
Brian pun turun sendirian tanpa Sandra.
"Lo nak, mana Sabrina kok gak ikut turun, padahal ibu sudah masak banyak." tanya Wulan saat menyadari Sabrina tidak ikut turun.
"Maaf Bu, Sandra gak mau turun, katanya mual kalau mencium bau masakan ibu." Brian menjelaskan pelan-pelan agar ibu wulan tidak tersinggung.
"Kasian putriku, sepertinya dia sangat menderita dengan kehamilannya kali ini. Ya sudah nak, ayo kita makan duluan nanti biar ibu buatkan bubur buat Sabrina.
Bramono tak berani berkutik semenjak kedatangan Brian, apalagi sekarang perusahaannya di yang baru bangkit pasca bangkrut atas kucuran dana dari perusahaan Brian kini diambil alih Brian dengan berbagai tuntutan yang memberatkan Bramono.
Suara ketukan terdengar dari balik pintu. Ibu Wulan masuk ke kamar Sabrina dengan membawa semangkuk bubur untuk putrinya.
"Ibu..." Sandra yang mendapati ibunya datang.
"Ibu membawakan bubur, kata nak Brian kamu mual saat mencium bau masakan ibu." ucap Wulan sambil membawa nampan yang berisi semangkuk bubur.
"Maaf Bu, kalau sudah menyinggung ibu."
"Tidak sayang, ibu dulu waktu sedang hamil kamu juga begitu, sering mual kalau mencium bau yang aneh-aneh. Sekarang ibu suapi makan ya, sambil ibu ceritakan saat ibu mengandung kamu." Sandra pun mengangguk dan menerima suapan dari ibunya.
"Ibu dulu waktu hamil muda, susah sekali makan, banyak makanan yang ibu tolak. Ibu lebih suka makan buah-buahan dan jarang makan nasi."
"Ibu apa juga sering sakit seperti aku."
"Tidak sayang, ibu sangat kuat dan sehat, karena ibu tidak terlalu memikirkan hal-hal yang membuat ibu pusing."
__ADS_1
"Ayahmu tak pernah mengijinkan ibu, melakukan segala sesuatu, hanya boleh memikirkan tentang kehamilan dan nutrisi yang harus dipenuhi, agar bayinya tetap sehat."
"Ibu, apa aku boleh bertanya sesuatu? apakah aku punya saudari kembar?" Suapan ibu pun terhenti saat pertanyaan Sandra muncul.
Wulan terdiam sejenak sebelum, menjawab pertanyaan Sandra. "Iya sayang, ibu melahirkan putri kembar, yaitu kamu dan saudarimu, namanya Sandra tapi nasibnya tak sebaik kamu nak, dia sudah mengalami masalah sejak dalam kandungan, dan saat lahir dia divonis mengidap kelainan hati dan dia bisa sembuh kalau ada yang mau mendonorkan hatinya buat putri ibu." Sandra menitikkan air mata, mendengar tentang dirinya yang menderita dari dalam kandungan.
"Dia sekarang dimana Bu?" tanya Sandra ingin tahu kejujuran ibunya.
"Dia meninggal dunia saat usianya satu Minggu. Saat itu hati ibu hancur mendengar salah satu putri ibu pergi untuk selamanya. Tapi setelah itu ibu sadar masih ada kamu yang hidup bersama ibu."
"Ibu, apa yang terjadi padaku Bu, siapa yang tega menyabotase kematian ku, aku masih hidup dan masih bernafas karena Sabrina Bu, dia yang menyelamatkan aku. Ibu andai ibu tahu aku adalah putri ibu yang ibu anggap meninggal, apakah ibu masih mau menerimaku dan mengakui ku Bu." ungkapan tertahan Sandra yang tak mampu di ucap hanya air mata yang mengalir di pipi, Sandra pun langsung memeluk ibunya erat-erat.
"Ibu, satu pertanyaan terakhir yang ingin aku tanyakan. Ibu andai aku ini adalah anak ibu yang meninggal dan bukan Sabrina apa ibu masih mau menerimaku?" Ibu Wulan terdiam dan akhirnya memilih pergi tak meninggalkan sepatah katapun.
"Ibu... ibu... aku butuh Jawaban ibu..." teriakan Sandra saat ibunya meninggalkan nya.
Brian segera menghampiri Sandra setelah melihat ibu mertuanya berlari meninggalkan kamar Sandra dengan Berlinang air mata. Saat sampai di kamar Brian yang melihat istrinya menangis terisak-isak, Langsung mendekap tubuhnya dan menenangkannya.
"Mas, ibu menganggap ku sudah meninggal mas, ibu gak sayang mas, ibu gak tahu seberapa menderitanya aku di luar sana, ibu gak tahu aku sangat merindukannya, ibu gak tahu aku selalu ingin melihat wajahnya, sekarang saat aku bertemu dengannya saat aku ingin kasih sayang darinya, ibu tak menganggap ku mas." ucap Sandra begitu saja, meluapkan apa yang ada dalam hatinya.
"Tenang sayang, ibu mungkin gak bermaksud begitu, ibu pasti sayang sama kamu, ibu pasti bahagia melihat putrinya yang dianggap sudah meninggal ternyata masih hidup, lihatlah saat dia melihat kamu sebagai Sabrina betapa bahagianya ibu Wulan."
"Tapi aku gak mau jadi Sabrina aku Sandra aku ingin ibu memanggilku Sandra, aku bukan bayangan saudariku." Sandra tak hentinya menangis begitu sakit hatinya menerima semua kenyataan pahit yang terus dirinya dapatkan
"Aku mau pulang, mas aku gak mau tinggal disini lagi, aku gak mau." rengek Sandra yang sudah tidak betah dan tidak ingin melihat ibunya lagi.
__ADS_1
"Iya sayang besok kita akan pulang, sekarang sayang tenang dulu ya, kasian anak kita." Brian berusaha menenangkan dan ia pun menghapus air mata Sandra yang membasahi pipi dan membaringkan tubuhnya.
"Mas jangan pergi, temani aku mas."
"Iya, sekarang istirahatlah, aku akan terap disini menemani mu." Brian mengusap kepala Sandra agar lebih tenang.
____
Di kamar lain ibu Wulan menangis sendirian, mengingat ucapan putrinya, yang tak pernah terpikir ibu Wulan sebelumnya tentang pertanyaan yang keluar dari mulut putrinya. Air mata menetes membasahi foto kedua bayi yang baru lahir yang sedang dipandang ibu Wulan.
"Ibu kangen kamu nak, ibu selalu mendoakan mu nak, semoga kamu bahagia di surga. Andai kamu masih ada, ibu akan sangat bahagia bisa bersama mu dan saudarimu." ucap Wulan.
"Maafkan ibu yang tidak bisa menjagamu, yang tidak bisa merawat mu sejak dari dalam kandungan, ibu ingin kamu tahu bahwa ibu sangat menyayangi mu, Andai waktu bisa ibu ulang kembali ibu akan berusaha keras menyembuhkan mu, ibu tidak ingin kehilangan putri ibu. Maaf jika ibu sudah jahat padamu nak membiarkan mu pergi meninggalkan ibu."
Saat malam tiba, ibu Wulan hanya bisa memandang wajah Sandra dari balik pintu, tak berani mendekati putrinya.
"Ibu..." Brian memegang pundak ibu Wulan.
"Kenapa disini, masuklah temui putri ibu, besok dia akan pulang."
"Apa, Sabrina mau pulang, ini semua pasti karena ibu, hingga dia gak mau tinggal lebih lama disini."
"Tidak Bu. Ibu gak ada salah, saya juga yang mengajaknya pulang, karena saya harus kembali bekerja." jawab Brian.
"Baiklah nak, ibu titip tolong berikan ini padanya." Bu Wulan menyerahkan sebuah amplop pada Brian dan berjalan pergi meninggalkan Brian.
__ADS_1
Brian pun kembali ke kamar dan mendapati Sandra masih tertidur, dan Brian meletakkan amplop itu di samping bantal Sandra dan Brian pun ikut merebahkan diri karena hari sudah malam.
To Be Continued ☺️☺️☺️