertahankannya. Karena aku paham, Canda adalah korban.
__ADS_1
Sekalipun Novi benar-benar berhasil dinodai oleh bang Ken, aku pun akan tetap menjadikannya istri. Itu adalah musibah untuk Novi. Namun, sudah lain ceritanya jika ia berkehendak tetapi malah berbohong di sini.
Sepertinya, aku tidak bisa mentoleransi alasan apapun yang keluar dari mulutnya. Karena ia bisa disebut pelaku, yang membuat aku harus meninggalkannya.
Jika memang khilaf, harusnya ia tidak menambahi dengan kebohongan. Mungkin aku akan mengerti alasan kekhilafannya, bukan memahami alasan kebohongannya.
"Kau tak lagi bohong kan, Nov?" tanyaku memastikan.
Novi menggeleng berulang kali. Tetapi, ia tidak menjawab dengan mulutnya.
Sungguh, aku melihat sesuatu yang lain di matanya.
"Terus kenapa ikat pinggang itu bisa ada di bawah?" Aku memberinya kejanggalan lain.
Masa bang Ken meloloskan ikat pinggangnya dulu begitu?
Seperti akan pemanasan saja, lalu dilanjutkan dengan adegan dewasa yang benar. Bukan terkesan seperti pemaksaan, yang dialami Canda dulu.
Karena saat dulu, tidak ada barang bang Givan yang tergolek. Menandakan, ia hanya mengeluarkan senjanya saja tanpa ada pemanasan.
Masuk di akal bukan?
Ya, menurutku seperti ini.
Mereka seolah sedang melakukan pemanasan, kemudian Novi mendengar panggilanku. Ia panik, kemudian ia membenturkan kepalanya sendiri. Membuat kesalahan, seperti berada di tangan bang Ken.
Ya, aku akui bang Ken pun salah. Jika benar, ia melakukan hal itu. Mereka sama-sama salah.
Hanya saja, dengan adanya benturan tersebut. Seolah-olah dibuat, bahwa bang Ken membenturkan kepala Novi. Dengan bang Ken, yang memaksakan kehendaknya pada Novi.
Masuk di akal, bukan?
"Yaaa…. Mungkin, bang Ken lepaskan sendiri." Ada jeda, seperti Novi memikirkan jawaban tersebut.
Lebih tepatnya, harusnya ia menjawab tidak tahu.
"Aku pun tak nuduh kau lepasin ikat pinggangnya bang Ken juga, Nov." Aku terkekeh kecil.
Benar kan, Novi seperti meringis menutupi kebenaran. Ya, seperti kebingungan begitu lah. Kalian pasti bisa memahami sendiri, bagaimana Novi setelah mendengarkan kalimat itu.
"Sofa yang tak beraturan, bantalnya yang berhamburan. Belum lagi meja kebalik. Itu konsepnya pemerkosaan kah? Atau, pemanasan yang terburu-buru?"
Ekspresinya saat ini adalah diam, dengan senyum kaku.
...****************...
Ayo para intel suami dan detektif Upin Ipin, kita tuntaskan perkara ini.
__ADS_1