
Masya Allah, beginikah rasanya bahagia? Aku berlarian bersama anak-anak, dengan wanitaku yang tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk ke arah kami. Senda gurau menyelimuti kami, aku terhanyut dengan perasaan yang begitu senang jika bisa dekat dengan kak Aca.
Sungguh, aku tidak melulu memikirkan selang*angan. Begini saja, aku bahagia. Entah perasaan apa ini.
Tapi sudah begini, aku tetap belum mantap untuk menikah. Kenapa rasanya begitu berat, untuk meng keputusan itu.
Aku takut tidak bisa membimbing dan mengaturnya seperti Kin. Aku takut pernikahan selanjutnya, akan kembali ke pengadilan agama. Aku khawatir, ia tidak setia di belakangku seperti Novi. Aku khawatir ia mengumbar aibku, pada semua orang terdekatnya.
"Minum dulu nih. Papa, minum dulu. Bang Chandra, Ra, Nahda, Bang Kaf, Kak Kal, Kak Key, sini dulu." Teriak kak Aca dari teras halaman belakang rumah mamah.
Kami langsung menyerbunya. Terlihat ia berlindung dari tangannya sendiri dan tertawa lepas.
Aku ingin beristrikan dirinya, tapi aku ragu untuk mempersuntingnya. Aku ingin meminta pendapat orang lain, termasuk orang tuaku sendiri.
"Enak betul airnya, ada gurih-gurihnya," ucapku yang membuatnya tertawa lepas dengan menutupi wajahnya.
"Tolong jangan ingatkan." Wajahnya langsung bersemu malu.
Memang aku mengingatkan apa?
"Jangan ingatkan apa memang?" Aku memilih duduk di sebelahnya, dengan membiarkan anak-anak kembali berlarian.
Lelah juga mengimbangi tenaga anak-anak itu. Mereka seperti tidak ada lelahnya.
"Papa…. Papa sayang…."
Kakak iparku seperti ini. Sepertinya otaknya berada di tukang jagal sapi.
"Hmmm, di belakang," sahutku dengan berseru.
Canda muncul dengan senyum sumringah. Dengan anak kangguru yang begitu lucu, ia mendekap ibunya yang terlihat sudah rapi dan warna yang dipoles natural itu. Canda bisa berdandan setelah mengalami pengalaman menjadi janda, tapi natural dan tidak merubah raut wajahnya.
"Apa kau?" Ditanggapin ketus juga, kadang ia malah bertambah cengengesan.
"Nitip Cani, mau beli skincare sama maszeh. Mau ke klinik juga, aku punya jerawat bandel di pipi. Mau aku cek, takutnya bahaya." Canda menunjuk pipi kiri bagian bawahnya.
__ADS_1
Memang ada jerawat memerah di sana.
Aku menangkap Cani yang melayang di udara. Tentu karena bagian ketiaknya diangkat oleh ibunya.
"Pantes aja manggilnya Papa sayang, ada maunya ya ternyata?" Aku mencium pipinya, sebelum Cani mendarat di pangkuanku.
Candani, kau tetap menjadi anakku meski bukan berasal dari benihku.
"Yung…." Cani hampir menangis, sepertinya ia paham bahwa dirinya akan ditinggalkan oleh ibunya yang akan berjalan-jalan.
"Mau pipis dulu ya? Adek main sama abang tuh ya?" Canda menunjuk anak sulungnya yang tengah membantu adiknya memakai sandalnya yang terlepas.
"Iyung…." Cani mencoba menggapai tubuh ibunya.
Jika tahu ibunya akan pergi, Cani memang susah untuk dipisahkan. Ia ingin ikut serta dengan ibunya yang lebih suka berjalan-jalan hanya dengan suaminya itu.
Aku mengalah. Aku akhirnya membujuk Cani, untuk ikut serta mengejar kakak-kakaknya. Awalnya Canda masih di teras, dengan berbicara sesuatu pada kak Aca. Lalu ia pergi, setelah Cani terhanyut keseruan dengan kakak-kakaknya.
Setelah itu aku kembali duduk ke teras halaman belakang, karena matahari membuat ubun-ubunku terasa mendidih. Panas sekali hari ini, entah aku yang memang tidak pernah keluar ketika siang hari. Aku keluar rumah ketika pagi, kemudian pulang dari kantor ketika sore. Panasnya matahari jarang aku rasakan, karena aku full seharian berada di tempat ber-AC.
Canda benar-benar memberikan nama anaknya, dengan rencana nama anakku dengannya.
"Numnum." Cani menunjuk teko dan gelas yang berada di belakang tubuh kak Aca.
Kak Aca menoleh ke arah Cani menunjuk. "Cani mau minum?" Kak Aca mengambilkan air dari gelas yang kami pakai beramai-ramai.
"Au, Ma." Anak dua tahun kurang ini cukup bisa merespon.
Ia pun tahu siapa yang dipanggil mama oleh semua anak-anak di sini. Kak Aca mendapat predikat mulia, karena Ra yang mengawali memanggilnya dengan embel-embel ma.
"Nih." Kak Aca mengambilkan sedikit air, kemudian ia menempelkan gelas tersebut ke bibir Cani.
Cani langsung mencicipi air tersebut, kemudian tersenyum setelahnya.
"Canda kecil, jangan tukang drama kek Canda ya? Sedikit-sedikit nangis, sedikit-sedikit ngadu." Kak Aca mengusap sisa air di bibir Cani.
__ADS_1
Cani sudah bisa berjalan, tapi ia baru bisa satu dua langkah saja. Cani adalah cucu yang paling telat berjalan. Menurut ibu Ummu, nenek Cani dari pihak Canda. Cani seperti Canda yang telat bisa berhalan, Canda bisa jalan di usianya dua tahun dua bulan. Tapi alhamdulilahnya, Cani sudah bisa melangkah satu atau dua langkah di usianya yang belum genap dua tahun.
"Anak Papa ya ini? Kek Papa dong, masa kek biyung?" Aku memandang wajah anak ini dari dekat.
Cani tertawa sekilas, kemudian ia menutupi wajahnya sendiri. Ia lalu melangkah mendekati tembok teras halaman belakang ini, Cani mulai melangkahkan kakinya lebih jauh dengan berpegangan pada tembok.
"Dengar-dengar, katanya itu nama dari Papa ya?" Jika tengah bersama anak-anak, sebutan papa sering kudengar keluar dari mulutnya.
Aku mengangguk. "Caera juga. Caera dari papah, Nazua dari aku." Senangnya ketika memberi saran nama, lalu digunakan oleh yang meminta saran.
"Bukan, katanya itu buat nama anak kalian," terang kak Aca dengan menempelkan kedua telunjuk dari kedua tangannya.
Kalian siapa?
"Siapa?" Aku melirik ke arah Cani, terlihat ia berjalan kembali ke arahku dengan masih berpegangan pada tembok.
Cani rambatan.
"Papa sama Canda," jawabnya cepat.
Sedangkan kak Aca, ia sesekali fokus memandang anak-anak yang tengah bermain mobil-mobilan yang berukuran besar. Nahda dan Ra naik ke dalam mobil tersebut, dengan Canda dan Key yang mendorong. Lalu Kal yang membunyikan priwitan, kedua tangannya pun bergerak seolah ia adalah tukang parkir. Sedangkan Kaf, ia memakai topi ladang milik papah. Mungkin dalam imajinasinya, itu adalah topi polisi.
"Iya, dulu pernah punya cita-cita punya anak perempuan terus kasih nama itu. Punya anaknya tak, malah pisah." Aku tertawa sumbang.
Aku sengaja tidak menutup-nutupi, aku ingin tahu responnya.
"Kenapa masih kasih nama itu, kan udah pisah?" Pintar sekali pertanyaannya.
"Karena masih ingat aja. Masih ingat jelas masa-masa di minta masakannya dikomentari, maksa aku untuk request pilihan menu untuk hari esok. Kalau udah dikomentari jadinya manyun, dikiranya salah terus padahal udah berusaha. Tiap gajian pasti nonton ke bioskop, waktu itu musimnya film horor Cipali KM.182," ungkapku mencoba menceritakan kenangan yang masih begitu jelas.
"Minta nonton film itu sendiri, sampai kostan dia, dia ribut takut sendirian. Karena dia tau tempat syutingnya, jadi takut sendiri dia bayanginnya. Kan kebetulan, kota tempat syuting itu sama dengan kota kami tinggal masa itu. Menaranya, kita familiar betul. Cerita tentang pembuatan jalan tolnya pun, jadi pembicaraan masyarakat tiap hari. Apalagi, tentang kontraktor tol yang hamili penduduk asli situ dan kabur setelah proyeknya selesai. Banyak janda dan perawan hamil dengan mereka, ya memang nikah siri sih. Cuma tak satu dua orang aja, satu RT itu ada lima orangnya. Mungkin mereka di kampung ada ajak istri, karena jauh di rantau orang, mungkin sirikan aja biar aman. Eh, tak taunya sampai hamil dan beranak. Bahkan ada juga loh, ibunya janda, ibunya hamil sama pekerja pembuat jalan tolnya. Nah, anaknya perawan pun hamil sama pekerjanya juga. Mana, nikahnya itu nikah siri semua. Tol bagus, banyak janda di sana." Aku terkekeh kecil ketika menyingkap cerita itu.
"Nah itu alasanku langsung nolak saran pernikahan……
...****************...
__ADS_1