
"Tak diangkat. Sebenarnya, siapa dia?" Aca berbicara lirih dengan ponselku.
"Kan aku udah cerita siapa dia. Terus aja telponin dia, biar tau siapa dia yang sebenarnya. Istri kok, tak percaya betul sama suaminya." Aku meliriknya sekilas.
"Loh, kok Papa jadi marah? Berarti bener dong, kalau Papa itu ada apa-apa sama Farida ini?" Tuduhannya semakin menjadi.
"Ya udah, makanya telpon aja." Aku bertutur lembut pun, dibilangnya marah.
Aku memperhatikannya dalam diam. Lalu, ia menggeletakan ponselku dan berbalik memperhatikanku. Entah apa yang ia cari di mataku. Kebenaran, sudah pasti ada di sana. Hanya saja, ia malah seperti mencari kesalahanku.
"Sebenarnya sayang tak sih sama aku? Cinta tak?"
Padahal aku pernah mengatakannya secara langsung.
"Cinta, sayang juga. Makanya rutin kirim uang, meski tak tau kabarnya." Aku memikirkan biaya hidupnya di sana bersama Nahda. Siapa yang akan memenuhi biaya hidupnya, sedangkan Aca pun tidak memiliki penghasilan. Aku tahu, toko tersebut adalah milik budhe May.
"Itu kan kewajiban." Ia bisa sana menjawab.
"Kewajibannya pergi kok. Tak tau kabar beritanya, cuma nomor rekeningnya aja yang masih aktif." Aku masih memperhatikannya dengan bersandar pada sandaran sofa.
"Papa tuh jadinya nyebelin." Tiba-tiba ia menggoyangkan tubuhku.
Padahal aku tidak nakal, aku diam sejak tadi. Emosinya yang naik, aku yang disalahkan.
"Mama juga jadinya nyebelin. Tak mau mahami, biasanya paling bijak nyikapin juga. Kenapa sih jadi gini? Aku punya kesalahan apa?" Aku memberanikan diri mengomentari perubahan istriku.
Sebelumnya, ia adalah teman mengobrol yang paling menarik.
"Papanya kenapa tak mau bela sedikit waktu dengar saran dokter."
Ya ampun, masih itu saja masalahnya.
"Ya masa mau maksa aja. Tinggal iyain aja kenapa, Ma? Kan dokter nyaranin juga, untuk kebaikan Mama dan bayi kita. Paling korban di sini nih aku, paling nelangsa karena malah diminta stop berhubungan, padahal lagi butuh penyaluran. Waktu di Cirebon, canggung betul tak enak sama kamar sebelah." Aku berterus-terang di sini.
"Ya makanya selagi punya waktu itu dinikmati!" Ia masih saja nyerocos.
Aku merangkulnya, kemudian menjepit lehernya. "Berisik! Berisik. Ini mulut nih, harusnya diisi keknya. Nyalahin terus, bikin kebawa emosi aja!" Aku mencubit-cubit bibirnya.
Ia menghalau kegiatan usilku, dengan tertawa renyah.
"Kalau tak mirip Jonas Rivanno sih, malas betul aku setia." Ia berbalik menarik leherku.
Ia anteng menjejakkan bibirnya di sana.
Sayangnya, usilnya mulai kembali. Gigitan kecil aku dapatkan, pasti beberapa bekas merah tertinggal di sana.
"Aku mirip Adi Riyana kali!" Aku meraup wajahnya, membuatnya terlepas dari leherku.
"Mirip hidungnya aja. Tak ada tegas-tegasnya kek Adi Riyana, tak ada galak-galaknya kek Adi Riyana."
__ADS_1
Ia meledekku?
"Mau digalakin?!" Aku membingkai wajahnya dengan kuat.
Ia terkekeh, dengan menggelengkan kepalanya samar.
"Suruh nung****, terus ditabok-tabok sampai merah." Aku mencoba memelototinya.
"Nah, kalau itu mau," sahutnya yang membuatku tak percaya.
Ia tertawa lepas, dengan mengincar bibirku. Agak gila rupanya wanitaku ini. Aku tidak habis pikir, dengan perempuan hamil yang terus menyerangku ini.
Kadang aku berpikir, bagaimana rasa gatal yang menyerang para perempuan? Apa rasanya sama seperti laki-laki? Lalu apa yang membuat mereka begitu terdorong untuk menyerang laki-lakinya?
Aku paham sifat perempuan yang pasrah, pemalu dan tidak memiliki keberanian lebih dulu. Tapi sepertinya, tidak berlaku untuk seorang Aca.
"Jangan dimerahin semua, Ma." Aku mencoba menahan tubuhnya, agar perutnya tidak tergencet oleh berat tubuhnya.
Aku yang malah kini pasrah dengan serangannya.
"Wangi betul sih, Pa?" Ia menopang tubuhnya di atasku.
"Kan baru mandi, parfuman juga tadi."
Syukurlah, perdebatan kami tidak berujung dengan air mata. Tidak ada yang menangis di sini, tidak ada yang menang juga.
"Aku jadi tak pede." Ia malah turun dari atasku.
Aku menahan salah satu tangannya, agar tidak beranjak jauh. Aku tidak mau, jika scene ini berakhir hanya karena Aca ingin menggunakan minyak wangi juga.
"Tak bau juga kok, kenapa tak pede?" Aku menghadapkan wajahnya untuk beradu pandang denganku.
"Aku buluk betul pasti." Nada suaranya turun.
"Tak juga." Aku tak mau membuat lebih tersinggung.
"Papa terurus betul, biar pun hitam juga. Wangi lagi." Bibirnya naik lima senti.
"Segini jerawatan juga." Aku memiliki dua jerawat, satu di dagu dan satu di pipiku.
"Besok mau perawatan ah, ikut tak? Biar bekas jerawatnya ilang gitu, dari Mama pergi tuh aku sering jerawatan." Tidak sampai menimbulkan bopeng, tapi bekasnya mengganggu. Lagian, jika laki-laki jerawatan itu rasanya aneh saja.
"Udah kek perempuan." Ia melirikku sekilas dengan pandangan malas.
Dulu, kulitku dirawat oleh Kin. Banyak kegiatannya untuk memanjakanku, selain mengenyangkan perutku dengan makanan enak. Tidak bermaksud membandingkan, tapi tidak ada salahnya datang ke klinik kecantikan untuk dielus-elus wajahnya saja. Toh, sekalian menemani Aca perawatan jika mau.
"Mau tak?" Aku menawarinya sekali lagi.
Ia mengangguk. Kemudian melepaskan ikat rambutnya. Aku suka melihat perempuan yang tengah mengikat rambut dan melepaskan ikat rambutnya.
__ADS_1
Karena, jika tengah mengikat rambut. Kedua tangan terangkat, mempertontonkan bentuk dada yang sempurna. Makanya, hati-hati ya jika mengikat rambut di depan umum. Semua laki-laki, suka melihat kegiatan itu.
Ketika melepaskan ikat rambut pun sana. Tapi bedanya, gerakan tangan ke atas itu hanya sebentar. Lalu, rambutnya digerai menjadi daya tarik tersendiri.
Jika di provinsiku, mungkin hampir tidak ada kegiatan tersebut di depan umum. Karena semua perempuan bertudung ketika di luar rumah.
Aku langsung mengusap-usap dadanya yang menyembul hebat itu. Entah, tanganku memang kadang iseng.
"Sering ya gitu ke Canda?" Ekspresinya seperti meledek.
"Iya! Kenapa?!" Aku memberi kekuatan pada tanganku.
Aku terkekeh, melihatnya meringis kaget.
"Heran, pacaran beraninya pegang-pegang dada aja. Udah kek anak SMP."
Kenapa ia suka sekali meledek suaminya?
"Terus mau ngapain? Dikasih pegang pun alhamdulilah lah." Aku bangkit dan melakukan hal serupa di bagian sebelahnya.
"Memang tak n**** apa?"
Apa ia ingin mendapat serangan dariku? Aku mulai mengerti dengan arah ucapannya dari tadi ini.
"Wah, waktu pertama kali itu di Oyo kan sampai meringis-meringis." Seperti obrolan kosong. Namun, dengan obrolan yang arahnya ke mana-mana ini, hubungan kami jadi lebih hangat.
"Orang main dorong aja. Udah tau besar, main paksa masuk aja. Mentang-mentang muat, langsung dijejal aja."
Aku tertawa lepas, mendengarnya berbicara dengan menggerutu seperti itu. Ternyata ia kesal, karena aku masuk tanpa aba-aba? Tapi ringisannya candu sekali untukku.
"Enak kan tapi?" Aku ingin melihat bias malunya.
"Kaget lah, besar betul kek diisi apa. Sampai besoknya, perut rasanya tak enak aja."
Bukannya bias malu, aku malah mendapat wajah kesalnya.
"Sih ketagihan? Malah minta lagi. Kalau tak enak tuh, ya jangan ngajakin gituan aja."
Barulah, bias malu keluar dari wajahnya.
"Orang dipenuhi full betul, masa mau menyia-nyiakan juga? Tak semua laki-laki punya."
Aku terbahak lepas.
"Ghava, Ghavi pun pasti bentuknya sama juga kek punya aku." Kami tumbuh bersama dan aku tahu bentuk saudara-saudaraku.
"Mereka suami orang. Kalau aku doyan suami orang, udah aja sekalian pak cek Adi yang punya bentuk sempurnanya." Ia nyolot. Tetapi, aku malah tergelak lepas.
Benar juga sih ucapannya. Kami semua, menuruni gen yang didapat dari papah.
__ADS_1
...****************...