
"Aku tak merusak, Pakdhe. Dari awal, kita udah sepakat nikah. Aku campuri, kami satu kamar pun, ya karena udah nikah. Dia istri aku, dia hak aku." Aku tidak mungkin bercerita bahwa kami pernah berzina dua kali. Itu aib, wajib disembunyikan.
"Lah, bukannya dari awal juga udah pernah bilang. Bahwa jangan sampai menikah dan hubungannya dilanjutkan???" Pakdhe memelototiku.
"Ya justru itu. Karena kami dilarang, Aca dan aku putuskan untuk nikah siri. Dia tertarik sama aku, aku pun mampu untuk bertanggung jawab atas dirinya. Tapi malah dipersulit kan? Udah begini pun, tetap disalahkan. Ya udah aja terserah, Pakdhe. Aku tak rugi, kalau Pakdhe tetap tak ridho." Sebenarnya aku amat takut beliau lebih marah.
"Betul. Pisah ya pisah lah, udah," tambah papah yang aku tahu hanya untuk mensupport ucapanku saja.
"Kamu enak aja ya, Di! Didikan kamu ini, jadi anak kamu begitu! Sayangnya aku gak bisa kaya Dinda, yang nyerahin anak ke laki-lakinya. Aku gak mungkin pisahkan anak Aca dari ibunya, biar anaknya ikut ayahnya."
Wow, dalam artian kami boleh dong membesarkan anak bersama.
"Aku tak pernah ajarkan. Aku berusaha tak pernah nentang permintaan anak-anak, kalau mereka udah mau nikah. Aku paham sifat laki-laki, aku pun merasakan sendiri. Pasti kejadian, meski tak nikah siri juga. Nasehati, udah. Kasih masukan dan petuah, udah. Aca ini orang ketiga, dari kerabat dekat kami yang Ghifar nikahi. Aku kasih paham resiko dan hal-hal lainnya. Namanya perasaan, tak bisa ditebak jatuh ke siapa. Ya mau gimana lagi, anaknya kekeh minta nikah. Tak disupport, udah ketebak endingnya kek gimana."
Aku paham, papah adalah salah satu orang yang mendukungku. Hanya saja, usaha beliau pun tak mampu membuat pakdhe Arif luluh.
"Terus Aa maunya gimana? Kita udah di sini juga. Mau dilanjutkan, atau tetap dipaksakan untuk dipisahkan? Aku tak keberatan urus anak Aca, tapi Aa harus tau juga, bahwa bukan tangan aku sendiri yang urus dia nanti. Aku limpahkan ke pengasuh bayi, karena tenaga aku udah tak selincah dulu lagi untuk ngurus anak-anak."
Aku mulai was-was lagi.
"Ya udah, ya udah! Terserah kalian aja!" Pakdhe Arif masih mempertahankan amukannya.
"Kok terserah? Kalau terserah sih, ya aku tadi lebih milih tak usah ke sini. Kan Aca yang hamil, harusnya Aa yang datang untuk minta tanggung jawab. Ini kebalikannya loh, sebagai tanda bahwa aku ini masih menghargai keluarga Aa." Mamah mulai mengeluarkan taringnya.
"Akal pikiran kamu arahnya ke mana, Din???" Perkataan yang kasar itu keluar dari mulut pakdhe Arif.
__ADS_1
"Ada. Kami cuma minta keputusan Aa aja, resmikan ya kami ajukan sidang di pengadilan agama untuk pengesahan pernikahan Aca dan Ghifar. Kalau tak mau diresmikan ya, ya udah kasihkan ke kami anaknya, biar kami yang besarkan tanpa Aca." Mamah terlihat tetap santai.
Nyonya Dinda sudah bergerak ini, pakdhe. Jangan macam-macam dengan suhu, meski anak pakdhe adalah pemilik club bola.
"Ya udah ambil sidang. Aa gak bisa kaya kau, kasihkan bayi merah keturunan sendiri ke orang lain."
Yes, alhamdulilah.
"Keturunan aku pun, keturunan ayah dari anak aku juga. Aku paham pasangan aku, rasanya tak mungkin keturunan aku dibiarkan menangis tanpa asupan makanan. Aa ini, terlalu negatif thinking. Buktinya, Ghifar masih hidup sampai sekarang tuh. Keturunan yang aku buang bareng ayah kandungnya." Mamah menunjukku dengan dagunya.
"Kamu cuma beruntung aja. Aa yakin, kamu bakal nangis darah kalau sampai gak disatukan lagi sama bayi Ghifar waktu dulu."
Sepertinya, sejarah hidupku menapak di ingatan pakdhe.
"Lah, buktinya kalian yang maksa aku urus Ghifar lagi. Bukan aku yang minta, bukan aku yang ngemis ke Bang Adi."
Papah hanya tersenyum samar, melihat perdebatan adik dan kakak tersebut. Papah tidak bisa menimpali, karena mungkin perdebatan tersebut akan membesar kembali jika dicampuri.
"Intinya Aa bukan kamu!" Pakdhe adalah orang yang tidak mau kalah ternyata.
"Aku pun tak minta Aa jadi aku." Adiknya pun tidak mau kalah juga.
Keluarga yang keras kepala.
"Karena tempatnya di Aceh, kita bakal pengesahan juga di Aceh. Mau dibuat kaya resepsi pernikahan normal, atau cuma sidang aja terus udah? Kalau kasusnya nikah siri dan punya anak, ini biasanya tak akad ulang. Cuma sidang aja, ikuti prosedur nanti dapat buku nikah untuk keperluan pembuatan akta kelahiran. Cuma, ada lagi cara lain. Aku dulu ditawarkan opsi ini kalau anaknya belum banyak dan belum melahirkan. Jadi tak usah bilang, bahwa pernah nikah siri. Jadi, akad normal di KUA seolah tak pernah menikah siri. Minusnya, anak akan berpikir kenapa tanggal pernikahan anaknya dan tanggal kelahirannya berdekatan. Dia bakal berpikir, bahwa dia lahir di luar nikah," ungkap papah, ketika mamah dan pakde Arif sudah berhenti berdebat.
__ADS_1
"Perasaan, dulu kalian akad ulang. Terus, ngadain resepsi di Jakarta kan?" Pakdhe Arif sepertinya ragu untuk memilih beberapa opsi tersebut.
"Waktu aku itu, aku pengesahan di Aceh. Udah punya buku nikah, udah urus pengesahan kan itu lepas aku menduda dari Maya. Kalau akad ulang di Jakarta, itu cuma susunan acara resepsi aja. Kalau Aca mau resepsi, ya bisa dibuat kek gitu. Terserah aja, mau yang kek gimana? Kita sanggupi, insha Allah." Papah yang kini banyak berbicara.
"Kalau menurut aku, ya udah aja pengesahan. Tapi nanti tanyakan ke Aca aja, barangkali dia punya keinginan."
Aku malah khawatir, jika istriku bersikap aneh-aneh lagi. Ia pasti akan membayangkan dirinya memakai pakaian adat, dengan perutnya yang besar. Aduh, bisa dibuat khawatir aku dengan keadaan bayi kami.
"Ya udah, A. Kami belum sarapan. Nanti kalau udah sarapan, kami ke Aca," tukas mamah kemudian.
Pakdhe Arif mengangguk. "Ya udah. Nanti ke sana aja, Aa tak di rumah." Beliau langsung nyelonong pergi.
"Tak ada habis-habisnya memang kalau debat sama keluarga Dindul." Papah menghela napasnya dengan menyandarkan punggungnya pada sofa.
Papah pasti stress setengah mati, menghadapi keluarga mamah dan mamah yang sama keras kepalanya. Belum lagi, aku yakin ia berjuang seorang diri. Karena setahuku dalam ceritanya, oma Meutia dan opa Dodi adalah bagian akhir dari cerita papah yang penuh perjuangan.
Tidak seperti aku, perjuanganku dibantu oleh papah dan mamah. Terutama, Aca yang berjasa paling besar di sini.
Kami langsung bergegas memakan sarapan kami, kemudian datang ke rumah orang tua Aca. Karena anak-anakku pun berada di sana, aku khawatir mereka merepotkan.
Dugaanku meleset. Mereka malah sedang bersenda gurau, dengan bahu membahu untuk menjemur pakaian milik mereka sendiri. Nahda, Kal dan Kaf begitu akrab seperti saudara kandung.
Tiba-tiba, ada motor yang berhenti. Laki-laki tersebut nyerobot masuk lebih dulu, ketika tinggal beberapa langkah lagi kami memasuki halaman rumah tersebut.
"Aca…."
__ADS_1
Ia memanggil nama istriku seperti sudah akrab. Apa ia membantu kami untuk menikah, dengan memupuk benih di dalam rahim Aca?
...****************...