Istri Sambung

Istri Sambung
IS213. Kabar mendadak


__ADS_3

"Mau berangkat kerja, Ya! Masa iya dititipin anak?" Tidak menyangka bukan, jika anak kedua Ahya sudah berusia satu tahun lebih.


"Bentar, Far." Ahya malah ngloyor masuk ke dalam rumah mamah.


Anak laki-laki ini memperhatikanku dengan lekat. Anak laki-laki ini pun lebih banyak diasuh oleh nenek dari ayahnya, karena Ahya sibuk mengurus orang tua yang sudah sakit-sakitan. Dua orang anaknya lebih berat nenek dan kakek dari ayahnya, seperti cucu-cucu di sini.


"Fuad Hasyim, anak ayah Muhammad Hafidz, ibu Ahya Amuut." Aku mengayun-ayun anak ini. Jika menyebut nama Ahya, aku teringat akan doa sebelum tidur.


Fuad memperhatikanku saja. Mungkin ketika dia bisa berbicara, ia akan komplain dengan tambahan nama ibunya yang diplesetkan itu.


Namanya Ahya yang benar adalah, Ahya Alia.


"Ikut Papa kerja kah?" Aku berjalan ke arah mobilku yang mesinnya yang tengah dipanasi, lalu mematikan mesinnya karena sudah terlalu lama dinyalakan.


Aku ingin mengeteki anak ini saja. Benar-benar gembul, seperti spons mandi.


"Udah, Far. Sini." Ahya berjalan ke arahku dengan merentangkan kedua tangannya.


Aku pun melakukan hal yang sama, sayangnya Ahya gila juga. Kami jadi berpelukan, dengan bayi laki-laki ini di dekapanku.


"Bodoh!" Aku menepuk jidatnya.


Ahya tertawa lepas, dengan mengambil alih anaknya. "Aku lagi beli sayuran keliling yang berhenti di depan ruko bu Ummu. Eh, malah kebelet BAB. Kan malu aku kalau nitipin anak ke bu Ummu, terus aku numpang klosetnya."


Aku malah menertawakan Ahya dengan lepas. Ada-ada saja perempuan ini, segala kebelet BAB katanya.


"Balik dulu ya? Bayi besar aku pasti ngerengek nih, bang Ken lagi sibuk di Negeri Jiran." Ahya membenahi kain jarik yang ia gunakan untuk menggendong anaknya itu.


Aku mencolek pipi Fuad. "Jadi si Gembul ini mah diungsikan kah?" Pertanyaanku langsung diangguki oleh Ahya.


Katakanlah si Ahya adalah yang paling telat menikah. Tapi ia yang paling beruntung dalam hal segalanya. Pasangan yang cinta padanya, tanggung jawab pada keluarga kecilnya, juga ikut mengurus dan mengasuh anaknya, mertua yang ikut menjaga anak-anaknya dan pengertian akan kesibukan menantunya. Ya mungkin minus di orang tuanya saja yang sering merecokinya dan terkadang ikut campur. Aku tahu ini, dari mulutnya sendiri. Saat masih ada neneknya, ya neneknya yang selalu ikut campur. Setelah neneknya tiada, ibunya dan ayahnya yang malah berubah ikut campur seperti neneknya.

__ADS_1


"Cari baby sitter tuh sulit, pernah pakai jasa mereka tapi ternyata ketahuan sering cubit anak aku. Jadi bang Hafidz trauma, terus dikasih ke ma Ayu terus." Itu adalah ibu mertuanya.


"Saudara sendiri aja, Ya. Kerabat jauh yang segan keluarga kita gitu, biasanya mereka bener-bener bisa bersikap hormat dan menghargai juga." Seperti para kerabat jauh yang mamah pekerjakan.


"Males tuh silaturahmi jauhnya, karena bayi aku banyak betul." Ahya membenahi hijabnya yang terlilit kain jarik. Minusnya seperti itu kain jarik, jika bertemu dengan hijab para mamak-mamak.


"Aku duluan." Ia langsung berlalu pergi.


Aku memandang Ahya yang lekas menjauh. Rupanya, ada istriku di depan pagar dengan tote bag dan semangkuk makanan di tangannya. Kak Aca tengah menyuapi kedua anak perempuan tersebut.


Aku berjalan mendekatinya, yang baru saja bertegur sapa dengan Ahya. Namun, urat wajah yang terlihat masam ketika aku tersenyum padanya.


"Aku kira, cuma aku teman Papa."


Sindiran kah ini?


"Kok gitu?" Aku berdiri di sampingnya dan memperhatikan kedua anak perempuan yang tengah berusaha naik ke atas pagar.


Entahlah, apa tujuan mereka. Jika Ceysa, ia tidak mau menguras tenaganya untuk bermain seperti itu. Ia pasti langsung menarik pagar, atau mengotak-atik gemboknya jika masih terkunci.


"Ayo, Ra. Katanya mau ke yayah?" Kak Aca memegangi paha Ra.


Aku menoleh ke arah kiri dan kanan, juga belakang. Barangkali ada orang lain di sekitar kami. "Ma…. Nanti sore aku ke rumah ya? Aku usahain nginep ya?" ucapku setelah situasinya aman.


"Hmm…." Hanya itu saja sahutannya. Lalu, ia menggiring kedua bocil tersebut ke arah pondok biyung.


Eh, aku jari teringat konsepku kemarin. Aku kembali ke mobil dan membawa mobilku masuk ke garasi rumahku, aku mengganti kendaraanku untuk pergi ke kantor dengan menggunakan motor saja. Simpel dan mudah dibawa masuk ke rumah kak Aca nanti. Aku bisa berada di dalam rumah, tanpa khawatir memikirkan mobil ada yang mengenali.


Seharian ini, aku benar-benar berusaha agar pekerjaanku selesai tepat waktu. Sayangnya, sampai selepas Maghrib anakku menelpon lewat ponsel neneknya Aku masih berkutat di ruangan Ria. Aku pun sempat mengabari kak Aca, jika aku pulang telat.


"Iya, Kak Kal." Aku tersenyum ke arah layar ponsel yang menampilkan wajah cemberut Kal.

__ADS_1


"Aku sakit perut, Papa. Aku tak berangkat ngaji." Terlihat matanya pun basah.


"Jajannya tak dijaga, udah dikasih tau tuh jajanannya jangan es terus." Suara mamah mengomel. "Diare dia dari pulang sekolah, entah apa yang dimakan di sekolah." Mamah terlihat dari layar ponsel ini.


"Udah berobat belum, Mah?" tanyaku kemudian.


"Udah minum obat yang ada di rumah aja. Tapi berhenti cuma beberapa jam aja, terus mulai BAB lagi."


Aku jadi khawatir, karena di antara anak-anak mamah pernah mengalami kasus diare parah dan masuk rumah sakit. Termasuk aku juga. Perkaranya satu, kami tidak bisa minum air yang bisa dikatakan belum steril begitu. Sedangkan, ada saja penjual es nakal yang menggunakan air mentah. Atau bahkan, mereka menggunakan es batu dari es balok yang untuk mengawetkan ikan.


Ya terdengar umum memang, tapi perut kami tidak bisa jika mengkonsumsi minuman tersebut. Biar seperti ini, merakyat dan terlihat sederhana, kami anti makan es di luar. Karena pencernaan kami sensitif, ditambah lagi mamah yang bawel. Sudah sakit, malah dimarahi dan diceramahi.


"Papa benahi kerjaan Papa dulu ya?" Aku langsung menoleh ke Ria. "Ria, tolong satukan dokumen yang bisa Abang bawa pulang." Aku segera bergegas.


"Lagi sama Ria kah, Far?"


Oh, iya lupa. Aku tidak ingat jika teleponnya masih tersambung.


"Iya, Mah. Tuh…." Aku mengarahkan kamera belakang ponselku, lalu mengarahkan ke arah Ria yang sibuk menumpuk dokumen berbagai macam map.


"Oh, ya udah. Ditunggu, Mamah siap-siap dulu."


Panggilan langsung dimatikan sepihak. Karena menggunakan motor, aku jadi lebih cepat untuk sampai ke rumah mamah. Aku langsung masuk, lalu memanggil Kal dan juga mamah. Aku akan mengantarkan Kal ke dokter yang masih buka praktek, entah di mana saja. Atau ke bidan saja, yang bisa membantu Kal untuk mengurangi frekuensi diarenya.


"Papah mana, Mah?" Mamah keluar dengan menggiring bocil kenang-kenangan dari Kinasya tersebut.


"Kaf ikut, Nak?" Pertanyaanku langsung diangguki oleh Kaf.


"Ke Pintu Rime, sama mangge juga Ghavi. Makanya telpon kau tuh, karena papah tak ada di rumah."


Dalam motor berbodi bongsor ini, aku membonceng mamah dan dua anakku. Kaf di depan, dengan Kal yang berada di tengah antara aku dan mamah.

__ADS_1


...***************...


Keknya ada yang kelupaan deh 🥴


__ADS_2