Istri Sambung

Istri Sambung
IS265. Cek kandungan 2


__ADS_3

Alhamdulillah, akhirnya aku sampai di Aceh juga. Mengenai mamah dan papah, mereka tetap akan pulang setelah acara itu selesai. Aku hanya mampir ke sana, tidak hadir dalam acara nanti.


Papah sudah menelpon ketua RT, mengenai aku yang akan pulang dengan membawa istri siri. Aku pun diminta untuk datang ke rumah ketua RT, untuk menunjukkan bukti pernikahan siri kami bersama dengan Aca.


Untungnya, kelelahan kami bisa mendapat istirahat. Anak-anak kami langsung berlari ke tempat bermain ternyaman mereka untuk saat ini, yaitu pondok biyung.


Mereka tidak ada lelahnya, meski dari perjalanan jauh. Aku dan Aca yang jelas tengah mengandung, terlelap begitu pulas setelah sampai di rumah. Tidak ada aktivitas dewasa saat ini, karena Aca mengatakan perutnya tidak nyaman setelah turun dari penerbangan. Sore nanti, aku akan membawanya untuk cek kandungan. Lalu pulangnya, aku akan singgah ke rumah ketua RT.


Entah di mana ketidakpahaman budhe. Harusnya ia melihat, ketika bang Givan memberhentikan tukang jualan keliling. Kemudian semua anak-anak mengantri, tidak hanya anak-anaknya saja. Tapi ada kedua anakku dan cucu kandungnya, Nahda.


"Pa…. Mama?" Ra berlari ke arahku, setelah ia mendapat jajanannya.


"Ada, lagi mandi. Tunggu sini aja ya? Ra kangen kah?" Anak itu hanya mengangguk. Ia duduk di sampingku, kemudian memberikan satu tusuk cilok dengan lumuran kecap itu padaku.


"Untuk Papa." Ia tersenyum manis.


"Oh, ya. Makasih ya?" Aku tidak pernah menyia-nyiakan pemberian mereka, atau menolak pemberian mereka. Agar mereka merasa pemberian sederhananya dihargai, lalu ia tidak kapok untuk mengulangi hal baik dengan berbagi tersebut.


"Ya, Papa."


Pandangan kami, masih tertuju pada pedagang cilok yang dikerubungi anak-anak. Mereka ada di jalan depan rumah mamah, kan dari rumahku begitu jelas terlihat.


"Eh, Ra. Mama mau punya adek bayi, Ra jangan ngamuk aja aja ya?" Aku memutar posisi dudukku menghadap padanya.


"Adek?" Ia menyatukan alisnya.


"Dek Cani." Ia melanjutkan ucapannya, dengan mulai memakan cilok itu kembali.


"Iya, tapi ada lagi. Di dalam perut Mama. Ra ikut kah ke dokter? Mau lihat adek bayi dalam perut mama, tapi syaratnya Ra jangan nakal ya?"


Anak itu langsung mengangguk mantap.


"Bilang yayah dulu."


Ah, pandainya.


"Iya, izin ke yayah ya? Jangan lari, jalan aja." Aku membantunya untuk turun dari tangga teras rumahku yang cukup tinggi.


Bang Givan selalu mengajarkan anak-anak mereka untuk izin pada orang tua, sebelum pergi dengan tantenya atau pamannya. Ya namanya juga anak-anak, kadang ingat dan kadang tidak.

__ADS_1


Dari jauh, aku melihat Ra tengah berkomunikasi dengan Ra. Kemudian, Ra menunjuk ke arahku yang tengah duduk sendirian. Tak lama kemudian, terlihat anggukan kepala bang Givan disusul dengan Ra yang berjalan kembali ke arahku.


Anak itu benar berjalan, tidak berlari seperti tadi. Padahal, Ra kecil itu tidak bisa berjalan. Ia selalu melakukan aktivitas kakinya dengan berlari.


"Boleh, Pa." Ra kembali duduk di dekatku.


"Oke deh. Nahda tak minta ikut kah?" tanyaku pada Ra.


Karena Nahda yang selalu ikut serta, tidak dengan Kal dan Kaf yang malah memilih bermain saja.


"Tak, Pa. Lagi mam cilok." Ra menunjuk beberapa anak yang sudah berpindah ke belakang tubuh bang Givan.


Satu pertanyaanku, ke mana letaknya biyung berada? Semua anaknya, komplit dijaga dan diasuh sementara oleh suaminya. Tidak terkecuali dengan Cani, ia sudah ada di dekapan ayahnya sejak tadi.


Memang, agak aneh melihat bang Givan yang masih muda. Tapi anaknya sudah begitu banyak seperti itu, seperti guru olahraga yang tengah dikerubungi anak muridnya yang menunggu untuk lompat jauh.


"Ayo, Pa."


Aku menoleh ke belakang.


"Mama…."


"Mama Ra…." Ra hanya mampu memeluk setengah badan istriku.


Aca berjongkok, untuk menyetarakan tinggi anak tersebut. "Ranya Mama." Aca membalik kata yang Ra lontarkan.


"Ikut ke dokternya katanya, Ma." Aku bangkit dan berjalan ke arah rolling door garasi.


"Oke, boleh. Dihabiskan dulu makanannya, terus cuci tangan."


Aku tidak tahu lagi, percakapan apa yang terjadi antara Ra dan Aca. Aku tengah mengeluarkan mobilku, kemudian memanasi mesinnya. Lalu, aku kembali ke garasi dan menata beberapa barang di sana.


"Ayo…." Aku langsung mengajak mereka untuk masuk ke dalam mobil, setelah menutup kembali rolling door garasi rumahku.


"Udah dibawa belum surat keterangan nikahnya, Pa?" tanya Aca, dengan membantu Ra untuk naik ke dalam mobil.


"Udah." Aku sudah bersiap mengemudi.


Aku pun berhenti sejenak, saat melewati bang Givan. Aku mengajak anak-anakku, tapi tidak ada yang mau ikut. Jadi, aku memutuskan untuk menitipkan mereka saja. Agar bang Givan tidak mengizinkan mereka pulang, sebelum aku kembali.

__ADS_1


Tidak lama mengantri di dokter kandungan, kami langsung duduk berkonsultasi dengan dokter setelah pemeriksaan USG.


"Posisi bayinya itu, udah terlalu ke bawah nih. Apalagi kalau beratnya betambah, Kakak bisa sering ngerasain sakit di bagian perut bawah. Pasti sering kencing juga, makan terlalu banyak ya bisa langsung kebelet juga tuh. Biarpun terlihat kecil perutnya, tapi berat badan bayinya udah ideal ini, Kak. Saran aja, frekuensi berhubungan badannya dikurangin. Biar Kakak tak sering merasa sakit, atau tak nyaman pada bagian perut bawah setelah hubungan terjadi. Dari hubungan suami istri pun, bisa buat otot mengalami kontraksi. Nah, dikhawatirkannya keterusan dan lahiran lebih dini. Sebenarnya sih, tak ada masalah pada lahiran dini. Tapi karena posisinya yang udah terlalu turun aja, jadi hal itu bisa terjadi."


Hah, puas! Tak boleh sering berhubungan. Mampet, mampet deh. Aku pun, akan menjadi agar-agar kembali sepertinya.


"Tapi kemarin tak ada masalah setelah selesai berhubungan."


Ah, dasar mulutnya!


"Kan katanya Kakanya ini habis penerbangan, ya sepertinya setelah penerbangan ini terjadi posisi bayi lebih turun. Kalau misalkan besok-besok hubungan badan, terus ngerasain kram perut, kontraksi ringan, ya langsung dicek ke bidan terdekat aja misal rasa tidak nyaman itu lebih dari dua jam terjadi tanpa reda."


Nah, kan?


Kin pun mengalami posisi yang sama, ketika mengandung Kal. Tapi ya namanya juga Kinasya Salsabila, ya ia tetap memaksa ketika ingin.


"Memang tak ada jalan keluar lainnya, Dok?"


Jelas seperti itu, ya tidak ada jalan keluarnya selain menurut aturan, Ca! Aku gemas pada si Mo*tok dadakan ini.


"Ya, itu saran dari Saya. Miring kiri, kalau kontraksi terjadi. Disebutnya, itu kontraksi palsu jika berangsur mereda."


Nah, itu sebutannya pada Kin dulu. Setiap hari, ia sering kontraksi palsu. Mulai dari kandungan tujuh bulan, sampai akan melahirkan.


"Baik, Dok. Terima kasih." Aku langsung menutup konsultasi ini.


"Sama-sama, Pak. Ini resepnya, bisa ditebus di depan." Dokter tersebut memberikan secarik kertas padaku.


Aku tidak mengerti, kenapa jika resep obat ditebus langsung pada apotek yang berada di klinik ini. Maka, harga obatnya seperti lebih mahal. Namun, jika ditebus di apotek lain. Harganya tidak begitu mahal. Ya mungkin begitu konsepnya, aku kurang mengerti juga bisa seperti itu.


"Ma, bantu ngomong ke pak RTnya ya?" Aku tersenyum kuda.


"Hmm….. Udah ketebak." Aca melirikku sinis.


Aku tertawa lepas, dengan mencubit dagu Ra yang muncul di tengah-tengah bangku depan ini. Ia anteng bermain mainan baru, yang kami belikan di parkiran klinik tadi.


Kamu sudah sampai di teras rumah ketua RT. Namun, ia sedang ada tamu. Aku menunggu di sini, dengan meladeni Ra yang bermain masak-masakan.


"Eh, Far???" sapa seseorang, yang baru keluar dari dalam rumah ketua RT.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2