Istri Sambung

Istri Sambung
IS232. Komitmen orang dewasa


__ADS_3

"Pa! Pa! Pa! Mulut kau!" Mamah langsung ngegas.


Aca mengurungkan niatnya untuk memberitahu padaku tentang isi layar ponselnya. Ia mengantongi layar ponselnya, dengan menyuruh Ra untuk mendekat pada neneknya.


"Ma Mama." Ra menghentakkan kakinya, menolak untuk duduk di pangkuan neneknya.


"Ya udah sana! Enak juga, tak berat." Mamah tak menahan Ra untuk tetap berada di pangkuannya.


"Dapat restu kau?" Papah menyenggol lenganku.


Aku menghindar pertanyaan ini. Aku ingat, mamah pernah mengatakan agar aku melepaskan Aca jika restu tak kunjung didapat juga. Aku tak mau melakukan hal itu, aku sudah ingin sehidup semati dengannya.


Aca masih berdiri di hadapan mamah, dengan Ra yang duduk di samping mamah. Ra berada di bangku paling ujung.


"Belum, Pak Cek. Aku masih mengusahakan, jangan batasi kami ya?"


Aku memandangnya dengan berbinar-binar dan penuh harap. Wanitaku, wanitaku yang pemberani.


"Hmm…." Papah menghela napasnya. "Mau batasi juga bingung, dibatasi di sini, pasti nyari tempat lain. Kalian udah bukan perjaka dan perawan lagi, kalian pasangan duda dan janda yang pasti lebih berani. Kalau memang ngerasa kalian udah bener-bener cocok, ya fokusnya nyari restu. Bukan untuk sering ketemu, karena malah yang ada beratin kalian di akhirat. Kalian udah bukan masanya pacaran, terus nanyain lagi makan belum. Kalian udah sama-sama besar, komitmen ala orang besar, tak melulu harus bertemu tiap hari atau kontakan tiap hari. Tapi ya bisa jaga komitmennya, meski masing-masing lagi sibuk dengan aktivitasnya. Biarin Aca sibuk jaga anak-anak, biarin Ghifar juga fokus kerja."


Pah, aku sudah ditahap suami istri.


"Pak Cek, Mak Cek…. Aku minta disirikan aja dulu tak apa. Kalian tak perlu bilang ke ayah, kalau aku udah disirikan di sini." Wajahnya murung.


"Kau frustasi. Jangan kayak gini caranya, kita tunggu dulu restu dari ayah kau. Jangan dulu buru-buru, Ghifar nggak akan buru-buru nikah juga. Dia nggak mungkin cari perempuan lain, dia bakal nungguin kau. Kau yang sabar, sampai restu ayah kau turun," ucap Adinda sambil meladeni cucunya.


"Masalahnya aku cinta sama dia, Aku cukup egois karena rasa itu. Aku udah pengen serumah sama dia, pengen ada yang bantu didik anak, anak aku butuh ayah, aku udah pengen ada yang mengimami, nafkahin, nemenin aku tidur." Sifat tidak munafiknya lah yang membuatnya terlihat begitu menarik.


"Pak Cek belikan batang karet ya?"


Tangan mamah langsung cepat melewatiku dan mencubit perut suaminya. Papah tertawa lepas, dengan menahan tangan istrinya.


"Dinda kedua. Bedanya Dinda yang pertama itu munafik, Far. Padahal mata udah berkabut betul, napas udah memburu betul. Kalau Dinda yang ini, tak munafik dia. Dia gatal, dia akuin itu." Papah merangkul dan mengatakan itu padaku dengan kekehan.


"Hei! Aku cuma tak mau zina besar ya!!!" Mamah sampai berusaha melotot untuk terlihat marah.

__ADS_1


Sedangkan Aca, begitu lemah imannya. Ia bahkan tidak kuasa melawanku, saat aku memasukinya tanpa izin. Padahal, di awal ia sudah mewanti-wanti dulu.


"Nanti Mak Cek telpon ayah kau. Mau tau, apa sih yang masih buat dia ragu?" Mamah turun dari tempatnya, kemudian Ra bergeser ke sampingku.


"Karena aku anak Adi katanya, Mah. Beliau takut, kalau aku ini poligami anaknya." Biar saja yang bernama Adi ini tersinggung.


"Mamah malah tak percaya, kalau kau bisa hamili dia."


Mamah meledekku?


"Wah, tadi pagi malah Abang liat sendiri. Hampir itu, udah jendol di dalam resleting celana."


Adi, Adinda dan Canda, adalah komplotan pengaduan yang begitu ember. Aku gemas dengan tiga orang ini.


"Memang???" Mamah memperhatikanku dengan lekat, kemudian melirik suaminya.


Tidak tahu saja, jika sudah banyak benih cucunya yang diolah di lambung. Sudah banyak juga, yang tak tertolong dalam tisu kering.


"Normal dia ini, cuma untuk pencitraan aja." Papah meninggikan dagunya dengan tersenyum kecut.


Sindiran.


"Bener juga sih." Mamah manggut-manggut.


Memang benar, tapi sekarang memang sudah normal. Aku sudah tidak lemas-lemas lagi, begitu diusap langsung bangun. Black Mamba sudah menemukan pawangnya.


"Aku ke Canda dulu, Mak Cek." Aca pamit pergi, karena Ra kabur lebih dulu.


"Jadi???" Mamah merapikan kerah kemejaku.


"Tak jadi-jadian, Mah. Tapi jangan minta aku buat tinggalkan dia, aku udah sayang." Aku sudah bergantung dengannya.


"Tiga bulan ya? Tiga bulan tak bisa nikah, kau harus lepas dia. Kasian, dia pun pengen dapat suami yang berkah juga. Dia tak harus terpaku sama kau aja untuk bahagia."


Alhamdulillah, aku mendapatkan masa tenggang.

__ADS_1


"Makasih, Mah." Aku tersenyum gembira.


Sudah satu bulan berlalu, dengan aku yang lebih sering menginap di rumahnya. Aku sudah nyaman diurus olehnya, aku sudah ingin setiap hari dilayani olehnya.


Namun, kali ini adalah suasana yang berbeda.


Aku tidak berangkat kerja, karena merasa kurang enak badan. Nahda, Ra dan Aca tengah main ke rumahku, dalam rangka membereskan kamar Kal dan Kaf. Sedangkan dua anakku bersekolah, karena kebetulan ini bukan hari Minggu.


Cuaca mendukung, karena di luar tengah hujan petir. Anak-anak pun tertidur, karena mereka takut dengan suara gemuruh. Aku memikirkan dua anakku yang berada di sekolah, apa mereka ketakutan atau tetap fokus belajar.


"Takut, Pa." Istriku lebih masuk dalam pelukanku.


"Kenapa sih? Sering betul ketakutan kalau hujan begini?" Aca tidak sekali mengatakan bahwa ia takut dengan kondisi seperti ini.


"Dulu pernah di rumah sendirian, dalam keadaan hujan petir. Bunda di toko serba tiga lima, ayah di peternakan. Nenek di rumahnya, aku pun di rumah aku sendiri. Nangis aja aku, berharap ada seseorang yang datang temani aku di rumah. Masa itu, aku pulang sekolah dan sendirian."


Ada trauma kecil ternyata.


"Kan udah dipeluk nih, apa masih takut aja?"


Kami tidak di kamar. Kami tidur-tiduran di karpet ruang penghubung antara ruang tamu dan tangga. Anak-anak pun terlelap di sini, karena tadinya mereka tengah bermain. Aku dan dirinya dalam satu bantal, beralaskan karpet saja.


"Udah, tinggal bilang aja ngajakin anu."


Aku bertanya, tapi pikirannya sudah menjurus ke arah itu.


"Lagi tak enak badan, Ma. Makanya istirahat di rumah, bukan suruh goyang-goyang manja."


Eh, tidak tahunya kini aku merasakan istilah tahu beres yang aku juluki dulu. Ia tengah berusaha selincah mungkin bergerak untukku dan untuk mencari kesenangannya sendiri. Ia terengah begitu semangat.


"Ra…. Nahda…. Nih, ada puding. Main di luar yuk? Ujan udah reda, lihat pelangi yuk?"


Sial.


"Astaghfirullah…. Aku tak lihat, aku tak nampak, aku tak tau apa-apa."

__ADS_1


Manusia yang satu ini, Masya Allah sekali.


...****************...


__ADS_2