Istri Sambung

Istri Sambung
IS64. Tegur sapa


__ADS_3

"Tapi aku punya paket COD, Bang."


Aku malas betul, jika sudah COD paket seperti ini. Kinasya sampai pernah aku marahi, karena kurir setiap hari datang untuk mengantar paket. Ini awalnya, karena Kinasya sering mengobrol dengan Canda.


Masalahnya, yang dibeli adalah produk yang tidak efektif penggunaannya. Seperti sapu karet, tidak bersih untuk menyapu. Cantolan barang juga, lemnya tidak kuat. Pernah juga tempat untuk menaruh ponsel yang dicas, sampai ponselku jadi korban. Karena jatuh saat tengah dicas, lalu layar dan slot chargernya rusak parah.


"COD apa?" aku tidak akan mempermasalahkan, jika fungsi barangnya efektif.


"Baju halal."


Setelan dengan niqab kah maksudnya?


"Jangan dulu bersyar'i, perbaiki aja dulu agama kau dan keimanan kau." bukan aku keberatan. Tetapi, jika bersyar'i lalu kembali lagi ke hijab modern. Tentu aku yang menjadi suaminya, pasti mendapat teguran dan ia pun mendapat cibiran.


"Bukan. Itu loh baju haram, tapi halal karena udah nikah." Novi mengatakannya dengan malu-malu.


"Tapi cukup uangnya?" tanyaku yang diangguki Novi.


Entahlah, aku malas memikirkan baju halal dan haram itu.


"Udah gih masak dulu. Yang simple aja, jam setengah tujuh udah jadi ya?" aku mengisi tabungan anak-anak dan memasukkan kembali ke dalam tasnya.


Novi mengangguk, "Siap, Bang." ia tersenyum dengan berjalan menuju tangga.


Sudah siap tas anak-anak. Sekarang aku akan mengurus mereka mandi. Aku akan meminta Novi membantu mereka mandi, ketika Novi sudah bisa menghandle tugas membuat sarapannya.


Kali ini aku masih memaklumi dan memahami ketidakpekaanya. Semoga Novi bisa belajar dan cepat mengerti tugasnya sebagai seorang istri dan ibu. Meski nyatanya, aku tidak bisa membuatnya menjadi istri yang sempurna untuk sementara waktu.


"Sarapan apa, Pa? Aku pengen nasi goreng." ucap Kal, setelah mereka siap dengan pakaiannya.


"Kita liat tante Cantik masak apa buat kita." aku tersenyum sumringah, dengan menggandeng dua buah hatiku ini.


"Tapi mama Kin kan tetap mama aku, Pa." aku paham, akan Kal yang susah diberi pemahaman. Tidak seperti Kaf, yang mau menerima keadaan sekarang.


"Iya memang. Mama Kin ya tetap mama kita, tapi kan mama Kin udah di surga. Jadi, tante Cantik bantu tugas mama Kin di dunia. Biar mama Kin senang, karena tugasnya udah dibantu sama tante Cantik." aku salah berucap tidak ya?


Hingga sampailah kami di meja makan ini.


Sayur asem dan tempe goreng. Ayam goreng dan ikan asin pun, ternyata ikut hadir juga.


"Makasih ya?" aku tersenyum pada Novi.


Ia bisa memasak juga ternyata.

__ADS_1


"Tolong nasinya." aku duduk di kursiku, dengan mengulurkan piringku padanya.


Namun, Novi malah menepuk jidatnya sendiri.


"Malah belum masak nasi." ia panik dengan berlari ke arah penanak nasi.


Hufttt, dongkol hati kembali.


"Tante Cantik baru juga mau aku puji." celetuk Kal.


Aku jadi terkekeh, melihat anak-anakku cemberut seperti itu.


"Tante masak nasi dulu. Maaf ya?" Novi sudah membawa wadah beras yang berada di penanak nasi.


"Waktunya tak cukup. Coba belikan nasi campur atau bubur ayam aja, Nov." aku memberinya opsi lain, karena agar ia tidak terburu-buru dan panik seperti ini.


Karena mau bagaimana lagi? Menunggu nasi matang, pasti bel sekolah sudah berbunyi dahulu.


Novi memandangku dari jauh, "Kok usaha aku tak dihargai."


Tuh, kan? Salah paham lagi.


"Masakan kau, tetap dimakan. Nanti buat makan siang anak-anak, aku pun nanti pulang deh. Cuma sekarang waktunya mepet, aku harus berangkat kerja, anak-anak pun harus berangkat sekolah. Jadi cari praktis aja, ketimbang nunggu nasi setengah jam lagi." kadang baru jeplak pun, nasinya belum matang.


Aku harus menunggu sekitar lima belas menit lagi, sampai uap di penanak nasi itu telah hilang dan nasi matang sempurna. Aku tahu, karena setahun kemarin aku hidup tanpa istri.


Ya ampun, rasanya aku ingin menanak Novi saja.


"Mau ke mana, Nov? Kita lagi nunggu sarapan?" aku berbicara dengan nada naik satu oktaf.


Karena tak pernah dikeluarkan, bawaannya ingin mengamuk saja jika emosi sedikit.


"Iya, aku mau ambil uang dulu." sahutnya lamat-lamat.


Beberapa saat kemudian. Aku mengantarkan Kal ke sekolah, sekalian aku berangkat kerja. Sedangkan Kaf, aku minta ibu sambungnya untuk mengantarkannya.


Ada motorku di rumah, Novi pun bisa mengendarai motor. Karena taman kanak-kanak masuk jam delapan, membuat Kaf tidak bisa aku antar bersama kakaknya. Kemarin aku bisa telat bekerja, karena ada Novi yang membantuku.


Sekarang aku harus fokus pada pekerjaan, tanpa mengandalkan tenaga orang lain. Karena bang Givan pun memiliki pekerjaan sendiri, ia hanya sekedarnya saja untuk membantuku dan aku sadar itu semua. Hanya saja, aku memang senang jika ada kesempatan bang Givan menghandle sementara. Karena itu mampu untuk menstabilkan keadaan sementara.


Ditambah lagi, sekarang CEO di perusahaanku adalah Ria. Kini aku pasti berdebat terus, dengan anak kecil yang kemarin suka menjawab ketika dinasehati itu.


"Kak Roza." sapa Kal, ketika kami baru keluar dari mobil dan berpapasan dengan Rauzha yang baru keluar dari dalam halaman sekolah.

__ADS_1


"Hai Kal Cantik." sapa Rauzha, dengan mencolek dagu Kal.


Aku hanya tersenyum ramah, ketika Rauzha memandangku.


Pahamilah pembaca, aku tidak bersalah pada Rauzha. Tapi Rauzha, malah memberi tatapan miris seperti itu.


"Aniq mana?" tanya Kal kemudian.


"Aniq sakit, tak berangkat sekolah. Tadi Kakak baru anterin surat keterangan sakitnya." Rauzha menoleh ke arah bangunan sekolah.


"Wah, aku tak ada temennya dong." Kal berakting manyun.


Rauzha tertawa sepintar, "Banyak kan temen Kal?"


Kal hanya mengangguk saja.


"Ya udah gih masuk, baru aja bel tadi." Rauzha mengusap bahu Kal.


Kal memutar posisi padaku dan langsung mencium tanganku, "Assalamualaikum, Papa." Kal langsung melarikan diri.


"Wa'alaikum salam." jawabku lirih, karena Kak sudah menjauh.


"Selamat ya, Far? Maaf, aku kemarin tak bisa datang." tiba-tiba Novi mengulurkan tangannya padaku.


Aku menyambut jabatan tangan itu, "Ya, tak apa. Aku tak mengundang juga, Za. Memang banyak yang datang juga, karena pernikahan pertama pun sepi senyap aja." aku tertawa kecil.


Rauzha melepaskan tautan tangan kami, dengan menyambungi tawaku.


"Lebih ke family aja kali ya?" timpalnya kemudian.


Aku mengangguk, "Iya, Za. Kumpul keluarga aja, syukuran kecil-kecilan." sahutku dengan memperhatikan wajahnya.


Rauzha menganggukkan kepalanya beberapa kali, "Pasti seneng, perempuan yang jadi istri kau sekarang ya? Keknya, dia bahagia betul dapat suami yang lembut kek kau."


Aku lembut tapi tidak melambai juga ya, Pemirsa.


"Alhamdulillah." aku tidak mengiyakan atau buka suara secara pasti.


Aku tidak mau orang lain tahu, tentang kebahagiaan atau suka dukanya rumah tanggaku.


Tinnnn…..


"Papa…..

__ADS_1


Aku memutar leherku, mendengar sapaan dengan suara familiar itu.


...****************...


__ADS_2