Istri Sambung

Istri Sambung
IS92. 4P


__ADS_3

"Pah…. Betulkah aku belum bisa bina rumah tangga?" Aku langsung duduk di bangku panjang bawa pohon mangga ini.


Aku memilih untuk bertukar pikiran dengan papah, yang jelas pernah menikmati pahit manisnya hidup ini.


Papah menoleh padaku dan memperhatikanku dengan lekat. Kali ini aku harus lebih ikhlas mendengar penilaian dan kritikan orang, agar aku bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Khususnya, menjadi suami yang baik.


"Fokus perbaiki diri aja, Far." Papah seperti bukan papah yang dulu, ia sedikit susah jika diajak berbicara ke hal yang seperti ini.


"Aku butuh penilaian orang, biar aku tau di mana letak kesalahan aku. Gitu, Pah." Karena jika bertanya pada diriku sendiri, aku sudah merasa menjadi suami yang baik.


"Tanyakan pada orang yang hidup dengan kau. Karena biasanya dia lebih tau dan punya harapan besar pada kau. Kalau dengar penilaian orang lain, tak akan ada habisnya. Ada aja yang mereka nilai, dari sisi jelek kau. Kalau misal kau nanya ke orang lain, terus orang lain berpendapat bahwa kau kurang royal ke istri. Nah, kau ini merasa udah cukup royal dengan penghasilan yang kau punya. Kau tak bisa jadikan pendapat orang tersebut, untuk acuan kecukupan ekonomi kau. Hal ekonomi begini, biasanya pasangan hidup kau yang lebih tau, bukan orang lain. Selain dari sisi itu, biasanya dari sifat bawaan perempuannya juga. Kek Canda yang memang cengeng, Winda yang tegas. Atau Tika yang terlalu fokus pada satu titik, jadi banyak pihak yang kadang ia lalaikan. Kek mak kau gini contohnya, keras kadang tak berhati. Ya mau bagaimana lagi, udah sifat dan wataknya. Berarti Papah aja, yang memang harus bijak menyikapi. Karena itu tak bisa dirubah, bawaan lahir lah ibaratnya. Dulu Kin kan cemburuan, kan kau cukup bijak tuh nyikapinnya. Abang kau yang keras kepala dan galak, Canda sekarang lebih ngimbangi aja karena udah tau bahwa suaminya memang begitu." Papah merangkulku dan menepuk-nepuk punggungku.


"Pahami sifat perempuan kau, pahami juga ego kau. Jangan terlalu menuntut, karena tiap perempuan itu beda. Kan Novi juga kau yang milih, bukan paksaan dari pihak tertentu. Harusnya, kau paham lah bagaimana tentang Novi dan meluruskan sifat bengkoknya. Sebaik-baiknya perempuan, mereka tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Sifatnya yang dimaksud bengkok, kita sebagai pemilik tulang rusuk itu ya harus bisa memperkokoh dan meluruskannya. Kalau menikahi perempuan terus cerai, hanya gara-gara masalah sifat begini. Keknya, itu kita yang salah. Karena kitanya yang tak mampu untuk meluruskannya. Jangan terlalu berlarut, kasian anak-anak kau." Papah tersenyum lebar dengan mengusap kepalaku.


Aku mencoba tersenyum, lalu memeluk lengan panutanku ini. Aku adalah sosok laki-laki yang cengeng sepertinya, aku mudah terharu dan menangis.


"Kasih perhatian, pendanaan, pakaian dan pelepasan. Insha Allah, perempuan ada jinaknya." Aku merasa tersindir hebat, karena ucapan beliau.


Aku menggeser posisi dudukku, dengan menekuk satu kaki dan menghadap beliau yang duduk di sampingku.


"Kalau kita tak bisa kasih salah satu dari 4P itu gimana, Pah?" Aku tak berniat membocorkan salah satu di antara 4P itu.

__ADS_1


Papah menoleh sekilas padaku, kemudian memandang lurus ke depan lagi.


"Apa masalahnya sama kek dulu?"


Papah adalah orang pertama, yang membawaku berobat karena aku mengalami disfungsi er*ksi ini. Saat aku bujang dan dituduh menghamili kakak iparku, Canda. Aku membuka aibku di depan keluarga, bahwa aku sudah tiga tahun mengidap DE tersebut. Kalian bisa cek scene tersebut, dalam novel Belenggu Delapan Saudara.


Aku mengangguk lemah. Mau bagaimana lagi, toh orang tuaku tak mungkin menyebarkan aibku.


"Apa fantasi kau, yang bangkitin keminatan kau? Apa ada ikhtiar juga? Apa patokan idaman kau masih kek Kin? Atau, ada hal lain yang buat kau berat ngelakuinnya dengan Novi?" Papah melah menghujaniku dengan banyak pertanyaan.


Masalahnya, aku pun tidak tahu problem yang menghambat keminatanku ini.


Canda yang tidak melakukan sesuatu pun, aku bahkan bereaksi padanya. Aku tidak tahu, di mana letak koordinat keminatanku.


"Karena memang sih, barang haram lebih menarik ketimbang barang halal." Papah menggaruk kepalanya dan menghela nafasnya.


"Tapi aku ke Kin, halal malah semakin menjadi." Aku berpikir, masa iya aku harus berzina dulu. Aku dan Kin pun, awalnya berzina meski tidak sampai memasukinya.


"Nah, apa yang buat kau sampai segitunya ke Kin? Tapi tak kau dapat dari Novi." Papah menjentikkan jarinya.


Aku langsung berpikir dan mengingat semuanya. Apa ya kira-kira? Bukan bermaksud membandingkan, hanya saja agar aku tahu di mana titik yang Novi pun bisa melakukannya.

__ADS_1


"Aktif, kadang tau beres. Bukan aku yang malas gerak juga, tapi kek menyenangkan aja. Terus tuh, misal aku bilang begini nih Kin. Ya langsung ditunaikan, tak harus minta alasan dan penjabaran dulu gitu. Tapi entah-entah juga, Pah. Dulu pun sama Canda, meski tak sampai begituan, tapi selera betul aku nampaknya. Mana kan, nurut lagi gitu. Dari matanya itu, kek seolah berbicara tentang apa yang dia rasa. Ekspresinya dapat gitu lah, kalau misal main peran. Kalau Novi, kadang sering merem aja dan suara aja. Tak paham aku pun, di mana harusnya aku ini." Aku menyugar rambutku ke belakang.


Aku gagal memahami diriku sendiri.


"Sulit juga. Canda pas janda, kau tak bisa ambil balik. Sekarang Kin tak ada, masa iya mau ngacak-ngacak rumah tangga kakak kau lagi? Kan jangan begitu juga, kau ini saudaranya. Sekalipun dia rebut dari kau, kan ikatan mereka lebih suci ketimbang cara kau mengikat Canda dulu. Kau cuma mantan pacar, sedangkan Abang kau itu suaminya. Kasarnya begitu lah, Far. Tak baik mandang kakak ipar dengan h*srat begitu!" ucap papah dengan menikmati tehnya yang berada di ruang tamu tadi. Pasti teh tersebut sudah dingin, karena terlalu lama dinikmati.


"Sekarang kan, kau paham kan bahwa kau kurang di 4P itu? Nah, tinggal kau cari jalan keluarnya. Ikhtiar, berdoa, sering-sering juga melatihnya dengan Novi. Belajar terbang lah hitung-hitung." Kami tergelak bersama, mendengar kata belajar terbang tersebut.


"Sifat Novi juga sih, Pah. Ternyata dia tukang ungkit yang handal." Aku paham, bahwa aku harus lebih ahli untuk menjinakkan Novi karena sifatnya itu.


Kin cemburuan, tapi ia tidak pernah mengungkit dan meminta cerai. Ia malah selalu memintaku meninggalkan kegiatan yang membuatnya cemburu, agar tetap berada di dekapannya. Apalagi misal perempuan, Kin bisa cosplay saat itu juga untuk menirukan seperti orang lain yang sempat kulirik. Jatuhnya, malah seperti lelucon untuk kami berdua.


"Mamah kau juga sama, dosa Papah sebelum Papah dilahirkan pun diingatnya. Entah seberapa besar kapasitas ingatan perempuan. Mereka ini, jenis yang mudah memaafkan tapi tidak mudah melupakan. Salah tindak sedikit, udah tuh sindiran dan hadist keluar semua. Stress juga kalau udah kumat begitunya, tapi balik lagi. Karena mamah yang Papah pilih dan nikahi. Dulu ada tante Maya juga, Papah tetap milih mamah kau mesti tau sifatnya begitu. Susah lah, kalau udah sreg di hati ini. Seluruh dunia mengatakan, bahwa ia tak layak hidup pun. Papah pasti setengah mati buat hidupin mamah kau." Papah tiba-tiba menoleh ke arahku dengan memicingkan matanya.


"Kenapa, Pah?" Aku merasa diintimidasi.


"Jangan-jangan, kau tak cinta ke Novi?" Tuduhan beliau, sungguh tak bisa aku katakan kebenarannya.


...****************...


Jawab apa nih Ghifar?

__ADS_1


__ADS_2