Istri Sambung

Istri Sambung
IS120. Pillow talk 2


__ADS_3

"Serius tak pernah berhubungan badan sama Canda?"


Sepertinya, Novi adalah orang yang memiliki rasa ingin tahu yang besar.


"Tak pernah, j****** aja."


Namun, aku malah mendapat cubitan dari Novi.


Aku meliriknya, kemudian tersenyum kuda. Masa itu, Black Mamba mengembang tapi tidak on fire. Canda pun menolak, dia tidak ingin disentuh olehku. Tapi, pikiranku masa itu ingin menghamilinya. Agar ia tidak bisa keluar dari rumah megah itu, juga tetap berada di pandangan mataku.


Seniat itu, aku ingin menjaganya agar tetap aman.


"Sama pakai ini."


Novi langsung menggenggam jemariku, dengan raut wajahnya yang diubah menjadi seperti tengah marah. Aku tertawa geli, kemudian mencium pucuk kepalanya.


"Aku tak pernah dipakaikan itu." Ia tiba-tiba manyun.


Ya ampun, servis seperti itu saja ia ingin.


"Memang pengen?" Aku sejak tadi tertawa saja.


Novi malah mencubitku lagi. "Pengen tau lah skillnya, masa cuma gitu-gitu aja?"


Hah?


Aku tidak percaya dengan ucapannya. Ia menantangku?


"Aku kapan?" Aku menyatukan dahi kami.

__ADS_1


"Nah, iya. Waktu sama Kin gimana caranya? Sampai-sampai, bisa ada Kal dan Kaf. Coba caranya diterapkan lagi sama aku." Novi mengusap-usap rahangku.


"Jangan marah ya?"


Novi langsung mengangguk, setelah aku mengatakan hal itu.


"Kin agresif. Dia perempuan yang bisa tau semua khayalan laki-laki, dia pun mampu memenuhinya. Dia juga tak pernah nolak, dia malah sering ngajak duluan. Fantasinya kompak sama aku, tak melulu di ranjang. Bahkan kita pernah main di laundry room rumah mamah, sampai dia pertempuran. Yang pertama, aku dikalahkan dengan skillnya. Yang kedua, kita saling beradu di situ. Padahal, Kal ada di ruang TV sama mamah dan Canda. posisinya kalau tak salah, masa Canda jadi jandanya bang Lendra. Kasur ini tuh, malah jarang dipakai untuk atraksi. Kita biasa main di luar kamar, di ruangan kerja aku gitu. Makanya, aku tak mau lama-lama di sana."


"Apa aku perlu pakai cara itu? Karena, jadi diri sendiri itu, nyatanya tak bisa bikin suami bergerak?"


Aku tidak suka, jika ia mulai membatin begini.


"Aku tak pernah minta kau jadi orang lain, Nov. Tadi kau nanya, aku pun jawab. Bukan berarti, kau harus kek dia. Masa mau hidup jadi bayang-bayang orang lain? Carilah jati diri kau sendiri. Carilah cara muasin suami, versi diri kau sendiri. Di mana kau pun puas, kau pun nyaman dengan tindakan itu." Aku dalam posisi miring, dengan tangan yang bertengger di perutnya.


Novi menatap langit-langit kamar. "Apa aku bisa?" Novi seperti bertanya untuk dirinya sendiri.


"Bisa, coba aja." Aku menyingkap roknya.


"Kalau dinilai, nilai servis aku berapa? Nilai servis Kin berapa? Nilai servis Canda berapa?"


Pertanyaan borongan macam apa ini?


"Bang, jawab!" Novi menggoyangkan tubuhku.


"Canda tak pernah servis. Dulu pacaran aja cuma ny*** aja, c**man pun dia tak bisa, aku yang ajarin. Kin ya memang dari sebelum pacaran juga, udah sering berc***u. Sifat agresifnya, memang udah nampak dari dulu. Tak segan, tak jijik, tak takut ketularan penyakit atau gimana gitu. Kalau kau, awalnya aku kira kau agresif. Waktu itu, pernah nyomot punya aku padahal lagi bercanda. Pas praktek di lapangan, butuh bimbingan juga. Padahal udah dewasa, kek kurang asupan dewasa." Aku mengusap-usap pipinya, membuatnya malah tersenyum.


Obrolan sensitif, tapi Novi ingin tahu jawabannya. Mau bagaimana lagi? Semoga setelah ini, ia tidak pernah bertanya yang aneh-aneh dan membandingkan lagi.


"Aku tuh hawanya panik aja, kalau tangan laki-laki udah berani pegang. Nando juga, sering betul minta katanya liat sih, atau pengen pegang. Tapi aku minta putus, kalau dia desak begitu terus. Rasanya tuh aneh tuh, Bang. Dipegang-pegang gitu, kek merinding gimana." Novi memutar bola matanya ke atas.

__ADS_1


Meremang kali ya maksudnya?


"Sih diam aja dipegang-pegang aku?" Aku mengusap part depannya yang menyembul tinggi ini.


"Ya mau gimana lagi? Segini aku diam aja juga, mata Abang masih ngelirik cewek di luar sana?"


Aku bukan melirik juga, hanya saja nampak di depan mata. Sayang jika dilewatkan percuma.


"Laki-laki di luar sana juga sama kali! Wajar, cuma sekedar lirik sih." Inilah penyebab pertengkaran yang sering terjadi antara aku dan Kin dulu.


Aku pernah hampir dicolok, karena menatap dengan syahwat, perempuan yang lewat depan pakaian yang cukup ketat dan berparas ayu. Mulai dari situlah, Kin suka sekali mempermak keindahan yang ada pada dirinya sendiri.


Aku pun tidak tahu, jika Novi memperhatikan mataku yang sering menjelajah tak jelas. Tapi hanya melihat saja, aku tidak berani macam-macam.


"Bang Givan tak begitu. Aku pernah ikut jalan-jalan sama keluarganya, dia nampak cuek aja kalau ada perempuan lewat. Malah, dia yang diliatin perempuan cantik."


Wah, belum tahu saja dia. Bang Givan tidak banyak bercakap, tapi langsung menawar harga. Mungkin sekarang karena anaknya banyak perempuan saja, makanya dia insaf.


"Iya deh, bang Givan menang. Dulu aku pun kalah terus sama bang Givan, sampai gede pun masih aja kalah. Kalau ada dia di rumah tuh, aku stay aja di rumah panggung, di ladang aku. Aku tak ke mamah-mamah, biar mamah yang ke rumah aku buat ngasih makanan. Sepele awalnya, bercanda gitu. Tapi, jadinya dia main narik baju aku aja. Wajah ditunjuk-tunjuk, suara udah tinggi aja." Ini adalah alasanku lebih memilih tinggal sendiri di rumah panggung, tempat peristirahatan para buruh ladang.


Aku tidak nyaman, berada di rumahku sendiri. Kakakku memang penjaga terbaik, ia pun terlihat sayang padaku sebagai adiknya. Hanya saja, siapa yang bersalah, aku lagi yang menjadi penanggung jawab atas amarahnya.


"Apa kek gitu ya, kalau anak bawaan salah satu pasangan? Bang Givan kan sulung, Abang pun disebutnya sulung dari keturunan papah juga. Jadi kek bentrok aja gitu." Novi mengadu kepalan tangannya.


Bagaimana nanti anakku dan anak Novi? Eh, maksudnya anakku bersama Novi.


"Tak tau juga. Tapi Key sama Chandra akur aja tuh, mereka kan beda ibu. Aku dari kecil itu, udah habis-habisan sama bang Givan. Segala aku dijadikan umpan buat a*j*ng liar lagi, gara-gara badan aku besar waktu balita. Ya memang sih, akhirnya dia juga yang lindungi. Tapi kan jadinya ingat terus sampai besar, kalau dia ini kek gimana gitu ke aku." Aku teringat tragedi tersesat di tengah ladang saat masih balita dulu.


"Jadi kepikiran nanti anak aku kita gimana. Papanya aja, tak akur dulunya sama saudara sekandungnya. Gimana nanti nasib anak aku? Papanya nanti lebih belain siapa?" Wajah Novi terlihat murung.

__ADS_1


Memang bagaimana rasanya punya anak berbeda istri?


...****************...


__ADS_2