Istri Sambung

Istri Sambung
IS47. Kesibukan yang sama


__ADS_3

"Aku tidur di mana, Bang? Barang-barang aku simpan di mana?"


Aku garuk-garuk kepala. Aku bingung, karena belum membereskan barang-barang milik Kinasya. Lemariku, masih penuh dengan pakaian milik Kinasya. Bukan aku sengaja menyimpan, hanya saja Kal yang meminta barang-barang ibunya disimpan, untuk dirinya besar. Kal akan menggunakan pakaian milik ibunya.


"Di kamar anak-anak aja dulu ya? Soalnya kamar aku ditempatin anak-anak. Nanti anak-anak tidur, aku pindah nemenin kau."


Ehh.


Bagaimana ini?


Frustasi sudah. Karena aku memikirkan, bagaimana caranya aku tidur bersama Novi tanpa aktivitas dewasa?


"Kok gitu?" Novi menaikan alisnya.


"Apa mau bareng di kamar aku? Ayo." aku membuka pintu kamarku lebih lebar.


Kaf tengah dalam posisi tengkurap, dengan memainkan ponsel ibunya. Sedangkan Kal, ia tengah menyusun bantal-bantal.


Terlihat anakku melongo saja, saat melihatku dan Novi berdiri di ambang pintu. Pasti, mereka bertanya-tanya kenapa aku membawa perempuan lain masuk.


"Tante Cantik bobo di sini ya, Kak? Dek?" aku memasuki kamar, dengan senyum lebar.


"Apa tak sempit? Nanti di sofa aja."


Aku memikirkan perasaan Novi, mendengar penuturan Kal ini. Novi pasti tersinggung.


"Oke, Tante nginep di sini ya?" Novi melangkah masuk, dengan menarik kopernya itu.


Kal mengangguk, sedangkan Kaf hanya menoleh sekilas saja.


Jika malam nanti, aku tak akan benar-benar membiarkan Novi tidur di sofa. Aku akan memintanya pindah ke ranjang, biar aku yang di sofa. Karena ia terlihat keberatan, jika tidur di kamar anak-anak.


Memang Novi tidak mengatakannya. Hanya saja, aku memahami ekpresi dan respon darinya.


Seperti biasa, aku mengusap-usap punggung Kaf. Sedangkan Kal, ia masih gulang-guling saja, mencari posisi yang nyaman.


"Papah, aku besok sekolah diantar siapa?" tanya Kal, dengan wajah mengantuk.


"Sama Tante Cantik. Nanti Kaf juga ya? Naik motor Papa." aku sengaja mengatakan dengan suara yang sedikit lantang, agar Novi mengerti.


Aku tidak akan menuntutnya menjadi ibu rumah tangga, atau membuat rumahku selalu kinclong. Aku hanya ingin, anak-anakku terurus dan merasa tidak sendirian.


Bukan aku menginginkannya sebagai pengasuh. Tapi seperti ibu yang mengurus, menyayangi anaknya dan senantiasa menjadi panutan anak-anaknya.


Aku melirik ke arah Novi. Ia sudah merebahkan tubuhnya di sofa panjang, yang berada di dekat jendela kamarku. Ia sudah menarik selimutnya sebatas dada.


"Baca doa." aku mengusap kepala Kal.


Kal mengangguk, "Ya, Pa." anak gadisku berbaring ke samping kanan setelah berdoa.


Aku fokus mengusap-usap Kaf, yang selalu memindahkan letak tanganku ini. Kaf belum bisa, membuat dirinya tertidur sendiri.


Nyamannya mata ini. Hanya saja, aku ingat bahwa aku dan Novi belum makan.


Aduh, ditambah lagi aku menjanjikan untuk makan sepiring berdua.


Makan apa ya? Aku tidak punya stok daging, karena ini menjelang akhir bulan.


Masa iya makan bersama, dengan menu mie instan?


Tapi, rasa lelahku mengalahkan kesadaranku. Aku pulas, sampai Kal membangunkanku dengan kecupan kecilnya.

__ADS_1


"Papa, sarapan mana?"


Mataku langsung terbelalak.


Jam berapa ini?


Aku langsung celingukan, kalap untuk melihat jam dinding.


Gila, gila, gila!


Jam setengah tujuh. Waktunya Kal berangkat sekolah, waktunya Kaf untuk bersiap ke sekolah juga.


Aku bahkan belum sholat subuh.


Eh, tapi aku merasa ada yang kurang. Benar sekali, istriku ke mana? Ya, istri sambungku.


Hanya ada selimut di sofa panjang tersebut, dengan sebuah bantal yang masih berada di sandaran.


"Kak…. Dasi aku mana?"


Aku segera menoleh pada anak yang sudah memakai seragam taman kanak-kanaknya itu. Kaf sudah mandi dan berpakaian. Namun, rambut anak itu masih basah.


Sepertinya, anak-anakku dibantu mandi dengan Novi.


"Dibilang rambutnya digosok, Dek! Biar seragamnya tak basah." Kal menghampiri adiknya dengan memberikan handuk kecil.


Aku bangkit dari posisiku, kemudian mengucek mataku dengan bersandar pada kepala ranjang.


"Kak, aku belum beresin buku." ujar Kaf, ia diam saja saat kakaknya memakaikan dasi berkalung karet yang melingkar di kerah bajunya.


Jadi, Novi ke mana? Apa ia tengah membuatkan sarapan untuk anak-anakku?


Rasanya begitu melelahkan resepsi kemarin.


Namun, Kal menjawab dengan mengedikan bahunya saja. Urat wajahnya pun, terlihat datar.


"Papa cuci muka dulu ya? Terus bantu Adek Kaf beresin buku, sama buatin sarapan buat Kak Kal." aku berjalan ke arah kamar mandi, yang terdapat di dalam walk in closet.


Anak-anakku tidak menjawab. Mereka tengah sibuk mencari perlengkapan pakaiannya. Kal bisa membantu adiknya berpakaian. Kal pun, sudah bisa berpakaian dan menyisir rambutnya sendiri.


Mereka cukup mandiri, setelah satu tahun lebih ditinggal ibunya.


Pintu kamar mandi terkunci?


Tok, tok, tok….


Apa Novi tengah mandi?


"Nov? Kau di dalam?" panggilku, dengan mengetuk pintu kamar mandi secara berulang.


"Ya…." sahutan itu menggema.


Jadi?


"Nov, kau udah buat sarapan?" seruku, di depan pintu kamar mandi.


"Apa?" suaranya terdengar begitu kuat.


Pasti Novi berteriak.


"Kau udah buat sarapan?" aku pun berseru keras, agar Novi mendengarnya dengan jelas.

__ADS_1


"Belum. Maaf, aku kesiangan."


Hah?


Sebentar, aku akan memastikannya lagi.


"Kau bantu Kal sama Kaf mandi tadi?" seruku kembali.


"Heh? Apa, Bang?" Novi sepertinya tidak mendengar pertanyaanku dengan jelas.


"Kau udah mandikan Kal sama Kaf?" aku mengulang pertanyaanku.


"Eummmm…. Aku tak tau. Aku bangun, mereka udah pada mandi."


Astaghfirullah.


Aku mengatur nafasku. Hanya mendengar pengakuannya saja, aku langsung emosi. Tapi aku sadar ini hari pertamanya, aku memaklumi hari ini.


Ya ampun, Novi!


Aku geleng-geleng kepala, kemudian meninggalkan pintu kamar mandi ini.


Ada anak-anak yang harus diurus dan diutamakan. Ketimbang berdebat pagi ini bersama Novi. Kal ingin sarapannya, Kaf ingin buku-bukunya segera dimasukkan ke tas sekolahnya.


Aku mencari kedua anak itu. Rupanya, rasa lapar mereka sudah diambang batas. Aku bisa melihat Kal memindahkan kursi makan ke sana ke mari, untuk melihat rak dapur yang tidak terjangkau tangannya.


"Awas jatuh, Kal!" aku bergegas menuju ke anak-anak itu.


Kal mengambil sesuatu dari rak dapur tersebut. Kemudian, ia mengulurkan pada adiknya yang menunggu di dekat kursi.


"Apa itu?" aku langsung memegangi tubuh anak sulungku, yang hendak turun dari kursi.


"Mie cup. Boleh ya, Pa?" wajah anak-anakku pandai berekspresi mengiba seperti ini.


Aku tersenyum, "Boleh. Tapi sampai minggu depan, tak boleh makan mie lagi ya? Nanti lama lagi, baru boleh makan mie-nya."


Aku tidak tahu mengapa. Tapi seperti ini, aturan yang Kin buat. Aku pun mentaati aturannya, karena wajahku tiba-tiba berjerawat ketika memakan mie tanpa jadwal.


Intinya, kami tidak sering memakan makanan instan.


"Hap." aku memeluk anakku, yang hendak turun dari kursi makan ini.


Aku menurunkannya, kemudian mengembalikan kursi itu ke tempat semula.


"Pa, cepat! Aku udah lapar." anak bungsuku, sudah bersiap di meja makan saja.


Aku membawa dua mie cup ini, menuju ke termos stainless yang berada di meja bar. Sayangnya, isinya kosong. Mau tidak mau, aku harus merebus sedikit air untuk mie cup ini.


Aku tidak menggunakan dispenser air dingin maupun panas. Dulu pernah punya. Sayangnya, Kin selalu merengek saat kencing karena ia tidak bisa mengkonsumsi air panas yang tidak mendidih. Ia merasa kencingnya sakit, saat mengkonsumsi air panas dari dispenser.


"Bentar, Dek." aku buru-buru merebus air untuk mie dalam cup ini.


Aku bahkan belum cuci muka dan gosok gigi.


Kerepotan seperti biasa, ditambah lagi karena aku bangun kesiangan. Setelah mereka selesai sarapan, aku langsung mengantarkan Kal ke sekolah.


Setelahnya, aku pulang lagi untuk mengurus Kaf. Bukunya masih berantakan, ditambah lagi ia memiliki tugas mewarnai yang belum dikerjakan.


Aku punya istri, rasanya tetap saja seperti menduda.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2