Istri Sambung

Istri Sambung
IS172. Tipe suami idaman


__ADS_3

"Kak, mau ngOyo tak? Aku pesan kamar dua, kita masuk di satu kamar aja." Aku menggurauinya, yang membantuku menata belanjaan di bagasi mobil dan sebagian di bangku tengah.


Kak Aca terkekeh, kemudian mencubit lenganku.


Wah, sudah berani cubit-cubit ini perempuan. Tadinya, dia enggan berkontak langsung denganku.


"Tipe laki-lakinya yang kek mana sukanya, Kak?" Aku langsung memamerkan senyumku yang menurut Canda itu manis, saat kak Aca menoleh ke arahku.


"Tinggi." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.


"Kenapa harus tinggi? Setinggi aku kah?"


Eh, tiba-tiba ia mengusap-usap dagunya dengan memperhatikanku dari ujung rambut sampai kaki. Kan aku jadi salah tingkah sendiri kalau begini.


"Yaaaa, cukup lah. Karena orang tinggi, biasanya bentuknya bagus. Tak bengkok, tak pendek." Kak Aca kembali menyusun barang-barang yang ringan saja.


Bentuk apanya itu?


"Bentuk ini?" Aku malah menunjuk tengah-tengah tubuhku. Kocaknya lagi, kak Aca melirik dan mengangguk dengan tertawa lepas.


Random sekali perbincangan unfaedah ini. Segala membahas anu, yang jelas milikku kurang berfungsi.


"Terus apalagi selain harus anunya jangan pendek?" Aku melanjutkan obrolan yang entah tujuannya untuk apa ini.


"Agamanya bagus, akhlaknya baik. Terus, bisa jadi teman, sahabat, kakak, ayah, guru, tukang ojek, tukang pipa, tukang listrik, tukang besi, tukang kayu, penata gaya, se*solog, psikolog, psikiater, tabib, pembasmi tikus, pendengar curhat, pengantar hajatan. Harus bisa sabar, bersih, simpatik, agamis, gagah, cerdas, hangat, jujur, kreatif, toleransi, bijaksana, ambisius, pemberani, bertenaga, bertekad, pemikir, bisa diandalkan. Jangan lupa pandai memuji, menemani belanja, jadilah apa adanya, banyak uang, jangan menekan, tidak melirik perempuan lain, sekaligus memberi banyak perhatian dan waktu, selalu siap diajak ngobrol, memberi banyak ruang, menyimpan sepatu di tempatnya, mengambil pakaian di lemari dengan hati-hati dan jangan menaruh handuk basah di atas tempat tidur. Yang paling penting nih, jangan sampai lupa tanggal pernikahan."


Hey!!!


"Apa?" Kak Aca menaikkan dagunya.

__ADS_1


Sebentar, aku berpikir dulu.


Aku akan mencari patokan dulu, papah saja deh. Papah bisa mengantar kemanapun mamah pergi, bisa membuat bangku kayu, membetulkan saluran air yang tersumbat, meminta untuk pergi mengelas besi dorongan sepeda roda tiga milik cucunya, membenarkan saklar lampu dan mengganti bohlam.


Papah pun dicari, ketika ada tikus yang berkeliaran. Papah juga bisa menjadi teman mengobrol mamah di segala macam topik pembahasan, bisa menenangkan mamah dan juga menghibur mamah. Bisa menjadi juri mamah ketika memilih pakaian, bisa juga menemani mamah belanja dan perawatan selama berjam-jam.


Papah pun tidak jorok, rajin mandi meski hitam. Papah juga jujur dan menyerahkan semua uangnya, papah juga selalu memuji masakan mamah maupun penampilan mamah.


Aku pun teringat mamah yang melempar balik sepatu siapapun, ketika tidak ditaruh di tempatnya. Mambuang handuk siapapun, jika ketahuan handuk tersebut membasahi tempat tidur.


Oke, paham-paham. Umumnya aturan hidup yang baik dan benar, kak Aca ingin laki-laki yang bisa diajak hidup dengan bahagia.


"Bisa dong, Kak. Jadikan aku list pertama ya kalau udah gatal pengen nikah." Aku menaik turunkan alisku.


Sebelumnya, aku tidak pernah seperti ini pada perempuan. Entahlah, tujuannya apa aku seperti ini.


"Oh, bisa. Coba ukur diameter dan panjangnya dulu ya? Biar aku bisa bayangkan bentuknya juga, takutnya malah tak cocok."


Hey!!!


Kak Aca terbahak-bahak dengan menunjuk wajahku. Pasti wajah kagetku begitu humor untuknya. Aku begitu lucu menurutnya.


"Oke? Setuju? Ayo kita pulang." Kak Aca menepuk bahuku dua kali.


Ya sudahlah, entah-entah kapan pusakaku berdiri juga.


"Yuk pulang." Aku menutup pintu bagasi mobil ini.


Markiber, mari kita berangkat. Ini adalah mobil milik mamah, yang sebelumnya dipinjam oleh bang Ken. Bang Ken sudah memiliki mobil sendiri, dari hasil kerjanya yang belum lama itu.

__ADS_1


Entah-entah, bagaimana kisahnya dengan Rauzha. Tapi terlihat pun, bang Ken biasa saja padaku. Kan harusnya ia merasa tidak enak hati padaku, karena telah mengacaukan rumah tanggaku.


Eh, kok aku menyalahkan orang lain lagi?


"Far, aku disuruh ngembangin usaha punya Tika dulu. Karena Ghavi, tak mampu ngembangin. Kata mak cek, mak cek malah nutup rugi karena barang tak mutar. Nanti aku dikasih upah besar, kalau bisa mutar barang di toko Tika. Menurut kau, mending ngasuh Ra atau urus toko?"


Apa aku sudah masuk ujian mengobrol di segala macam pembahasan?


"Bayarannya berapa ngasuh Ra? Dari upah toko, katanya berapa? Terus, waktunya lebih banyak habis di mana?" Aku mulai menjalankan mobil perlahan.


"Ngasuh Ra, aku dikasih tujuh juta sama Canda. Untuk kebutuhan Ra, atau anak-anak yang lain kan minta ke ibu Ummu. Upah toko katanya besar, tapi menurut aku ya tergantung bagaimana aku bisa bawa tokonya. Kalau malah rugi, keknya bayaran aku tak besar. Kalau waktu, aku kurang tau pasti nih. Ra kan kek ngasuh anak sendiri, dua puluh empat jam. Bedanya, Ra malah gampang tidur, si Nahda malah susah tidur. Ngamuk gitu kan, si Ra akhirnya tidur karena capek. Capek main, Ra bisa tidur di sembarang tempat. Sebenarnya, agak mudah juga ngasuhnya kalau tau kuncinya aja. Ra bisa dilepas, Nahda malah baru sekarang-sekarang aja berani main berbaur. Di awal aja keteteran, sekarang aku malah sambil maskeran pun bisa. Kalau di toko, keknya terikat. Jam delapan sampai jam empat, keknya aku harus standby di sana. Di rumah pun, aku mesti mengatur pembukuan dan promosi di sosmed. Menurut aku sih begini, betul tak menurut kau?" Kak Aca duduk menyerong menghadapku.


Perasaan, pengasuh yang lain dibayar lima juta. Mungkin karena bang Givan tahu, bahwa Ra anak yang sulit diatur, makanya dikasih upah lebih besar agar tidak kabur. Tapi menurut kak Aca, tidak begitu sulit mengurus Ra, malah lebih sulit mengurus Nahda.


"Kira-kira, lebih nyaman mana?"


"Ya tak tau juga, tapi aku pernah jadi guru tuh keknya tak sreg di hati. Mungkin karena honorer ya, jadi ke gaji tak sreg, timbulnya ke kerjaan kek malas berangkat gitu."


Berarti jika seperti itu keterangannya, kak Aca lebih suka bekerja dengan bayaran besar.


"Coba tanya mamah dulu, kira-kira berapa upahnya di toko. Kalau di toko lebih besar, ya udah di toko aja." Menurutku, Ra pasti diambil alih ayahnya.


"Aku tak enak ngomongnya, masa belum apa-apa udah nanya bayaran." Iya juga sih, khawatirnya mamah berpikir lain.


"Ya udah aja pegang Ra, kasihan juga kalau ditinggal. Ra udah terlanjur dekat sama kau, Kak. Sama siapa lagi coba dia nurut kalau disuruh mandi, disuruh duduk." Aku teringat perintah kecil kak Aca pada Ra.


"Lah, kak aku ikut basah juga. Makanya dia mau mandi, bareng sama Nahda juga jadi ada temannya. Belum lagi busanya harus banyak, mandi busa gitu lah konsepnya. Mana kan yang khusus produk anak kecil, harganya mahal. Ya memang Canda nyanggupin, tapi aku yang sayang sendiri karena uang habis buat bikin bisa mandi aja." Kak Aca terkekeh seorang diri.


"Wah, boleh dong ikut basah juga? Aku belikan deh sabun busanya." Aku hanya niat iseng.

__ADS_1


Namun…..


...****************...


__ADS_2